
Dion baru saja tiba di rumah dan melepas sepatunya saat ponselnya berbunyi.
Kevin menelpon. Segera Dion mengangkatnya.
"Halo, Kev. Ada apa?" Tanya Dion sembari berjalan masuk ke dalam apartemen.
"Papa masuk rumah sakit, Di. Kamu bisa pulang?" Tanya balik Kevin di seberang sana.
"Apa! Kapan?" Dion langsung terkejut.
"Siang tadi. Kalau ada waktu pulanglah!" Pinta Kevin sekali lagi
"Iya, aku usahakan. Kondisi Tasya juga kurang baik. Tapi aku akan secepatnya pulang" janji Dion.
"Apa istrimu sakit?" Tanya Kevin di seberang sana. Terdengar nada kekhawatiran dari Kevin.
"Tidak, Tasya hanya kurang enak badan belakangan ini." Ucap Dion menutupi. Dion bahkan belum memberi tahu keluarga besarnya tentang kehamilan Tasya yang kini masuk dua belas minggu.
Tasya yang memintanya.
Rencana mereka akan pulang saat kandungan Tasya genap empat bulan dan mereka akan sekalian mengadakan syukuran. Tapi sekarang malah ada kabar mengejutkan dari Kevin soal papa Rian yang tiba-tiba masuk rumah sakit.
"Jadi bagaimana kondisi papa sekarang?" Tanya Dion lagi.
"Sudah stabil, kata dokter papa hanya kelelahan dan banyak pikiran," jelas Kevin sedikit melegakan.
"Baiklah, aku dan Tasya akan secepatnya pulang. Sampaikan salamku untuk papa dan mama" tukas Dion akhirnya.
"Baik akan ku sampaikan, aku tutup dulu telponnya." ujar Kevin berpamitan. Tak lama kemudian panggilan berakhir.
Dion berjalan menuju ke arah kamar. Tasya belum terlihat sedari tadi ia datang.
Biasanya istrinya itu selalu riang saat menyambut dirinya yang baru pulang kerja.
"Hoeeek" suara itu terdengar dari dalam kamar. Dion mempercepat langkahnya dan masuk ke dalam kamar.
Dion mengedarkan pandangannya ke dalam kamar. Tasya masih tak terlihat di dalam kamar, namun suara Tasya yang sedang muntah-muntah terdengar dari dalam kamar mandi yang ada di kamar tersebut.
Bergegas Dion menghampiri istrinya tersebut.
"Nat,"ucap Dion khawatir.
Tasya sedang terduduk di lantai kamar mandi. Wajahnya terlihat berantakan. Anak rambutnya berserakan menutupi wajahnya yang pucat.
"Aku baik-baik saja, Di" jawab Tasya lirih.
Tentu saja Dion langsung berdecak,
Bagaimana bisa istrinya ini mengatakan sedang baik-baik saja padahal wajahnya pucat dan badannya lemah seperti ini.
Dion segera membantu Tasya berdiri dan memapahnya keluar dari kamar mandi.
Dion mendudukkan Tasya di tepi ranjang tempat tidur.
"Kenapa mabukmu semakin parah, Nat? Bukankah seharusnya ini sudah mulai berkurang?" Tanya Dion tak mengerti. Pria itu menuang air putih yang ada di atas nakas ke dalam gelas lalu mengangsurkannya pada Tasya.
Tasya segera meneguk air putih yang di berikan oleh Dion dan meneguknya hingga tandas.
"Aku juga tak mengerti. Aku sudah rutin minum obat antimual yang di berikan dokter Ina. Tapi sepertinya itu tak banyak membantu" jawab Tasya lirih.
"Kamu tadi pulang jam berapa dari rumah sakit? Sudah makan?" Tanya Dion lagi.
"Aku pulang sedikit cepat karena mual-mual terus. Aku tidak bisa bekerja dengan benar hari ini" ceritq Tasya dengan nada sedih.
Dion ikut duduk di tepi ranjang.
"Resign saja, oke! Aku yang akan mengurusnya. Kamu harus istirahat di rumah" ujar Dion sambil mengusap wajah Tasya yang penuh dengan keringat.
"Bagaimana kalau aku bosan di rumah?" Sepertinya Tasya masih merasa keberatan.
Dion menghela nafas,
"Tapi aku juga tidak mau kamu kelelahan, Nat. Aku akan pulang lebih cepat agar kamu tidak bosan. Atau kalau perlu aku akan bekerja dari rumah" Dion berusaha mencari solusi.
"Memangnya bisa? Bekerja dari rumah?" Sergah Tasya tak percaya.
