
Elena dan Egi sedang berbincang di ruang tengah, saat tamu yang tak sopan itu kembali datang ke rumah mereka.
"Hai, pasutri" Sapa Raka sambil menghenyakkan dirinya ke atas sofa yang ada di ruangan tersebut.
"Apa kau tidak melihat bel di samping pintu depan atau jarimu sedang diperban sehingga kamu tidak bisa mengetuk pintu rumah orang dengan baik dan sopan?" Tanya Elena dengan nada sarkas.
Matanya mendelik dan menatap tajam ke arah Raka.
"Bukan aku yang tidak pernah mengunci pintu depan dan membiarkan orang asing masuk ke rumahku tanpa mengetuk ataupun memencet bel" Raka membalas dengan kalimat sindiran.
Pria itu terlihat santai mengenakan kemeja kotak-kotak berwarna biru dan celana jeans.
Egi menahan tawanya karena perdebatan antara Elena dan Raka yang selalu terjadi setiap kali mereka bertemu.
"Aku tak bisa membayangkan jika pria seperti ini yang akan jadi adik iparmu" Elena gantian menatap tajam ke arah Egi yang masih menahan tawanya.
"Jangan terlalu ambil pusing, El. Belum tentu juga Kiki mau dengan pria ini" Egi sedikit berbisik di telinga Elena. Namun tetap saja bisikan Egi cukup keras untuk bisa di dengar oleh Raka.
"Hey, kalian masih ragu? Lihat aku sudah membawa undangannya" Raka melemparkan sebuah undangan ke atas meja yang ada di hadapan Egi dan Elena.
"Aku bahkan belum memberimu restu dan kau sudah mencetak undangannya" tukas Egi tak percaya. Pria itu segera mengambil undangan newah yang tadi di lempar oleh Raka, membukanya lalu membaca sekilas isinya.
Sesaat kemudian, wajah serius Egi berubah menjadi gelak tawa yang menggelegar di dalam ruangan tersebut.
Elena yang penasaran akhirnya ikut membaca undangan tersebut.
"Apa ini? Undangan ulang tahun?" Ujar Elena tak percaya.
"Dan bentuknya semewah itu? Aku sungguh mengira itu adalah undangan pernikahanmu" Egi masih belum berhenti tertawa.
"Banyak hal yang bisa terjadi saat acara ulang tahunku nanti. Jadi apa salahnya aku membuat undangan mewah?" Ujar Raka dengan nada sombong.
"Apa kau tidak malu merayakan ulang tahun di umurmu yang sudah kepala tiga itu tanpa seorang gadis di sisimu" Elena mencibir.
"Kenapa harus malu? Aku menikmati hidupku..." Raka merentangkan kedua tangannya dan bersandar dengan santai di kepala sofa
"Atau lebih tepatnya menikmati status jomblomu yang tak berkesudahan tersebut" timpal Egi sambil tertawa renyah.
Elena ikut tertawa.
Sedangkan Raka memilih untuk diam dan membiarkan dua sahabatnya tersebut tertawa hingga puas
"Aku akan melamar Kiki saat acara itu" ujar Raka lirih, namun sukses membuat Elena yang sedang menyesap minumannya menjadi tersedak dan terbatuk-batuk.
Egi menepuk-nepuk punggung sang istri.
"Kau serius? Dia pernah menolakmu, Ka" Elena kembali mengingatkan Raka tentang kejadian beberapa tahun silam.
Raka mengendikkan bahu,
"Aku sudah coba untuk melupakannya. Tapi aku rasa semuanya hanya sia-sia" ujar Raka sambil menerawang. Sejauh apapun Raka lari dan menjauh, sekeras apapun Raka mencoba untuk melupakan tapi tetap saja yang ada di hati dan pikirannya hanya Kiki, Kiki, dan Kiki.
Entah apa yang istimewa dari gadis itu. Raka pun merasa bingung dengan hatinya.
"Aku rasa Kiki sekarang menyesal karena pernah menyakiti hatimu beberapa tahun silam" Egi ikut menimpali.
Elena dan Raka langsung menyimak dengan antusias penjelasan dari Egi barusan.
"Maksud kamu, sayang?" Elena masih sedikit tidak paham.
"Aku bicara pada Kiki beberapa hari yang lalu. Dan kau tidak akan percaya, Kiki tidak pernah berpacaran dengan laki-laki manapun sejak terakhir gadis itu menolak Raka hingga sekarang" jelas Egi panjang lebar.
"Apa aku bilang!" Raka sudah terlonjak dari sofa sekarang, mungkin sebentar lagi pria itu akan menari-nari kegirangan seperti orang gila.
