Natasya

Natasya
SEASON KEDUA : Kabar Duka


__ADS_3

"Dokter Tasya..."


"Dok!" Suara dari perawat yang tadi bersamanya sontak langsung mengembalikan ingatan Tasya.


Tasya kembali melihat wajah anak lelaki di depannya tersebut.


Tasya sungguh tak percaya, bagaimana bisa wajah anak ini begitu mirip dengan Zhia?


Hanya saja...


Mereka berbeda jenis kelamin.


Ya,


Tapi wajah ini kenapa bisa mirip sekali?


Ingin rasanya Tasya bertanya pada Nuna, tapi Tasya rasa ini bukanlah waktu yang tepat.


Mungkin lain waktu saja, semoga ada kesempatan.


"Apa dokter Tasya baik-baik saja?" Perawat itu tampak khawatir.


Tasya langsung menarik nafas panjang sekaligus tersenyum hangat.


"Iya, maaf. Saya akan mulai memeriksanya" Tasya sudah memasang stetoskop di telinganya.


"Hai anak ganteng. Siapa namanya?" Tanya Tasya berusaha sok akrab, karena wajah anak itu yang mendadak pucat saat Tasya mulai meletakkan stetoskop yang dingin itu di dada anak tersebut


"Ken...Kenzo, Dok" jawab Kenzo sedikit terbata.


Tasya memasang senyum seramah mungkin.


"Sebenarnya dia sedikit takut dengan jarum suntik dan rumah sakit" Nuna mencoba menjelaskan pada Tasya.


Tasya mengangguk dan tampak mengerti.


Bukan hal baru memang untuk Tasya jika ada anak yang takut saat diperiksa seperti ini.


"Ada keluhan, sayang?" Tasya menatap lekat wajah mungil itu.


'Ya Tuhan...


Aku seperti sedang bicara pada Zhia kecilku' jerit Tasya dalam hati.


Kenzo menunjuk ke arah kepalanya.


Tasya segera mengangguk dan paham.


"Mungkin besok baru keluar, Dok. Hasil tes lengkapnya" ujar perawat yang kini berdiri di samping Tasya.


"Baiklah, saat hasilnya keluar saya akan kesini lagi" ucap Tasya sambil ganti memandang ke arah Nuna yang juga sedang mengandung sama seperti dirinya.


Kalau dilihat sekilas, sepertinya usia kandungan mereka juga sama. Yang membedakan mungkin perut Tasya yang sedikit lebih besar karena ada dua bayi di dalam sana.


Nuna mengangguk dan membantu Kenzo untuk berbaring kembali. Anak itu kembali mengeluhkan sakit di kepala dan di tanganya yang di tusuk jarum infus.


Nuna berusaha untuk menenangkannya.


Tasya memandang sekali lagi wajah Kenzo.


Sesaat kerinduannya pada Zhia seolah terobati.


Tasya benar-benar penasaran, apa keluarga ini ada hubungan dengan Zhia?


Atau memang ini adalah keluarga dari Zhia kecilnya?


'Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, Di. Suatu hari nanti mungkin saja kita akan bisa di pertemukan dengan keluarga Zhia sehinggga kita bisa bercerita kepada mereka, betapa kuatnya Zhia dalam berjuang melawan penyakitnya'


Kata-kata itu kembali berputar di benak Tasya.


Tasya bertekad akan mencari tahu secepatnya.


Setelah berbasa-basi seperlunya, Tasya dan perawat yang bersamanya tadi undur diri dari ruangan tersebut.


Tasya langsung berjalan menuju lobi rumah sakit karena Elena sudah menunggunya di sana.


*****


Di kantor Dion,


Raka dan Egi masih saling berpandangan dan bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi pada Dion.


Pria itu duduk sambil tertunduk lesu. Tampak jelas genangan airmata di sudut mata Dion.


"Di, ada apa?" Egi memilih untuk bertanya terlebih dahulu.


"Tante dan om aku..." Dion tak kuasa untuk menahan air matanya. Hatinya benar-benar sedih sekarang.


Egi mengernyit tak mengerti


"Tante dan om aku menjadi korban kecelakaan pesawat" lanjut Dion lirih namun cukup bisa untuk di dengar oleh Egi dan Raka.


Egi langsung memegang punggung Dion dan mencoba untuk menyalurkan kekuatan.


