Natasya

Natasya
Canggung


__ADS_3

"Kamu bawa mobilnya siapa, Di?" Tanya Tasya masih heran.


Sebelumnya Dion memang pernah menjemput Tasya memakai mobil. Tapi seingat Tasya mobil Dion tidak semewah ini.


"Mobilnya Denny. Kamu heran ya?" Dion malah terkekeh.


Tasya tersenyum tipis.


Pantas saja.


Tasya sering mendengar dari Dion kalau Denny memang anak orang kaya dan mobilnya selalu bergonta ganti.


Sayangnya dia juga adalah cowok mesum dan playboy yang suka bergonta ganti pacar setiap minggu.


"Kenapa tidak naik motor saja?" Tanya Tasya lagi.


"Tadi aku gak bawa motor, Nat. Makanya aku pinjem mobilnya Denny.


Maaf ya kalo kamu jadi gak nyaman" mendadak Dion merasa bersalah.


"Enggak, Di. Aku baik baik saja kok. Makasih ya udah mau nganterin aku" ucap Tasya bersungguh sungguh.


Dion hanya tersenyum sambil mengelus puncak kepala Tasya.


Mobil melaju membelah jalanan sore yang sudah mulai padat.


Tak butuh waktu lama, Dion dan Tasya sudah tiba di halaman panti.


Ada sebuah motor besar yang sudah terparkir di halaman panti asuhan.


Ronny yang sedang duduk di sofa ruang tamu panti, langsung bangkit dari duduknya saat mendengar deru mobil yang memasuki halaman panti.


Ronny keluar menuju teras.


Ia melihat sebuah mobil sport mewah yang kini sudah terparkir di halaman panti.


Ronny tidak tahu kalau Tasya sekarang jadi anak tajir yang naik mobil sport mewah.


Ronny masih menunggu hingga si empunya mobil turun. Ia sungguh tak sabar untuk segera memeluk adik kecilnya tersebut.


Tasya bergegas membuka pintu mobil dan segera turun. Ia sungguh tak sabar ingin segera berjumpa dengan kak Ronny.


Dion ikut membuka pintu dan turun.


Keduanya berjalan beriringan menuju teras.


Namun saat melihat siapa pria yang kini berdiri di teras panti asuhan, keduanya sontak terkejut tak percaya.


"Kalian berdua ngapain kesini?" Tanya Ronny galak sambil menatap tajam pada pasangan remaja di depannya.


"Pelatih ngapain disini?" Bukannya menjawab Dion malah balik bertanya.


"Ini rumah saya. Apa ada masalah" jawab pelatih Ronny ketus.


Saat itulah otak Dion langsung menerka nerka. Apa benar dugaannya selama ini kalau kak Ronny nya Tsya adalah pelatih Ronny yang resek itu.


Berbeda dengan Dion, Tasya hanya terdiam. Masih mencoba mencerna kata kata dari pelatih resek tersebut.


"Kak Ronny?" Ucap Tasya masih ragu.


Ronny menatap tak percaya pada Tasya.


"Tunggu. Jangan bilang kamu adalah Natasya" Ronny serasa tak percaya mengucapkan kata kata itu.


Namun ia akan lebih tak percaya lagi saat mengetahui bahwa gadis yang selalu ia goda dan ia buat ketakutan selama ini adalah Natasya, adik kecilnya.

__ADS_1


Bu Ranti muncul dari dalam,


"Eh, kalian sudah bertemu?" Ucap bu Ranti sumringah.


Bukannya menjawab Ronny malah semakin menatap Tasya dengan tajam. Membuat gadis itu kembali merasa takut.


"Iya aku memang Natasya" ucap Tasya akhirnya. Ia mencoba menghilangkan rasa takutnya dan balik menatap tajam pada Ronny


Dion menepuk keningnya.


Dugaannya selama ini benar. Pelatih resek itu adalah kakak angkat Tasya.


Bu Ranti masih bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi.


"Kalian sudah pernah bertemu?" Tanya Bu Ranti selanjutnya.


Sesaat suasana hening.


Namun tiba tiba Ronny tertawa aneh.


Terang saja hal itu membuat Dion, Tasya dan bu Ranti mengernyit heran.


"Pantas ya, saat pertama melihatmu aku seperti mengenalmu. Ternyata kamu memang si cengeng Tasya.


Apa sampai sekarang kau masih cengeng?" Ronny mengacak puncak kepala Tasya dan sukses membuat gadis itu mencebik.


