Natasya

Natasya
Ruang Rahasia


__ADS_3

Tasya masih fokus menyalin tugas yang ada di papan tulis ke buku tulisnya.


Julian, sang ketua kelas terlihat berkeliling kelas membagikan selebaran tugas yang lain. Entahlah tugas apalagi Tasya juga tak paham.


Hari ini guru yang mengajar kelasnya sedang ada urusan dan kelas Tasya diberikan tugas yang lumayan banyak.


Saat sampai di depan meja Tasya, Julian menyelipkan sesuatu di lembaran tugas yang akan dia berikan pada Tasya


"Ada surat dari Dion" bisik Julian sepelan mungkin. Berharap Salsa yang duduk di samping Tasya tidak mendengarnya.


Tapi sepertinya Salsa juga sedang fokus mengerjakan tugasnya dan tidak terlalu menghiraukan kehadiran Julian disitu.


Tasya menghentikan aktivitas menulisnya dan segera mengangkat kepalanya. Menatap ke arah Julian dengan dahi yang mengernyit.


Julian hanya memberi kode agar Tasya membaca surat dari Dion. Dan segera berlalu dari meja Tasya.


Tasya membuka surat itu perlahan. Sengaja ia tutup menggunakan buku agar Salsa tak melihatnya


'Temui aku di dekat gudang sekolah. Aku ingin bicara. Dion'


Tasya mengernyitkan dahi.


"Gudang sekolah? Yang benar saja. Mau ngapain coba? Kenapa gak ketemuan di kantin atau taman sekolah aja gitu" Tasya menggerutu dalam hati.


Namun sudah hampir sepekan ini Tasya memang belum bicara dengan Dion.


Hanya sesekali Tasya mencuri pandang saat bertemu Dion di kantin atau lapangan sekolah.


Dion juga tak pernah menyapanya saat di sekolah, seakan-akan memang mereka tak saling mengenal.


Bel istirahat berbunyi.


"Huh, akhirnya" Silvi berteriak kegirangan karena akhirnya dia bisa bebas dari tugas yang entah berapa banyaknya.


Tangannya nyaris patah menulis jawaban dari tugasnya tersebut

__ADS_1


"Kantin yuk" ajak Silvi pada ketiga temannya.


Vina dan Salsa langsung mengangguk.


Mereka juga sudah merasa lapar dan lelah.


Tasya sedikit bingung karena ia harus menemui Dion.


Bingung harus memberi alasan apa pada ketiga temannya itu.


"Sya, bantuin gue anter buku ini ke kantor guru" Julian datang sebagai dewa penyelamat bagi Tasya.


Huh, kini Tasya tak perlu repot memikirkan alasan apa yang akan dia berikan pada Silvi dan yang lainnya.


"Yaelah Ju, Tasya mau ke kantin sama kita" protes Vina tak terima.


"Kalian aja sana ke kantin, Tasya biar bantuin gue dulu" Julian tak mau kalah.


"Udah gak papa. Aku bantuin Julian dulu. Kalian ke kantin duluan aja, ntar aku nyusul" Tasya menengahi perdebatan antara Vina dan Julian.


"Terserah deh. Gue udah laper banget ini. Ayo buruan yang mau ikut gue" Silvi berkata sedikit galak.


"Buruan Sal, nona tukang makan udah ngamuk" Vina menepuk pundak Salsa agar bergegas mengikuti Silvi.


"Yaudah Sya, kita duluan ya. Ntar loe jangan lupa nyusul" pesan Salsa sambil berlalu mengikuti Silvi dan Vina yang sudah lebih dulu berjalan menuju kantin.


Tasya menarik nafas lega,


"Huh, makasih, Ju. Udah bantuin" ucap Tasya sambil tersenyum ke arah Julian.


"Yaudah buruan sana! Dion pasti udah nungguin loe" usir Julian.


Tasya hanya mengangguk dan segera berjalan cepat menuju arah gudang sekolah.


Benar saja, Dion sudah menunggunya di depan gudang sekolah. Dion memberikan kode pada

__ADS_1


Tasya agar mengikutinya masuk ke dalam ruangan yang ada di samping gudang. Tasya tidak tahu kalau ruangan itu masih digunakan.


Tasya pikir ruangan itu juga adalah gudang.


Sedikit ragu, tapi Tasya tetap mengikuti Dion masuk ke ruangan tersebut.


Gelap,


Hanya itu yang tampak di depan Tasya sekarang.


Dion menyalakan lampu.


Dan sekarang terlihat ada sebuah meja besar di tengah ruangan serta beberapa loker di sisi ruangan


Ada juga sebuah bangku panjang di sisi lain ruangan yang tidak terlalu luas itu.


Tasya masih bertanya, ruangan apakah sebenarnya yang ada di hadapnnya itu.


"Ruangan khusus buat tim basket" seakan bisa membaca pertanyaan yang ada di kepala Tasya, Dion memberi penjelasan.


"Oh" hanya itu yang keluar dari mulut Tasya.


"Duduk, Nat" perintah Dion sambil menunjuk bangku panjang yang ada di sisi ruangan tersebut.


Tasya mengernyitkan dahinya merasa aneh dengan cara Dion memanggil namanya.


"Nama kamu Natasya kan?" Dion mencari pembenaran.


"Iya, tapi bisakah kamu manggil Tasya aja seperti yang lain" pinta Tasya sambil menatap tajam ke arah Dion.


"Sayangnya aku gak mau jadi seperti yang lain." Dion berbisik di telinga Tasya.


Dan blush


Seketika pipi Tasya langsung merona merah.

__ADS_1


Tasya menunduk untuk menyembunyikan rasa malunya. Kedua pipinya benar-benar terasa panas sekarang.


Dion hanya tersenyum puas melihat wajah Tasya yang merona merah.


__ADS_2