Natasya

Natasya
Malam Pensi (2)


__ADS_3

"Ada yang mau ikut ambil minum gak? Gue haus nih" Salsa bertanya pada teman-temannya.


Silvi dan Vina masih terlihat asyik menikmati pertunjukan.


Tasya bangun dari duduknya.


"Ayo sama aku aja" kata Tasya.


Salsa hanya mengangguk dan kedua gadis itupun berjalan menuju meja panjang di pinggir halaman yang menyediakan berbagai minuman dan makanan untuk para siswa.


"Kamu ambil kue yang disana aja, Sya. Biar aku yang ambil minum" ujar Salsa membagi tugas.


Tasya hanya mengangguk dan menghampiri meja panjang yang berisi berbagai macam kue serta kudapan lainnya.


Saat sedang asyik memilih kue, seseorang menepuk pundak Tasya dari belakang membuat Tasya benar benar kaget.


"Julian, ngagetin aja" ucap Tasya sedikit kesal.


"Sorry, Sya" kata Julian sedikit berbisik.


"Sya, mau gabung sama kita gak?" Kata Julian lagi.


Tasya mengernyitkan dahi sedikit tak mengerti.


"Gabung kemana?" Tanya Tasya masih bingung.


"Tim basket bikin acara sendiri di tempat biasa. Loe ditungguin sama Dion" jawab Julian masih dengan suara yang berbisik.


Seakan takut suaranya di dengar oleh siswa lain yang sedang berlalu-lalang di sekitar mereka.


'Hah, Dion datang? Bukannya tadi siang Dion bilang gak mau datang' Tasya bergumam dalam hati.


"Gimana?" Tanya Julian lagi.


Tasya masih berpikir.


Tiba-tiba...


"Ju, loe ngapain disini?" Salsa sudah menghampiri keduanya.


"Mau ambil kue lah. Gak liat apa?" Julian menunjukkan piring di tangannya yang sudah penuh oleh berbagai macam kue.


"Sya, udah belum. Balik yuk" ajak Salsa.


Tasya hanya mengangguk dan berjalan kembali ke kursinya tadi.


Ia bahkan belum memberi jawaban pada Julian tentang ajakan tadi.


Setelah Tasya duduk beberapa saat sambil menikmati kudapan, ponselnya bergetar menandakan ada pesan masuk.


Tasya membuka ponselnya.


Dion: "Nat, sini deh"


Dion: (mengirim foto)


Tasya membuka foto yang dikirim oleh Dion.


Foto selfie Dion yang sedang berada di ruang tim basket.


Dion: "aku tunggu di dekat meja panjang"


Tasya tak membalas pesan dari Dion.


Ia berpikir keras harus bilang apa ke teman temannya.


"Gaes, aku ke toilet dulu ya" Tasya sedikit ragu. Tapi ia tak punya alasan yang lain lagi.

__ADS_1


"Hmmm" hanya itu yang keluar dari mulut Silvi dan Vina.


"Perlu aku temani Sya?" Salsa terlihat khawatir.


"Gak usah, Sal. Aku bisa sendiri kok. Kamu di sini aja," Jawab Tasya dengan cepat.


Salsa hanya mengangguk.


"Ya udah. Hati hati Sya" pesan Salsa.


Tasya mengangguk dan segera pergi meninggalkan teman temannya.


Tasya kembali ke meja panjang tempatnya mengambil kue tadi.


Sedikit celingukan mencari keberadaan Dion.


Tasya belum juga menemukan Dion, tiba-tiba tangannya ditarik oleh seseorang.


Tasya nyaris berteriak tapi orang tersebut dengan sigap menutup mulut Tasya dengan tangannya


"Dion?" gumam Tasya lirih.


"Ayo lewat sini" Dion menggandeng tangan Tasya memotong jalan melewati taman sekolah.


Suasananya sepi.


Tasya menggenggam tangan Dion dengan erat.


Mereka kini sudah sampai di depan ruang tim basket.


Dion membuka pintu. Dan mengajak Tasya


masuk ke dalam.


Di dalam lumayan rame ternyata.


Teman-teman Dion membawa pasangan masing-masing.


Dion mengajak Tasya untuk duduk di salah satu bangku yang ada di pojok ruangan.


Tasya tidak mengenal cewek-cewek lain yang juga ada di ruangan ini.


Mereka hanya saling sapa dan tersenyum saat berpapasan.


"Kenapa gak gabung sama yang lain, Di?" Tanya Tasya penasaran.


"Males. Ntar aku gak bisa dekat-dekat sama kamu" jawab Dion sambil berbisik di telinga Tasya.


Sontak hal itu membuat pipi Tasya bersemu merah.


"Tapi bukannya tadi kamu bilang kalo kamu gak mau datang?" Tasya masih saja bertanya.


