Natasya

Natasya
Mengambil Keputusan


__ADS_3

Hari ini adalah hari besar.


Pernikahan mendadak antara Vina dan Denny baru selesai di gelar. Tentu saja bukan sebuah pesta mewah dan megah, mengingat alasan dilaksanakannya pernikahan ini adalah hal yang di luar keinginan kedua mempelai.


Vina terlihat menangis sepanjang acara, mungkin penyesalan itu masih belum hilang dari benaknya.


Hanya ada keluarga dekat kedua mempelai dan beberapa teman sekolah Denny serta Vina.


Dari tim basket hanya ada Dion dan pelatih Ronny.


Dion sengaja tak memberitahu anggota timnya yang lain karena memang ini adalah sebuah aib.


Dan Dion tidak mau terlalu ikut campur, meskipun dirinya adalah sahabat dekat Denny, Dion paham kalau semua rahasia ini sepatutnya ia jaga rapat rapat.


Dion akan membiarkan Denny yang memberitahu sendiri tentang kabar pernikahannya pada teman temannya.


Dion melihat ke arah Tasya yang kini tengah duduk bersama Salsa dan Silvi.


Tasya tampil anggun hari ini mengenakan gaun selutut berwarna coklat tua.


Dion sungguh tak ingin mengalihkan perhatiannya dari Tasya sekarang.


Perasaannya pada Tasya semakin hari semakin aneh saja.


Tapi bukan hal itu yang mengganggu pikirannya saat ini.


Ada satu hal penting yang ingin Dion bicarakan pada Tasya.


'Mungkin ini memang saat yang tepat' gumam Dion pada dirinya sendiri.


Ia dan Tasya seperti sudah memiliki suatu ikatan. Dion ingin selalu minta pendapat dari Tasya sebelum ia mengambil sebuah keputusan.


Tasya mengarahkan pandangannya ke arah Dion.


Dan akhirnya tatapan mata keduanya bertemu.


Tasya dan Dion saling melempar senyum.


*****


Acara sudah selesai.


Tasya dan teman temannya memutuskan untuk segera pulang setelah memberikan ucapan selamat pada Vina.


"Sya, loe mau pulang bareng kita gak?" Tanya Salsa saat ia dan kedua sahabatnya tersebut sudah tiba di halaman rumah Vina.


"Aku pulang bareng Dion aja, Sal. Sekalian mau antar kak Ronny" jawab Tasya cepat.


Tadi saat berangkat Tasya juga bersama Dion dan kak Ronny.


Sedangkan Salsa datang bersama Silvi.


"Yaudah, hati hati, Sya. Kita duluan ya" pamit Silvi.


Gadis itu segera masuk ke dalam mobilnya di susul oleh Salsa.


Setelah melambaikan tangan pada Tasya, mobil Silvi meluncur keluar dari halaman rumah Vina menuju jalan raya.


Tasya melihat ke arah teras, Dion dan kak Ronny baru saja keluar dari dalam rumah Vina. Keduanya tampak berbincang serius.


"Hai, udah lama nungguin?" Tanya Dion berbasa basi.


"Enggak baru aja. Silvi dan Salsa juga baru aja pulang" jawab Tasya sekenanya.


"Salsa udah pulang?" Tanya Ronny sedikit kecewa.

__ADS_1


Tasya hanya terkikik melihat raut kekecewaan di wajah kakak angkatnya tersebut.


"Kakak telat. Hahaha" ucap Tasya sambil tertawa.


"Ada apa sih?" Tanya Dion bingung.


"Kak Ronny lagi pedekate sama Salsa" jawab Tasya masih tertawa.


"Oh," Dion sepertinya paham dan kini ikut tertawa.


"Balik bareng kita aja, Kak" tawar Tasya.


"Iya, memang udah takdir kakak jadi obat nyamuk diantara kalian" ucap Ronny sambil mencebik. Sontak hal itu membuat Tasya dan Dion tertawa terbahak bahak.


Ronny memilih mengabaikannya dan langsung masuk ke dalam mobil Dion.


Tasya dan Dion menyusul masuk ke dalam mobil.


*****


Dion dan Tasya baru saja mengantar kak Ronny pulang ke apartement nya.


"Nat," Dion membuka suara memecah keheningan di antara dirinya dan Tasya


"Iya, Di?" Jawab Tasya santai.


"Kita ke taman sebentar ya, aku pengen ngomong sesuatu" lanjut Dion lagi.


Tasya sedikit mengernyit bingung.


Namun akhirnya ia mengangguk tanda setuju meskipun dalam hatinya muncul berbagai pertanyaan.


Dion membelokkan mobilnya ke arah taman kota.


Suasana sedikit lengang, mungkin karena ini sudah siang.


Sesaat suasana hening saat keduanya sudah duduk.


Hanya ada suara dedaunan yang tertiup angin.


