Natasya

Natasya
Menemukanmu


__ADS_3

Dion menatap tajam ke arah Kevin yang baru keluar dari dalam rumah.


Kevin juga balik menatap tajam ke arah Dion.


Tatapan keduanya saling bertemu.


Dion masih enggan menyapa saudaranya tersebut.


Masih ada kemarahan di hatinya, meskipun Kevin sudah menerima hukuman.


"Dion? Kenapa pulang gak ngasih tahu mama?" Mama Wina mencoba mencairkan ketegangan yang terjadi di antara Kevin dan Dion.


"Pagi, Ma" Dion mencium punggung tangan mama Sarla.


"Kevin langsung berangkat, Ma" Kevin memilih untuk segera berpamitan.


"Iya, hati-hati, Kev" pesan mama Wina.


Kevin bergegas berjalan menuju halaman dan masuk ke dalam mobilnya.


"Kenapa pulang mendadak tanpa mengabari? Mama kira kamu tinggal di mess lagi selama liburan" Tanya mama Wina sekali lagi pada Dion.


"Iya, ma. Mendadak Dion ingin pulang saja. Teman-teman di mess juga pada pulang semua" jawab Dion sekenanya.


"Tapi mama senang kamu pulang. Mama dengar tante Desi juga sedang pulang kesini. Ke rumahnya yang lama. Mungkin kamu nanti mau berkunjung kesana" ujar mama Wina panjang lebar.


Dion sedikit terkejut,


"Jadi tante Desi ada dirumah lamanya sekarang?" Dion memastikan sekali lagi.


"Iya. Kamu sudah sarapan?" Tanya mama Wina.


"Sudah, ma. Dion mau istirahat saja" ucap Dion cepat. Ia tidak bisa tidur semalaman, sekarang dirinya begitu lelah.


"Baiklah kalau begitu" ucap mama Wina sambil tersenyum.


Dion pun bergegas naik ke lantai atas dan menuju ke kamarnya.


*****


Hari beranjak sore.


Dion keluar dari dalam kamarnya sudah dalam keadaan rapi. Ia sudah siap untuk pergi ke rumah tante Desi sore ini.


Ada banyak hal yang ingin Dion ceritakan pada tantenya tersebut. Hari itu, saat dirinya mampir ke rumah tante Desi, Dion tidak sempat cerita banyak hal.


Rumahnya terlihat sepi.


'Kemana para penghuni rumah ini?' Gumam Dion pada dirinya sendiri.


Namun Dion tidak terlalu memikirkannya. Bergegas ia keluar menuju garasi untuk segera meluncur ke rumah tante Desi.


*****


Dion baru saja tiba di halaman rumah tante Desi. Sesaat pandangannya tertuju ke arah rumah Tasya yang sekarang kosong tak berpenghuni.

__ADS_1


Ya,


Keluarga itu memang sudah pindah sejak setahun yang lalu. Dion menghela nafas.


Kilas kilas memori saat dirinya mengantar jemput Tasya atau sekedar ngobrol bersama Tasya di halaman hingga larut malam tiba tiba berkelebat di benaknya.


Tasya yang dulu selalu ceria, sekarang entah dimana dan bagaimana kabarnya.


Ada suara asing terdengar dari dalam rumah tante Desi. Sepertinya sedang ada tamu. Dion memilih menunggu hingga tante Desi menyelesaikan urusannya dengan tamunya tersebut.


Dion masih termenung di atas motornya.


Setelah menunggu beberapa saat, tante Desi keluar bersama dua orang pria paruh baya. Entah siapa, Dion juga tidak tahu.


Kedua pria itu berbasa basi sebentar sebelum akhirnya berpamitan dan meninggalkan rumah tante Desi.


"Dion?" Ucap tante Desi terkejut saat mendapati keponakannya tersebut sedang duduk santai di atas motornya.


"Sore tante" Dion segera turun dari motornya dan menyapa tante Desi.


"Kamu pulang juga? Kenapa gak ngabarin tante?" Tante Desi tampak gembira.


"Iya, mendadak sih. Baru tadi pagi juga sampai dirumah." Ucap Dion menjelaskan.


"Masuk yuk! Tante kangen sama kamu" tante Desi merangkul Dion dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.


"Tante pulang sendirian?" Tanya Dion berbasa basi.


