
Dion dan Tasya dipersilahkan duduk oleh bu Ranti di sebuah sofa yang sudah sedikit usang.
Seingat Tasya, tidak banyak yang berubah dari panti asuhan ini sejak terakhir ia meninggalkannya.
Bu Ranti duduk di sebelah Tasya sambil merangkul gadis tersebut.
"Kamu tumbuh jadi gadis yang cantik, Sya. Gimana kabar mama kamu?" Tanya Bu Ranti.
"Mama sehat, Bu. Mama titip salam buat Bu Ranti dan minta maaf karena belum ada waktu untuk berkunjung ke sini" jawab Tasya panjang lebar.
Bu Ranti mengangguk tanda mengerti.
"Dan ini siapa? Pacar kamu?" Bu Ranti menunjuk ke arah Dion yang sedari tadi hanya diam menyimak obrolan dua wanita tersebut.
"Ini teman Tasya, Bu" jawab Tasya sambil terkekeh.
Dion pun ikut tertawa.
"Jadi kamu dan mama kamu udah pindah ke kota ini lagi, Sya?" Setelah mendengar cerita dari Tasya, bu Ranti menarik kesimpulan.
"Iya, bu. Tasya jadi bisa lebih sering main kesini" ucap Tasya senang.
Bu Ranti hanya tersenyum sembari mengelus rambut Tasya.
Bagi Bu Ranti, Tasya masih sama seperti Tasya kecil dulu.
"Oh, ya. Kak Ronny sekarang dimana, bu?" Tanya Tasya kemudian. Ia sungguh merindukan kakak angkatnya tersebut.
"Ronny sudah lama keluar dari panti. Dia sudah mandiri sekarang. Hanya sesekali dia kesini untuk menengok adik-adiknya." Cerita bu Ranti.
Ada sedikit raut kekecewaan di wajah Tasya.
Padahal dia sangat merindukan kak Ronny, ternyata takdir belum menemukan keduanya.
"Apa ibu tahu, kak Ronny tinggal dimana sekarang?" Tanya Tasya sedikit berharap.
"Dia sering berpindah kontrakan, Sya. Ibu tidak tahu alamat jelasnya.
Dia sering datang kesini, jadi ibu tak terlalu khawatir" jawab bu Ranti mencoba menjelaskan.
"Lalu kapan dia biasanya datang kesini. Tasya pengen ketemu sama kak Ronny" ucap Tasya sedikit sedih.
"Tidak bisa ibu pastikan juga, Sya. Biasanya pas awal bulan dia datang" hanya itu jawaban yang bisa diberikan oleh Bu Ranti.
Tasya sedikit kecewa. Tapi ia juga tak bisa berbuat apa-apa sekarang.
"Kenapa tidak meninggalkan nomermu saja, Sya. Biar ibu Ranti bisa menghubungimu saat kak Ronny kesini" usul dari Dion membuat bibir Tasya melengkungkan sebuah senyuman.
Ide yang bagus.
__ADS_1
"Iya, Sya. Ibu akan menghubungimu saat Ronny kembali. Kamu bisa langsung ke sini" tambah Bu Ranti.
Tasya pun mengangguk dan segera menuliskan nomer ponselnya di sebuah kertas.
*****
"Jadi, siapa kak Ronny mu itu?" Tanya Dion pada Tasya.
Mereka tengah duduk di halaman panti, menyaksikan anak-anak yang bermain dan berlarian.
"Dia kakak angkatku, dulu saat aku masih tinggal di sini, dia yang selalu menjagaku dan melindungiku" cerita Tasya antusias.
Entah mengapa hati Dion mendadak panas melihat Tasya yang berbinar-binar bercerita tenyang kak Ronny nya itu.
"Apa kau menyukainya?" Tanya Dion lagi. Hatinya terlanjur panas. Ia bahkan tak sempat berpikir sebelum mengajukan pertanyaan itu pada Tasya.
Seketika Tasya langsung tertawa keras.
Pertanyaan dari Dion menurutnya sungguh lucu dan konyol.
