
Tasya dan Dion baru saja sampai di rumah mama Sarla.
Tasya bergegas turun dari mobil Dion dan langsung masuk ke dalam kamarnya.
Bahkan sapaan dari mama Sarla tidak Tasya hiraukan.
"Sya, kamu kenapa?" Mama Sarla mengetuk pintu kamar Tasya.
Tentu saja mama Sarla khawatir, karena Tasya pulang dalam keadaan murung, tidak menjawab sapaan darinya, dan sekarang malah langsung mengurung diri di kamarnya.
"Tante," Dion tiba-tiba saja sudah berdiri di dekat mama Sarla.
"Tasya kenapa, Di?" Tanya mama Sarla khawatir.
"Tadi Tasya sudah bertemu dengan om Anton. Tapi sepertinya ada kesalahpahaman. Tasya tidak mau mendengar penjelasan detail dari papa Anton soal kejadian dua puluh lima tahun yang lalu. Tadi Tasya langsung kabur meninggalkan om Anton" Dion berusaha menjelaskan kejadian di cafe tadi sedetail mungkin pada mama Sarla.
Mama Sarla hanya menarik nafas panjang.
"Apa tante tahu yang sebenarnya terjadi?" Tanya Dion penasaran.
Mama Sarla menggeleng,
"Tante hanya tahu kalau papanya Tasya itu mencoba menghentikan mamanya Tasya yang ingin menusukkan pisau ke arah Tasya. Tapi secara tak sengaja, pak Anton malah menikam dada istrinya" mama Sarla menghela nafas sebelum melanjutkan ceritanya.
Tentu saja Dion sedikit terkejut dengan cerita mama Sarla.
Apa sebenarnya yang terjadi dengan keluarga kecil Tasya, hingga mama kandungnya ingin membunuh Tasya yang masih bayi.
"Itupun pak Anton yang cerita sama tante. Tapi tante gak berani cerita sama Tasya, karena menurut tante iru semua adalah hak pak Anton untuk menjelaskan semuanya pada Tasya" lanjut mama Sarla lagi.
Dion hanya mengangguk. Meskipun jauh di dalam hatinya, terdapat banyak pertanyaan.
Ponsel Dion berbunyi, bergegas Dion mengangkatnya.
"Iya, ma" jawab Dion. Ternyata mana Wina yang menelponnya.
"Tante Desi sudah datang, Di. Kamu mau pulang jam berapa?" Tanya mama Wina di seberang telepon.
"Dion pulang sekarang, ma. Sampai jumpa" jawab Dion cepat sambil menutup telpon dari sang mama.
Dion pun berpamitan pada mama Sarla.
"Dion harus pulang sekarang, tante" pamit Dion.
Mama Sarla mengangguk.
Segera Dion mencium punggung tangan mama Sarla.
Dion mengetuk sebentar pintu kamar Tasya sebelum benar-benar pergi.
"Nat, aku pulang duluan" pamit Dion dari luar kamar.
Pintu kamar di depannya itu terkunci dari dalam.
Jadi Dion tidak bisa masuk ke dalam.
Tidak ada jawaban.
Dion hanya mengendikkan bahu.
Segera saja Dion pergi meninggalkan kediaman mama Sarla untuk segera pulang menuju ke rumahnya
Sepanjang perjalanan, Dion berpikir untuk menceritakan saja semuanya pada tante Desi dan om Bimo.
Bukankah beberapa tahun terakhir ini mereka yang dekat dengan Tasya?
Dan lagi, yang Dion tahu tantenya itu selalu berpikiran bijak. Mungkin jika tante Desi yang menasehati Tasya, gadis itu akan mau mendengarkan dan mengubah pikirannya.
__ADS_1
*****
Tasya terbangun dengan badan penuh keringat.
Nafasnya terengah-engah seperti habis berlari puluhan kilometer.
Gadis itu masih berusaha untuk bernafas dengan benar sembari mengumpulkan kesadarannya.
Mimpi itu, bahkan terasa begitu nyata.
Tasya,masih bisa mengingat setiap detail kejadiannya.
Sekali lagi Tasya menarik nafas panjang. Ia melihat ke arah jam yang tergantung di dinding kamarnya.
Jarum jam menunjukkan pukul dua pagi.
Tasya mengusap kasar wajahnya.
Ia bingung, kenapa mimpi itu selalu datang selama dua hari ini?
Tasya tak mengerti, siapa sebenarnya orang yang ada di mimpinya tersebut?
Tasya mengambil ponsel yang ada di nakas di samping tempat tidurnya.
Ada puluhan pesan dari Dion yang belum ia baca sejak kemarin.
Tasya tak mengerti, kenapa dirinya malah mendiamkan Dion seperti ini.
Ia kemarin lusa memang marah, tapi Tasya tak tahu ia marah pada siapa.
Mungkin dirinya hanya belum bisa menerima kenyataan, tentang asal-usulnya yang ternyata adalah putri seorang penjahat.