Raka beranjak dari duduknya dan ikut mendekat ke arah Dion.


"Kami ikut berduka, Di" ucap Raka sambil menatap prihatin pada sahabat barunya tersebut.


Kehilangan orang yang kita sayangi memang merupakan hal paling berat. Raka sudah pernah berada di posisi itu.


"Dan sekarang aku di minta untuk terbang ke sana mengurus semuanya" lanjut Dion lagi.

__ADS_1


"Aku akan ikut denganmu, Di" ujar Egi cepat.


"Aku harus memberitahu Tasya" Dion sudah mengambil ponselnya dan hendak menelpon Tasya, namun dengan cepat Egi mencegahnya.


"Jangan Dion! Kau harus menemui Tasya langsung jika ingin memberitahunya. Tasya pasti shock dengan kabar ini" ujar Egi bijak.


Dion terdiam.


Egi benar. Kenapa Dion tak berpikir ke arah sana? Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan Tasya dan kandungannya?


"Tapi kita harus pergi sekarang, Gi. Tidak ada waktu untuk menemui Tasya" Dion semakin kalut saja. Ia bahkan tak bisa berpikir jernih sekarang.


"Aku akan menghubungi Elena. Dia pasti tahu apa yang harus dilakukan. El juga akan menjaga Tasya selama kita pergi" Egi memberi solusi.


Dion mengangguk.


Egi benar. Sebaiknya Dion fokus dulu mengurus kepulangan jenazah tante Desi dan Om Bimo sebelum memberitahu semuanya pada Tasya.


"Aku akan tetap di sini dan mengurus semua hal yang ada di sini" Raka ikut menimpali.


"Baiklah, ayo kita pergi sekarang, Dion!" Ajak Egi kemudian.


Dion menyeka genangan airmata di sudut matanya dan segera mengikuti langkah Egi untuk meninggalkan gedung ini.


*****


Elena masih duduk di ruang tunggu yang ada di lobi sambil menunggu Tasya.


Elena sedang berbincang dengan salah satu dokter yang juga sudah selesai praktek, saat tiba-tiba ponselnya berdering.


Rupanya Egi yang menelpon.


"Iya sayang ada apa?" Tanya Elena dengan nada santai.


"El, apa Tasya bersamamu?" Tanya Egi di seberang sana.


Egi dan Dion masih dalam perjalanan menuju ke bandara kota.


"Tasya belum selesai praktek. Aku masih menunggunya sekarang. Ada apa memangnya?" Perasaan Elena mulai tak enak. Nada bicara Egi terdengar tidak biasa. Sepertinya sedang ada masalah.


"Om dan tante nya Dion meninggal dalam kecelakaan pesawat" jawab Egi sambil melirik ke arah Dion.


"Apa?" Elena yang terkejut sampai bangkit dari duduknya dan setengah berteriak di ruang tunggu lobi. Membuat beberapa orang menengok ke arahnya. Namun cepat-cepat Elena duduk kembali dan menarik nafas panjang demi mengendalikan emosinya.


"Kamu jangan bercanda, Gi!" Elena menastikan sekali lagi. Ia masih berharap kalau tadi Egi hanya bercanda atau mungkin salah bicara.


"Aku tidak bercanda, El. Aku dan Dion sekarang akan pergi mengurus kepulangan jenazah keduanya..." jelas Egi lagi.


"Iya lalu aku harus bagaimana? Apa Dion sudah memberitahu Tasya?" Elena memotong kalimat Egi yang belum selesai.


"Tidak. Maksudku belum. Dion belum memberitahu Tasya. Tolong rahasiakan ini semua dari Tasya. Dan bawa Tasya pulang ke rumah kita. Mungkin aku dan Dion akan pergi sampe besok atau lusa" jelas Egi panjang lebar.


"Iya, aku tahu maksudmu. Aku akan menjaga Tasya. Katakan pada Dion tak perlu mengkhawatirkan Tasya" pungkas Elena sebelum mengakhiri panggilan dari Egi.


"Baiklah, El. Aku pergi dulu. Sampai jumpa" Egi segera menutup panggilannya pada Elena.


Elena mennyimpan ponselnya ke dalam tas dan segera menyapa Tasya yang kini berjalan ke arahnya.


"Sudah selesai?" Tanya Elena berbasa-basi.


"Iya, sudah. Maaf sudah membuatmu menunggu lama" jawab Tasya merasa bersalah.


