Natasya

Natasya
Dilema


__ADS_3

Langit sudah berubah menjadi gelap.


Malam pun mulai menjelang.


Ronny masih tertidur lelap dan belum ada tanda tanda akan segera bangun.


Salsa masih saja setia duduk di samping ranjang Ronny.


Gadis itu masih terlihat khawatir.


Tasya dan Dion yang duduk bersebelahan di atas sofa juga sama sama diam. Keduanya sibuk dengan pikirannya masing masing.


"Kalian berdua mending pulang dulu, deh" ucap Dion memecah keheningan diantara dirinya dan Tasya.


Tasya menatap ke arah Dion.


"Trus siapa yang jagain kak Ronny?" Tanya Tasya tak mengerti.


Dion membuka ponselnya dan menghubungi teman temannya.


"Nanti biar aku dan teman teman yang jagain kak Ronny. Kamu sama Salsa pulang saja dulu, Nat" Dion mengusap kepala Tasya.


Sedikit memohon agar gadis di depannya ini menurut dan tidak menolak permintaannya kali ini.


Tasya menarik nafas panjang.


Ia,beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri Salsa.


"Salsa,"Tasya menepuk pundak Salsa yang ternyata sudah tertidur di sebelah ranjang Ronny. Mungkin Salsa memang kelelahan.


"Iya, Sya. Ada apa?" Jawab Salsa dengan suara serak khas orang bangun tidur.


"Kamu mau pulang?" Tanya Tasya


Salsa masih diam. Ia melihat ke arah Ronny yang masih memejamkan matanya.


"Gak usah khawatir, Sal. Kak Ronny mungkin akan sadar besok pagi. Kita pulang dulu ya, besok kan kita harus sekolah" bujuk Tasya pada sahabatnya tersebut.


"Tasya benar, Sal. Kamu dan Tasya mending pulang dan istirahat dirumah. Nanti aku sama teman teman yang akan jagain kak Ronny" Dion ikut ikutan membujuk Salsa.


Salsa,masih terlihat ragu.


"Nanti ku hubungi kalau kak Ronny sudah sadar" kata Dion lagi. Dan kali ini Salsa mengangguk ragu.


Ia sebenarnya juga lelah dan ingin beristirahat dirumah.


Namun rasa khawatir membuatnya bertahan dan tetap berada di tempat ini.


Ceklek,


Suara pintu dibuka.


Julian datang bersama Bagas dan Rizky.


"Hai, semua" sapa Julian pada ketiga temannya yang berada di dalam ruangan tersebut.


"Hai, bro. Thanks udah pada datang" Dion menyapa temannya satu persatu.


"Gimana keadaan pelatih?" Tanya Rizky seraya melihat ke arah Ronny yang masih terbaring di atas ranjang perawatan.


"Tinggal nunggu sadar saja. Tapi keadaannya sudah membaik" jawab Dion santai.


Salsa dan Tasya tampak sedang berkemas dan bersiap untuk pulang.


"Gue anter mereka dulu ya. Sekalian mau ambil baju ganti. Kalian gak papa kan jagain pelatih disini?" Tanya Dion pada teman temannya.


"Santai aja, Di. Entar malem kita semua nginep disini jagain pelatih." Jawab Julian bersemangat.


Dion mengangguk sambil tersenyum.

__ADS_1


Sepertinya Tasya dan Salsa sudah siap.


Ketiga remaja itu pun keluar dari ruang perawatan Ronny.


*****


"Makasih ya, Dion udah anterin aku" ucap Salsa sembari turun dari mobil yang di kemudikan Dion.


"Sama sama, Sal. Kita berdua langsung jalan ya" jawab Dion.


"Kita duluan, Sal" timpal Tasya sembari melambaikan tangan pada sahabatnua tersebut.


Salsa mengangguk dan membalas lambaian tangan dari Tasya.


Setelah mobil Dion tak terlihat lagi, bergegas Salsa masuk ke dalam rumahnya.


"Salsa? Baru pulang Nak?" Suara sang mama mengagetkan Salsa.


"Eh, iya Ma" jawab Salsa salah tingkah.


"Gimana keadaan teman kamu?" Tanya mama Eli, mamanya Salsa.


"Sudah membaik, ma" jawab Salsa.


Mama Eli sudah mendengar semua kejadian yang menimpa Salsa dan Ronny. Ia bersyukur putrinya baik baik saja.


"Salsa ke kamar dulu, Ma" pamit Salsa akhirnya. Ia sungguh lelah hari ini dan ingin segera beristirahat


Mama Eli mengangguk.


Salsa pun bergegas masuk ke dalam kamarnya.


*****


Mobil Dion berhenti tepat di depan rumah Tasya.


"Aku kerumah dulu ambil seragam dan baju ganti. Besok aku berangkat dari rumah sakit" jelas Dion.


Tasya mengangguk tanda paham.