"Kenapa tidak, aku kan bosnya" jawab Dion dengan nada sombong sambil merangkul sang istri.
Tasya mencibir.
"Aku ingin makan rujak buah" ucap Tasya sambil menatap wajah Dion. Perasaannya saja atau Dion memang terlihat semakin tampan sekarang dengan kumis dan jambang tipis yang mulai tumbuh di wajah pria itu.
Dion melirik arloji di tangannya.
"Jam segini? Di mana yang jual rujak jam segini?" Tanya Dion bingung.
Jam sudah menunjukkan hampir pukul tujuh malam.
"Aku tidak menyuruhmu beli, Di. Aku ingin kamu yang membuatnya" Tasya mulai merengek.
"Aku? Aku tidak bisa Nat. Aku belum pernah membuat rujak" tolak Dion cepat.
Dion memang sering memasak saat di rumah. Tapi itu hanya masakan-masakan simpel. Dan untuk membuat rujak, Dion belum pernah sekalipun membuatnya.
"Aku bantu. Ayo!" Tasya sudah beranjak berdiri. Wanita itu menarik tangan Dion agar ikut dengnnya ke dapur.
Baiklah, Dion terpaksa menurut dan mengekori Tasya masuk ke dalam dapur.
Tasya mengeluarkan cobek dari dalam lemari dapur.
Hey, sejak kapan ada cobek di dapur mungil ini?
Dion tak pernah melihat benda itu sebelumnya.
Dion melihat Tasya yang dengan cekatan menaruh beberapa bumbu ke dalam cobek tadi.
"Ini!" Tasya menyodorkan sebuah ulegan pada Dion.
Dion mengernyit bingung.
Saat memasak, Dion lebih suka menggunakan blender untuk menghaluskn bumbu. Dan sekarang?
__ADS_1
"Aku harus bagaimana, Nat?" Tanya Dion bingung.
"Kamu uleg bumbu rujaknya, Di. Ini punya lengan segede gini jangan di pake pajangan doang" jelas Tasya sambil menahan tawa.
Dion menurut saja, lalu menghujamkan ulegan tadi ke bumbu yang ada di atas cobek. Karena baru pertama, jadi Dion melakukannya dengan keras sehingga membuat bumbu berloncatan dari cobek.
"Di, pelan-pelan! Kamu kasar sekali" Tasya menghentikan lengan Dion yang menguleg bumbu rujak dengan keras.
"Lalu bagaimana, Nat? Aku tidak bisa" baiklah, sepertinya Dion mulai geram.
"Seperti ini..." Tasya mencontohkan cara menguleg yang benar.
'Kenapa juga gak di contohin dari tadi' gumam Dion dalam hati.
Pria itu merasa kesal, namun sebisa mungkin Dion menahannya.
Dion menghirup nafas dalam-dalam dan mengumpulkan kembali kesabarannya.
"Ya, aku bisa. Sini!" Dion mengambil lagi ulegan dari tangan Tasya dan lanjut menguleg bumbu rujak peanan sang istri. Kali ini Dion melakukannya dengan benar meskipun masih terlihat kaku.
Selesai membuat bumbu rujak, Dion lanjut mengupas dan memotong buah yang sudah disiapkan oleh Tasya.
Sedangkan Tasya?
Wanita itu sepertinya sedang sibuk memanaskan sesuatu. Entahlah Dion tak tahu.
Yang pasti sekarang perut Dion sudah keroncongan.
Dan dia belum masak apapun untuk makan malam.
Hanya ada rujak pesanan Tasya.
Tasya sudah kembali dari dapur membawa semangkuk sup daging yang masih mengepul.
Aromanya sungguh menggoda selera.
"Hey, kapan kamu memasaknya?" Tanya Dion tak percaya. Hatinya yang tadi kesal mendadak menjadi berbunga-bunga karena Tasya begitu pengertian.
"Tadi siang pas mualnya belum datang aku sempatin masak buat kamu" jawab Tasya sambil tersenyum.
"Makanlah!" Tasya menyodorkn piring berisi nasi pada Dion.
"Kamu tidak makan?" Tanya Dion sambil menatap Tasya.
"Aku makan ini..." Tasya menunjuk ke arah rujak yang tadi di buat oleh Dion.
"Makasih ya sayang udah buatin rujak buat aku" Tasya mencium pipi Dion dengan mesra. Dion langsung menampilkan senyum sumringah.
Pasangan suami istri itu pun melanjutkan makan malam sambil mengobrol ringan.
*****
"Papa masuk rumah sakit," kalimat singkat dari Dion cukup untuk membuat Tasya terkejut.
