Natasya

Natasya
SEASON KEDUA: Saudara Konyol


__ADS_3

Di apartemen milik Tasya dan Dion.


Tasya sedang berbaring di sofa yang ada di ruang tengah.


Ada Elena yang juga duduk di sofa tak jauh dari Tasya.


Setelah kejadian mengharukan di rumah sakit tadi, Elena memutuskan untuk mampir sebentar ke apartemen Tasya. Sore nanti El sudah harus terbang kembali ke kotanya


Elena dan Tasya sedang mengobrol santai.


Sedangkan Dion, pria itu ada di ruang makan dan sedang berkutat dengan pekerjaannya. Seharusnya Dion kembali ke kantor.


Namun setelah tahu Tasya hamil, sepertinya pria itu jadi enggan berjauhan dengan istrinya.


Jadilah sekarang Dion bekerja dari rumah.


"Aku masih tidak mengerti, El. Dua minggu yang lalu hasilnya negatif. Tapi sekarang? Kamu bilang usia kandunganku sudah masuk enam minggu." Tasya mengungkapkan kebingungannya pada Elena.


Elena mengendikkan bahu


"Bisa jadi karena kau melakukan tes di waktu yang kurang tepat. Apa kau langsung membuang tespeknya?" Elena balik bertanya.


Tasya mengangguk.


"Mungkin jika kau menunggu sedikit lama garis keduanya akan terlihat samar. Tapi karena kau membuangnya, jadi ya kita tak tahu" jelas Elena panjang lebar.


Tasya mengangguk sekali lagi tanda ia paham dengan penjelasan Elena.


"Kau harus menjaganya," pesan Elena sambil menggenggam tangan Tasya.


"Pasti, aku akan menjaganya baik-baik." Jawab Tasya dengan mata berbinar.


Terdengar bel pintu depan berbunyi.


Tasya dan Elena menoleh bersamaan ke arah pintu depan.


Dion sudah beranjak dari duduknya.


"Biar aku yang buka" ujar Dion sambil berjalan ke arah pintu depan.


Tak berselang lama, Dion sudah kembali bersama... Vian.


Elena sedikit terkejut saat mendapati Vian yang mengekor di belakang Dion.


"Abang ngapain di sini?" Tanya Elena dengan nada sedikit galak.


"Hai adikku sayang!" Vian yang juga terkejut dengan keberadaan Elena di rumah Tasya dan Dion langsung menyapa denagn lebay.


Vian menghampiri Elena dan langsung mengacak rambut Elena, membuat wanita itu mencebik kesal.


Sementara Dion dan Tasya saling menahan tawa melihat perseteruan abang adik itu.


"Jadi, kau datang ke kota ini dan tidak mengabari abangmu ini? Adik macam apa kamu ini" Vian bersedekap kesal.


"Memang apa pentingnya? Aku kesini menghadiri seminar. Lagipula aku sudah akan kembali sebentar lagi" Elena melihat arloji yang melingkar di tangannya.


"Abang sendiri ngapain di sini?" Elena balik menghakimi Vian.


"Dia memang hobi mengganggu kami berdua" bukan Vian tapi Tasya yang justru menjawab pertanyaan dari Elena.


"Hey, aku kan berkunjung bu dokter. Aku dengar kamu sakit jadi aku berkunjung untuk menjengukmu" sangkal Vian dengan cepat.


Dion masih menahan tawa melihat perseteruan antara Vian dan kedua wanita itu.


"Hmmmm, apa kamu membawa sesuatu untukku? Menjenguk orang sakit harusnya kan membawa buah tangan" jawaban dari Tasya sontak membuat semua yang ada di ruangan itu tertawa.


"Baiklah, baiklah. Buah tangan menyusul. Jadi... ada kabar apa?" Tanya Vian mulai kepo.


Dion segera menoyor kepala sahabatnya tersebut.


"Sudahlah jangan ganggu mereka. Ayo bicara di luar!" Dion merangkul pundak Vian dan dengan sedikit memaksa, Dion membawa pria itu menuju balkon apartemen.


Elena dan Tasya masih tertawa melihat wajah Vian yang sepertinya merasa keberatan ikut dengan Dion.


"Apa dia memang suka ke sini?" Tanya Elena penasaran.


Tasya mengangguk,


"Dan selalu di jam-jam yang tak wajar." Jawab Tasya sedikit terkekeh.