Elena tersenyum tipis,


"Tidak masalah. Ayo kita pulang!" Ajak Elena sambil beranjak dari duduknya.


Dua dokter perempuan itupun segera berjalan keluar dari lobi rumah sakit menuju ke tempat parkir.


Masuk ke jalan utama, laju mobil Elena sedikit tersendat karena sudah masuk jam makan siang.


"Oh, ya tadi Egi menelponku. Dia dan Dion sedang ada urusan mendadak ke luar kota, jadi Dion berpesan agar kamu menginap di rumahku sementara hingga dua pria itu kembali" Elena membuka obrolan.


Elena sedikit berbohong sesuai pesan Egi.


Tasya buru-buru membuka ponselnya untuk mengecek pesan atau panggilan dari Dion.


Tidak ada.


Ini aneh.


Biasanya Dion akan mengabarinya jika ada sesuatu yang mendadak seperti ini.


"Ada apa?" Elena sepertinya bisa menangkap raut kebingungan di wajah Tasya.


"Dion tidak menghubungiku" jawab Tasya sedih.


Tasya mencoba menghubungi Dion.


Namun nomer tidak aktif.


"Ponsel Dion mati. Jadi dia tidak bisa menghubungimu. Makanya dia titip pesan melalui Egi" Elena berbicara setenang mungkin meskipun dalam hati, wanita itu merasa benar-benar tak karuan.


"El, aku tidak masalah pulang ke rumahku sendiri. Aku akan baik-baik saja" Tasya menolak secara halus tentang permintaan Elena tadi yang memintanya untuk menginap di rumah Elena.


"Tidak, Sya. Ini pesan dari Dion jadi aku akan memaksamu. Dion hanya khawatir jika kamu sendirian di rumah." Elena masih coba untuk membujuk Tasya.


"Tapi aku tidak mau merepotkan, El" Tasya masih bersikeras.


Elena berdecak,


"Ayolah, Sya. Kamu sahabat baik aku. Tak perlu sungkan seperti itu. Pokoknya kamu harus tinggal di rumah aku sampai Dion pulang dan jemput kamu" kali ini Elena benar -benar memaksa.

__ADS_1


Mobil milik Elena sudah sampai di depan rumah Tasya.


"Ayo! aku akan membantumu mengambil beberapa barang yang kamu perlukan" Elena sudah terlebih dahulu turun dari dalam mobil.


Tasya segera menyusul Elena meskipun berbagai pertanyaan masih berkecamuk di kepalanya.


*****


Malam hari,


Setelah mencoba berkali-kali akhirnya Tasya berhasil menghubungi Dion.


"Hai, sayang. Bagaimana kabarmu?" Dion terlebih dahulu menyapa Tasya yang kini terlihat mencebik.


"Ada apa dengan ponselmu, Di. Aku tidak bisa menelponmu sejak siang" Tasya mulai merajuk.


"Iya, maaf. Aku lupa mengisi daya. Dan tadi aku sedang naik pesawat. Jadi ponsel mati" Dion berusaha menjelaskan.


"Kau di mana memangnya? Kenapa pergi mendadak seperti ini" Tasya masih merajuk.


"Iya, aku minta maaf, sayang. Tadi ada urusan mendadak yang harus segera aku selesaikan. Jadi aku tidak sempat pamit kepadamu. Apa kamu marah?" Dion mencoba menjelaskan dengan sabar. Hatinya sedang tak karuan sekarang. Dion bingung, apakah dia harus memberitahukan berita duka ini pada Tasya sekarang atau nanti saat ia kembali.


"Aku hanya khawatir" jawab Tasya mencoba untuk tersenyum.


"Aku baik-baik saja sekarang, jadi berhentilah khawatir. Oke!" Dion pun memaksa untuk tersenyum di depan Tasya meskipun hatinya sedang hancur sekarang.


Tasya mengangguk.


"Kamu di rumah Elena sekarang?" Tanya Dion lagi.


"Iya aku menginap di sini. Kata El kamu yang menitipkan pesan" jawab Tasya


"Iya, aku hanya tidak mau kamu di rumah sendirian. Aku akan segera menjemputmu saat sudah kembali nanti" janji Dion pada Tasya yang kini hanya mengangguk.


Tiba-tiba Tasya ingat tentang pertemuannya deengan Kenzo siang tadi.


