Natasya

Natasya
EXTRA PART: Silvi dan Julian (2)


__ADS_3

"Orang tua kamu pasti juga menyayangimu, Vi" Julian meraih tangan Silvi, menggenggamnya untuk sekedar memberikan semangat dan kekuatan pada Silvi.


Silvi menggeleng cepat.


"Kamu tidak tahu rasanya jadi aku, yang selalu saja di abaikan. Mereka selalu berpikir aku akan bahagia jika mereka memberikanku banyak uang dan membelikanku barang-barang mewah. Mereka lupa kalau ada hal lain yang lebih aku butuhkan. Yaitu kasih sayang." Cerita Silvi penuh emosi.


Sepertinya gadis itu sudah lama memendam kekecewaan di dalam hatinya.


Air mata sudah jatuh di kedua pipi Silvi.


Julian benar-benar tak bisa melihat ini semua.


Segera Julian mengambil sapu tangan di sakunya dan menyeka airmata yang mengalir di kedua pipi Silvi.


Julian tidak tahu harus berkata apalagi.


Sejak kecil, Julian sudah terbiasa hidup berlimpah kasih sayang dari ayah dan bundanya.


Meskipun Julian bukan berasal dari keluarga berada, namun kasih sayang dari kedua orang tuanya melebihi harta apapun di dunia ini.


"Kamu bisa membagi semua beban hidupmu kepadaku, Vi. Aku tak keberatan menjadi teman curhatmu" Julian menawarkan diri.


"Makasih, Ju. Maaf atas sikap ketusku selama ini dan selama kita duduk di bangku SMA" ucap Silvi mencoba tersenyum.


"Tidak masalah, aku sudah melupakan semuanya" Julian ikut tersenyum.


Mereka berdua pun melanjutkan acara makan malam di resto tersebut.


Meskipun bukan makan malam romantis, namun pertemuan itu menjadi sebuah titik balik dari hubungan mereka berdua.


Julian dan Silvi saling bercerita tentang kuliah dan kehidupan mereka setelah lulus dari bangku SMA.


Keduanya mengobrol hingga malam semakin larut.


*****


Silvi duduk di courtside dan tak berhenti memperhatikan Julian yang kini tampil di court.


Quarter keempat hampir berakhir.


Tim Julian sepertinya akan menang tipis.


Ini adalah game terakhir dari tim Julian pada seri kali ini.


Silvi datang menonton sendirian.


Sebenarnya Silvi juga ingin berbicara banyak hal pada Julian.


Ini memang aneh,


Dulu Silvi selalu berseteru dengan Julian.


Namun kini justru Silvi merasa nyaman dan bisa leluasa bercerita tentang kehidupan pribadinya pada Julian.


Tiupan peluit panjang membuyarkan semua lamunan Silvi.


Masing-masing tim sudah kembali ke bench mereka.


Silvi segera beranjak dari duduknya dan mendekat ke arah bench dari tim Julian.


"Hai, kamu datang" ucap Julian senang saat melihat Silvi yang datang menghampiri dirinya.


Silvi ikut tersenyum,


"Bisa bicara?" Tanya Silvi


Julian mengangguk,

__ADS_1


"Ya. Aku akan ganti baju dulu. Apa kamu mau menunggu?" Julian balik bertanya.


Gantian Silvi yang mengangguk sekarang.


Silvi segera keluar dari area court. Ia memilih untuk menunggu di luar gedung olahraga saja.


*****


"Sejak kapan loe dekat sama Silvi?" Tanya Dion heran.


Dion dan Julian masih berada di ruang ganti sekarang bersama teman-teman tim yang lain.


"Baru beberapa bulan sih. Aneh ya?" Julian sedikit terkekeh.


"Gak aneh. Lucu aja mengingat dulu pas SMA kalian selalu musuhan" Dion ikut terkekeh.


Julian berdecak.


"Kalo jodoh gak kemana, Di" ucap Julian penuh percaya diri.


"Benci jadi cinta ceritanya. Hahaha. Sok bijak banget kata-kata loe" Dion mencibir.


Julian pura-pura acuh.


Pria itu segera beranjak dan menepuk bahu Dion.


"Gue duluan" pamit Julian.


Dion berdehem


"Iya, iya. Yang mau kencan. Hahaha" Dion sengaja mengeraskan suaranya bermaksud mengejek Julian.


Namun Julian seperti tak terpengaruh. Pria itu tetap melenggang santai meninggalkan ruang ganti.


*****


Pemandangan matahari yang tenggelam sepertinya akan bisa terlihat dengan jelas, memgingat cuaca yang cerah sedari pagi.