Egi dan Elena memutar bola mata bersamaan. Mereka berdua sepakat kalau Raka benar-benar lebay kali ini.
"Aku penasaran, sebenarnya apa yang kamu ucapkan pada Kiki sebelum kamu minggat saat itu" Elena bersedekap sambil menatap Raka tajam seolah menuntut sebuah jawaban sekaligus penjelasan.
"Hei, siapa yang minggat? Aku hanya menenangkan diri saat itu" Raka mencoba menyangkal.
Egi terkekeh karena lagi-lagi istri dan sahabatnya berdebat seperti bocah.
"Baiklah terserah saja. Jelaskan kau mengatakan apa saat itu?" Elena masih menatap tajam ke arah Raka.
"Tidak ada. Hanya sebuah kata-kata bijak. Tapi aku sungguh tak menyangka kalau kata-kataku itu benar-benar bisa menusuk hati seorang Kiki" kini Raka memuji dirinya sendiri dengan pongah.
Elena berdecak tak puas,
"Baiklah, jadi rencanamu setelah ini apa?" Tanya Egi selanjutnya.
"Apa lagi? Aku akan melamarnya dan kami akan bertunangan akhir pekan ini." Jawab Raka dengan mata berbinar-binar.
Elena dan Egi mencibir bersamaan, namun tiba-tiba...
Bruuk
Terdengar suara benda berat yang jatuh ke lantai dari arah belakang tempat duduk mereka.
Ketiga orang itu langsung menoleh bersamaan.
Ada Kiki yang kini sedang berjongkok memunguti buku-buku tebalnya yang sepertinya baru saja jatuh ke lantai.
Apa Kiki membantingnya?
"Ki, kamu sudah pulang?" Elena memilih untuk menyapa Kiki yang kini sudah selesai memunguti buku-bukunya.
"Iya, kak. Kiki baru sampai. Maaf membuat kaget. Tangan Kiki mendadak kram, jadi bukunya jatuh" jelas Kiki sedikit salah tingkah.
Raka menutup mulutnya ddngan telapak tangan demi menahan tawanya agar tidak meledak.
Entah ini yang ke berapa kali Kiki salah tingkah di depannya.
Raka beranjak dari duduknya dan menghampiri Kiki.
"Aku harap kamu mau datang akhir pekan ini" Raka menyodorkan undangan yang berkilau itu pada Kiki.
Tangan Kiki sedikit gemetar saat menerima undangan itu dari Raka.
Ada raut kesedihan di wajah Kiki, meskipun samar namun Raka bisa menangkapnya dengan jelas.
__ADS_1
Raka akan bertunangan dengan wanita lain, lalu bagaimana dengan Kiki?
Hati Kiki mendadak terasa sakit. Matanya sudah berkaca-kaca sekarang. Tapi sekuat tenaga Kiki menahan agar air mata itu tidak jatuh.
Tidak!
Kiki tidak mau menangis di depan Raka.
"Aku... aku akan datang. Selamat ya, Ka. Akhirnya kamu akan bertunangan" sedikit ragu namun Kiki berusaha untuk tegar dan kini gadis itu mengulurkan tangannya pada Raka untuk memberikan ucapan selamat.
Raka sungguh tak menyangka jika Kiki benar-benar berpikir kalau Raka akan bertunangan dengan gadis lain.
"Acaranya masih hari sabtu, Ki. Kamu bisa memberiku selamat hari Sabtu nanti." Jawab Raka santai.
Kiki menundukkan pandangannya karena merasa malu. Tangannya yang tadi terulur juga ia tarik kembali.
Astaga...
Kiki benar-benar salah tingkah sekarang.
Raka yang kini berdiri di hadapannya membuat jantungnya berdetak dengan tidak benar. Bahkan otak Kiki mendadak jadi buntu.
Perasaan macam apa ini?
"Baiklah, terima kasih undangannya, Ka. Aku akan ke kamar dulu" ucap Kiki masih menunduk malu.
Raka hanya mengangguk sambil tersenyum.
Kiki langsung melangkah sedikit cepat menuju ke arah tangga. Dan saat menaiki anak tangga Kiki bahkan sudah setengah berlari.
Matanya benar-benar panas sekarang.
Airmatanya sudah meluncur tanpa permisi di kedua pipinya.
Kiki merasa patah hati.
Kiki membuka pintu kamarnya dengan kasar dan kembali menutup serta menguncinya.
Kiki bersandar di belakang pintu kamarnya. Melemparkan ke sembarang arah undangan yang tadi diberikan oleh Raka.
Kenapa hatinya jadi sesakit ini?
