Natasya

Natasya
Hanya Anak Pungut


__ADS_3

Setelah Tasya sedikit tenang, barulah Dion mulai bertanya.


"Ada apa?" Tanya Dion dengan lembut.


Dion menghapus sisa air mata di kedua pipi Tasya.


Dion juga merapikan rambut Tasya yang berantakan menutupi wajahnya.


Tasya menggeleng samar.


"Vira" jawab Tasya lirih.


"Siapa Vira?" Tanya Dion tak mengerti.


"Mama Sarla ternyata punya seorang putri kandung. Putrinya menghilang sepuluh tahun yang lalu. Dan kemarin mama Sarla menemukannya. Vira ada di rumah mama Sarla sekarang" cerita Tasya sedikit terbata-bata karena masih sesenggukan menahan tangisnya.


Dion mengisap lembut punggung Tasya. Ia paham apa yang kini sedang dirasakan Tasya.


Gadis ini pasti merasa shock karena mengetahui sebuah kebenaran secara tiba tiba.


Dion tak mau menghakimi dan menyebut Tasya serakah, Tasya pasti hanya merasa kaget dan belum bisa menerima semuanya.


Belum lagi status Tasya yang merupakan anak adopsi pasti membuat Tasya semakin tertekan. Tak bisa dipungkiri, pasti dalam hati kecilnya, Tasya pasti takut kalau suatu hari nanti mama Sarla akan meninggalkan dirinya.


"Mama Sarla menyayangimu, Nat. Aku yakin dia akan tetap menyayangimu meskipun kini dia sudah bertemu putri kandungnya" Dion mencoba memberikan kalimat yang positif.


Tasya menggeleng.


"Bukan itu Di masalahnya" ucap Tasya sedikit ragu.


Dion mengernyitkan kedua alisnya merasa tak mengerti


"Vira sepertinya tidak menyukai ku." Kata Tasya lagi


Dion berdecak.


"Itu hanya perasaanmu, Nat. kalian hanya belum saling kenal" ujar Dion.


Diapun dulu pernah berprasangka buruk seperti itu pada mama Wina dan Kevin.


"Kami sudah sering bertemu di sekolah" jawaban singkat dari Tasya sontak menimbulkan sebuah pertanyaan besar di kepala Dion.


"Maksudmu, Vira itu teman kita di sekolah?" Tebak Dion tak percaya.


Dion memcoba mengingat ingat.


Namun seingatnya tidak ada hadis bernama Vira di sekolahnya.


"Kamu pasti tahu gadis berkacamata bernama Rara yang entah karena masalah apa Silvi begitu membencinya. Dan gadis itu adalah Vira" Tasya menjelaskan.


Seketika Dion terdiam.

__ADS_1


Bagaimana bisa Rara yang jahat itu adalah putri kandung dari mama Sarla?


Apa ini sebuah lelucon?


Dion selalu berusaha menjauhkan Tasya dari gadis aneh itu. Tapi sekarang, bahkan Tasya harus tinggal satu rumah dengan Rara atau Vira.


"Tapi bagaimana bisa, Nat?" Dion masih tak percaya


Tasya mengendikkan bahu.


"Jadi Vira kecil pernah diculik, lalu dia kabur dan mengalami kecelakaan. Kepalanya terluka parah hingga akhirnya dia hilang ingatan. Sampai dia beranjak remaja ingatannya tak kunjung kembali karena memang dia tak pernah bertemu keluarganya.


Tapi kemarin secara kebetulan, mama Sarla hampir menabraknya, membuat Rara jatuh dan terluka di kepalanya.


Dan saat Rara sadar, saat itulah dia melihat mama Sarla dan ingatannya mendadak kembali" cerita Tasya panjang lebar.


Tasya memceritakan semuanya sesuai kronologi yang diceritakan oleh mama Sarla tadi malam.


Dion menggeleng sambil tersenyum kecut


"Apa ini sebuah lelucon?" Ujar Dion tak percaya.


