
Ronny dan Denny terus menyusuri jalan demi mencari keberadaan Tasya.
Berulang kali Ronny mengusap wajahnya demi menghilangkan rasa khawatir dan pikiran pikiran buruk yang kini memenuhi kepalanya.
Ronny tak tahu lagi harus mencari Tasya kemana. Hampir semua tempat yang sekiranya di kenal oleh Tasya ia datangi, namun hasilnya nihil.
Masih belum ada tanda tanda keberadaan Tasya.
"Apa tidak sebaiknya kita lapor polisi saja, pelatih?" Denny memberikan saran.
Ronny tampak berpikir sebentar sebelum akhirnya mengangguk.
Mungkin dengan bantuan polisi, Ronny akan segera menemukan keberadaan Tasya.
Bergegas Ronny melajukan mobilnya menuju ke kantor polisi terdekat.
*****
Kevin melajukan mobilnya tanpa arah dan tujuan.
Tasya yang tadi pingsan, kini mulai menggeliat dan sepertinya gadis itu mulai sadar.
Berulang kali Kevin melihat ke arah Tasya.
Kini mobilnya berada di tempat yang jauh dari keramaian.
Hanya ada pepohonan lebat di kiri dan kanan jalan.
Kevin menghentikan mobilnya.
Ia memandang lekat wajah cantik Tasya.
Tangan Kevin mengusap lembut pipi mulus Tasya.
"Kau akan jadi milikku selamaya, Sya" ucap Kevin sedikit meracau.
Pengaruh alkohol masih membuat otaknya kacau.
Perlahan Tasya membuka matanya karena merasakan tangan dingin Kevin yang tengah meraba raba wajahnya.
Tasya terkejut saat mendapati dirinya tengah berdua bersama Kevin di dalam mobil di suatu tempat yang sepi dan entah dimana.
Tasya tak tahu dirinya dimana sekarang.
"Kak Kevin ngapain?" Tasya menghalau tangan Kevin yang sedari tadi bermain main di wajahnya.
Tasya berusaha untuk mundur dan menjauh dari Kevin.
Namun sepertinya hal itu sia sia.
Ada pintu mobil yang terkunci di belakang Tasya.
Gadis itu tidak bisa kemana mana saat ini.
Sekuat tenaga Tasya mendorong pintu mobil tersebut, namun semuanya sia sia.
Sepertinya Kevin sengaja menguncinya.
"Sya, aku mencintaimu" Kevin berkata sambil sedikit berteriak. Ia terus saja mendesak dan mendekat ke arah Tasya.
"Kakak mau ngapain?" Tasya kini ketakutan.
"Sya, kalau aku tidak bisa merebut kamu dari Dion, maka aku akan melakukan hal yang akan membuatmu menjadi milikku selamanya" Kevin menarik baju yang di kenakan Tasya.
"Kak Kevin lepasin! Tolooong" Tasya berteriak sekuat tenaga. Berharap ada seseorang yang akan menolongnya.
"Hahahaha, teriak... teriak saja sekencang mungkin. Tak akan ada yang menemukan kita. Kita akan menikmati malam ini disini" Kevin tertawa mengejek.
Airmata Tasya mulai jatuh bercucuran. Tasya benar benar ketakutan sekarang.
Apa yang akan pria ini lakukan?
__ADS_1
"Kak Kevin, tolong jangan lakukan ini" Tasya memohon. Ia berusaha untuk mundur dan menjauhi Kevin meskipun tak lagi ada ruang.
Tasya tak tahu harus melakukan apa sekarang.
"Diam!" Kevin membentak Tasya membuat gadis itu semakin ketakutan.
Jari Kevin menyentuh bibir Tasya. Memainkannya sejenak. Kevin tersenyum penuh kelicikan.
"Ini akan menyenangkan, Sya. Kau akan menikmatinya" ucap Kevin lagi.
Kali ini Kevin menarik paksa baju yang di kenakan Tasya membuatnya sobek menjadi dua.
Tasya semakin ketakutan.
Ia menutupi tubuhnya yang mulai terlihat jelas dengan kedua tangannya.
Namun sepertinya hal itu sia sia.
Kevin terus saja mendesak dirinya.
Tasya tak bisa berkutik lagi, saat Kevin memaksa untuk mencium bibirnya.
Setiap Tasya berusaha betontak, saat itulah Kevin akan langsung menampar atau menggigitnya.
Kevin memaksa Tasya untuk melakukan hubungan suami istri.
Sekuat apapun Tasya menolak, Kevin tetap memaksanya. Tubuh mungil Tasya benar benar tak berdaya saat menghadapi tubuh besar Kevin
Airmata Tasya jatuh semakin deras. Tasya tak mau melihat apa yang akan Kevin lakukan selanjutnya.
