Natasya

Natasya
Sama Rumitnya


__ADS_3

Suasana sejenak menjadi hening. Baik mama Sarla maupun mama Wina sibuk dengan pikiran masing-masing.


Makanan yang sudah tersaji di hadapan mereka, mendadak tak lagi menggoda selera.


Sejenak, mama Sarla sudah kehilangan nafsu makannya karena memikirkan putrinya, Vira.


Ia hanya menyesap minumannya demi menghilangkan dahaga di kerongkongannya.


Mengingat Vira selalu membuat hatinya menjadi sesak.


Mama Wina mencoba menikmati makanan yang sudah terlanjur dia pesan. Namun entah mengapa makanan ini terasa hambar baginya


"Kamu beruntung, Win.kamu punya keluarga yang lengkap dan suami yang menyayangimu" ucap mama Sarla tiba-tiba.


Mama Wina hanya berdecak.


Kadang yang terlihat tidak sama dengan yang sebenarnya terjadi.


Mama Wina menggeleng samar.


"Ya, andai Dion bersikap manis seperti Tasya, mungkin aku akan merasa jadi wanita paling beruntung di dunia ini" jawab mama Wina sambil menerawang.


Mama Sarla mengernyitkan kedua alisnya, sedikit tidak paham dengan maksud dari perkataan mama Wina.


"Aku tak mengerti" tanya mama Sarla penasaran.


"Dion anak sambungku" jawab mama Wina singkat, namun sukses membuat mama Sarla terperanjat tak percaya.


"Maksudmu Rian pernah menikah sebelum bersamamu? Bukankah kamu juga punya seorang anak laki-laki?" Mama Sarla sedikit bingung.


"Aku pernah mengijinkan Mas Rian menikah lagi." Mama Sarla menarik nafas panjamg sebelum melanjutkan ceritanya.


"Seperti yang kamu tahu, hubungan kami adalah hubungan tanpa restu.

__ADS_1


Ayahnya mas Rian memaksa menjodohkan mas Rian dengan seorang wanita meskipun saat itu mas Rian masih menjadi suamiku yang sah.


Aku ingin pergi tapi mas Rian selalu berhasil mencegahku. Belum lagi kehadiran putra kami, Kevin.


Membuatku semakin berat untuk pergi dari mas Rian. Jadi aku putuskan untuk menerima saja kehadiran wanita itu.


Selain itu, Mas Rian tetap peduli padaku dan pada Kevin. Ia masih tetap menjalankan perannya sebagai suami dan ayah yang baik. Jadi aku bertahan" cerita mama Wina panjang lebar.


Ia tak pernah menyangka juga jalan hidupnya pernah serumit itu.


Konflik batin hebat yang pernah ia alami membuatnya menjadi wanita yang tegar.


"Lalu dimana sekarang ibu kandung Dion?" Mama Sarla semakin penasaran, namun ia juga tak mau mengira-ngira.


Ia memilih untuk mendengarkan cerita sesungguhnya dari sahabatnya tersebut.


"Devi meninggal dalam kecelakaan saat Dion berusia sepuluh tahun.


Sejak saat itulah, Dion tumbuh menjadi pribadi yang ketus dan pembenci.


Apalagi saat mas Rian mengajak aku dan Kevin tinggal di rumah yang mereka tempati, kebencian Dion pada kami berdua semakin menjadi-jadi."cerita mama Wina sedih.


"Maafkan aku, aku sungguh tidak tahu kalau rumah tanggamu pun serumit itu" sesal mama Sarla.


Ia mengelus punggung tangan mama Wina mencoba meringankan kesedihan yang kini nampak jelas di wajah mama Wina.


Mama Wina menggeleng dan mencoba untuk tersenyum.


"Tidak, Sar. Tidak perlu minta maaf. Aku sudah menganggap semua ini memang sudah menjadi jalan hidupku. Hanya saja terkadang aku merasa sudah menjadi ibu sambung yang gagal untuk Dion" lagi-lagi raut kesedihan muncul di wajah mama Wina.


Ia menarik nafas panjang mencoba untuk mengendalikan emosinya.


"Mungkin Dion hanya butuh waktu, Win." Mama Sarla mencoba memberikan kata-kata yang menyejukkan.

__ADS_1


Ia sebenarnya terkejut dengan cerita dari mama Wina.


Ia tak tahu kalau Dion adalah pribadi yang ketus, selama ini yang dia tahu Dion selalu sopan dan lembut padanya.


Bahkan saat Dion bersama Tasya, mama Sarla selalu bisa melihat Dion tertawa lepas.


"Iya, aku pun berpikir begitu." Ujar mama Wina lirih.


"Dion anak yang baik. Dia beberapa kali menolong Tasya. Mereka berdua sangat dekat" mama Sarla menerawang, mengingat kembali kedekatan Dion dengan Tasya.


"Apa mereka sudah lama saling dekat?" Tanya mama Wina selanjutnya. Sebenarnya ia sudah penasaran sejak pertama kali melihat Dion bersama Tasya.


Mama Sarla mengangguk.


"Ya, seingatku sejak Tasya baru masuk ke sekolahnya yang baru. Mereka sering ngobrol terutama saat Dion menginap di rumah jeng Desi" cerita mama Sarla.


Gantian mama Wina yang mengangguk.


"Oh, ya lalu putramu, Kevin. Apa dia tinggal di kota ini juga?" Mama Sarla ingat pada nama Kevin yang tadi sempat disebutkan oleh mama Wina.


"Iya, dia kelas dua belas sekarang. Satu sekolah dengan Dion dan Tasya. Hanya beda tingkat. Tapi ya begitulah. Dia tak pernah akur dengan Dion. Ada saja konflik diantara mereka berdua" cerita mama Wina sedih.


Raut wajah prihatin nampak di wajah mama Sarla.


"Semuanya akan baik-baik saja, Win. Dion pasti akan secepatnya menerima kamu dan Kevin sebagai bagian dari keluarganya" ucap mama Sarla memberikan semangat.


"Semoga saja, Sar. Aku akan tetap menyayanginya seperti halnya aku menyayangi Kevin." Tekad mama Wina dengan penuh keyakinan.


'Kau memang wanita yang baik dan tegar, Win. Semoga ketulusanmu dalam menyayangi Dion akan berbuah manis' batin mama Sarla penuh harap.


Wina, sahabatnya ini memang tidak pernah berubah sejak pertama mama Sarla mengenalnya. Ia tetaplah wanita yang baik dan tidak pendendam.


Dia selalu membalas sikap buruk orang lain dengan sikap penuh kasih sayang.

__ADS_1


__ADS_2