Natasya

Natasya
SEASON KEDUA: First Anniversary


__ADS_3

Dion dan Tasya sudah sampai di rooftop rumah Dion, dimana ada minicourt di sana.


Lapangan basket mini yang selalu Dion pakai berlatih setiap pulang ke rumah ini.


Langit malam sudah berubah menjadi hitam.


Bintang-bintang yang bertaburan di gelapnya langit malam menandakan jika cuaca malam ini sedang cerah.


Namun Tasya tak menemukan sinar rembulan disana.


Mungkin sang rembulan masih bersembunyi di peraduannya.


Dion mengambil satu bola dan mulai memainkannya dengan serampangan. Pria itu sepertinya memang tak berniat untuk berlatih.


Tasya masih asyik memandang kerlap-kerlip lampu kota dari atas sini.


Saat pertama kali Dion mengajaknya ke tempat ini, Tasya langsung merasa kagum dan tak mengalihkan pandangannya dari kelap-kelip lampu kota di bawah sana.


Entahlah...


Hati Tasya merasa bahagia hanya dengan memandang kelap-kelip lampu jalanan, lampu dari gedung-gedung tinggi serta lampu dari kendaraan yang memadati jalan-jalan di bawah sana.


Semua cahaya itu seolah berpendar menjadi satu, menghasilkan pemandangan yang luar biasa menurut Tasya.


Tiba-tiba Dion melempar bola basket ke arah Tasya, membuat wanita itu kaget dan buyar sudah semua lamunan Tasya tentang kelap-kelip lampu kota.


Tasya melihat ke arah Dion dan langsung melotot tajam.


"Kau ingat itu?" Bukannya merasa bersalah, Dion malah tertawa cengengesan.


Tasya mengambil bola basket yang tadi dilempar oleh Dion.


"Ya. Tiba-tiba aku ingat pada seorang anak SMA yang ketus dan galak yang dengan sengaja melempar bola basket ke arah seorang gadis yang sedang menyiram bunga di halaman rumahnya" Tasya bercerita masih sambil menatap tajam pada Dion.


Dion yang mendengar cerita Tasya kini tertawa senang.


Dion senang karena Tasya masih mengingat kejadian saat itu dengan sangat baik.


"Maaf nona cantik, tapi bisakah kau koreksi? Aku bukan cowok galak dan ketus" Dion menyangkal dan sedikit tidak terima saat Tasya menyebutnya galak dan ketus.


"Tidak! Kau saat itu memang galak dan ketus" Tasya masih pada pendiriannya.


Dion hanya tergelak.


"Apa kau ingat kapan itu terjadi?" Tanya Dion sambil merangkul pinggang Tasya.


Tasya tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya ia menggeleng.


"Aku tidak ingat" jawab Tasya jujur.


"Hari ini sepuluh tahun yang lalu" ujar Dion sedikit berbisik di telinga Tasya.


Tasya mengernyitkan kedua alisnya


Wanita itu masih ragu dengan jawaban dari Dion.


"Kau yakin?" Tanya Tasya ragu.


Tentu saja Tasya merasa ragu. Bagaimana mungkin Dion bisa mengingat dengan detail tanggal kejadian hari itu?


Dion hanya terkekeh,


"Entahlah. Aku juga lupa" jawab Dion cengengesan.


Sontak Tasya langsung memukul dada Dion sekuat tenaga.


Namun bukannya kesakitan, Dion malah semakin tergelak. Dion tertawa senang karena sekali lagi dirinya berhasil membuat Tasya menjadi kesal.


"Puas banget tertawanya" Tasya mencebik karena merasa diusili oleh Dion.


"Baiklah, aku minta maaf. Jangan marah, oke! Aku hanya bercanda" Dion mendekap tubuh Tasya dan berusaha membujuk istrinya tersebut agar tak lagi ngambek.


Tasya tak menjawab, ia memilih untuk membenamkan tubuhnya semakin dalam ke dalam pelukan Dion.


Pelukan hangat yang selalu bisa menenangkan hati Tasya.


"Kau tidak jadi berlatih?" Tanya Tasya.


Dion menggeleng,


"Aku hanya ingin menghiburmu tadi. Aku senang akhirnya kamu bisa tertawa lepas lagi" jawab Dion sambil menatap lekat ke arah netra milik Tasya.


"Bisakah kita tinggal sebentar disini. Aku masih ingin menikmati suasana malam ini" pinta Tasya pada Dion.


"Tentu. Kemarilah!" Dion membimbing Tasya agar duduk di lantai court.


Tasya menyandarkan kepalanya di bahu Dion.


Keduanya menikmati kelap-kelip lampu kota dan cahaya bintang malam dari tempat tersebut.


Dion merangkul erat tubuh Tasya, saling bercerita tentang mimpi dan tentang masa depan.


******


Pagi hari,


Tasya membuka matanya, meskipun masih terasa berat.


Sekujur badannya juga terasa sedikit pegal. Entah apa yang sudah dilakukan Dion kepadanya semalam.