"Kak Kevin, jangan! Lepasin Tasya" teriakan Tasya semakin lama semakin terdengar lirih.
Kevin memperlakukan Tasya dengan kasar. Bahkan tak segan ia menampar pipi Tasya saat gadis itu berontak.
Tasya menangis sesenggukan.
Seluruh badannya terasa sakit dan nyeri. Namun hatinya lebih sakit. Harga diri Tasya hilang malam ini.
Tasya menangisi nasib sialnya malam ini.
*****
"Natasya!!" Dion terbangun dari tidur dan mimpi buruknya tentang Tasya.
Dion mengusap wajahnya dengan kasar.
Keringat membasahi seluruh badannya. Mimpi itu terasa begitu nyata.
Mendadak Dion mengkhawatirkan kondisi Tasya.
Beberapa hari lagi dirinya akan segera pulang dan menemui Tasya. Namun mengapa ia malah mendapatkan mimpi buruk itu?
Dion meraih ponsel yang berada di atas nakas di samping ranjang tempat tidurnya.
Ia memeriksa pesan dari Tasya.
Tak ada pesan apapun.
Dion segera menghubungi nomer Tasya. Namun hanya ada operator yang menjawab dan memberitahukan bahwa nomer Tasya sedang tidak aktif.
Dion melihat jam yang tergantung di dinding.
Jarum jam menunjukkan pukul dua dinihari.
"Pasti Tasya sudah tidur" gumam Dion mencoba menenangkan dirinya sendiri.
Dion menarik nafas panjang dan kembali merebahkan dirinya.
Kilas kilas mimpi buruk itu kembali berkelebat di benaknya. Dion memejamkan matanya dan berusaha mengusir pikiran pikiran buruk tersebut.
Tinggal menghitung hari, dan Dion akan segera berjumpa kembali dengan Tasya.
__ADS_1
Dion sungguh tak sabar menanti hari itu tiba. Dion sudah sangat merindukan Tasya.
Dion kembali terlelap ke alam mimpi.
Merajut kembali mimpi mimpi indahnya bersama Tasya.
*****
Kevin sudah terlelap. Pengaruh alkohol serta perbuatan bejatnya barusan sepertinya membuat Kevin kelelahan.
Tasya masih menangis sesenggukan.
Ia mencari cari baju yang bisa ia gunakan untuk menutupi badannya. Bajunya yang sudah sobek menjadi dua sepertinya harus ia tinggalkan.
Bersyukur Tasya menemukan jaket hoodie milik Kevin yang sepertinya masih utuh.
Buru buru Tasya memakainya.
Tasya meraba raba tombol di dalam mobil untuk membuka pintu mobil yang sengaja dikunci oleh Kevin dari dalam.
Berhasil.
Kevin masih terlelap.
Tasya bergegas keluar dari mobil terkutuk itu.
Airmatanya jatuh bercucuran menangisi nasibnya yang malang.
Tasya tak tahu bagaimana masa depannya sekarang.
Bagaimana jika Dion tahu semua ini?
Dion pasti akan langsung meninggalkannya.
Tasya tidak mau hal itu terjadi.
Tasya menyusuri jalanan beraspal yang sepi dan gelap itu.
Gerimis mulai turun perlahan.
Bahkan langit ikut menangis dan merasakan kesedihan Tasya.
Semakin lama, gerimis berubah menjadi hujan yang lebat.
Hujan turun semakin deras, sederas airmata Tasya yang terus saja mengalir di kedua pipinya.
Tasya putus asa. Apa yang akan dia katakan pada Dion nantinya.
"Kamu jahat kak Kevin. Dasar brengsek" Tasya terus saja meracau di sela sela tangisannya.
Setelah berjalan agak jauh dari tempatnya semula, Tasya mulai bisa melihat jalan utama dan rumah rumah warga di sekitarnya.
Tasya tak tahu ia dimana sekarang. Tasya terus berjalan.
Satu dua kendaraan mulai berlalu lalang.
Tasya melihat arloji yang masih melingkar di tangannya.
Jarum jam menunjukkan pukul empat pagi.
Hari sudah beranjak pagi.
Tasya masih menangis. Ia tak punya arah dan tujuan sekarang.
Tasya merasa putus asa.
Pandangan Tasya perlahan menjadi kabur. Sorot sorot lampu mobil yang berlalu lalang di sekitarnya mendadak terasa begitu menyilaukan mata.
Kilas kejadian dan sikap kasar Kevin berputar berulang ulang di kepala Tasya.
Bayangan Dion yang kecewa dan meninggalkan dirinya juga terus melintas di kepalanya.
__ADS_1
Kini kepala Tasya terasa sangat berat. Kedua kakinya bahkan tak sanggup lagi menopang tubuh mungilnya.
Tasya jatuh ke atas trotoar. Tasya pingsan karena kelelahan.