"Jadi, kamu akan kembali ke Jakarta besok?" Tanya Silvi sambil memainkan pasir di kakinya.


Ada nada kesedihan disana.


"Ya, bukankah kita tetap bisa berhubungan jarak jauh" jawab Julian berusaha bijak.


Silvi menghela nafas,


"Kamu sendiri, kapan kembali ke Paris?" Julian balik bertanya.


Silvi mengendikkan bahu.


"Seharusnya minggu depan. Tapi mungkin akan ku percepat. Aku jenuh disini" ujar Silvi menjelaskan.


Julian mengangguk.


"Kau tidak ingin mampir ke jakarta untuk menonton pertandinganku selanjutnya?" Tanya Julian sambil terkekeh.


Sejujurnya ia hanya ingin berbasa-basi pada Silvi.


"Akan ku pikirkan" jawaban mengejutkan dari Silvi.


Julian sudah ingin bersorak, tapi ia menahan diri demi menjaga imej nya di depan Silvi.


"Baiklah, kami bisa menghubungiku jika berubah pikiran" ucap Julian akhirnya.


Silvi hanya mengangguk.


Keduanya merasa lelah sekarang karena sedari tadi mengobrol sambil berjalan di sepanjang bibir pantai.

__ADS_1


Akhirnya mereka memilih untuk duduk sambil melihat matahari sore yang kini sudah ada di garis cakrawala.


Semburat oranye tampak jelas di langit sore ini.


Silvi dan Julian sungguh menikmati momen indah ini.


*****


Julian baru saja mengobrol dengan Dion.


Mereka sedang beristirahat setelah latihan rutin.


Ponsel Julian berbunyi, buru-buru Julian mengangkatnya saat tahu Silvi yang menelpon.


"Hai, Ju. Lagi dimana?" Suara merdu Silvi terdengar dari seberang telepon.


"Lagi di court sama tim. Baru kelar latihan. Ada apa?" Julian balik bertanya. Tidak biasanya Silvi menelpon di jam seperti sekarang ini.


"Apa itu artinya kamu tidak sedang sibuk?" Pertanyaan membingungkan dari Silvi membuat Julian mengernyit bingung.


"Ya, aku sudah selesai latihan" Julian menjelaskan sekali lagi.


"Sebenarnya aku sedang di Jakarta sekarang. Apa kamu bisa menjemputku di bandara. Aku bingung harus kemana" ujar Silvi sedikit ragu.


Julian langsung terlonjak tak percaya.


"Serius, Vi? Aku jemput kamu sekarang ya" ucap Julian bersemangat.


"Baiklah aku tunggu. Bye" pamit Silvi sebelum mengakhiri panggilannya.


Senyum bahagia langsung tersungging di bibir Julian.


"Di, gue balik duluan ya" pamit Julian tergesa-gesa.


Dion hanya menatap bingung pada sahabatnya tersebut.


Dion tidak tahu apa yang sudah membuat lelaki itu begitu gembira.


Namun belum sempat Dion bertanya, Julian sudah melenggang pergi meninggalkan Dion dan anggota tim yang lain.


Tampaknya Julian sedang buru-buru.


Dion hanya mengendikkan bahu.


*****


Julian baru saja tiba di bandara, sedikit celingukan mencari dimana Silvi, hingga sebuah suar memanggilnya,


"Julian..." Silvi melambaikan tangan pada Julian.


Tentu saja Julian langsung tertawa bahagia. Akhirnya dirinya bisa berjumpa lagi dengan Silvi.


"Hai, maaf membuatmu menunggu lama" ucap Julian merasa bersalah.


"Tidak masalah. Makasih ya, udah amu jemput aku" balas Silvi bersungguh-sungguh.


"Jadi, kamu mau kemana? Aku siap mengantarmu" Julian sedikit berbasa-basi.


"Bertemu bunda kamu mungkin. Hahaha." Jawab Silvi sekenanya.


"Baiklah kalau begitu. Kebetulan aku tadi habis latihan belum sempat pulang. Kita ke rumahku dulu ya" putus Julian akhirnya.


"Serius? Baiklah. Ayo!" Ajak Silvi tak sabar.


Julian segera membantu Silvi membawa koper milik gadis itu. Keduanya berjalan menuju tempat parkir.


Setelah memasukkan semua barang-barang Silvi ke dalam mobilnya, Julian segera masuk ke kursi pengemudi dan melajukan mobilnya meninggalkan kawasan bandara tersebut.

__ADS_1


__ADS_2