Tasya meraba-raba sisi lain ranjangnya untuk mencari keberadaan Dion.


Kosong.


Kemana pria itu?


Tasya memaksa bangun dan duduk bersandar pada kepala ranjang.


Tasya kembali melihat ke sisi ranjang yang kosong di sebelahnya.

__ADS_1


Ada sebuket bunga mawar segar disana. Tasya mengambil buket bunga tersebut dan menghirup aromanya.


Sangat segar dan harum.


"Pasti Dion yang meninggalkannya disini" gumam Tasya sambil tersenyum bahagia.


Namun Tasya masih belum melihat suaminya tersebut.


Sesaat kemudian, pintu kamar terbuka.


Dion masuk ke dalam kamar membawa nampan berisi makanan.


Tasya tak mengerti apa yang sebenarnya sedang dilakukan oleh Dion.


"Selamat pagi, bidadari" sapa Dion sambil memasang senyuman lebar di wajahnya


"Selamat pagi, suami bidadari" Tasya membalas sapaan Dion dan sedikit menahan tawa.


Sungguh panggilan yang aneh menurut Tasya, tapi Tasya selalu memakainya dan Dion pun tak pernah protes.


Dion mengecup singkat bibir Tasya sebelum meletakkan nampan berisi makanan tersebut ke atas ranjang.


"Apa ini, Di?" Tanya Tasya tak mengerti.


"Sarapan. Aku membuatnya pagi ini spesial untukmu" jawab Dion dengan bangga.


Tasya memperhatikan isi nampan tersebut, ada dua potong roti isi dan sepiring buah-buahan yang sudah dipotong dan disusun dengan rapi.


Dan jangan lupakan dua gelas susu yang juga ada disana.


"Kamu harus menghabiskannya" ucap Dion lagi.


Tasya mengangguk.


"Baiklah, tapi bisakah aku memakai bajuku dulu?" jawab Tasya sambil tertawa kecil.


"Dimana bajumu?" Tanya Dion sedikit bingung.


Tasya benar-benar ingin tertawa keras sekarang.


"Mana aku tahu. Kau yang melemparnya semalam" jawab Tasya sambil tertawa geli.


Dion pun celingukan mencari-cari baju Tasya yang entah di lemparnya kemana semalam.


"Di, kenapa tak mengambil yang baru saja di lemari?" Tasya memberikan solusi.


"Aku menemukannya" ucap Dion sambil tersenyum lebar. Dion bahkan mengangkat tinggi-tinggi gaun tidur tersebut.


"Baiklah berikan padaku!" Tasya mengulurkan tangannya dan meminta bajunya tersebut pada Dion.


Namun bukannya memberikan baju tersebut, Dion malah langsung memakaikannya ke badan Tasya.


"Baiklah, terima kasih suamiku" ucap Tasya tulus.


"Sama-sama istriku. Kita sarapan sekarang?" Tanya Dion


Tasya hanya mengangguk.


"Cobalah!" Ucap Dion.


Tasya mencicipi roti isi buatan Dion tersebut


"Tidak buruk" ucap Tasya sambil mengunyah roti isi di mulutnya.


"Akan lebih bagus jika kau juga melakukan ini setiap pagi di apartemen" ucap Tasya lagi sambil terkekeh.


Sebenarnya selama setahun ini, Dion memang kadang yang menyiapkan sarapan saat mereka tinggal di apartemen.


"Baiklah, aku akan melakukannya setiap hari" jawab Dion dengan mulut penuh roti isi.


"Aku hanya bercanda" ucap Tasya lagi.


Keduanya pun menghabiskan sarapan romantis itu sambil bersenda gurau.


Selesai sarapan, Tasya segera turun dari ranjang tempat tidur.


Tasya sudah akan keluar dan membawa nampan sarapan tadi ke dapur, namun Dion mencegahnya.


"Mandilah dulu, kita akan jalan-jalan hari ini" ucap Dion sambil mengambil alih nampan dari tangan Tasya.


Tasya mengernyit, namun wanita itu tak lagi protes.


Setelah Dion keluar dari kamar, Tasya bergegas masuk ke kamar mandi untuk mandi.


*****


"Kita akan ke mana?" Tanya Tasya pada Dion.


Keduanya baru saja keluar dari kamar dan sudah berpenampilan rapi.


"Ada. Nanti kamu akan menyukainya" jawab Dion merahasiakan.


Tasya tak bertanya lagi, meskipun dirinya sungguh merasa penasaran.


Pasangan suami istri itu menuruni tangga yang langsung mengarah ke lantai bawah.


Ada mama Wina yang sedang menggendong Axel, putra dari Vira dan Kevin di ruang tengah.


"Kalian mau pergi?" Tanya mam Wina saat melihat Dion dan Tasya yang sudah berpenampilan rapi.


"Iya, Ma. Kami akan jalan-jalan sebentar." Jawab Dion.


Sementara itu Tasya menghampiri mama Wina dan menyapa bayi Axel yang baru berusua beberapa bulan tersebut.


