Natasya

Natasya
Merasa Bersalah


__ADS_3

Waktu berlalu dengan cepat.


Ujian kenaikan kelas baru selesai di jalani oleh Tasya dan teman temannya.


Namun, sikap Silvi dan Vina masih saja dingin pada Tasya maupun Salsa.


Tasya mencoba untuk mengabaikannya, seperti saran dari Salsa dan Dion.


Hubungan Tasya dan Dion pun kini bukan lagi hubungan sembunyi sembunyi. Sudah banyak yang tahu mengenai kedekatan mereka.


Dan Tasya tak perlu lagi sembunyi sembunyi kala ingin menemui atau berbicara dengan Dion. Kini mereka berdua bisa duduk santai satu meja saat di kantin.


Di halaman parkir,


"Sya, mau pulang bareng aku apa bareng Dion?" Salsa yang sudah nangkring di atas motor matic nya bertanya pada Tasya yang tampaknya masih celingukan.


"Kamu duluan aja, Sal. Kayaknya aku balik sama Dion aja." Ucap Tasya sedikit ragu.


"Yakin?" Tanya Salsa sekali lagi.


Tasya mengangguk.


Tapi baru saja Salsa akan menghidupkan mesin motornya, dari pintu gerbang terdengar suara teriakan.


Salsa dan Tasya menoleh ke arah sumber suara.


Ada Vira yang tengah berdebat dengan seorang wanita paruh baya.


"Lepas, aku gak mau pulang sama ibu. Ibu bukan ibu kandung aku" ucap Vira berontak.


Wanita paruh baya tersebut tampak memegang tangan Vira dengan kuat membuat gadis itu meronta ronta minta dilepaskan.


"Pulang sekarang. Ayo pulang!" kata Bu Sandra galak sambil melotot ke arah Vira


"Aku gak mau kembali ke rumah neraka itu. Lepas bu" Vira terus berontak


Tasya mendekat ke arah Vira.


"Bu, lepasin. Vira gak mau ikut sama ibu" Tasya mencoba melepaskan tangan Vira dari Bu Sandra.


"Heh, kamu gak usah ikut campur. Namanya dia itu Rara bukan Vira" bentak bu Sandra pada Tasya.


"Aku Vira bukan Rara" Vira terus berontak. Tangannya terasa sakit sekarang.


"Bu, lepasin tangan Vira. Ini bisa dibicarakan baik baik" saran Tasya masih sambil berusaha melepaskan tamhan bu Sandra dari Vira.


Namun tiba tiba bu Sandra menyentak tangan Tasya hingga membuat gadis itu terhuyung ke belakang hingga akhirnya menabrak pagar.


"Bruk"


Lumayan keras saat Tasya jatuh menabrak pagar, membuat gadis itu meringis kesakitan.


"Tasya!" Buru buru Salsa menghampiri Tasya yang kini tengah jatuh terduduk.


Tangan Vira sudah lepas dari bu Sandra. Vira berdiri mematung melihat Tasya yang terjatuh saat berusaha menolongnya tadi.


"Baiklah, kalo memang kamu gak mau pulang sekarang, gak usah pulang saja selamanya. Dasar anak pungut tidak tahu terima kasih " ujar bu Sandra berapi api sebelum akhirnya pergi meninggalkan tempat tersebut.


"Sya, loe gak apa apa?" Vira akhirnya menghampiri Tasya yang kini masih terduduk.


Terlihat kekhawatiran di wajah Vira.


"Sya, tangan loe berdarah" Salsa menunjuk ke arah lengan Tasya yang sepertinya tergores besi pagar dan kini mengucurkan darah segar.


"Gue gak papa, Sal" ucap Tasya sambil berusaha berdiri. Salsa dan Vira membantu Tasya untuk berdiri.

__ADS_1


Sementara itu di kejauhan, Silvi dan Vina baru saja keluar menuju halaman parkir. Melihat keributan di dekat gerbang, dua gadis itupun merasa kepo dan penasaran.


"Sil, itu Tasya kenapa?" Tanya Vina khawatir.


"Bodoamat. Gue gak ngurusin" jawab Silvi berusaha acuh. Namun ia tetap melihat ke arah Tasya.


Ada sedikit kekhawatiran di hati Silvi melihat Tasya yang sepertinya terluka.


Tak berselang lama, Dion menghampiri Tasya.


"Udah, balik yuk. Males gue liat drama romeo dan juliet kesiangan." Ucap Silvi akhirnya sambil masuk ke dalam mobilnya.


Vina hanya mengendikkan bahu dan ikut masuk ke dalam mobil Silvi.


*****


"Nat, kamu kenapa?" Tanya Dion khawatir saat mendapati Tasya yang tengah memegangi tangannya yang berdarah.


"Gak papa, Di. Tadi aku jatuh aja" jawab Tasya berbohong. Ia tak ingin membuat Dion semakin khawatir.


"Kita kerumah sakit yuk" ajak Dion.


"Aku gak papa, Di" jawab Tasya bersikeras.


"Udah, Sya. Dion benar loe mending ke rumah sakit, biar itu luka bisa diobati" ujar Salsa sedikit memaksa.


Tasya menghela nafas. Mungkin sebaiknya ia menurut.


Ia malas berdebat sekarang.


"Yaudah kalo gitu." Ucap Tasya pasrah.


