Natasya

Natasya
SEASON KEDUA: EPILOG


__ADS_3

Usap air matamu


Dekap erat tubuhku


Tatap aku


Sepuas hatimu


Nikmati detik demi detik


Yang mungkin kita tak bisa rasakan lagi


Hirup aroma tubuhku


Yang mungkin tak bisa lagi tenangkan gundahmu


Gundahmu...


Nyanyikan lagu indah


Sebelum ku pergi dan mungkin tak kembali


Nyanyikan lagu indah


Tuk melepasku pergi dan tak kembali


(Detik Terakhir-Lyla)


Semilir angin meniup dedaunan kering yang berserakan di sepanjang jalan setapak tersebut.


Sinar matahari yang belum terlalu menyengat, mengintip di sela-sela pepohonan besar yang ada di kiri dan kanan jalan setapak.


Kicau burung dan suara gemerisik dari daun-daun yang tertiup angin, berpadu menjadi sebuah musik yang mengiringi setiap langkah manusia yang melewati jalan setapak tersebut.


Dion berjalan menyusuri jalan setapak tersebut, menggandeng kedua anak kembarnya masuk ke area pemakaman.


Ketiganya terus berjalan melewati blok demi blok pemakaman menuju ke sebuah makam.


Ada sebuket bunga mawar yang mulai layu di atas makam tersebut.


Segera Dion mengambilnya dan menggantinya dengan buket bunga yang baru.


Dion mengusap batu nisan yang tertancap di atas makam tersebut.


Rasa sesak dan sedih langsung membuncah di dadanya.


Selalu seperti ini setiap kali dirinya mengunjungi makam Natasya.


Bahkan setelah sekian lama Tasya meninggalkan dunia ini, Dion masih belum bisa menghapus rasa sedih itu. Cinta Dion pada Tasya terlalu besar.

__ADS_1


Dan selama sepuluh tahun ini, Dion berusaha untuk terus menghadirkan sosok Tasya untuk kedua anaknya yang kini sudah tumbuh besar.


Anak-anak yang kehadirannya selalu dirindukan oleh Tasya.


Namun saat anak-anak ini lahir ke dunia, Tasya malah pergi untuk selamanya meninggalkan mereka dan Dion yang kini harus berjuang menjadi seorang ayah tunggal.


"Papa menangis lagi?" Suara dari Nadien membuyarkan lamunan Dion tentang Tasya.


Dion menggeleng dan segera menghapus butir bening di sudut matanya.


Pria itu mengusap lembut kepala Nadien, putrinya.


"Papa hanya sedang merindukan mama kamu" ucap Dion lirih.


"Nathan ingin bertemu dengan mama, andai saja bisa" Nathan, anak laki-laki Dion dan Tasya berkata dengan nada sedih.


"Mama akan selalu ada di sini, di dalam hatimu." Dion menunjuk ke arah dada sang anak.


"Kalian hanya perlu menjadi anak-anak yang baik dan terus berdoa untuk mama, maka mama akan bahagia di atas sana" ucap Dion lagi sambil menerawang jauh.


Kedua anaknya kompak mengangguk.


Dion juga merindukan Tasya saat ini. Hanya ada foto Tasya yang setiap malam selalu Dion pandangi.


Dion rindu saat istrinya itu tertawa lepas atau saat Tasya mencebik karena sedang kesal.


Sepuluh tahun setelah kepergian Tasya, bahkan Dion tidak ada niat sama sekali untuk menggantikan posisi Tasya dengan wanita lain.


Satu nama yang akan selalu Dion cintai hingga nanti dirinya pergi meninggalkan dunia ini, menyusul Tasya dalam keabadian.


Tasya meninggal beberapa jam setelah ia melahirkan anak kembarnya.


Tasya mengalami penumpukan cairan di paru-parunya serta pendarahan hebat pasca melahirkan. Wanita itu bahkan belum sempat memeluk ataupun menggendong kedua anak kembarnya.


Tasya pergi untuk selamanya meninggalkan sepasang anak kembar yang kehadirannya selalu Tasya tunggu dan Tasya impikan.


Dion yang paling terpukul dengan kepergian Tasya.


Dion tidak tahu kenapa kebahagiaan yang kini ia peroleh setelah kelahiran anak kembarnya, harus ia bayar mahal dengan kepergian Tasya untuk selamanya.


Dion tidak bisa menyalahkan siapapun dalam hal ini.


Sejak masuk trimester ketiga, kehamilan Tasya memang sudah bermasalah.


Bahkan Elena menyarankan agar bayi-bayi Tasya segera dilahirkan, namun Tasya tetap bersikeras mempertahankan bayi-bayi dalam kandungannya hingga umur mereka cukup dan siap untuk dilahirkan.


Tasya hanya ingin bayi-bayinya lahir dalam keadaan sehat meskipun pada akhirnya nyawanya sendiri yang menjadi taruhannya.


Dion kembali menghapus airmata yang kini sudah jatuh di kedua pipinya.

__ADS_1


Mengingat tentang Tasya selalu bisa membuat Dion menangis.


Dion tak menyangka jika Tasya akan pergi secepat ini.


"Papa," suara dari Nathan sedikit membuat Dion tersentak.


"Iya, sayang" jawab Dion sembari menarik nafas panjang untuk mengendalikan emosinya.


"Apa kita jadi berkunjung ke rumah oma Sarla hari ini?" Tanya Nathan sekali lagi.


Dion mengangguk.


"Tentu saja. Ayo kita berangkat!" Jawab Dion sambil beranjak berdiri di ikuti oleh kedua anaknya.


Dion menatap sekali lagi ke arah makam istrinya tersebut sebelum akhirnya pergi meninggalkan gundukan tanah tersebut.


Tasya tetap akan ada di hati Dion dan kedua anaknya sampai kapanpun.


Bayangan wanita yang mengenakan baju serba putih memandang kepergian Dion dan kedua anaknya itu dari kejauhan.


Sebuah senyuman terkembang di bibir wanita itu.


Ia bahagia karena suami dan kedua anaknya selalu rutin berkunjung ke makamnya dan selalu mengingatnya setiap saat.


Ia bahagia karena kini anak-anaknya sudah tumbuh menjadi anak-anak yang sehat dan ceria.


Suaminya benar-benar merawat anak-anaknya dengan baik.


Bayang-bayang Tasya memandang ke arah jalan setapak yang tadi dilalui Dion dan kedua anaknya, sebelum akhirnya bayang-bayang itu menghilang bersama hembusan angin yang bertiup menerbangkan dedaunan kering.


Tasya sudah bahagia kini.


Tasya akan selalu ada di hati Dion dan kedua anaknya, Nathan dan Nadien


*****TAMAT*****


Mewek?


Udah ya... jangan pada mewek.


Maaf kalau akhirnya harus sad ending.


Maaf juga kalau alur nya sedikit ruwet dan membingungkan, author masih pendatang baru dan masih banyak belajar juga.


Dan kalau masih banyak typo yang bertebaran, harap maklum. Author sudah berulang kali revisi, tapi ada saja yang kelewat.


Terima kasih sekali lagi buat kalian semua yang sudah membaca, memberi like, komen, dan vote.


Kalian luar biasa.

__ADS_1


KISAH NATASYA SUDAH BENAR-BENAR TAMAT SAMPAI DI SINI.


*****


__ADS_2