
Pesta Pernikahan Silvi dan Julian,
Sebuah pesta pernikahan mewah tengah di gelar di ballroom sebuah hotel.
Hiasan bernuansa putih dan pink mendominasi ruangan tersebut.
Pelaminan yang mewah membuat kedua mempelai terlihat bagaikan ratu dan raja malam ini.
"Hai, Sal. Hai kak Ronny" Vina yang baru datang bersama Denny langsung menyapa Salsa dan Ronny yang sepertinya sudah hadir sedari tadi.
Vina dan Salsa bercipika cipiki sebelum mengobrol berdua.
Denny juga menyapa Ronny sebelum akhirnya larut dalam obrolan sesama pria.
Vina berulang kali menyapa bayi mungil yang kini sedang terlelap di pelukan Salsa.
"Anak loe bisa cantik gini sih, Sal. Padahal muka loe biasa aja" ucap Vina sambil terus mengelus pipi lembut bayi mungil tersebut.
Salsa hanya berdecak mendengar ejekan dari sahabatnya tersebut.
"Papanya ganteng. Wajarlah anak gue cantik" Salsa membela diri.
Vina hanya terkekeh.
"Anak loe mana?" Tanya Salsa penasaran.
Vina dan Denny sudah punya putra semata wayang, namun sepertinya mereka tadi hanya datang berdua.
"Lagi liburan sama omanya. Sengaja di jauhin dari gue katanya biar gue bisa program lagi" Jawab Vina sambil memutar bola matanya.
Sontak Salsa langsung tertawa.
"Ya udah loe honeymoon lagi gih sama Denny. Jangan mau kalah dari Silvi" ucap Salsa masih terkekeh.
Vina hanya berdecak,
"Lagian mertua gue semangat banget minta cucu banyak-banyak. Gue kan capek yang mbrojolin" ucap Vina setengah berbisik pada Salsa.
Sontak tawa Salsa langsung meledak. Namun dengan cepat Salsa meredam suara tawanya agar tidak memancing perhatian para tamu yang lain
"Apa yang lucu, Sal?" Tanya Ronny heran.
Ia tak tahu apa yang sedang diobrolkan oleh Salsa dan Vina hingga membuat istrinya tertawa terbahak-bahak.
"Gak ada. Urusan wanita" jawab Salsa usil.
Ronny hanya geleng-geleng kepala.
"Tasya kok belum kelihatan ya?" Tanya Vina sambil celingukan.
Salsa hanya mengendikkan bahu.
"Menurut loe, Tasya datang sama siapa kali ini?" Tanya Vina lagi.
Dan sekali lagi Salsa hanya memgendikkan bahu.
"Sendirian mungkin" jawab Salsa sekenanya.
"Semoga Dion gak datang sama Laura. Bisa perang dunia ntar" Vina sedikit terkekeh.
"Emang kabar Dion jadian sama Laura itu bener ya?" Tanya Salsa penasaran.
Beberapa kali Salsa melihat berita itu di tivi, tapi menurut Salsa itu hanyalah berita bohong yang dibuat-buat oleh media demi menaikkan pamor Laura.
Kali ini Vina yang memgendikkan bahu.
__ADS_1
Saat kedua sahabat tersebut sedang asyik membahas gosip seputar Dion, ternyata orang yang mereka bicarakan kini muncul di pintu masuk ballroom.
Dion terlihat mengggandeng seorang gadis yang berpenampilan anggun.
Kerumunan orang yang menghamipiri Dion membuat Vina dan Salsa tidak bisa melihat dengan jelas, siapa yang kini digandeng oleh Dion.
Kini keduanya sudah naik ke atas pelaminan untuk memberi selamat pada kedua mempelai.
Salsa dan Vina masih penasaran pada gadis yang mengenakan dress mewah berwarna cream yang senada dengan baju yang dikenakan dion tersebut.
Gadis itu terus saja membelakangi posisi Vina dan Salsa membuat keduanya tak bisa melihat dengan jelas wajah gadis tersebut.
Karena benar benar penasaran, Salsa dan Vina sedikit maju ke depan demi melihat siapa sosok gadis nan anggun tersebut.
"Tasya? Itu seriusan Tasya yang datang bareng Dion Sal" Vina yang masih tak percaya memukul-mukul lengan Salsa.
"Sakit, Vin. Loe kenapa mukulin gue sih" Salsa protes pada kelakuan Vina. Namun dia sendiri juga penasaran dan segera mengamati dengan seksama wajah gadis yang kini masih di gandeng oleh Dion.
"Iya itu emang Tasya, Vin. Loe kenapa lebay begitu sih" Salsa memutar bola matanya.
Salsa sendiri tidak terlalu kaget melihat Tasya yang kembali menjalin hubungan dengan Dion.
Setelah kejadian di panti waktu itu, Salsa yakin Tasya dan Dion pasti sudah saling berpikir matang sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali menjalin sebuah hubungan.
Sementara itu di atas panggung pelaminan...
"Eheeem, yang baru balikan" Julian menaik turunkan alisnya dan menggoda pasangan di depannya tersebut.
Tasya hanya tersipu, sementara Dion langsung memeluk sahabatnya tersebut.
"Selamat ya, Ju. Akhirnya loe bisa bersanding dengan cewek idaman loe" ucap Dion sambil tertawa.
