Natasya

Natasya
Kabar Burung


__ADS_3

Seorang gadis tinggi langsing berjalan dengan anggunnya menghampiri para pemain basket yang kini tengah beristirahat sambil menikmati makan malam di sebuah resto.


Gadis dengan paras cantik dan rambut hitam legam sebahu yang ia biarkan tergerai.


"Hai, Laura" beberapa pemain menyapa gadis itu ramah.


Senyuman langsung tersungging di bibir gadis tersebut. Sesekali ia membalas sapaan dari para pemain.


Namun pandangan Laura fokus ke satu cowok yang kini tampak sedang berbincang serius dengan rekannya.


Bahkan cowok tersebut seperti tidak menggubris kehadiran Laura di ruangan tersebut.


"Hai, Dion" sapa Laura lembut.


Dion menoleh ke arah gadis tersebut. Bukannya menjawab sapaan dari Laura, Dion malah mengernyitkan dahinya.


"Hai, Laura" bukan Dion, tapi malah Julian yang menjawab sapaan Laura barusan.


Tadi Dion memang sedang berbincang serius dengan Julian. Dan kini Dion merasa terusik dengan kehadiran Laura.


"Di, boleh ngobrol sebentar gak di sana?" Laura menunjuk ke arah meja kecil dengan dua kursi yang berada di sudut restorant tersebut.


Dion mendengus.


Namun akhirnya Dion tetap beranjak dari tempat duduknya dan mengikuti gadis tersebut dengan malas.


"Ada masalah apa?" Tanya Dion sedikit ketus.


"Aku hanya ingin mendengar jawabanmu soal penawaranku kemarin" ucap Laura dengan nada lembut tapi terkesan di buat-buat.


Membuat Dion menjadi jengah dan tentu saja kesal.


"Maaf aku tidak tertarik" jawab Dion dingin.


"Ayolah, Dion. Ini kesempatan bagus untukmu. Karirmu sedang menanjak saat ini, popularitasmu juga tinggi. Bukankah ini saatnya untukmu mencoba bidang baru" bujuk Laura panjang lebar.


Dion berdecak kesal.


Setelah mendengar kata kata Laura barusan, Dion jadi berpikir, sebenarnya gadis di depannya tersebut berprofesi sebagai model atau sales marketing?


Kenapa dia pandai sekali membujuk dan merayu-rayu atau lebih tepatnya memaksakan dengan halus kehendaknya pada orang lain.


Dion sendiri sebenarnya merasa malas berbincang dengan Laura. Kalau bukan karena dia adalah putri kesayangan Mr. Lim, Mungkin Dion sudah mengabaikan gadis ini sedari tadi.


Dion hanya menghormati Mr, Lim sebagai pemilik klub tempatnya bernaung saat ini.


Beberapa waktu yang lalu, Laura memang menawari Dion untuk terjun ke dunia entertainment dan menjadi brand ambaassador beberapa produk kecantikan dan kesehatan.


Namun Dion sama sekali tidak tertarik dengan penawaran dari Laura.


Terjun ke dunia entertainment yang menurut Dion penuh dengan skandal dan kepalsuan adalah suatu tindakan konyol.


"Mungkin kau bisa memberi penawaran pada yang lain. Aku benar benar tidak tertarik dengan tawaranmu itu" Dion mengendikkan bahu.


Ia sudah akan beranjak dari tempat duduknya saat ini, namun Laura menarik tangannya.


"Bisa disini sebentar menemaniku?" Laura memasang wajah sok manis yang entah mengapa malah membuat Dion merasa muak.


Dion menghela nafas,


Ia kembali duduk dan tidak jadi beranjak.


Dengan malas, Dion mendengarkan ocehan gadis itu hingga hari semakin larut.


*****


"Kabar mengenai Laura yang menjalin hubungan dengan Dion, pemain basket yang saat ini sedang bersinar, ternyata benar adanya.

__ADS_1


Tadi malam keduanya kepergok sedang makan malam romantis di sebuah resto..."


Tasya langsung mematikan tivi yang berada di ruang makan tersebut. Hatinya mendadak terasa panas mendengar berita tentang Dion dan pacar barunya itu.


Tante Desi yang baru keluar dari dapur, hanya tersenyum melihat wajah Tasya yang sepertinya sedang kesal.


"Apa kau cemburu?" Tanya tante Desi sambil meletakkan segelas susu di meja di depan Tasya.


Tasya mengernyit


"Kenapa aku harus cemburu?" Tasya malah balik bertanya.


Gadis itu mencoba menutupi perasaannya.


Namun raut wajahnya yang kini merah padam menggambarkan kalau dia memang sedang cemburu.


Tante Desi hanya terkekeh.


"Tasya senang jika akhirnya Dion sudah move on" ucap Tasya sambil menghabiskan roti dipiringnya.


Tasya meminum segelas susu di hadapannya dalam satu tegukan besar.


"Kau sendiri, sudah move on?" Tanya tante Desi lagi.


Tasya mengendikkan bahu.


Ia beranjak dari kursinya dan membawa piring serta gelasnya ke dapur yang masih berada satu ruangan dengan ruang makan tersebut.


"Bukankah Tasya harus fokus kuliah sekarang? Jadi Tasya gak mau terlalu memikirkan tentang pacaran atu cinta cintaan" jawab Tasya diplomatis.


Tante Desi hanya mengangguk sambil tersenyum kecil.


Tasya sudah kembali lagi ke meja makan dan mengambil tas nya.


"Mau berangkat sekarang? Ini masih pagi, Sya" tanya tante Desi heran.


"Yaudah, hati-hati." Pesan tante Desi. Tasya mengangguk.


Ia lantas mencium punggung tangan tante Desi dan segera beranjak keluar untuk segera berangkat menuju kampusnya.


