Natasya

Natasya
Lulus


__ADS_3

Lulus,


Sebuah kata yang sungguh dinanti oleh siswa kelas duabelas setelah menghadapi ujian akhir.


Tapi tentu saja ini juga menjadi sebuah awal perpisahan dengan teman teman seperjuangan.


Beberapa sahabat akan berpisah karena pada akhirnya semua akan melanjutkan kuliah, mengambil kursus, atau memilih langsung terjun ke dunia kerja.


Semua itu dilakukan tentu saja demi meraih cita cita.


Tasya duduk di kursi panjang di ruang loker.


Ada Dion yang duduk di sebelahnya.


Namun keduanya tak saling bicara.


Hanya ada keheningan di ruangan tersebut.


Bulan lalu Dion sudah melakukan serangkaian tes di klub barunya. Dan sudah di tentukan kalau Dion akan masuk menjadi pemain di klub tersebut.


Dengan kata lain, Dion harus segera pergi ke kota lain.


Hari ini adalah hari pengumuman kelulusan. Kemungkinan besok atau lusa, Dion sudah akan berangkat.


Tasya menghela nafas panjang.


Dion meraih tangan Tasya dan menggenggamnya erat.


"Aku akan baik baik saja, Di" ucap Tasya bersungguh sungguh.


Ia sungguh tidak mau membebani pikiran Dion dengan kekhawatiran yang tidak perlu.


"Aku tahu" jawab Dion lirih.


Hatinya masih terasa berat berpisah dari Tasya.


"Ujian sudah selesai, kau bisa ambil shift siang di kafe milik Denny. Aku sudah bicara pada Denny" ucap Dion lagi.


Tasya mengangguk sambil menghela nafas, ia yakin Dion pasti khawatir jika dirinya pulang malam.


"Nat," Dion menatap lekat wajah Tasya.


Pun sebaliknya Tasya menatap netra hitam milik Dion


"Berhentilah bekerja dan fokus pada cita citamu" pinta Dion penuh harap.


"Aku hanya tidak ingin terlalu membebani mama Sarla, Di" selalu saja alasan itu yang Tasya kemukakan.


Membuat Dion akhirnya tak bisa memaksa Tasya lagi.


"Aku akan membantu biaya kuliahmu" kali ini Dion berkata sungguh sungguh.


Bukankah nanti saat sudah menjadi pemain profesional Dion akan mendapatkan gaji?


Jadi ia bisa membantu Tasya.


Tasya tertawa kecil,


"Aku sungguh tidak ingin merepotkanmu, Di. Aku ingin jadi gadis yang mandiri" tekad Tasya.

__ADS_1


Dion menghela nafas.


Ia mendekat ke arah Tasya dan memeluk erat tubuh mungil Tasya.


"Jaga dirimu baik baik. Jangan pulang terlalu malam. Oke" ucap Dion lirih.


Tasya hanya mengangguk. Ia sungguh ingin menangis sekarang.


Tasya sudah terbiasa selalu bersama Dion. Tapi sekarang, dirinya harus terpisah selama beberapa bulan.


Semoga hubungannya bersama Dion akan tetap baik baik saja.


*****


Silvi memeluk ketiga sahabatnya sekali lagi.


Hari ini Silvi akan berangkat bersama dengan ayahnya ke luar negeri.


Tangis haru pecah diantara empat sahabat tersebut.


Salsa, Vina, dan Tasya terus menguatkan Silvi dan meyakinkan gadis itu bahwa semuanya akan baik baik saja.


Sesungguhnya mereka prihatin dengan konflik keluarga yang dialami oleh Silvi.


Namun sekali lagi, mereka tak bisa berbuat apapun selain memberikan support pada Silvi.


"Aku bakalan kangen sama kalian" ucap Silvi sedih.


"Kita bakalan tetep komunikasi, Sil. Kamu yang kuat ya disana" jawab Salsa menguatkan.


"Hati hati, Sil. Disana" pesan Tasya selanjutnya.


Vina tak berkata apapun. Ia hanya memeluk erat teman satu bangkunya tersebut.


*****


Mama Wina dan Papa Rian bergantian memeluk Dion sebagai salam perpisahan.


Keduanya memberikan pesan serta nasehat pada Dion.


