
Tasya membolak-balik benda putih panjang yang kini ada di tangannya.
Sudah lebih dari sepuluh menit Tasya memandanginya, berharap satu garis merah itu akan berubah menjadi dua garis merah.
Ini hari ketujuh Tasya terlambat datang bulan. Bukankah seharusnya alat itu menunjukkan dua garis merah?
'Apa alat ini sudah rusak?'
Tasya mendengus frustasi.
Sekali lagi Tasya harus menelan kekecewaan.
"Nat," sapaan Dion yang baru selesai mandi, sedikit membuat Tasya kaget.
"Kau sudah selesai?" Tanya Tasya berbasa-basi sekedar menutupi rasa kagetnya.
"Ada apa?" Tanya Dion yang kini duduk di sebelah istrinya tersebut.
Dion bisa menangkap raut kekecewaan dan kesedihan di wajah Tasya.
Tasya menunjukkan tespect yang tadi di pegangnya kepada Dion, sebelum melemparnya ke tempat sampah yang ada di dekat meja rias.
"Jangan terlalu di pikirkan, Nat. Mungkin bulan depan kita akan mendapatkannya" ucap Dion berusaha optimis.
Tasya tak menjawab.
"Kau belum bersiap-siap? Bukankah kita harus pergi sebentar lagi?" Tanya Dion lagi.
Tasya menggeleng.
"Bisakah kita tidak usah pergi?" Pinta Tasya sedikit memohon.
"Kenapa?" Tanya Dion tak mengerti.
Tasya hanya mencebik dan tak menjawab.
Berkunjung ke rumah keluarga Dion hanya membuat Tasya tertekan.
Masih lekat di benaknya kejadian enam bulan yang lalu saat dirinya dan Dion datang berkunjung.
Semuanya bertanya mengenai kehamilan.
Saat itu Tasya masih dapat menahan rasa sakit di dadanya dan tetap memasang senyum bahagia meskipun jauh di dalam hatinya ada luka yang tak bisa di jelaskan dengan kata-kata.
Semua mengira Tasya dan Dion sengaja menunda, padahal Tasya tak pernah melakukan itu.
Dalam hati, Tasya juga ingin segera hamil dan memiliki momongan. Tapi kalau ternyata dirinya belum diberi kesempatan itu, Tasya bisa apa?
"Tak perlu dipikirkan omongan orang-orang, Nat" nasehat Dion sekali lagi.
"Kamu gak ngrasain gimana perasaan aku. Di tuduh ini dituduh itu" Tasya mencebik dan memasang raut cemberut.
Bukannya menghibur Tasya, Dion malah tertawa renyah
"Jadi kamu pikir, kamu saja yang diomongin sama mereka? Aku juga di omongin, Nat. Tapi kamu lihat, aku santai saja dengan semuanya" ujar Dion panjang lebar.
Tasya masih mencebik,
"Baiklah, kalau kamu tidak ingin pergi, aku tidak akan memaksa" Dion akhirnya memilih untuk mengalah. Dia paham betul bagaimana perasaan Tasya sekarang.
"Apa kamu akan menikah lagi, jika aku tak kunjung hamil." Tanya Tasya tiba-tiba.
Sejenak Dion diam dan tak menjawab.
Suasana kamar mendadak menjadi hening.
"Kenapa bertanya seperti itu?" Tanya Dion lirih.
"Aku takut kamu kecewa padaku, Di" jawab Tasya sedih.
Dion menarik nafas panjang.
"Kita bahkan belum memeriksakan diri ke dokter. Bisa saja kan yang bermasalah itu aku, bukan kamu" ucapan Dion langsung membuat Tasya terdiam.
Dion meraup Tasya ke dalam pelukannya.
"Jangan pernah punya pikiran aku akan meninggalkanmu hanya karena hal ini. Aku mencintaimu, selalu begitu dan akan seterusnya begitu. Hanya kamu yang ada di sini, di dalam hatiku. Sekarang, nanti, dan untuk selamanya" ucap Dion sungguh-sungguh sambil menunjuk ke arah jantungnya.
Tasya menatap dalam pada netra milik Dion.
Ada kejujuran di sana.
Rasa cinta Dion pada Tasya memang tak perlu lagi diragukan.
"Maaf" hanya itu yang keluar dari bibir Tasya.
Dion mengangguk.
"Kita bisa berlibur ke tempat lain jika kamu tak mau mengunjungi rumah mama dan papa" tawar Dion pada Tasya.
Tasya menggeleng.
"Kita akan mengunjungi mereka, Di. Aku akan menghadapi semuanya. Selama ada kamu di sampingku, aku pasti bisa kuat menghadapi ini semua." ucap Tasya penuh keyakinan.
Dion tampak tersenyum.
"Ini baru istriku" ucap Dion sambil mencium kening Tasya.
*****
Mobil yang dikemudikan oleh Dion meninggalkan kawasan bandara melaju menuju ke jalan raya, berbaur dengan lalu lintas yang padat.
__ADS_1
"Bisakah kita mengunjungi papa Anton dulu sebelum ke rumah?" Pinta Tasya pada Dion.