Namun dengan cepat Ronny menarik Tasya ke dalam pelukannya. Menumpahkan segala kerinduannya pada adik kecilnya yang kini sudah menjelma menjadi gadis remaja.


Jangan tanya bagaimana ekspresi wajah Dion sekarang.


Dion bahkan bingung harus senang atau cemburu.


Mukanya merah padam.


"Ayo, semuanya masuk dulu" ajak Bu Ranti akhirnya.


Ronny merangkul Tasya masuk ke dalam panti.


Dion hanya bisa menggeram kesal mencoba menahan emosi yang sudah membuncah di dadanya.


Mereka berempat duduk di sofa ruang tamu panti tersebut.


Tangan Rony masih asyik merangkul pundak Tasya. Keduanya duduk berdekatan.


Sedangkan Dion, ia hanya bisa mengepalkan tangannya erat, berusaha menahan emosinya agar tidak meledak.


Mendadak ia merasa menyesal karena telah mengantar Tasya ke tempat ini dan menyaksikan pemandangan yang membuat hatinya cemburu buta.


Wajah putih Dion telah berubah menjadi merah padam sekarang.


Ronny yang melihat ekspresi cemburu di wajah Dion, semakin mendekatkan dirinya pada Tasya.


Ronny suka membuat Dion cemburu buta.


Ia pun berbisik pada Tasya.


"Apa pacarmu sedang cemburu sekarang?" Bisik Ronny pada Tasya.


Sontak Tasya langsung melihat ke arah Dion.


Wajah Dion tampak merah padam. Sesaat setelah bertatap pandang dengan Tasya, Dion langsung membuang pandangannya ke arah lain.


Buru buru Tasya sedikit menjauh dari Ronny.


Ia baru sadar kalau sedari tadi tangan Ronny terus merangkul pundaknya.

__ADS_1


Bisa dia tebak pasti Dion akan cemburu buta setelah ini.


Bu Ranti datang membawa nampan berisi minuman dan kue.


Tasya beranjak berdiri untuk membantu Bu Ranti menyajikan minuman tersebut.


"Jadi, sejak kapan kamu pindah ke kota ini, Sya" Ronny membuka pembicaraan. Mencoba mencairkan suasana yang terasa tegang.


"Baru beberapa bulan yang lalu" jawab Tasya sambil kembali duduk.


Tapi kali ini Tasya memilih duduk agak jauh dari Ronny demi menjaga perasaan Dion.


"Kak Ronny tinggal dimana sekarang?" Gantian Tasya yang bertanya.


"Dimana saja" jawab Ronny sambil terkekeh.


Tasya berdecak kesal.


Entah perasaannya saja atau memang kakak angkatnya ini sekarang memang berubah jadi ngeselin.


Tasya kembali melihat ke arah Dion.


Lelaki itu masih diam menunduk.


Tasya merasa bersalah sekarang.


"Kamu tinggal dimana?" Tanya Ronny kembali memecah keheningan diantara mereka


"Di perumahan Sejahtera.


Kakak bisa mampir kalo ada waktu." Jawab Tasya dengan cepat.


Ronny mengangguk.


Sungguh pertemuan yang canggung. Semuanya benar benar diluar ekspetasi Tasya.


Kini Tasya merasa kurang nyaman berada di ruangan ini.


Belum lagi Dion yang berubah jadi dingin sejak tadi.


Ah, Tasya sungguh ingin segera mengakhiri ini semua.


"Udah sore, Tasya pulang dulu ya, Bu. Lain kali Tasya mampir lagi" Tasya berpamitan pada bu Ranti sambil berbasa basi.


"Kok buru buru, Sya?" Jawab Bu Ranti


"Iya, bu. Tasya belum pamit sama mama. Takut dicariin" ucap Tasya beralasan.


Bu Ranti hanya mengangguk tanda paham


"Ya sudah, salam buat mama Sarla ya." Jawab Bu Ranti sambil tersenyum.


Tasya mengambil tasnya.


"Kak Ronny Tasya pulang dulu. Kakak main aja kerumah kalo ada waktu" Tasya berpamitan pada Ronny.


Ronny mengacak puncak kepala Tasya.


"Hati hati. Jangan pacaran mulu" pesan Ronny sambil terkekeh.


Tasya hanya manyun.


Dion ikut berpamitan pada bu Ranti dan Ronny meskipun sedikit canggung.


Dua remaja itupun segera masuk ke mobil dan bergegas meninggalkan panti melaju membelah jalanan sore yang hampir gelap.

__ADS_1


__ADS_2