Ia memperhatikan penampilan Dion malam ini. Celana jeans serta kemeja berwarna biru yang terlihat pas membalut tubuh kekarnya.


'Kenapa Dion juga memakai baju berwarna biru? Apa kami sedang jadi couple sekarang?' Tasya bergumam sendiri.


"Harusnya begitu. Tapi aku baru ingat kalau aku harus menjaga tuan putri agar tidak terkunci lagi di dalam kamar mandi. Jadi aku berubah pikiran dan datang ke sini" jelas Dion panjang lebar.


Tasya hanya mencebik karena Dion lagi lagi membahas tentang kejadian di kamar mandi beberapa minggu yang lalu.


"Baiklah aku hanya bercanda." Dion merangkul pundak Tasya lembut.


Perlakuan lembut dari Dion tentu saja membuat pipi Tasya kembali merona merah.


Dan Tasya tak dapat menahan dirinya untuk tidak memberikan senyuman hangat pada Dion.


"Kita di sini cuma liatin orang pacaran, jiwa jomblo gue meronta hebat" Julian yang sedari hanya duduk bersama Bagas mendadak mengeluh dan meninggikan suaranya.

__ADS_1


"Nasib jomblo bro" Bagas menimpali.


Semua yang ada diruangan itupun tertawa mendengar celotehan dua jomblo tersebut.


"Yaudah, keluar sono cari cewek" ucap Rizky mengusir keduanya.


Bagas dan Julian malah manyun sekarang.


"Kejam loe Riz, ngusir kita berdua" Julian memasang mimik wajah memelas seakan dirinya baru saja teraniaya.


"Lah tadi katanya mau punya cewek juga. Serah kalian berdua lah.


Kalian mo jadi pasangan juga boleh kok" ceplos Rizky pada akhirnya yang membuat semua orang kembali tertawa.


Dion dan Tasya hanya menyimak perdebatan antara Rizky dan Julian.


Tangan keduanya saling menggenggam erat namun tak ada obrolan lagi diantara mereka.


Di sisi lain ruangan, juga nampak sepi. Ada Denny dan pacarnya yang duduk di sana.


Tasya melihat sekilas ke arah keduanya. Tadinya Tasya hanya ingin melihat sekilas, namun yang dilakukan Denny bersama pacarnya mendadak membuat Tasya melongo dan enggan mengalihkan pandangannya.


Tasya ternganga menyaksikan pasangan itu yang tengah berciuman dengan asyiknya padahal ada banyak orang di ruangan tersebut.


Dion yang menyadari hal itu, langsung menutup mata Tasya agar tidak terus-terusan menyaksikan adegan hot itu.


"Udah jangan di liatin. Denny emang mesum begitu" ucap Dion setengah berbisik.


Tasya mendadak sadar dan seperti baru terbangun dari mimpi.


"Gak malu gitu?" Ucap Tasya setengah emosi.


"Ya begitu" Dion mengendikkan bahunya.


Tapi yang Dion tahu sudah sejak dulu Denny seperti itu. Suka mengumbar adegan-adegan hot bersama pacarnya di depan teman-temannya.


Pacarnya pun selalu berganti-ganti.


Entahlah, sepertinya Denny memang anggota timnya yang paling playboy.


Selain wajah lumayan, tubuh yang bagus serta otak yang encer, Denny juga adalah anak orang kaya.


Mobilnya selalu berganti-ganti setiap bulan. Jadi wajar banyak cewek yang dengan mudahnya jatuh cinta pada seorang Denny.


"Kamu gak akan se mesum itu kan sama aku?" Tanya Tasya sedikit khawatir.


Sontak tawa Dion langsung meledak, membuat orang orang diruangan itu memandang heran ke arah Tasya dan Dion.


"Ehm, kalo kamu mengijinkan kenapa enggak" jawab Dion sedikit nakal.


Refleks Tasya langsung memukul lengan Dion.


"Dalam mimpimu. Awas aja kalo kamu macem macem. Aku laporin ke tante Desi ntar" ancam Tasya bersungguh-sungguh. Dion hanya terkekeh.


"Kalo begini..."


Cup,


Dion berhasil mencium pipi Tasya.


Sontak Tasya langsung melotot tajam ke arah Dion.


"Diooon" Tasya merasa kesal dan langsung memukul-mukul lengan Dion. Dion hanya tertawa terbahak-bahak.


"Baiklah, baik aku minta maaf" Dion berusaha menghentikan pukulan tangan Tasya.


Tawanya belum juga hilang. Tasya mencebik.

__ADS_1


"Tak akan ku ulangi lagi tuan putri, sebelum mendapat izin darimu" Dion memegang kedua bahu Tasya dan berkata dengan bersungguh-sungguh kali ini.


Kali ini Tasya menjawabnya dengan sebuah senyuman.


__ADS_2