Tasya tak mengerti, kenapa dirinya harus mempunyai papa seorang penjahat.
Tasya tak mengerti, kenapa papanya membunuh mama kandungnya?
Tasya menekan kontak Dion.
Tapi entahlah, Tasya hanya ingin mendengar suara Dion sekarang.
Cukup lama Tasya menunggu, hingga akhirnya Dion mengangkat panggilan darinya.
"Iya, Nat. Ada apa?" Suara serak khas orang bangun tidur terdengar di seberang sana.
Seperti dugaan Tasya, Dion memang sedang terlelap.
"Maaf mengganggumu, Di. Aku..." sesaat Tasya bingung harus bicara apa pada Dion.
"Apa ada masalah?" Tanya Dion cepat. Terdengar nada kekhawatiran dari suaranya.
"Tidak. Tidak ada masalah. Aku hanya ingin minta maaf atas sikapku kemarin" akhirnya Tasya menemukan kata kata yang tepat.
Dion tersenyum kecil,
Ia sendiri sudah memaklumi sikap Tasya kemarin. Dion yakin Tasya hanya shock tentang masalalu papa kandungnya.
"Boleh aku melihat wajahmu?" Tanya Dion sedikit memohon.
"Aku sedang berantakan, Di" Tasya mencoba menolak dengan halus.
Tapi ia sendiri juga ingin melihat wajah Dion.
Sudah dua hari Tasya tak bertemu dengan Dion.
Padahal tadinya ia sangan rindu pada Dion, dan berencana untuk menghabiskan waktu bersama Dion, mumpung ada kesempatan.
Tapi semuanya mendadak menjadi kacau setelah pertemuan bodohnya,dengan papa Anton.
__ADS_1
"Baiklah, aku nyalakan video call nya" ucap Tasya akhirnya.
Dan hal itu langsung membuat Dion tersenyum senang.
"Hai, Nat" sekali lagi Dion menyapa Tasya dengan lembut.
Terlihat Dion masih sedikit mengantuk.
"Apa aku mengganggu tidurmu?" Tanya Tasya merasa bersalah.
Dion menggeleng.
"Aku senang dibangunkan oleh tuan putri cantik seperti kamu" jawab Dion dengan gombalannya.
Tasya tertawa kecil.
"Dasar bucin" ucap Tasya terkekeh.
"Kamu cantik sekali, Nat. Aku jadi ingin menculikmu malam ini" ucap Dion ikut terkekeh.
Tasya semakin terbahak.
"Udahlah, Dion. Jangan gombal terus kenapa" wajah Tasya mulai merona merah.
Dion hanya tersenyum.
"Tapi aku benar-benar senang, karena akhirnya kamu mau menghubungiku lagi setelah seharian kemarin kamu mendiamkanku" kali ini nada bicara Dion berubah serius.
"Maaf atas sikapku yang kekanak-kanakan itu" ucap Tasya sambil menunduk.
"Tidak apa. Aku memakluminya" balas Dion cepat. Ia sungguh tak mau melihat Tasya kembali murung.
"Apa kamu habis menangis?" Tanya Dion khawatir. Ia melihat wajah Tasya yang sedikit sembab.
"Hah?" Tasya sedikit terkejut karena Dion menanyakan hal itu.
Tasya sengaja tak menyalakan lampu di kamarnya, agar Dion tak bisa melihat wajahnya yang sembab. Tapi ternyata, Dion tetap bisa melihatnya.
"Wajahmu terlihat sembab, Nat. Apa kamu menangis lagi?" Tanya Dion masih khawatir.
Tasya menggeleng cepat,
"Aku hanya tidak bisa tidur nyenyak belakangan ini" jawab Tasya sambil mengendikkan bahu.
Dion menarik nafas,
"Jangan terlalu dipikirkan, Nat" nasehat Dion bijak.
Tasya hanya mengangguk, sedikit ragu.
Ingin rasanya Dion menceritakan pada Tasya tentang cerita mama Sarla kemarin. Namun Dion rasa ini bukanlah haknya.
Lagipula cerita mama Sarla kemarin sepertinya tidak lengkap.
Pasti ada alasan logis kenapa papa Anton melakukan itu semua.
Dion tidak mau membuat asumsi sendiri yang pada akhirnya hanya akan membuat situasi menjadi semakin keruh.
Mungkin sebaiknya memang papa Anton yang menceritakan sendiri detail kejadiannya pada Tasya.
Dion hanya perlu membujuk Tasya secara perlahan, agar mau bertemu kembali dengan papa Anton.
"Di... kamu melamun?" Pertanyaan dari Tasya langsung membuyarkan lamunan Dion.
"Eh, enggak Nat. Aku hanya sedang berpikir" ucap Dion berbohong.
"Berpikir apa?" Tanya Tasya penasaran
__ADS_1
"Berpikir untuk segera menikah denganmu" jawab Dion sambil terkekeh.
Namun bukannya ikut tertawa, ekspresi wajah Tasya hanya datar.