"Aku tak pernah mengenal Rara sebelumnya, aku juga merasa tak punya masalah apapun padanya. Tapi Rara pernah beberapa kali menyapaku dengan melontarkan kata kata sinis. Aku tak mengerti, Di. Kenapa gadis itu begitu membenciku?" Ucap Tasya dengan nada sedih


"Rara yang menguncimu di kamar mandi" ujar Dion dengan cepat membuat Tasya terlonjak kaget.


"Aku melihatnya sendiri di rekaman CCTV sekolah yang berhasil dicuri oleh Denny.


Kini Tasya ternganga tak percaya.


Baiklah sekarang semuanya masuk akal.


Rara salah paham terhadap dirinya.


"Kau sudah bicara padanya?" Tanya Dion pada Tasya.


Tasya menggeleng.


"Pikiranku benar benar kacau tadi malam. Aku langsung pergi ke kamar dan tidur. Dan tadi pagi pagi sekali aku langsung kesini untuk menjernihkan pikiran" cerita Tasya sembari mengedarkan pandangannya ke arah danau.


Matahari sudah naik cukup tinggi. Panasnya mulai menyengat.


Beberapa orang yang tadi berolahraga pagi di taman juga sudah beranjak pergi satu persatu.


"Kau jalan kaki kesini?" Tanya Dion tak percaya.


Tasya mengangguk.


"Aku sedang kacau, Di" Tasya berusaha membela diri.


"Ayo aku antar pulang" Dion beranjak berdiri dan membimbing Tasya untuk ikut berdiri.

__ADS_1


Kedua remaja itupun berjalan beriringan meninggalkan danau lalu naik motor untuk selanjutnya mereka melaju ke arah rumah Tasya.


*****


Tasya sudah sampai dirumahnya. Setelah berpamitan seperlunya, Dion segera tancap gas dan pulang.


"Sya, kamu darimana?" Tanya mama Sarla khawatir.


"Tasya tadi olahraga pagi bareng Dion, Ma. Maaf tadi gak sempat ijin ke mama." Ucap Tasya sambil menunduk karena merasa bersalah. Pergi pagi pagi tanpa ijin ke mama Sarla.


Mama Sarla hanya menghela nafas.


"Ya sudah. Kamu sarapan dulu sana" ujar mama Sarla lembut.


Tasya mengangguk dan segera masuk ke dalam rumah menuju ke ruang makan.


Vira sedang mencuci piring bekas sarapan di dapur dekat meja makan.


"Pagi, Vira" Tasya mencoba bersikap ramah dan menyapa Vira.


Tak ada jawaban dari Vira.


Tasya hanya mengendikan bahu dan memilih untuk segera duduk dan mengambil sarapan.


Perutnya sudah keroncongan sedari tadi.


Menangis ternyata benar benar menguras energi dan membuatnya kelaparan.


Vira sudah menyelesaikan pekerjaannya. Ia segera berjalan meninggalkan dapur.


Saat dirinya lewat tepat di belakang Tasya, Vira berhenti sejenak.


"Anak pungut saja belagu" ucap Vira lirih tapi Tasya tetap bisa mendengarnya dengan jelas.


Setelah berkata demikian Vira segera berlalu tanpa merasa bersalah sedikitpun.


Tasya yang baru saja menyuapkan sesendok nasi goreng ke mulutnya, mendadak kehilangan selera makan.


Hatinya perih teriris iris.


Dirinya memang hanya seorang anak pungut, namun kata kata dari Vira tadi benar benar menyakitkan.


Sekuat tenaga Tasya menahan agar airmatanya tidak kembali jatuh.


Namun sia sia.


Tasya menangis lagi untuk ke sekian kalinya.


Ia sudah tak berselera lagi menikmati sarapannya. Tasya memilih untuk segera masuk ke dalam kamarnya.


Tasya mengunci pintu kamar dan menangis di bawah bantal. Hati Tasya sakit dan perih.

__ADS_1


__ADS_2