"Dasar bodoh! Mana mungkin Raka masih menginginkanku. Aku bahkan sudah menyakiti hatinya" Kiki merutuki kebodohannya sendiri.
Mendadak rasa bersalah dan penyesalan itu kembali membuncah di dadanya.
'Bodoh bodoh bodoh' Kiki terus saja memukul-mukul kepalanya sendiri dan terus merutuki kebodohannya di masa lalu.
Sedangkan di lantai bawah, Raka sungguh tak tahan untuk tidak tertawa. Laki-laki itu tertawa hingga puas.
"Kau kejam, Ka. Kenapa kau menyiksa adikku seperti itu" Egi bersedekap dan menampilkan ekspresi wajah tidak percaya.
Elena menahan tawanya.
"Ayolah, kakak ipar. Aku bahkan belum mengatakan apapun tentang pertunanganku dan Kiki sudah menarik kesimpulannya sendiri" Raka mencoba membela diri.
Egi berdecak dan ganti menatap ke arah Elena.
Elena mengangguk dengan cepat.
"Wajahnya merah padam dan matanya berkaca-kaca. Aku rasa dia akan menangis semalaman" jawab Elena menerka-nerka.
"Sudah sangat jelas sekarang, Kiki menyimpan perasaan pada Raka" ujar Egi lirih yang langsung di sambut senyuman sumringah di wajah Raka.
Pria itu bahkan menaik turunkan alisnya seakan sedang memamerkan kemenanganannya.
"Jadi, apa selanjutnya? Bagaimana jika ternyata Kiki tidak mau pergi ke pesta bodohmu itu?" Kini Egi menatap serius ke arah Raka.
"Itu tugas kalian. Kalian berdua harus membujuk Kiki agar mau datang ke pestaku" jawab Raka enteng.
"Kalau Kiki menolak lamaranmu?" Sekali lagi Elena menakut-nakuti Raka.
Raka berdecak,
"Aku berani bertaruh kalau Kiki tidak akan menolakku kali ini. Kiki akan menangis bahagia dan menerima lamaranku" jawab Raka penuh percaya diri.
Elena memutar bola matanya, sedangkan Egi mengusap wajahnya sendiri.
"Dan aku akan menagih libur panjang serta tiket bulan madu yang kau janjikan kemarin" Raka menunjuk ke arah Egi, membuat pria itu kembali mengusap wajahnya.
Berbeda dengan Elena yang kini mengernyit bingung dan menatap penuh tanya ke arah suaminya tersebut.
"Kau akan membelikan Raka tiket bulan madu?" Tanya Elena tak percaya.
Egi hanya mengendikkan bahu,
"Aku pikir pria tua ini tidak akan menikah tahun ini" jawab Egi sedikit nyengir.
Raka tertawa puas,
"Kau cemburu, El?" Raka menggoda Elena.
Sontak ibu hamil itu langsung bersedekap sambil mencebik.
Egi yang paham, langsung mengusap lembut punggung Elena.
"Aku juga akan membelikanmu tiket untuk babymoon. Jangan ngambek begitu" bujuk Egi pada sang istri.
Dan seketika raut wajah Elena langsung berubah sumringah.
Elena memeluk erat suaminya tersebut.
Raka tersenyum simpul melihat kemesraan pasangan di depannya tersebut.
"Aku akan kerumah Dion untuk mengantar undangan" Raka melirik arloji di tangannya.
Belum terlalu malam. Rasanya tak masalah jika Raka mampir sebentar ke rumah sahabatnya tersebut.
"Kondisi Tasya sedang kurang baik, Ka. Antarkan saja undangannya dan langsung pulang. Jangan minta makan malam pada mereka" pesan Elena tegas. Bahkan Elena menekankan kalimat terakhirnya tadi.
__ADS_1
Raka dan Egi tentu saja langsung terkejut mendengar kabar tentang Tasya.
"Kau sudah bertemu Tasya" tanya Egi sedikit khawatir.
Sesaat Egi ingat tentang Elena yang menuduh Egi berselingkuh dengan Tasya. Egi takut jika Elena menemui Tasya untuk berbicara hal-hal buruk kepada wanita tersebut.
Elena mengangguk,
"Aku menemuinya beberapa hari yang lalu. Tapi aku rasa kondisi Tasya sedang kurang baik sekarang, ada masalah dengan kandungannya" jelas Elena sambil menerawang.
Elena kembali ingat pertemuan terakhirnya dengan Tasya dan kejadian saat di rumah sakit yang benar-benar membuat Tasya berurai air mata.
"Baiklah, aku akan mampir saja kalau begitu. Dan melihat kondisi Tasya sebentar mungkin." Raka sudah beranjak dari duduknya.