"Apa kau sedang cemburu sekarang?" Tanya Tasya menggoda. Sontak Dion jadi merasa malu dan membuang wajahnya ke arah lain.
Tasya semakin tergelak.
"Aku hanya bertanya" gumam Dion lirih sedikit kesal.
"Aku hanya menganggapnya sebagai kakakku, Di. Tidak lebih. Seperti halnya kau dengan kak Kevin" Tasya mencoba menjelaskan dengan bijak.
"Bisakah tidak usah membawa nama itu?" Dion mendengus kesal.
"Iya maaf. Aku tak akan mengulanginya.
Tapi bisakah kau hapus rasa cemburumu yang konyol itu?" Ucap Tasya sedikit terkekeh.
Dion berdecak kesal.
"Aku tidak cemburu" Dion berusaha mengelak. Tapi tetap saja Tasya masih tertawa.
"Baiklah terserah kau saja" ucap Tasya sambil beranjak berdiri. Ia masuk ke dalam panti meninggalkan Dion seorang diri.
Dion masih memikirkan dan mengira-ngira siapa sebenarnya kak Ronny yang dimaksud oleh Tasya.
"Kenapa namanya harus sama dengan pelatih resek itu" gumam Dion sedikit kesal.
"Tapi kayaknya gak mungkin pelatih resek itu. Jelas-jelas kemarin dia gak kenal sama Tasya, malah bikin Tasya ketakutan. Lagipula yang punya nama Ronny kan banyak" gumam Dion sekali lagi berusaha mencari pembenaran.
Hatinya masih dongkol mengingat hukuman yang diberikan oleh pelatih barunya itu kemarin.
*****
__ADS_1
Tasya sedang membantu bu Ranti menyiapkan makan siang untuk anak-anak.
"Kelihatannya Dion anak yang baik, Sya" Bu Ranti membuka obrolan di antara mereka.
"Iya, bu. Dia baik dan perhatian" cerita Tasya antusias.
"Sepertinya dia menyukaimu. Apa benar kalian berdua tidak pacaran?" Tanya Bu Ranti sekali lagi.
Sontak kedua pipi Tasya langsung berubah merah.
Bu Ranti yang melihat wajah merah Tasya langsung terkekeh.
Tiba-tiba ponsel Tasya berdering.
Tasya pun mengangkat telpon
"Iya, Sil" jawab Tasya
"Sya, kamu dirumah? Hang out yuk. Aku jemput ya" ucap Silvi di seberang sana
"Aku lagi diluar, Sil." Jawab Tasya merasa tak enak.
"Yah. Dimana emang? Aku jemput deh" Silvi tetap memaksa.
"Lagi ada keperluan. Kapan kapan aja ya hang out nya" Tasya mencoba mencari alasan. Ia tak mungkin mengatakan sedang ada di panti bersama Dion. Bisa heboh teman-temannya.
"Ya udah kalo gitu. Bye" Silvi menutup telponnya.
Tasya menyimpan kembali ponselnya.
Sedikit rasa bersalah hinggap di hatinya.
Belakangan ini ia sering berbohong pada teman-temannya demi bisa ketemu Dion.
Sungguh hubungan yang rumit.
Dion selalu berpesan agar Tasya tak memberitahu teman-temannya tentang hubungan mereka berdua.
Dion khawatir teman-teman Tasya akan marah dan meninggalkan Tasya, mengingat reputasi Dion yang terkenal sebagai siswa ketus dan kasar.
"Sya, kenapa melamun?" Perkataan dari Bu Ranti sontak membuyarkan lamunan Tasya.
"Eh, enggak bu." Jawab Tasya gelagapan.
Bu Ranti hanya geleng-geleng kepala.
"Makan siangnya sudah siap. Kamu panggil Dion ya" ucap Bu Ranti lagi.
Tasya hanya mengangguk dan bergegas keluar dari dapur untuk memanggil Dion dan mengajaknya makan siang bersama Bu Ranti serta anak-anak penghuni panti. .
__ADS_1