Dion mengangguk,
"Baiklah. Kita kerumah papa Anton dulu" ucap Dion mengiyakan permintaan dari Tasya.
Setelah selama satu jam berjibaku dengan kemacetan, Dion dan Tasya akhirnya sampai di rumah papa Anton.
Suasana sepi,
Tasya turun terlebih dahulu dan segera berjalan masuk ke dalam pagar, menyusuri halaman yang tak terlalu besar itu dan langsung menuju ke teras.
Tasya mengetuk pintu.
Dion kini sudah berdiri di samping Tasya, ikut menunggu pintu dibuka dari dalam.
Karena tak ada jawaban, Tasya mengetuk sekali lagi.
"Tasya, Dion. Kapan datang?" Suara papa Anton yang baru datang dari arah pagar membuat Tasya dan Dion menoleh ke arah pria paruh baya tersebut.
Tasya langsung menghambur ke pelukan sang papa.
"Papa dari mana?" Tanya Tasya sambil memperhatikan tas belanja yang dibawa papa Anton.
"Tadi papa belanja sebentar ke depan. Kalian datang tidak mengabari." Jawab papa Anton menjelaskan.
Tasya sudah melepaskan pelukannya. Dion membantu papa Anton membawakan tas belanja.
Papa Anton segera membuka pintu rumah dan mempersilahkan Dion dan Tasya untuk masuk ke dalam.
"Ayo, masuk!" Ajak papa Anton.
Tasya dan Dion mengangguk dan langsung mengekori papa Anton untuk masuk ke dalam.
Dion dan Tasya duduk di sofa yang ada di ruang tamu.
Papa Anton masuk ke dalam untuk menaruh belanjaannya tadi, lalu keluar lagi dan ikut duduk di sofa.
"Kapan sampai?" Tanya papa Anton berbasa-basi.
"Baru saja, Pa. Tasya ingin langsung kesini, jadi kami langsung kesini" ujar Dion menjelaskan.
Papa Anton hanya mengangguk.
Ia mengalihkan pandangannya pada Tasya.
Terlihat raut kesedihan di wajah putrinya tersebut.
Meskipun Tasya berusaha menyembunyikannya, namun papa Anton masih bisa melihatnya.
"Maaf, Pa. Tasya belum bisa mewujudkan mimpi papa" ucap Tasya sambil menunduk.
Sekuat tenaga Tasya menahan agar air matanya tidak jatuh.
"Jangan terlalu dipikirkan, Sya." Papa Anton langsung bisa menangkap arah pembicaraan Tasya barusan.
Tangis Tasya akhirnya pecah juga.
Dion mengusap lembut punggung Tasya demi meredakan tangisan istrinya tersebut.
Sesaat suasana di ruangan itu menjadi hening.
"Nikmati dulu saja kebersamaan kalian. Kalau ucapan papa tempo hari terasa membebanimu, kau bisa melupakannya, Sya" papa Anton menghela nafas sebelum melanjutkan kata-katanya.
"Papa hanya bisa membantu lewat doa, agar kalian berdua segera mendapat kesempatan itu." Lanjut papa Anton.
Tasya dan Dion kompak mengangguk.
"Aamiin" ucap keduanya berbarengan.
Setelah berbincang sebentar, Tasya memutuskan untuk memasak makan siang untuk mereka bertiga.
Tasya dan Dion baru berpamitan saat matahari sudah bergulir ke arah barat.
Hari sudah beranjak sore. Tasya dan Dion masih di perjalanan menuju ke rumah keluarga Dion.
Jalanan sedikit macet mungkin karena ini akhir pekan.
Tasya sudah terlelap tidur di samping Dion. Sepertinya wanita itu kelelahan.
Tepat saat matahari menampilkan semburat oranye nya, mobil Dion memasuki halaman rumah papa Rian.
Rumah yang tidak berubah sejak dulu hingga sekarang.
Rumah yang penuh dengan kenangan Dion saat kecil hingga dirinya beranjak remaja.
Dion sudah memarkirkan mobilnya di depan garasi.
Tasya masih terlelap.
"Nat," Dion mengelus lembut pipi sang istri demi membangunkannya.
Bukannya langsung bangun, Tasya malah tersenyum dan memegang tangan Dion yang sedari tadi masih berada di pipinya.
Mata Tasya terpejam, tapi wanita itu tampak tersenyum bahagia.
"Natasya sayang, kita sudah sampai" Dion yang merasa gemas dengan tingkah Tasya sudah akan mencium istrinya tersebut.
Namun Tasya langsung mengelak, tepat saat bibir Dion tinggal beberapa centimeter lagi dari pipinya.
Tasya tertawa lepas melihat raut wajah Dion yang susah di jelaskan.
__ADS_1
Ekspresi antara kecewa, kaget, dan sedikit frustasi karena gagal mencuri sebuah ciuman dari pipi Tasya.
Dion mendengus,
"Ayo turun!" Ucap Dion akhirnya.
Pria itu memilih untuk membuang rasa kecewanya. Dia akan minta dobel nanti malam, sebagai ganti keusilan yang dilakukan Tasya sore ini.