"Apa? Kapan?" Tanya Tasya bertubi-tubi.
"Kata Kevin baru siang tadi. Kevin meminta kita untuk pulang tapi kondisi kamu..." Dion kembali menatap prihatin pada Tasya. Istrinya ini masih mabuk parah. Bagaimana mungkin Dion akan mengajak Tasya melakukan perjalanan?
"Apa kamu yakin?" Tanya Dion ragu.
Tadinya Dion akan pulang sendiri. Tapi sepertinya ia juga tak tega jika harus membiarkan Tasya sendirian di apartmenen.
"Kamu pesan tiket gih! Kita berangkat lusa pas weekend" usul Tasya sedikit memerintah.
"Kau yakin, Nat?" Tanya Dion sekali lagi.
"Iya aku yakin suamiku sayang. Aku kuat" jawab Tasya bersungguh-sungguh.
"Kau masih mual sekarang?" Tanya Dion lagi.
Tasya menggeleng.
"Aku hanya mengantuk" jawab Tasya singkat.
"Baiklah, ayo tidur. Besok aku akan menemanimu ke rumah sakit untuk mengajukan resign" Dion menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan tubuh Tasya.
Tasya merapat ke pelukan suaminya.
"Aku tidak mau resign, Di" Tasya sedikit merengek.
"Tidak. Kamu harus resign dan istirahat di rumah. Ini demi kedua bayi kita, jadi jangan egois!" Ucap Dion dengan nada tegas.
Tasya diam dan tak menjawab lagi. Wanita itu memilih untuk membenamkan tubuhnya semakin dalam ke pelukan hangat Dion.
Hujan gerimis mulai turun membasahi bumi.
Tasya sudah tertidur lelap di pelukan Dion.
Namun mata Dion masih belum terpejam. Dion belum mengantuk sama sekali. Pikirannya menerawang.
Ada satu hal yang mengganggu pikirannya belakangan ini.
Hal yang mungkin menyebabkan papa Rian jatuh sakit hingga harus di rawat di rumah sakit.
Dion sudah berusaha menyelesaikannya, tapi tetap saja belum ada titik terang.
Dion memandang wajah Tasya yang terlihat tenang dalam tidurnya.
Tasya tidak tahu tentang ini semua. Sengaja Dion merahasiakannya agar istrinya ini tidak banyak pikiran. Dion harus menjaga pikiran Tasya agar selalu bahagia dan tidak stress. Karena itu tidak akan baik untuk pertumbuhan kedua buah hatinya.
Tangan Dion terulur untuk mengelus perut Tasya yang kini tak terlihat datar lagi. Sudah sedikit berubah dari bentuknya semula, menandakan jika kedua janin di dalamnya memang tumbuh dengan sehat.
Masalah apapaun yang kelak Dion hadapi, Dion akan terus berjuang demi Tasya dan calon anak-anaknya. Dion akan menyelesaikan semuanya.
*****
Tasya dan Dion baru saja tiba di rumah papa Rian.
Wajah Tasya terlihat pucat karena menahan mual sepanjang perjalanan. Belum lagi kepalanya yang terasa berdentum-dentum, membuat Tasya tidak bisa berjalan dengan benar.
Perlahan, Dion memapah istrinya tersebut masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Kata Kevin, papa Rian sudah pulang ke rumah kemarin sore.
"Dion, Tasya kenapa?" Mama Wina yang menyambut kedatangan anak serta menantunya itu tampak terkejut melihat wajah pucat Tasya.
"Tasya sedang tidak enak badan, Ma.
Dion akan membawanya ke kamar" ujar Dion sambil terus memapah Tasya menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua.
"Mama akan buatkan teh hangat" ujar mama Wina sambil berlalu menuju dapur.
Sampai di kamar, Tasya bergegas masuk me kamar mandi dan menumpahkan semua isi perutnya.
"Hoeeek" Tasya masih muntah-muntah di kamar mandi.
Dion hanya bisa menatap prihatin pada sang istri sambil terus mengelus punggung Tasya.
Tadinya Dion ingin menunda kunjungan ini, namun Tasya bersikeras untuk pergi dan istrinya itu terus berkata kalau dia akan baik-baik saja sepanjang perjalanan.
Namun akhirnya ketakutan Dion terjadi.
Tasya mual sepanjang perjalanan.
Mama Wina masuk ke kamar Dion membawa teh yang masih mengepul.
Tasya maupun Dion tak ada di kamar, namun ada suara keributan kecil dari arah kamar mandi.