"Dia pernah datang ke sini jam enam pagi hanya untuk minta sarapan," lanjut Tasya lagi.


Sontak Elena langsung tertawa.


"Dasar abang tidak tahu diri" timpal Elena masih tertawa.


"Bukankah seharusnya dia itu sudah menikah, ya setidaknya agar tidak terus-terusan bersikap menyebalkan seperti itu" tukas Tasya berpendapat.


Terlihat Elena menghela nafas,


"Seharusnya begitu. Mama sudah berulang kali meminta bang Vian untuk segera menikah. Tapi sepertinya dia masih trauma" ujar Elena dengan nada prihatin.


Tasya langsung mengernyit tidak paham dengan kata-kata Elena barusan.


Trauma?


Trauma soal apa?


"Trauma bagaimana?" Tasya sungguh tidak tahan untuk tidak bertanya.


"Sebenarnya dulu bang Vian sudah pernah menikah, tapi istrinya kabur dan minta berpisah. Yang lebih mengejutkan, ternyata istrinya berselingkuh dengan sahabat bang Vian sendiri sampai hamil. Sejak saat itulah bang Vian enggan menjalin sebuah hubungan" cerita Elena dengan nada sedih.


Wanita itu melihat ke arah Vian yang sekarang sedang tertawa lepas bersama Dion di balkon apartemen.

__ADS_1


Entah apa yang sedang di bahas oleh kedua pria itu.


Tasya terhenyak mendengar cerita dari Elena.


Dibalik sikap Vian yang menyebalkan, Tasya sungguh tidak tahu jika pria itu punya masa lalu yang cukup kelam.


"Tapi aku dengar dari Dion, Vian sedang dekat dengan seorang gadis sekarang" Tasya menanggapi cerita Elena barusan.


Elena mengangguk,


"Ya, namanya Rena. Usia mereka terpaut lumayan jauh, dan itu menjadi sedikit masalah bagi kedua orang tua Rena" jelas Elena sambil menghela nafas.


Sesaat kemudian suasana menjadi hening.


Baik Tasya maupun Elena mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.


Samar-samar terdengar suara tawa dari Vian dan Dion dari arah balkon. Sepertinya dua pria itu sedang membahas hal menarik.


Elena melihat ke arlojinya.


"Sudah sore, Sya. Aku harus ke airport sekarang."Elena beranjak dari duduknya.


Tasya ingin ikut berdiri, namun dengan cepat Elena mencegahnya.


"Tak apa, kamu berbaring saja, Sya. Jangan sampai kamu pingsan lagi" ujar Elena sambil terkekeh.


Tasya ikut terkekeh.


"Biar Dion yang mengantarmu ke airport" ujar Tasya memberikan saran.


Elena segera menggeleng dengan cepat.


"Tidak, Dion harus menjagamu. Aku akan naik taksi" jawab Elena cepat. Ia sungguh tak ingin merepotkan.


"Aku akan berpamitan pada mereka berdua" Elena berjalan menuju ke arah balkon.


*****


Di balkon apartemen,


Dion dan Vian duduk santai sambil membahas beberapa hal. Tak jarang keduanya akan saling tertawa lepas saat membahas hal yang menurut mereka konyol.


"Kau sudah memberitahu manajemen tim soal keinginanmu untuk pensiun itu?" Tanya Vian dengan nada serius kali ini.


Dion mengangguk,


"Ya, aku sudah bicara dengan manajer tim dan juga pelatih beberapa hari yang lalu" Dion kembali menjelaskan.


"Beritanya menyebar dengan cepat. Semua sudah tahu sekarang" Vian memberitahu.


"Bagus kalau begitu. Aku tidak perlu repot-repot memberitahu anggota tim yang lain" timpal Dion sambil terkekeh.


"Tapi aku dapat kabar kalau anak-anak akan mengadakan sebuah pesta perpisahan untukmu. Semacam pesta kecil-kecilan. Mungkin hanya acara makan-makan" tukas Vian sekali lagi memberi laporan pada Dion.


"Apa kau termasuk yang memberi ide itu?" Tebak Dion sedikit berdecak.


"Bagaimana denganmu? Bukankah kau juga akan meninggalkan tim musim berikutnya. Apa tidak ada farewell party juga untukmu?" Tanya Dion seraya menatap gedung-gedung tinggi yang ada di sekitar gedung tempat tinggalnya.