Tasya melepaskan sabuk pengamannya, dan bergegas turun dari mobil.
Dion menurunkan koper dari dalam bagasi dn membawanya masuk ke dalam rumah. Tasya mengekor saja di belakang Dion.
"Sore, Ma" Dion menyapa mama Wina yang baru saja keluar menyambut mereka berdua.
Dion dan Tasya bergantian mencium punggung tangan wanita paruh baya tersebut.
"Kalian darimana? Bukankah seharusnya sudah tiba disini sedari pagi?" Tanya mama Wina penasaran.
"Kami ke rumah papa Anton dulu, Ma. Maaf karena tidak mengabari" Tasya yang menjawab pertanyaan dari mama Wina.
"Ya sudah kalau begitu. Kalian masuk dan istirahat saja dulu." Ujar mama Wina sambil merangkul Tasya dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.
Tasya dan Dion hanya mengangguk dan segera naik ke lantai atas.
*****
Makan malam,
Hanya suara denting peralatan makan yang terdengar di ruangan itu.
Seperti tidak ada yang berniat untuk mengawali obrolan.
"Apa kalian menundanya lagi?" Vira yang terlebih dahulu memecah keheningan di antara enam orang yang ada di ruangan itu.
Tasya yang sedang menyendokkan nasi ke dalam mulutnya , mendadak kehilangan selera makan. Rasa makanan yang semula terasa lezat, kini berubah hambar seperti tanpa rasa.
"Vira!" Mama Wina menegur Vira yang terlalu terang-terangan dalam bertanya.
"Kami tidak pernah menundanya, Vir. Kami hanya belum mendapat kesempatan itu" Dion yang menjawab kata-kata pedas dari Vira.
Dion memegang erat tangan Tasya yang duduk di sampingnya.
Tasya hanya menunduk sedari tadi. Menyembunyikan wajahnya dan berusaha keras untuk menghabiskan makanannya yang kini benar-benar terasa hambar.
Tak ada lagi yang membuka suara. Semua memakan makanan mereka dalam diam.
Sesekali, Kevin mencuri pandang dan melihat ke arah Tasya yang duduk di seberang meja.
Ada perasaan bersalah yang membuncah di dada Kevin.
Mungkinkah kandungan Tasya bermasalah karena perbuatannya di masa lalu?
Bisa Kevin lihat, Dion kini tengah mengelus punggung Tasya.
Sepertinya Dion tengah memberikan Tasya kekuatan agar wanita itu tegar menghadapi cibiran-cibiran yang tak perlu, seperti yang di lontarkan Vira barusan.
Ah, Vira.
Wanita itu memang selalu saja ceplas-ceplos kalau bicara.
Tak pernah peduli dengan perasaan orang lain.
"Tasya ke kamar dulu, Ma, Pa" Tasya beranjak dari duduknya dan berpamitan pada mama Wina dan papa Rian yang masih menikmati makan malam mereka.
Dada Tasya mendadak terasa sesak, dan atmosfer di ruangan ini juga mendadak menjadi panas.
Bahkan Tasya yang sudah kehilangan selera makan sedari tadi, tak bisa lagi melanjutkan makan malamnya.
Dion ikut berpamitan dan segera menyusul Tasya naik ke lantai atas.
"Nat," panggil Dion sambil mempercepat langkahnya menyusul Tasya.
Tasya menghentikan langkahnya tanpa menoleh ke arah Dion.
Wajahnya menunduk, menyembunyikan air matanya yang sudah jatuh bercucuran di kedua pipinya.
Dion langsung bisa menangkap kesedihan di wajah istrinya.
Pria itupun langsung memeluk Tasya.
"Maaf," entah kenapa Tasya malah mengucapkan kata itu.
"Tidak, Nat. Ini bukan kesalahan kamu. Aku yang minta maaf karena sudah memaksamu untuk menghadapi ini semua" Dion menghapus air mata di kedua pipi Tasya dan sedikit merapikan rambut Tasya.
"Ayo kita ke rooftop!" Ajak Dion kemudian.
Tasya mengernyit tak mengerti.
"Kau bisa menemaniku berlatih sebentar" lanjut Dion lagi, seakan bisa membaca kebingungan di wajah Tasya.
Kali ini ekspresi wajah Tasya berganti dengan raut wajah mencebik. Sepertinya Tasya keberatan jika Dion berlatih dengan benda bulat itu saat mereka sedang berlibur.
"Tidak, aku mau tidur saja" tolak Tasya sambil bersedekap.
"Sebentar saja sayangku" rayu Dion dengan nada memohon.
Sungguh saat Dion mengeluarkan jurus bucinnya ini, Tasya jadi ingin tertawa geli.
"Ayolah! Atau aku akan menggendongmu ke rooftop" Dion sudah mengambil ancang-ancang.
"Enggak enggak. Aku bisa jalan sendiri, Di" Tasya langsung buru-buru menolaknya.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu. Ayo!" Dion menggandeng tangan Tasya dengan bersemangat lalu keduanya menaiki tangga yang menuju ke rooftop.