Natasya

Natasya
Kedatangan Dion


__ADS_3

Dering nyaring ponsel Ronny membuat Salsa dan Ronny terjaga dari tidur mereka.


Matahari sudah terbit di ufuk timur.


Tasya masih memandang kosong kearah langit langit kamar perawatan.


Salsa mengucek matanya, berusaha mengumpulkan kesadarannya.


Dapat Salsa rasakan, tangannya kini digenggam erat oleh Tasya.


Padahal, tadi malam sebelum tidur, Salsa yang mengenggam erat tangan Tasya, beeharap dirinya akan terjaga saat Tasya menggerakkan tangannya.


Namun kini...


"Sya," suara serak Salsa memecah keheningan.


Salsa melihat ke arah sahabatnya tersebut.


Tasya membuka matanya dan memandang kosong ke arah langit langit kamar.


"Sya, kamu udah bangun?" Tanya Salsa sedikit ragu.


Ronny yang mendengar Tasya sudah bangun bergegas mendekat ke ranjang Tasya.


"Sya, kamu butuh sesuatu?" Ronny ikut ikutan bertanya.


Tasya mengeratkan genggaman tangannya pada Salsa.


Sedikit lirih, namun Salsa dan Ronny bisa mendengar isak tangis Tasya.


"Sya, aku turut prihatin atas semua yang terjadi" ucap Salsa ikut terisak. Salsa tak bisa lagi menahan airmatanya.


"Aku takut, Sal" ucap Tasya di sela sela tangisannya.


"Kamu gak perlu takut lagi, Sya. Kakak disini jagain kamu" Ronny segera memeluk erat adik angkatnya tersebut.


Ronny sebenarnya sangat ingin tahu siapa orang biadab yang sudah melakukan hal sebejat ini pada Tasya.


Namun Ronny tahu, ini bukanlah waktu yang tepat untuk bertanya pada Tasya .


Sekarang yang terpenting adalah memulihkan kondisi psikis Tasya serta menghilangkan trauma berat yang dialami oleh Tasya.


"Apa Dion akan meninggalkanku?


Sal, apa Dion akan meninggalkanku?" Tanya Tasya semakin histeris.


"Enggak, Sya. Dion gak akan ninggalin kamu." Jawab Salsa dengan cepat.


Sampai saat ini bahkan Salsa dan Ronny belum memberitahu siapapun tentang kondisi Tasya


Dion juga belum tahu.


Salsa tak tahu apa yang akan dilakukan Dion saat tahu yang sebenarnya terjadi.


Salsa juga tidak tahu apa Dion tetap akan bertahan bersama Tasya atau langsung meninggalkan dan mencampakkan Tasya?


Salsa akan memikirkannya nanti. Sekarang yang bisa Salsa lakukan adalah membuat pikiran Tasya tenang.


Sahabatnya ini sedang depresi dan mengalami trauma psikis yang berat. Salsa tak mau membuatnya semakin parah.


"Dion tidak akan meninggalkanmu, Sya. Kakak janji nanti kakak yang akan bicara pada Dion" Ronny mengelus lembut kepala Tasya.


Hatinya pedih dan tersayat melihat kondisi Tasya saat ini.

__ADS_1


"Tasya takut, kak" ucap Tasya sesenggukan.


"Kakak akan selalu jagain kamu. Oke. Kamu gak perlu takut lagi" Ronny menangkup wajah Tasya dengan kedua tangannya.


Adik kecilnya ini,


Sejak dulu Tasya memang selalu takut saat ada yang berteriak kepadanya.


Tasya selalu diperlakukan dengan lembut oleh bu Ranti dan orang orang di sekitarnya.


Hatinya rapuh, Tasya tidak bisa disakiti seperti ini.


Tasya masih terus menangis.


Ia tidak tahu lagi bagaimana hidupnya nanti.


Tasya takut...


Tasya takut jika Kevin menemukannya dan akan benar benar memisahkannya dari Dion.


Ponsel Ronny berbunyi.


Buru buru Ronny mengangkatnya.


"Iya hallo" jawab Ronny sedikit menjauh dari Tasya dan Salsa.


Salsa mendekat kearah ranjang dan memeluk Tasya demi meredakan tangisan sahabatnya tersebut.


"Kak, lagi dimana?" Ternyata Dion yang menelpon. Saking terburu buru, Ronny bahkan tak sempat melihat siapa yang menelponnya.


"Oh Dion, ada apa, Di?" Bukannya menjawab pertanyaan dari Dion Ronny malah balik bertanya.