Tasya berusaha keras menahan sesak di dadanya melihat pemandangan itu.


Hari ini Dion sudah harus berangkat ke Jakarta.


Dion akan masuk klub dan menjadi pemain profesional. Jadi beberapa bulan kedepan, Tasya harus siap berhubungan jarak jauh dengan Dion.


Dion akan pulang kembali ke kota ini beberapa bulan sekali, namun tetap saja, itu akan menjadi sebuah penantian yang lama untuk Tasya.


Dion sudah selesai mengucapkan salam perpisahan dengan kedua orang tuanya.


Kini, Dion menghampiri Tasya.


Dion menggenggam erat kedua tangan Tasya seakan masih terasa berat untuk berpisah.


Tasya berusaha keras untuk tidak menangis, tapi bulir bulir airmata tetap saja jatuh di kedua pipinya.


Dion mengusap lembut kedua pipi Tasya dan menghapus airmata Tasya.


"Aku akan kembali beberapa bulan lagi. Jaga dirimu baik baik" pesan Dion lembut.

__ADS_1


Tasya ingin berkata kata, namun lidahnya terasa kelu sekarang.


Tasya hanya mengangguk sambil terus berurai airmata.


Dion menarik Tasya kedalam pelukannya. Mencoba menenangkan gadis itu.


Dalam hati, Tasya merutuki dirinya sendiri. Bukankah seharusnya dia tegar dan kuat di hadapan Dion?


Lalu kenapa sekarang dia menangis seperti ini?


Panggilan keberangkatan kembali diumumkan.


Dion tahu ia harus segera mengakhiri drama perpisahan ini.


"Nat, aku sayang sama kamu.


Kamu baik baik ya disini. Aku akan sering menelponmu" bujuk Dion pada Tasya. Ia sungguh berharap Tasya akan berhenti menangisi kepergiannya.


Karena sekarang hal ini sungguh membuat Dion ikut merasa sedih.


"Aku akan baik baik saja, Di. Kamu jaga kesehatan disana." Kali ini Tasya sudah bisa sedikit mengendalikan emosinya. Tasya memaksakan untuk tersenyum meskipun bulir bulir air mata masih saja jatuh di kedua pipinya.


Namun Tasya tahu, ia harus tegar dan kuat. Ini semua demi cita cita Dion. Jadi Tasya harus mendukung dan tidak membebani Dion.


"Pergilah" ucap Tasya selanjutnya sambil menghapus airmatanya sendiri.


Dion mengelus puncak kepala Tasya sebelum akhirnya berbalik dan masuk ke dalam bandara.


Rasanya sungguh berat melepaskan tangan mungil Tasya yang sampai kini masih Dion genggam.


Namun Dion tetap harus melakukannya. Ia yakin Tasya akan baik baik saja di kota ini. Banyak teman teman yang menjaga Tasya, ada kak Ronny juga yang akan menjaga Tasya.


Jadi apa lagi yang harus Dion khawatirkan?


Soal perasaan cinta diantara mereka, Dion selalu yakin kalau itu semua tidak akan memudar, sekalipun mereka berhubungan jarak jauh.


Dion percaya pada Tasya.


Tasya percaya pada Dion.


Dion melambaikan tangannya sekali lagi pada tiga orang yang ia sayangi tersebut, sebelum akhirmya menghilang di tengah kerumunan para calon penumpang lain yang juga masuk ke dalam bandara.


Mama Wina menghampiri Tasya dan merangkul gadis itu.


Tasya memaksa untuk tersenyum.


Dia harus tegar untuk saat ini. Dion akan meraih cita citanya selama ini. Jadi Tasya tidak mau menjadi penghalang ataupun beban.


Kemarin di tempat ini, Tasya harus melepas kepergian Silvi, sahabatnya. Dan sekarang Tasya juga harus melepas kepergian Dion untuk beberapa bulan kedepan.


Akhir masa putih abu abu yang sungguh terasa berat.


Orang orang yang Tasya sayangi satu persatu pergi ke kota lain demi meraih cita cita mereka.


Kini, Tasya juga harus berjuang di kota ini.


Tasya akan berusaha juga meraih cita citanya dari kota kecil ini.


Ah, semoga saja semuanya berjalan sesuai rencana dan harapan Tasya

__ADS_1


__ADS_2