
Tok tok tok
Suara ketukan di pintu kamarnya membuyarkan konsentrasi Tasya yang sedang mengerjakan beberapa tugas dari sekolah.
"Masuk" jawab Tasya.
Terdengar suara pintu di buka dari luar. Tasya masih fokus pada bukunya dan tak melihat ke arah pintu.
"Sya, bisa bicara sebentar" suara Vira seketika membuat Tasya langsung menoleh ke arahnya.
"Vira? Ada apa? Masuk sini" kata Tasya mempersilahkan.
Vira pun masuk ke dalam kamar Tasya. Ia menyodorkan segelas coklat hangat pada Tasya.
"Aku bikinin kamu coklat hangat" ucap Vira.
Tasya menerima coklat hangat yang diangsurkan oleh Vira.
"Makasih ya" jawab Tasya tulus.
"Gimana tangan kamu?" Tanya Vira khawatir. Tasya terluka karena dirinya.
Vira benar benar merasa bersalah.
"Hanya luka kecil. Sebentar juga membaik" ucap Tasya santai sambil menunjukkan lengannya yang masih terbalut perban.
"Maaf ya, gara gara aku kamu jadi terluka seperti itu" ucap Vira merasa bersalah.
"Aku gak papa, Vir. Kami tenang aja oke" jawab Tasya sambil menepuk lembut bahu Vira.
Tasya senang karena akhirnya Vira mau mengobrol hangat dengannya tanpa kata kata sinis ataupun tatapan tajam.
"Trus, kamu jadi kerja part time?" Tanya Vira lagi sedikit khawatir.
"Iya, besok aku mulai kerja" jawab Tasya antusias.
"Hati hati ya, Sya. Aku benar benar minta maaf atas sikap kasarku selama ini padamu" Lagi lagi Vira merasa bersalah.
"Aku udah maafin kamu kok. Aku juga udah lupain semuanya. Aku senang sekarang karena akhirnya kamu mau bicara sama aku" ucap Tasya bersungguh sungguh.
Vira langsung memeluk Tasya erat. Ia senang menemukan saudara sebaik Tasya.
Mama Sarla yang sedari tadi mengintip pemandangan di dalam kamar Tasya tersebut merasa terharu.
Kedua putrinya akhirnya rukun sekarang. Hatinya merasa lega.
*****
"Pa, Kevin mau ambil beasiswa ke Singapura" ucap Kevin pada papa Rian.
Keluarga itu baru saja menyelesaikan makan malam mereka.
__ADS_1
Dion yang sedang mengunyah makanan penutupnya, sedikit terkejut dengan keputusan Kevin yang mendadak ini.
"Kamu serius, Kev?" Tanya papa Rian.
Kevin mengangguk. Beberapa bulan yang lalu papa Rian memang menawarinya untuk kuliah ke luar negeri, namun Kevin menolaknya.
Tapi kali ini mendadak Kevin mengambil keputusan untuk kuliah ke Singapura.
Bisa Dion tangkap keputus asaan di wajah Kevin. Dalam hati Dion merasa bersalah.
Mama Wina hanya menarik nafas panjang. Ia paham, Kevin ingin menjauh dari Tasya makanya mendadak mengambil keputusan ini.
Mama Wina juga tidak bisa berbuat banyak.
Ia bukannya lebih membela Dion ketimbang Kevin yang merupakan anak kandungnya.
Namun sekali lagi ini semua,menyangkut hati dan perasaan. Jadi memang tak bisa dipaksakan.
Perasaan Tasya sudah terlanjur untuk Dion seorang. Mau dipaksa seperti apapun, mama Wina rasa itu tak akan mungkin.
"Kevin ke kamar dulu" pamit Kevin.
Ia pun segera beranjak berdiri dan meninggalkan ruangan tersebut.
Sesaat suasana menjadi hening.
Tak ada satupun tang membuka suara.
Belakangan papa Rian melihat Kevin memang lebih sering murung.
Dulu Dion yang seperti itu, sekarang gantian Kevin. Sungguh papa Rian tak paham.
Mama Wina yang ditanya hanya diam.
Bingung mau menjelaskan bagaimana.
"Dion akan bicara pada Kevin" ucap Dion seraya beranjak berdiri.
Namun mama Wina menahan tangan Dion.
"Apa ini waktu yang tepat, Di?" Tanya mana Wina ragu.
Dion menatap wanita paruh baya yang sudah hampir delapan tahun menggantikan posisi ibu kandungnya tersebut.
"Dion tidak akan memaksanya, Ma. " ucap Dion bersungguh sungguh.
Akhirnya mama Wina mengangguk dan melepaskan pegangannya pada tangan Dion.
Papa Rian semakin tak mengerti.
"Apa ada yang papa lewatkan beberapa hari terakhir?" Tanya papa Rian sambil menatap tajam pada mama Wina.
__ADS_1
Akhirnya mama Wina menjelaskan dengan detail konflik yang mendadak terjadi diantara Dion dan Kevin karena mereka mencintai satu gadis yang sama
*****
Pintu kamar Kevin sedikit terbuka. Dion langsung masuk dan mengedarkan pandanganya ke kamar tersebut.
Tidak ada tanda tanda keberadaan Kevin.
Namun pintu menuju balkon terbuka.
'Mungkin Kevin ada di balkon' gumam Dion.
Ia pun berjalan menuju balkon.
Benar saja, Kevin sedang menghisap rokok di balkon kamarnya.
Sejak kapan Kevin merokok?
"Kev," sapa Dion lirih.
Kevin yang sedang menatap kosong ke arah halaman rumah, seketika menoleh.
Pandangan keduanya bertemu.
"Kev, gue beneran minta maaf soal ini semua" ucap Dion bersungguh sungguh.
Kevin berdecak.
"Bukan salah loe. Gue aja yang terlalu berharap pada Tasya. Padahal sejak awal Tasya selalu menghindar dari gue." Ucap Kevin sambil menerawang jauh.
"Loe gak serius kan soal kuliah ke Singapura itu?" Tanya Dion sedikit ragu.
Kevin terkekeh.
"Tentu saja gue serius.
Gue laki laki normal, Di. Hati gue sakit liat loe berduaan sama Tasya" Kevin menunjuk ke arah Dion. Membuat Dion merasa semakin bersalah.
"Satu satunya jalan tentu saja gue harus pergi sejauh mungkin dari hadapan kalian." Lanjut Kevin.
"Kev, gue sungguh gak ada maksud..."
Baru saja Dion akan menjelaskan, namun dengan cepat Kevin memotong perkataan Dion.
"Gak perlu loe jelasin." Potong Kevin dengan cepat.
"Gue bakalan pergi. Silahkan loe berbahagia sama Tasya" ucap Kevin ketus sambil melambaikan tangannya pada Dion. Memberi kode agar Dion pergi dari hadapannya.
Dion mendengus.
Iapun tak mau berdebat lagi dan memutuskan untuk segera keluar dari kamar Kevin.
__ADS_1