Tasya mengarahkan pandangannya ke tengah danau. Air danau siang ini sungguh tenang. Hanya ada riak riak kecil yang terlihat.


"Ada masalah apa?" Tasya membuka suara untuk memecah keheningan.


Bukankah tdi Dion ingin membicarakan sesuatu? Kenapa sekarang Dion hanya diam?


"Nat, aku ditawari untuk jadi pemain profesional di sebuah klub" ujar Dion sedikit ragu.


Natasya menoleh ke arah Dion, memandang lekat wajah cowok yang beberapa tahun terakhir ini menjadi sahabat sekaligus teman curhatnya.


"Bagus kalo begitu, Di. Aku ikut senang" ucap Natasya berbinar binar.


"Bukan itu masalahnya, Nat" lanjut Dion lagi. Ada raut yang tak bisa dijelaskan di wajah Dion.


Tasya mengernyit heran.


"Klub itu ada di kota lain. Jika aku terima, mau tak mau aku harus tinggal di sana." Ucap Dion sedih.


Tasya terdiam.


Ia tahu maksud Dion.


Dion pasti merasa berat jika harus berjauhan dengan dirinya.


Belum lagi keinginan Dion yang ingin selalu menjaga Tasya, pasti menjadi beban tersendiri di hati Dion.

__ADS_1


"Di, aku akan baik baik disini. Pergilah, raihlah cita citamu. Bukankah menjadi pemain profesional adalah impianmu sejak dulu?" Tasya berkata dengan tegar.


Ia tak boleh menjadi beban dan penghalang untuk Dion.


Dion memandang lekat wajah Tasya. Gadis yang entah bagaimana bisa membuat Dion jatuh cinta dan terus berusaha untuk menjaganya hingga kini.


"Di, banyak yang jagain aku disini. Kamu gak perlu khawatir" Tasya meraih tangan Dion. Mencoba meyakinkan Dion bahwa dirinya akan baik baik saja meskipun jauh dari Dion.


"Aku akan pergi setelah ujian, apa kamu gak keberatan kalau kita berhubungan jarak jauh?" Tanya Dion masih ragu.


Tasya,tersenyum simpul


"Aku percaya sama kamu. Aku akan menjaga diriku disini, oke" jawab Tasya mencoba bijak.


Dion menghela nafas panjang.


Dion sungguh tak tahu kalau rasanya akan seberat ini.


Ia sudah terbiasa selalu dekat dengan Tasya.


"Kau akan kuliah kemana setelah lulus nanti?" Tanya Dion mengalihkan pembicaraan.


Tasya mengendikkan bahu.


Sejak kecil Tasya selalu bercita cita untuk jadi dokter atau perawat.


Ia ingin sekali memiliki sebuah klinik sendiri agar dirinya bisa mengobati dan merawat anak anak yatim piatu terutama.


Namun, melihat status Tasya saat ini yang hanyalah seorang anak angkat dari seorang ibu tunggal dengan penghasilan yang pas pasan, rasanya hal itu sungguh mustahil.


"Kamu pasti punya cita cita kan, Sya?" Tanya Dion lagi.


"Ya" jawab Tasya sambil mengangguk.


"Namun sepertinya cita citaku harus ku kubur dalam. Mungkin aku akan mencari beasiswa agar aku bisa lanjut kuliah" ucap Tasya lagi.


Dion mengernyit tak mengerti?


"Memang apa cita citamu? Bisakah aku membantu untuk mewujudkannya?" Tanya Dion serius.


Sesaat Tasya terdiam. Lalu kemudian Tasya tertawa canggung.


Dion semakin tak mengerti.


"Aku akan berusaha sendiri, Di. Kamu fokuslah pada basket mu itu.


Apa kamu juga akan kuliah?" Tasya balik bertanya.


"Papa ingin aku kuliah bisnis juga. Tapi entahlah. Sementara ini aku ingin fokus bermain basket. Setidaknya sampai aku bisa masuk timnas" jawab Dion sambil terkekeh.


"Amiin." Ucap Tasya mengaminkan kata kata Dion.


"Pasti papa kamu juga ingin yang terbaik untuk masa depan kamu, Di. Jadi jangan mengecewakan beliau" nasehat Tasya bijak.


Dion mengangguk dan setuju dengan kata kata Tasya barusan.


"Jadi, kau akan berjuang kan" tanya Tasya serius.


Kali ini Dion mengangguk dengan mantap.


"Ya, aku akan berjuang. Buat kamu" Dion menggenggam erat tangan Tasya.


Sebuah senyuman tersungging di bibirnya.


Tasya ikut tersenyum bahagia. Meskipun pada akhirnya ia dan Dion akan jarang bertemu, setidaknya

__ADS_1


Tasya ikut senang karena Dion akan bisa mewujudkan mimpinya.


__ADS_2