Dion bergegas kembali ke halaman parkir untuk mengambil motornya.


"Vir, loe baik baik aja kan?" Tasya baru sadar kalo Vira masih berdiri di dekatnya sedari tadi. Gadis itu terlihat menunduk


"Gue gak papa kok. Vir. Loe bisa pulang sendiri kan?" Tanya Tasya lagi.


Vira mengangguk.


Vira ke sekolah naik motor belakangan ini. Mama Sarla baru membelikannya motor beberapa minggu yang lalu. Sebenarnya mama Sarla sering menyuruh Tasya dan Vira untuk berangkat bareng.


Namun karena menyadari posisi serta hubungannya yang kurang akur pada Vira, Tasya akhirnya memilih untuk berangkat bareng Salsa saja setiap pagi.


"Ayo, Nat" Dion sudah siap dengan motornya.


Tasya segera naik ke atas motor Dion.


"Sal, gue duluan" pamit Tasya pada Salsa.


"Oke, hati hati" pesan Salsa.


Tasya mengangguk.


Dion segera melajukan motornya meninggalkan sekolah.


"Loe baik baik aja, Vir?" Tanya Salsa pada Vira yang masih berdiri di dekatnya.


"Iya, Sal." Jawab Vira singkat.


"Gue pulang duluan ya. Loe hati hati pulangnya" ucap Salsa sambil menepuk ringan bahu Vira. Membuat gadis tersebut mengangguk.


"Iya, Sal. Makasih" ucap Vira tulus.


Salsa pun berjalan kembali menuju halaman parkir untuk mengambil motornya.

__ADS_1


*****


"Gimana suster?" Tanya Dion khawatir pada seorang perawat berseragam putih yang kini temgah mengobati luka di lengan Tasya.


"Gak apa apa kok dek.


Udah selesai. Sering diganti aja ya perbannya dan jaga kebersihan lukanya" pesan suster itu pada Tasya.


Tasya mengangguk


"Makasih suster" ucap Tasya dan Dion berbarengan.


Perawat itupun meninggalkan ruangan UGD.


Tasya turun dari ranjang dibantu oleh Dion.


"Luka kayak gini doang ke UGD. Kan bisa diobatin sendiri, Di" gerutu Tasya pada Dion.


Mereka berdua berjalan keluar dari ruangan tersebut.


"Kan aku khawatir sama kamu, Nat" ucap Dion berlebihan membuat Tasya memutar bola matanya.


Kedua remaja itu duduk sebentar di salah satu kursi panjang yang ada di sisi koridor.


"Tadi Vira kenapa?" Tanya Dion kepo.


Dirinya tadi memang agak terlambat keluar dari kelas karena harus membantu Denny melaksanakan piket membersihkan kelas.


"Ibu angkat yang dulu merawatnya saat Vira hilang ingatan memaksa Vira untuk kembali kerumahnya" jawab Tasya lirih.


Vira sudah menceritakan semua perlakuan buruk ibu Sandra pada mama Sarla dan Tasya juga sempat mendengarnya. Sebenarnya Tasya merasa iba, karena bagaimanapun juga yang membentuk Vira menjadi pribadi yang semena semena adalah bu Sandra.


Namun Tasya juga tidak mau terlalu menghakimi, karena jika bu Sandra tidak pernah menemukan Vira, entah bagaimana nasib gadis itu sekarang.


Dion hanya manggut manggut mencoba untuk memahaminya saja. Dan malas bertanya secara detail


"Padahal hari ini aku mau ngajak kamu ke tempat kerjaan kamu" ucap Dion mengalihkan topik pembicaraan. Dion merentangkan tangannya demi bisa merangkul Tasya.


"Tapi tangan kamu terluka begitu. Mungkin kapan kapan aja kita kesananya" lanjut Dion.


"Aku baik baik aja, Di. Bisa kita pergi sekarang?" Tasya memasang wajah semanis mungkin demi membujuk Dion.


Dion tampak berpikir sebentar.


"Ayolah, Di" Tasya memaksa sambil memukul mukul lengan Dion membuat cowok itu terkekeh.


"Dion, Tasya? Kalian berdua kenapa disini" Suara mama Wina sungguh membuat Dion dan Tasya terkejut.


"Mama," ucap Dion lirih.


"Kalian ngapain disini?" Tanya mama Wina khawatir.


"Ee ini ma, Dion anterin Tasya ke UGD tadi tangannya Tasya terluka" Dion menjelaskan sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia tampak salah tingkah.


"Trus sekarang gimana keadaan kamu, Sya" tanya mama Wina semakin khawatir.


"Tasya gak papa kok, tante. Dion aja yang berlebihan. Cuma luka kecil padahal" ujar Tasya menjelaskan. Terlihat mama Wina bernafas lega.


"Ma, ayo..." Kevin yang baru datang menghamipri mama Wina terkejut melihat Dion dan Tasya yang juga berada di rumah sakit tersebut.


"Mama habis periksa?" Tanya Dion berbasa basi.


"Mama nganterin Kevin check up. Ini anaknya" ucap mama Wina sambil mengelus kepala Kevin yang kini hanya menunduk diam.


"Ma, Kevin ke mobil duluan ya." Pamit Kevin buru buru.

__ADS_1


Mama Wina hanya mengangguk. Tasya dan Dion tampak salah tingkah.


__ADS_2