Kawasan ibukota yang benar-benar sudah padat oleh gedung-gedung pencakar langit.


Vian tergelak mendengar pertanyaan dari Dion barusan.


"Aku bukan bintang di tim. Jadi aku rasa mau aku pergi atau tidak, tidak akan ada yang peduli" jawab Vian sedikit menerawang.


Karier basket Vian memang tak sebagus Dion. Belum lagi cedera yang menghampiri Vian musim kemarin, membuat Vian harus puas duduk sebagai pemain cadangan.


"Aku peduli, bro! Kau sahabat terbaikku" ucap Dion tulus sambil menepuk punggung Vian.


"Jadi, kau akan datang di farewell party mu nanti kan? Ajak sekalian Tasya agar wanita itu tidak jenuh di rumah" Vian memberikan saran.


"Aku usahakan. Kalau kondisi Tasya sudah membaik aku pasti akan mengajaknya" jawab Dion sambil tersenyum.


"Hai para pria, sudah selesai yang berghibah?" Elena yang baru saja keluar langsung menyapa Vian dan Dion sambil mengejek.


"Ngaco kamu, El" Vian sudah akan mengacak rambut Elena, namun secepat kilat wanita itu segera menghindar.


Vian hanya bisa mendengus kesal sekarang.


Elena masih terkekeh melihat wajah kesal Vian.


"Di, aku harus pergi sekarang. Pesawatku berangkat dua jam lagi" Elena berpamitan pada Dion.


"Aku antar, El" tawar Dion cepat.


"Tidak usah, aku bisa naik taksi" jawab Elena menolak halus.


"Hey, aku di sini El. Kamu tidak ingin minta abangmu ini mengantar?" Protes Vian yang merasa dicueki oleh Elena sedari tadi.


Elena terkikik,


"Baiklah abangku sayang, bisakah kamu mengantarku ke airport hari ini" ucap Elena dengan nada merayu yang dibuat-buat.


Dion tertawa melihat kekonyolan kakak beradik ini.


"Ya...ya...ya...rayuanmu boleh juga. Baiklah aku akan mengantarmu" ujar Vian sok keren.


Elena hanya memutar bola matanya. Sedikit geli melihat tingkah sang abang.


"Sebaiknya kita masuk ke dalam dan berpamitan pada ibu hamil. Ayo!" Ajak Vian kemudian. Dion dan Elena mengangguk berbarengan dan langsung mengekori Vian masuk kembali ke dalam ruang tengah apartment.


Ketiga orang itu sudah masuk kembali.


"Wah, wah sebelum pergi aku akan memberi selamat dulu untuk bu dokter yang sebentar lagi akan jadi seorang ibu" Vian segera memeluk Tasya dan memberikan ucapan selamat.

__ADS_1


Ya, Vian baru saja mendengar dari Dion kalo Tasya sakit karena sedang hamil muda.


"Hey, kenapa kamu memeluk istriku seperti itu" Dion yang merasa tak terima langsung menarik Vian yang sedang memeluk Tasya.


Sontak Elena dan Tasya langsung tergelak.


"Apa? Aku hanya memberi ucapan selamat, Di. Kenapa kamu cemburuan sekali" protes Vian yang merasa tak terima dengan sikap berlebihan dari Dion.


"Aku suaminya wajar jika aku cemburu" ujar Dion membela diri. Pria itu langsung merangkul Tasya dengan posesif, membuat Vian berdecak kesal.


"Baiklah, tuan tukang cemburu semoga nanti saat lahir anakmu ganteng dan wajahnya mirip aku, agar kamu semakin cemburu" timpal Vian tak mau kalah.


"Dia anakku, aku yang menanam bibitnya. Bagaimana ceritanya bisa mirip denganmu? Dasar pria aneh" Dion mendengus tak terima.


Tasya dan Elena sudah tertawa terpingkal-pingkal sekarang.


Perseteruan dua pria di depan mereka ini, sepertinya tidak akan berakhir dalam waktu dekat


"Sudahlah, Bang! Hentikan sikap konyolmu itu. Kau dulu juga berkata begitu saat aku hamil Rhea. Dan lihatlah sekarang. Rhea tak mirip sama sekali denganmu" Elena mengejek Vian.


"Itu karena Rhea perempuan, jadi tidak mungkin mirip denganku" Vian mencari alasan, Elena hanya mencibir.