Sontak Tasya dan Silvi ikut tertawa.
"Thanks bro. Jadi kapan loe nyusul?" Julian bertanya serius pada Dion.
Mungkin kalau disuruh memilih, Dion akan memilih untuk menikahi Tasya sekarang. Namun sepertinya gadis itu masih belum siap.
Tasya selalu bilang pada Dion kalau dirinya akan menikah saat sudah berhasil meraih gelar dokter nya.
Tasya memeluk erat Silvi. Ia ikut bahagia dengan pernikahan sahabatnya tersebut.
"Selamat ya, Sil. Semoga kamu dan Julian berbahagia" ucap Tasya tulus.
"Terima Kasih Sya. Semoga kamu dan Dion juga segera menyusul" balas Silvi tulus.
Setelah berbasa-basi seperlunya, Tasya dan Dion segera turun dari panggung pelaminan.
Vina yang sedari tadi sudah menunggu di bawah panggung langsung menghampiri Tasya dan menghambur untuk memeluk sahabatnya tersebut.
"Tasya..." Vina langsung menumpahkan semua kerinduannya pada Tasya.
Padahal baru beberapa bulan yang lalu mereka bertemu, namun kini Vina sudah bertingkah lebay seakan-akan mereka tidak bertemu selama bertahun-tahun.
Tasya hanya tersenyum, sedikit merasa geli melihat tingkah lebay Vina.
"Hai, Sya" Salsa ikut menghampiri Tasya.
Sesosok bayi mungil yang ada di gendongan Salsa langsung mencuri perhatian Tasya.
"Hai, Sal. Lucu banget. Boleh aku menggendongnya?" Tanya Tasya sedikit ragu.
Ia benar-benar gemas pada bayi mungil tersebut.
"Tentu" jawab Salsa sambil memindahkan bayinya perlahan ke tangan Tasya.
__ADS_1
Dengan hati-hati Tasya menggendong bayi perempuan tersebut.
Sesaat, hatinya merasa luluh. Tasya jadi teringat pada calon bayinya yang bahkan tidak sempat lahir ke dunia ini.
Dion menghampiri Tasya yang masih menggendong bayi mungil tersebut.
"Wah, wah. Sudah cocok tu kalian berdua jadi papa mama muda" Vina menggoda Tasya dan Dion yang masih fokus melihat ke arah bayi mungil itu.
Salsa, Tasya dan Dion tertawa kecil menanggapi celotehan Vina barusan.
"Tapi sebaiknya kalian menikah dulu sebelum membuat satu yang lucu seperti itu" timpal Salsa sambil terkekeh.
Vina ikut tertawa.
"Nyindir gue ya?" Vina sok sok an tak terima. Tapi ia masih saja tertawa.
"Baguslah kalau kamu merasa tersindir" Salsa berucap dengan santai.
Vina langsung bersedekap dan mencebik pada Salsa.
Namun bukannya merasa bersalah, Salsa malah terbahak melihat wajah kesal Vina.
"Ayolah, kalian berdua sudah sama-sama dewasa. Sudah jadi seorang ibu sekarang. Kenapa masih saja saling ejek seperti anak abege" Tasya memutar bola matanya dan mengomeli kedua sahabatnya tersebut.
"Kami kan mamah muda, Sya. Makanya kamu cepetan nikah sama Dion. Biar cepet jadi mamah muda juga seperti kita" Vina berucap dengan bangga.
Tasya hanya terkekeh.
"Nanti juga bakalan nyusul" jawab Tasya sekenanya.
Dion terlihat membisikkan sesuatu pada Tasya.
Tasya sempat mengernyit heran sebelum akhirnya mengangguk.
Tasya segera mengembalikan bayi yang sedari tadi ia gendong pada Salsa.
"Mau kemana?" Tanya Salsa penasaran.
"Kita ada keperluan sebentar" jawab Tasya singkat.
"Jangan bilang kalau kalian mau check in trus bikin bayi" ucap Vina berasumsi.
"Ngaco loe. Kita kan gak mesum kayak loe" Tasya langsung menyentil kening Vina membuat wanita itu pura-pura mencebik.
Salsa hanya tertawa melihat wajah kesal Vina.
"Loe sana yang check in ke kamar bareng Denny. Katanya mau program bikin anak lagi" Salsa ikut menimpali. Membuat Vina semakin mencebik.
Tasya dan Dion tertawa mendengar kata-kata Salsa barusan.
"Udahlah, kalian berdua ini ribut terus kayak anak kecil. Ingat sama umur" Tasya memcoba melerai dua sahabatnya tersebut.
"Kita belum setua itu, Sya" ucap Vina dan Salsa berbarengan. Sepertinya mereka berdua sama-sama tak terima.
Tasya semakin terbahak.
Ronny datang dan langsung mengambil alih bayi mungil yang ada di gendongan Salsa.
"Ya udah, Kita duluan ya" pamit Tasya pada kedua sahabatnya tersebut
"Kalian berdua mau kemana?" Ronny yang melihat Tasya dan Dion sudah akan pergi langsung menegur keduanya.
"Kita ada keperluan bentar, kak. Nanti balik kesini lagi" kali ini gantian Dion yang menjawab.
Pelatih Ronny hanya mengangguk.
__ADS_1
Tasya dan Dion segera berlalu dari tempat itu menuju ke arah balkon yang lebih sepi.