Tasya ingin sekali membahas hal itu dengan Dion.


Namun sepertinya ini bukanlah waktu yang tepat. Mungkin Tasya akan menunggu hingga Dion pulang saja.


"Sudah malam, Nat. Sebaiknya kamu istirahat" ujar Dion hendak mengakhiri video call nya.


"Kapan kamu akan pulang, Di? Aku mungkin tidak akan bisa tidur malam ini karena kamu tidak memelukku" Tasya sedikit mengeluh.


"Mungkin besok malam aku sudah berangkat dari sini dan tiba di sana pagi. Aku akan memberikan ciuman jauh agar kamu bisa tidur" Dion memberi penawaran


Tasya tersenyum tipis,


"Baiklah. Dan mungkin aku akan memandangi fotomu malam ini" ujar Tasya sedikit terkekeh.


"Baiklah. Selamat malam, sayangku. Tidur nyenyak malam ini. Mmmmuah. Aku mencintaimu" ucap Dion mesra sebelum menutup telepon dari Tasya.


"Aku juga mencintaimu. Cepatlah pulang!" balas Tasya sebelum akhirnya layar ponselnya mati dan panggilan dari Dion terputus.


Tasya tersenyum masih memandangi layar ponselnya yang sudah mati. Matanya sudah terasa berat sekarang. Tak butuh waktu lama, dan Tasya sudah terlelap masuk ke alam mimpi.


Sementara di tempat berbeda, Dion masih termenung dan menatap ke arah langit-langit kamar hotel tempat ia menginap.


Egi sudah tertidur sejak tadi. Mungkin pria itu lelah karena menemani Dion sedari pagi di sini.


Dion sebenarnya juga lelah, namun matanya masih enggan untuk terpejam.


Dion masih tak menyangka jika tante Desi dan om Bimo akan pergi secepat ini.


Sejak mama Devi meninggal, Dion memang akrab dengan tante Desi. Dion selalu bisa melihat sosok mama Devi saat melihat wajah tante Desi yang mirip dengan sang mama.


Selain itu tante Desi juga selau memperlakukan Dion seperti anak kandungnya sendiri.


Terang saja, Dion adalah keponakan tante Desi satu-satunya.


Dan secara tidak langsung tante Desi juga sudah berjasa banyak dalam hubungan Dion bersama Tasya.


Tante Desi yang pertama kali mengenalkan Tasya pada Dion. Mungkin jika saat itu tante Desi bukan tetangga Tasya, Dion tidak akan jatuh cinta atau mungkin tidak akan kenal sama sekali dengan Tasya saat itu.


Ah, Tasya.


Pasti Tasya akan sangat sedh saat mendengar berita duka ini.


Tante Desi dan Tasya sangatlah dekat.


Jika tante Desi menganggap Dion sebagai anak laki-lakinya, maka Tasya adalah anak perempuannya.


Tante Desi yang sejak dulu selalu mendukung hubungan Dion dan Tasya. Segala nasehat bijaknya selalu Dion ingat.


'Yang sulit dari suatu hubungan bukanlah bagaimana kita mendapatkannya tapi bagaimana kita mempertahankan hubungan itu agar tetap berjalan semestinya walau badai menerjang. Jika yang kau cari hanya kesempurnaan dalam suatu hubungan, kau tidak akan pernah mendapatkannya sampai kapanpun. cinta sejati itu adalah tentang kita yang mau menerima kekurangan dari pasangan kita apa adanya'


Pada akhirnya kata-kata bijak dari tante Desi itulah yang selalu Dion jadikan pegangan dalam menjalani biduk rumah tangganya bersama Tasya. Tak mudah memang namun Dion selalu berusaha.


Dan Dion juga tahu, Tasya pun selalu melakukan hal yang sama.


Dan kini, Dion masih harus memikirkan cara memberitahu Tasya tentang semua berita ini.


Tapi Tasya seorang gadis yang tegar dan kuat sekarang.


Mungkin Tasya akan sedih dengan berita duka ini, sama seperti dirinya. Namun Dion yakin Tasya akan bisa menerima semuanya.


Dion sudah benar-benar lelah sekarang.


Dion tak sanggup lagi menatap langit-langit kamar itu.


Dion pun akhirnya tidur terlelap.

__ADS_1


Menantikan pagi agar segera menjelang, dan Dion bisa segera membawa pulang om dan tantenya.


__ADS_2