"Terserah kau saja. Ayo kita pergi sekarang, aku tidak mau tertinggal pesawat" Elena menyambar tasnya yang ada di atas meja.


"Siap dokter Elena" jawab Vian kembali dengan suara yang dibuat-buat.


Elena segera memeluk Tasya dan berpamitan.


"Aku pulang dulu, Sya. Telpon aku jika ada sesuatu yang mengganggu. Dan jangan terlalu capek. Kau harus menjaga mereka baik-baik" pesan Elena panjang lebar sambil mengelus perut Tasya yang masih datar.


"Siap bu dokter. Aku akan mengikuti semua nasehatmu. Terima kasih sudah menemaniku ngobrol hari ini" balas Tasya sambil tersenyum tulus.


Elena dan Vian segera berjalan menuju pintu depan. Tasya melambaikan tangan pada dua sahabatnya tersebut.


Dion ikut ke depan untuk mengantar Elena dan Vian.


"Thanks El, sudah mampir ke rumah" ucap Dion pada Elena.


"Aku senang bisa ngobrol banyak dengan kalian berdua. Aku pulang dulu. Jaga Tasya baik-baik. Oke!" Pesan Elena sekali lagi pada Dion.


"Oke. Salam untuk Egi dan putrimu Rhea" ucap Dion sekali lagi.


Elena mengangguk sambil tersenyum.


"Gue anter Elena dulu, Bro! Nanti gue balik lagi" Vian berpamitan sambil cengengesan.


"Gak perlu, Vi. Gue mau tidur" sahut Dion ikut cengengesan.


"Gue dobrak pintu rumah loe" balas Vian sambil kabur menuju lift.


Elena hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan mengekori Vian yang kini sudah berada di dalam lift.


Abangnya yang satu ini benar-benar suka sekali membuat orang kesal.


Setelah Elena dan Vian tak terlihat lagi, Dion segera kembali ke dalam dan menutup pintu.


Tasya masih duduk bersandar di sofa yang ada di ruang tengah.


"Mereka sudah pergi?" Tanya Tasya pada Dion.


"Ya" jawab Dion singkat.


"Bagaimana kepalamu? Masih pusing?" Dion sudah duduk di samping Tasya sekarang.


Tasya langsung menyandarkan kepalanya di dada Dion.


"Sedikit."jawab Tasya lirih.


"Kamu ingin makan sesuatu?" Tanya Dion lagi.


"Aku baru saja makan, Di. Apa kau ingin membuatku gendut?" Tasya mencebik sambil memukul-mukul dada Dion.


Dion hanya tertawa kecil.


"Tak apa kamu gendut. Aku akan tetap mencintaimu apa adanya" Dion mengusap pipi Tasya, istrinya itu hanya diam sambil menutup matanya.


Dion beralih mengusap bibir merekah milik Tasya.


Tak ada reaksi apapaun dari Tasya, jadi Dion mengecup bibir merekah itu.


Tasya mengalungkan kedua tangannya di leher Dion menikmati kecupan hangat dan mesra dari sang suami.


"Masih terlalu sore, sayang" ucap Tasya sambil terkekeh setelah melepaskan ciuman dari Dion.


Dion ikut terkekeh,


"Ingat pesan El? Kita harus hati-hati saat melakukannya. Aku tak mau menyakiti mereka" Dion mengusap lembut perut Tasya.


Dua makhluk kecil sedang tumbuh di sana,


Dan beberapa bulan lagi Dion akan segera berjumpa dengan mereka.


Dion sudah tak sabar menantikan saat hari itu tiba,


Tasya hanya tersenyum merasakan belaian hangat dari Dion di perutnya yang masih rata.


Beberapa bulan lagi mungkin perut rata itu akan semakin membulat seiring dengan tumbuhnya dua janin kecil di rahimnya.


Tasya bersyukur, karena akhirnya dirinya bisa merasakan momen indah ini.


"Kita akan bersama-sama menjaganya, melihat mereka tumbuh, hingga nanti mereka lahir ke dunia."janji Tasya pada Dion.


Dion mengangguk dan mencium kening Tasya.

__ADS_1


Semburat lembayung yang menawan mulai menghiasi langit sore ini. Matahari akan terbenam sebentar lagi.


Tasya masih bersandar dengan nyaman di dada sang suami, menikmati malam yang mulai datang menjelang.


__ADS_2