Setelah meletakkan teh di atas nakas, bergegas mama Wina berjalan menuju kamar mandi untuk melihat apa yang sedang terjadi.
Terlihat Tasya yang terduduk di lantai kamar mandi, dan Dion yang setia mengelus punggung sang istri.
"Tasya kenapa Di?" Tanya mama Wina bingung.
"Tasya baik-baik saja, Ma" bukan Dion, tapi Tasya yang menjawab pertanyaan dari mama Wina.
Tasya mencoba untuk berdiri, namun kepalanya terasa sangat pusing, sehingga wanita itu terlihat sempoyongan.
Dengan sigap Dion menahan tubuh Tasya agar tidak jatuh.
"Baik bagaimana? Wajah kamu pucat begini, Sya." Sergah mama Wina khawatir.
Dion memapah Tasya dan membantunya berbaring di atas ranjang.
Mama Wina segera mengambil teh yng tadi ia bawa dan menyodorkannya pada Tasya.
"Kamu hamil, Sya?" Tanya mama Wina mulai curiga.
Tasya dan Dion masih diam dan saling berpandangan. Keduanya seakan berbicara lewat tatapn mata.
Dion menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Mama tahu?" Tanya Dion ambigu.
Mama Wina mengernyit tidak mengerti dengan kata-kata Dion barusan.
"Jadi..." mama Wina msih sedikit ragu untuk kembali bertanya.
Setelah meneguk teh hangat yang tadi di sodorkan mama Wina, Tasya menarik nafas panjang. Sepertinya wanita itu akan mulai berbicara.
"Iya, Ma. Sebenarnya, Tasya memang hamil dua belas minggu" ujar Tasya malu-malu.
Mama Wina langsung terbelalak dan memeluk menantunya tersebut.
"Benar itu, Sya? Terima kasih Tuhan. Akhirnya..." mama Wina langsung meluapkan rasa bahagianya.
Mata wanita paruh baya itu sudah berkaca-kaca sekarang, tak kuasa menahan rasa haru mendengar kabar bahagia ini.
"Kenapa tidak langsung memberitahu keluarga di sini, Di" tegur mama Wina pada Dion.
"Tadinya kami ingin memberi kejutan, Ma" Sekali lagi Dion menggaruk kepalanya yang tak gatal. Bingung harus memberi alasan apa pada sang mama.
"Sebenarnya, ini memang permintaan Tasya, Ma" timpal Tasya cepat
"Tadinya kami memang berencana pulang saat usia kandungan Tasya genap empat bulan sekalian mau bikin syukuran kecil-kecilan" tambah Tasya menjelaskan.
Mama Wina hanya mengangguk-angguk dan tidak bertanya lagi.
Binar kebahagiaan masih nampak jelas di wajah mama Wina.
Sekali lagi, mama Wina memeluk Tasya untuk meluapkan rasa bahagianya.
"Yaudah, kamu istirahat aja dulu, Sya. Nanti kita beritahu anggota keluarga yang lain saat makan malam." Ujar mama Wina memberi saran.
"Kondisi papa bagaimana, Ma?" Tanya Tasya baru ingat. Bukankah tujuan dia dan Dion pulang untuk menjenguk papa Rian?
"Papa udah baikan. Nanti kalian bisa jenguk ke kamar papa kalau udah gak capek. Yang terpenting sekarang kamu istirahat dulu, Sya pasti kamu lemes tadi habis muntah-muntah begitu" ujar mama Wina pengertian
Tasya hanya menanggapi dengan mengangguk sambil tersenyum.
Mama Wina sudah beranjak berdiri.
"Mama keluar dulu. Kalian istirahat saja" ujar mama Wina sekali lagi sebelum akhirnya wanita paruh baya itu berlalu keluar dari kamar Tasya dan Dion.
"Kepalaku sakit sekali, Di" keluh Tasya setelah mama Wina tak terlihat lagi.
"Tidurlah dulu kalau begitu. Masih mual?" Tanya Dion khawatir.
Tasya menggeleng.
Dion segera membenarkan posisi tidur Tasya dan menarik selimut untuk menutupi tubuh Tasya.
Dion tetap duduk di tepi ranjang, menunggu hingga istrinya terlelap.
*****
Mau tes dulu...
Ni novel sebenarnya ada reader nya gak sih? 🙈
Barangkali ada yang mau nyumbang nama buat anak kembarnya Dion dan Tasya nanti dipersilahkan ya... author buntu soalnya.
Terserah kalian mau nyumbang nama cewek, cowok, atau cewek cowok juga boleh.
__ADS_1
Di tunggu ya...