Entahlah. Pikiran Ronny sedang tidak fokus.


"Apa kakak tahu Tasya dimana? Aku menghubunginya dari semalam, tapi ponselnya tidak aktif. Sekarang aku ke rumahnya tapi kosong tidak ada orang." Pertanyaan dari Dion membuat Ronny mendadak menjadi gusar.


Ronny melihat ke arah Tasya.


Gadis itu terus saja menangis dan kadang berteriak histeris.


"Halo, kak Ronny" suara Dion di seberang telepon membuyarkan lamunan Ronny.


"Eh, iya Di. Kamu dimana sekarang?" Tanya Ronny sedikit gugup.


"Aku masih di depan rumah Tasya. Kak Ronny dimana?" Dion balik bertanya.


"Aku sedang di rumah sakit. Apa kau bisa kesini?" Jawab Ronny akhirnya.


Ronny harus menyelesaikan ini.


Mungkin dengan kehadiran Dion, Tasya akan sedikit lebih tenang.


"Di rumah sakit? Apa kakak sedang sakit? Baiklah aku kesana sekarang" ucap Dion khawatir.


"Baiklah, aku tunggu" pungkas Ronny sambil menutup telepon dari Dion.


Ronny kembali menghampiri Tasya dan Salsa.


"Bagaimana?" Tanya Ronny pada Salsa.


Tasya sudah sedikit tenang.


Namun pandangan gadis itu masih kosong.

__ADS_1


Trauma itu seperti membekas sekali di benak Tasya.


Salsa mengendikkan bahu. Pikirannya sama kacaunya dengan Ronny.


Salsa tak tahu harus berbuat apa sekarang.


"Dion sudah kembali" ucap Ronny lirih pada Salsa.


Salsa terkejut dan memandang tajam ke arah Ronny.


"Dia mencari Tasya. Aku tak tahu harus menjelaskan apa. Jadi aku memintanya untuk datang kesini" lanjut Ronny lagi.


Sejenak Salsa terdiam.


Tasya yang sedari tadi ada di pelukan Salsa kini mulai bernafas dengan teratur. Sepertinya gadis itu sudah tidur lagi.


Salsa membenarkan posisi tidur Tasya agar merasa nyaman. Ronny sedikit membantu Salsa.


Setelah memastikan Tasya sudah tertidur lelap, Salsa mulai bicara pada Ronny.


"Apa kakak yakin Dion akan bisa menerima semua ini?" Tanya Salsa ragu.


"Kita ceritakan semuanya dari awal. Aku yakin Dion akan mengerti. Dion mencintai Tasya" jawab Ronny berusaha optimis.


Salsa menghela nafas panjang.


Semoga saja ucapan Ronny barusan benar.


Ping,


Sebuah pesan masuk ke ponsel Ronny.


Ronny membuka dan membacanya sekilas.


"Dion sudah di depan. Aku akan menjemputnya" Ronny beranjak berdiri dan segera keluar dari ruangan tersebut.


*****


Dion menunggu di depan lobi rumah sakit.


Perasaannya mulai cemas. Apa yang sebenarnya terjadi?


Dari kejauhan, Dion melihat kak Ronny yang berjalan tergesa menghampiri dirinya.


"Kak Ronny? Apa kakak baik baik saja? Siapa yang sakit?" Tanya Dion bingung.


"Ayo ikut! Nanti aku jelasin" ajak Ronny sembari memberi kode pada Dion agar mengikuti langkahnya untuk kembali ke dalam rumah sakit.


Dion menurut saja. Ia mengekori kak Ronny yang entah akan menuju kemana.


Ronny berhenti di depan sebuah ruangan.


Dion sudah tidak dapat menahan dirinya lagi untuk tidak bertanya.


Berbagai macam pertanyaan sudah memenuhi otaknya sedari tadi.


"Kak, siapa yang sakit?" Tanya Dion serius.


Ronny menghela nafas panjang, lalu membuka pintu ruang perawatan tersebut.


"Masuk, Di" ucap Ronny lirih sembari masuk ke dalam ruangan tersebut.


Dion ikut masuk ke dalam. Pandangannya langsung tertuju pada seorang gadis yang sedang tidur diatas ranjang perawatan.

__ADS_1


Baju khas pasien yang dikenakan gadis itu serta selang infus yang ada di tangannya menandakan kalau gadis itu memang sedang sakit dan dirawat.


"Tasya"


__ADS_2