"Besok aku dan Salsa juga akan nyusul ke rumah sakit sepulang sekolah" ucap Tasya.


Kali ini gantian Dion yang mengangguk.


"Aku akan turun sekarang" pamit Tasya akhirnya.


"Istirahatlah. Selamat malam, Nat" ucap Dion sambil tersenyum.


Tasya balas tersenyum pada Dion.


"Selamat malam, Di. Hati hati menyetir" pesan Tasya sebelum akhirnya gadis itu benar benar turun.


Dion melambaikan tangan pada Tasya sebelum melajukan mobilnya meninggalkan rumah Tasya.


Setelah mobil Dion tak tampak lagi, Tasya bergegas masuk ke dalam rumah.


*****


Dion sudah kembali lagi kerumah sakit membawa tas ranselnya.


Teman temannya masih sibuk dengan ponsel mereka masing masing.


Dion memilih untuk duduk di samping ranjang Ronny.


"Denny gak kesini, Di?" Tanya Julian memecah keheningan. Matanya tetap fokus ke ponselnya.


Dion berpikir sebentar sebelum menjawab pertanyaan dari Julian. Ketiga temannya ini belum tahu tentang masalah rumit yang kini tengah dihadapi oleh Denny.


"Denny sedang ada urusan penting. Aku rasa dia gak akan datang" jawab Dion menerka nerka.

__ADS_1


Ia sendiri belum mendapat kabar dari Denny tentang kelanjutan masalahnya dengan Vina siang tadi.


Mungkin sekarang Denny masih disidang oleh papi nya Vina.


"Sok penting memang tu anak" Rizky menimpali.


"Orang tajir memang gitu, Riz. Emangnya kayak elo yang pengangguran. Main hape mulu kerjaannya" ucap Bagas sambil terkekeh.


"Lah elo sendiri ngapain tu? Main hape juga kan?" Rizky merasa tak terima dan membalas ejekan dari Bagas.


"Brisik woy. Ini rumah sakit bukan ajang buat berantem" Julian mengomeli kedua sahabatnya tersebut.


Dion menahan tawa melihat perseteruan di antara teman temannya tersebut.


Rizky dan Bagas hanya saling senggol.


Malam semakin larut. Suasana di dalam ruangan tersebut perlahan menjadi hening.


Suara ribut teman teman Dion tak lagi terdengar. Rupanya mereka bertiga sudah terlelap dengan posisi yang tak bisa di jelaskan.


Dion mencoba untuk memejamkan matanya, namun tetap saja tidak berhasil.


Akhirnya Dion memutuskan untuk main game saja di ponselnya demi mengusir rasa jenuh.


"Dion" suara lirih dari Ronny mengagetkan Dion yang tengah asyik bermain game.


Buru buru Dion melihat ke arah pelatihnya tersebut.


"Kak? Kakak sudah sadar?" Dion mencoba meyakinkan kalo dirinya tidak salah lihat.


"Iya. Kamu ngapain disini?" Tanya Ronny bingung.


"Dion jagain kak Ronny bareng teman teman" Dion menunjuk ke arah teman temannya yang kini sudah terbang ke alam mimpi.


Ronny tersenyum simpul.


"Jadi ngrepotin" ucap Ronny merasa sungkan.


"Tidak masalah, kak." Ucap Dion tulus.


"Apa Salsa baik baik saja?" Tanya Ronny lagi.


"Iya, Salsa baik baik saja. Dia tadi hanya khawatir sama keadaan kakak. Tadinya dia mau nginep juga disini, tapi Tasya membujuk dia agar pulang dan istirahat dirumah" jelas Dion panjang lebar.


Ronny hanya mengangguk tanda mengerti.


"Kamu gak istirahat? Bukannya besok harus sekolah?" Tanya Ronny lagi.


"Dion gak bisa tidur" ucap Dion sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Ronny hanya terkekeh.


"Oh, ya. Kamu sudah bilang ke Tasya soal kontrak itu?" Tanya Ronny serius.


Dion menggeleng. Ia merasa belum dapat waktu yang tepat untuk membicarakan hal itu dengan Tasya.


"Itu kesempatan kamu, Di. Kami tak boleh menyia-nyiakannya. Tasya pasti akan mengerti" nasehat Ronny.


Dion mengangguk.


"Ia, kak. Dion hanya lagi nyari waktu yang tepat aja" jawab Dion beralasan.


"Apa kau lihat ponselku?" Tanya Ronny pada Dion.Ronny merasa harus mengirim pesan pada seseorang, jadi ia mencari ponselnya.


Bergegas Dion membuka laci nakas di samping ranjang Ronny dan menyodorkan ponsel milik Ronny.


"Istirahatlah, Dion. Aku baik baik saja" ucap Ronny bersungguh sungguh.


Dion mengangguk. Ia segera beranjak dari tempat duduknya dan menyusul ketiga temannya terlelap ke alam mimpi.

__ADS_1


__ADS_2