"Mau menggendongnya?" Tanya mama Wina.


Tasya mengangguk sambil tersenyum dan langsung mengambil bayi Axel dari gendongan mama Wina.


"Halo, ganteng" Dion ikut menyapa bayi Axel.

__ADS_1


"Jangan genit kayak om kamu, ya" bisik Tasya pada bayi tersebut.


Namun Dion masih bisa mendengar kata-kata Tasya barusan.


"Genit? Tapi kamu suka kan?" Dion malah menggoda Tasya.


Tasya hanya mencibir.


Vira datang dari arah dapur membawa makanan untuk Axel.


"Wah, wah. Masih pagi sudah rapi. Mau honey moon?" Vira menyapa Tasya dan Dion.


"Hanya jalan-jalan, Vir" jawab Tasya singkat.


"Dia cepat akrab sama kamu" ucap Vira lagi sambil memegang jemari mungil bayi Axel.


Tasya hanya mengangguk.


"Sya, aku sungguh minta maaf atas kata-kataku semalam." Ucap Vira lagi. Ada nada penyesalan di sana.


Tasya tersenyum,


"Tak apa, aku sudah melupakannya" jawab Tasya berusaha santai.


"Semoga kami dan Dion cepat diberikan momongan" tambah Vira lagi.


"Aamiin" jawab Tasya dan Dion kompak.


"Kamu akan menyuapi Axel?" Tanya Tasya mencairkan suasana.


Gantian Vira yang mengangguk.


Tasya memberikan Axel kepada Vira.


"Kami akan pergi sekarang" ucap Dion berpamitan.


"Hati-hati" pesan Vira.


Dion dan Tasya hanya mengangguk.


Keduanya gantian berpamitan pada mama Wina.


Setelah mencium punggung tangan mama Wina, Tasya dan Dion bergegas menuju ke halaman.


"Pakai ini" Dion memakaikan helm ke kepala Tasya.


"Naik motor?" Tanya Tasya bingung.


"Ya, kita sudah lama tidak naik motor berdua" jawab Dion sambil memakai helmnya sendiri.


Dion segera naik ke atas motor lamanya tersebut.


Masih motor yang sama yang dulu sering Dion pakai untuk mengantar jemput Tasya saat mereka masih duduk di bangku SMA.


Tasya naik di jok belakang dan langsung memeluk erat pinggang Dion. Jika dulu Tasya selalu enggan melakukan hal ini, berbeda dengan sekarang.


Sekarang Tasya adalah istrinya Dion, jadi rasanya hal ini adalah hal yang wajar.


Dion segera melajukan motornya meninggalkan rumah tersebut. Melaju menuju jalan raya.


Entah kemana Dion akan membawa Tasya.


*****


Dion membelokkan motornya masuk ke kawasan taman kota.


Tempat dimana dulu Dion dan Tasya biasa menghabiskan waktu bersama.


Tempat ini sudah banyak berubah sekarang.


Mungkin karena sudah dilakukan renovasi di beberapa bagian.


"Taman kota?" Ucap Tasya tak percaya.


"Ya, kau ingat. Dulu kita sering duduk di tepi danau, bercerita hingga matahari terbenam" Dion mengenang kembali masa-masa itu.


"Tentu saja aku ingat. Apa kita akan duduk lagi di sana sekarang?" Tasya menunjuk ke deretan kursi di tepi danau.


Tak banyak yang berubah di bagian yang itu.


Mungkin memang mereka sengaja tak merenovasinya.


"Ayo turun. Kita pacaran di sana" ucap Dion sambil terkekeh.


Tasya ikut terkekeh.


Setelah turun dari motor, keduanya berjalan beriringan menuju ke deretan kursi yang ada di pinggir danau.


Dion dan Tasya memilih untuk duduk di kursi yang ada di sudut.


Suasana masih sepi, mungkin karena ini bukan weekend, jadi tidak ada yang berkunjung ke sini.


"Apa kamu ingat sekarang hari apa?" Tanya Tasya pada Dion.


"Hari Senin" jawab Dion sambil menahan senyumannya.


"Bukan itu" Tasya sedikit mencebik karena Dion tak mengingat hari spesial ini.


"Hari satu tahun pernikahan kita. Tentu saja aku mengingatnya" lanjut Dion sambil merengkuh Tasya ke dalam pelukannya.


"Aku pikir kau tadi ingin memberiku surprise lain disini" ujar Tasya sambil tertawa kecil.


Tasya menertawakan dirinya sendiri karena kadang dirinya berekspetasi terlalu tinggi.


"Apa kejutanku tadi pagi masih kurang bagus?" Tanya Dion dengan nada serius.


"Terlalu bagus, kenapa kamu selalu saja romantis kepadaku?" Tasya menatap dalam ke arah wajah Dion.


"Karena aku mencintaimu" jawab Dion sambil mengecup kening Tasya.

__ADS_1


*****


Udah ah bucinnya, author jadi pengen ngemilin wafer 😷


__ADS_2