Tante Desi baru menyelesaikan sarapannya, saat terdengar ketukan dari pintu depan.


Bergegas tante Desi keluar untuk melihat siapa yang datang.


Tadinya ia berpikir Tasya kembali pulang karena mungkin ada sesuatu yang tertinggal, namun saat membuka pintu dan melihat siapa yang datang, tante Desi terkejut tak percaya.


"Dion?" Ucap tante Desi tak percaya.


"Pagi, tante" Dion segera memeluk wanita paruh baya tersebut.


"Tumben mampir?" Tanya tante Desi heran.


Ia segera memgajak Dion masuk.


"Udah lama Dion gak mampir. Dion kangen sama tante" jawab Dion berbasa basi.


"Sudah sarapan?" Tanya tante Desi lagi


Dion menggeleng.


Tante Desi segera berjalan menuju ruang makan yang menjadi satu dengan dapur di rumahnya. Dion mengekor saja.


Dion duduk di salah satu kursi yang ada diruang makan tersebut, dan tante Desi sibuk membuatkan sarapan untuk Dion.


Dion mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan tersebut.


Ada satu tumpukan buku di sudut ruang makan yang menarik perhatian Dion. Segera Dion menghampirinya dan mengambil salah satu buku yang ada di tumpukan tersebut.

__ADS_1


"Dion tidak tahu, kalau tante sekarang suka membaca novel remaja begini" Dion menunjukkan sebuah novel pada tante Desi sambil terkekeh.


Tante Desi sedikit terkejut melihat novel tersebut. Itu sebenarnya adalah milik Tasya.


Pasti gadis itu lupa menyimpannya.


"Apa salahnya, tante kan juga mau awet muda" jawab tante Desi sekenanya. Ia bingung harus beralasan apa.


Dion hanya tertawa kecil.


Sejujurnya dia jadi ingat Tasya sekarang.


Dulu Tasya suka sekali membaca novel novel semacam ini.


Sarapan sudah siap. Tante Desi menemani Dion yang sedang menyantap sarapannya.


"Apa tante tahu? Sekarang Tasya dan mamanya sudah pindah dari rumah lama mereka" Dion mulai bercerita.


Tante Desi menyimak dengan antusias.


"Oh, ya? Tante belum sempat kembali kesana. Jadi tante gak tahu" ujar tante Desi.


"Tasya juga kuliah keluar kota sekarang. Tapi Dion gak tahu dimana" ucap Dion lesu.


Tante Desi mengernyitkan kedua alisnya.


"Bukannya sekarang kamu sudah punya pacar baru. Si model itu. Kenapa masih mencari Tasya?" Selidik tante Desi.


Dion malah tertawa


"Tante dengar darimana? Dion gak pernah pacaran sama Laura. Wartawan aja yang pada lebay bikin berita" jawab Dion masih tertawa.


Tante Desi hanya mengangguk. Dugaannya benar. Dion tidak mungkin berpacaran dengan gadis seperti Laura.


"Dion hanya ingin bicara sama Tasya dan memperbaiki semuanya" lanjut Dion lirih. Kali ini tawanya sudah menghilang.


Tante Desi menghela nafas,


"Tante rasa kalian berdua hanya kurang komunikasi." Ujar tante Desi mengemukakan pendapatnya.


"Dion hanya butuh waktu untuk berfikir saat itu. Namun seharusnya Dion tak mengabaikan Tasya. Dia pasti kecewa dan sakit hati" ucap Dion sedih.


"Kamu tahu, yang sulit dari suatu hubungan itu bukanlah saat kita mendapatkannya, namun saat kita berusaha untuk menpertahankannya. Jika kamu terus mencari kesempurnaan dalam sebuah hubungan, maka sampai kapanpun kamu tidak akan mendapatkan apa-apa" tante Desi menghela nafas sebelum melanjutkan kata katanya.


"Kamu lihat sendiri, tante dan om. Meskipun kami belum dikaruniai anak sampai sekarang, namun kami tetap bahagia dan menjalani semuanya. Tidak pernah kami saling menyalahkan. Kami hanya saling menerima apa adanya. Itu saja intinya" jelas tante Resi panjang lebar.


Dion hanya mengangguk. Tantenya ini memang sampai sekarang belum mempunyai seorang anak, karena itulah tante Desi sangat memanjakan Dion jika dirinya datang berkunjung.


Dion pun tak mengerti kenapa tante Desi dan om Bimo tidak mengadopsi seorang anak.


"Kapan kau akan pulang?" Tanya tante Desi selanjutnya. Wanita paruh baya itu membereskan piring dan gelas yang baru saja dipakai oleh Dion.


"Setelah kompetisi berakhir. Mungkin akhir tahun ini."jawab Dion mengira ngira.


"Kuliahmu bagaimana?" Tanya tante Desi lagi


"Tinggal nunggu jadwal wisuda" jawab Dion santai.


"Syukurlah, kalau begitu. Tante ikut senang. Berarti setelah pensiun main basket kamu bisa gantiin papa Rian jadi direktur" ucap tante Desi sambil terkekeh.


"Tante bisa aja. Dion masih lama pensiun. Mungkin Kevin yang akan gantiin papa" ucap Dion ikut terkekeh.


Ponsel Dion berbunyi. Bergegas Dion mengangkat telpon dan berbicara sebentar.


"Dion harus pergi sekarang, tan" ucap Dion berpamitan.


"Tante antar sekalian tante mau belanja bulanan" tawar tante Desi.

__ADS_1


"Baiklah" jawab Dion singkat. Ia pun segera mengikuti tantenya tersebut keluar dari rumah dan naik ke atas mobil tante Desi.


__ADS_2