"Om kamu masih ada kerjaan. Jadi gak bisa nemenin tante kesini" jelas tante Desi.


"Rencananya sih begitu. Lagipula tante sekarang sudah menetap di rumah yang baru. Dari pada kosong kan lebih baik tante jual saja. Kamu keberatan?" Tante Desi malah balik bertanya.


"Kenapa tanya sama Dion? Ini kan rumah tante" Dion menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Tante Desi hanya tertawa kecil.


"Apa kamu lapar? Tante tadi bikin kue" tante Desi beranjak dari tempat duduknya dan segera berjalan menuju ke arah dapur.


Dion tadinya akan mengikuti tantenya masuk ke dapur.


Namun saat melewati kamar yang dulu biasa ia tempati saat menginap disini, mendadak Dion ingat jika ada beberapa barangnya yang masih tertinggal di dalam kamar tersebut.


"Mungkin sebaiknya aku mengambil barang barangku, sebelum tante Desi menjual rumah ini" gumam Dion dalam hati.


Dion segera membuka pintu ruangan tersebut dan masuk ke dalam.


Masih sama seperti terakhir kali Dion menempatinya.


Dion membuka lemari besar yang ada di kamar tersebut. Mengambil beberapa baju dan sebuah bola basket yang masih tertinggal di dalam lemari.


Saat menutup pintu lemari, pandangan Dion tertuju pada sebuah koper dan tas ransel yang ada di sudut kamar tersebut.


Tadinya Dion berpikir mungkin itu koper milik tante Desi. Namun saat melihat ransel yang berada di atas koper tersebut, Dion sedikit terkejut.


Gantungan kunci yang ada di ransel tersebut, terlihat seperti tidak asing.

__ADS_1


Dion mendekati ransel tersebut untuk memperhatikan dengan seksama.


"Bukankah ini..." Dion dengan cepat membuka tas ransel tersebut. Ada beberapa novel di dalamnya dan sebuah laptop dengan stiker kecil bertuliskan 'Natasya'


Dion keluar dari kamar dengan cepat.


"Dion harus pergi, tan." Pamit Dion tergesa.


"Kenapa buru-buru?" Tanya tante Desi heran.


Baru saja tante Desi menyajikan potongan kue untuk Dion di dapur, namun anak itu malah buru-buru akan pergi.


"Ada hal penting yang harus Dion selesaikan, Tan" jawab Dion sambil berlalu keluar dari rumah tante Desi.


Dion segera memacu motornya menuju ke suatu tempat.


*****


Dion sudah sampai di sebuah kawasan apartemen.


Setelah keluar dari lift, Dion segera menuju unit apartemen milik Ronny. Dion yakin Tasya pasti ada disini.


Kemana lagi memangnya?


Dion tak menyangka kalau selama ini tante Desi tahu semua tentang Tasya.


Mendadak Dion merasa dibodohi.


Bagaimana mungkin saat dirimya sibuk mencari keberadaan Tasya, ternyata gadis itu malah tinggal bersama tantenya.


Dion sudah sampai di unit apartemen milik Ronny. Namun sekali lagi Dion harus menelan kekecewaan.


Apartemen dijual?


Kemana Ronny pindah?


Dion berpikir sebentar.


Ia mengambil ponselnya dan menghubungi nomer Ronny, namun nomer sedang sibuk.


Akhirnya Dion memutuskan untuk bertanya saja pada Denny.


"Halo, Den" ucap Dion buru buru.


"Hai bro, apa kabar? Tumben nelpon?" Tanya Denny di seberang sana.


"Loe tahu gak, pelatih Ronny sekarang tinggal dimana? Gue ke apartemennya tapi udah kosong" tanya Dion segera.


"Pelatih dan Salsa sekarang menetap di panti asuhan. Kenapa memang?" tanya Denny bingung.


"Tidak ada apa-apa. Thanks infonya bro" Dion segera menutup telponnya dan bergegas keluar dari gedung tersebut


"Bodoh. Kenapa tidak kepikiran untuk ke panti saja dari tadi" Dion terus merutuki kebodohannya sepanjang perjalanan.


Hari sudah hampir senja.

__ADS_1


"Semoga Tasya masih ada di panti" harap Dion sedikit cemas.


__ADS_2