"Dan tolong langsung kabari aku jika ada sesuatu yang tidak beres. Tasya belum menelponku lagi sejak kemarin dan pesanku juga tidak dijawab" pesan Elena pada Raka.
"Siap, bu dokter. Aku pergi dulu" Raka pun berlalu meninggalkan ruangan tersebut, dan juga meninggalkan rumah Egi.
Pria itu segera melajukan mobilnya menembus malam yang sudah menjelang.
*****
Tasya terjaga dari tidurnya karena merasakan kepalanya yang berdentum-dentum menyakitkan dan tengkuknya yang juga tiba-tiba terasa berat seperti tertimpa batu besar.
Pandangan matanya sedikit kabur dan Tasya tidak bisa melihat benda-benda di sekitarnya dengan benar sekarang.
"Dion..." panggil Tasya samar-samar. Suara Tasya seperti tercekat di tenggorokan.
Kemana suaminya itu?
Dion tak kunjung muncul dari pintu kamar. Tasya baru ingat jika dirinya lupa meminum obat yang kemarin diberikan oleh dokter Adhi.
Sepertinya obat itu masih ada di tasnya.
Dan sekarang, dimana tas Tasya?
Tasya meraba-raba nakas yang ada di samping tempat tidur untuk mengambil minum. Mungkin setelah membasahi kerongkongannya, suara Tasya akan bisa terdengar oleh Dion yang entah sedang di mana sekarang.
Pandangan Tasya benar-benar buram sekarang dan kepalanya terasa semakin sakit saja.
Hingga tiba-tiba...
Pyaar
*****
Dion sedang membereskan sisa makan malamnya.
Ia terpaksa makan malam sendiri kali ini karena Tasya sudah tidur sejak sore dan Dion tak sampai hati untuk membangunkan istrinya tersebut.
Sepertinya Tasya kelelahan, belakangan ini istrinya itu terlihat lesu dan mudah lelah. Mungkin juga efek dari kehamilannya yang semakin besar.
Tok tok tok,
Suara ketukan dari arah pintu depan membuat Dion menghentikan sementara aktivitasnya di dapur.
Dion melirik jam dinding yang tergantung di ruang tengah rumahnya, jarum jam menunjukkan pukul delapan malam.
'Siapa yang datang jam segini?' Gumam Dion sambil berjalan ke arah ruang tamu untuk membuka pintu depan dan melihat siapa yang datang.
Saat tahu ternyata Raka yang datang, Dion sedikit berdecak.
"Hai, selamat malam Dion" sapa Raka sehangat mungkin.
"Aku kira ada tamu penting. Rupanya kau" bukannya membalas sapaan dari Raka, Dion malah mengejek sahabatnya tersebut.
"Aku juga orang penting. Apa kau tidak tahu?" Raka sudah menyelonong masuk kedalam ruang tamu Dion meskipun sang tuan rumah belum mempersilahkan.
Benar-benar satu jenis dengan Vian yang dulu juga suka bertamu ke apartemen Dion tanpa mengenal waktu.
Ngomong-ngomong soal Vian, Dion mendadak rindu pada sahabatnya yang satu itu.
Sejak menikah Vian jarang kelayapan sekarang. Mungkin pria itu benar-benar menikmati "olahraga ranjangnya" bersama Rena.
"Di mana istrimu?" Tanya Raka sambil celingukan.
"Dia sudah tidur sejak sore." Jawab Dion singkat.
"Aku hanya ingin mengantar undangan ini" Raka menyodorkan undangan mewah itu pada Dion.
Dion sedikit terkejut.
"Kau akan menikah?" Cepat-cepat Dion membuka undangan tersebut, namun yang terjadi selanjutnya Raka malah tertawa terbahak-bahak.
Sedangkan Dion, ekspresi wajah pria itu benar-benar sulit di jelaskan sekarang.
Seperti orang yang kena jebakan saja.
"Undangan ulang tahun semewah ini? Apa kau sedang berumur tujuh belas tahun sekarang? " Dion memutar bola matanya.
Raka masih belum berhenti tertawa.
"Kau harus datang bersama Tasya. Aku tidak menerima penolakan" tukas Raka dengan sangat memaksa.
"Ya...ya...ya. Apa kami juga perlu membawa hadiah?" Tanya Dion selanjutnya.
"Tidak perlu repot-repot. Kalian transfer saja langsung ke rekeningku hadiahnya" jawab Raka sambil terkekeh.
Dion ikut terkekeh.
Tiba-tiba...
Pyaar,
Seperti suara gelas yang jatuh.
Dion dan Raka sama-sama terkejut.
Suaranya dari arah kamar.
__ADS_1
Tasya...