
Mobil yang di kemudikan oleh Dion sudah berhenti di halanman parkir sebuah gedung olahraga.
Pada akhirnya, keinginan Zhia untuk datang ke gedung olahraga dan menyaksikan secara langsung sang papa bertanding di atas court di kabulkan oleh Dion.
Dion sendiri sudah berbicara pada pelatih dan seluruh tim nya.
Ini bukanlah pertandingan basket antar klub. Ini hanya pertandingan basket untuk menyenangkan hati Zhia. Tak akan ada penonton lain, hanya ada Zhia dan Tasya yang akan menonton.
Semuanya demi keamanan Zhia.
Dion tak mungkin berbohong atau menolak permintaan Zhia. Tapi Dion juga tak mau abai terhadap kondisi Zhia yang semakin menurun.
Kontak dan bertemu dengan terlalu banyak orang tentu sangat berbahaya untuk fisik Zhia yang ringkih.
Bahkan seharusnya Zhia sudah terbaring di rumah sakit sekarang, namun gadis kecil itu bersikeras dan menolak ke rumah sakit sebelum di ajak menonton pertandingan.
Tasya menggendong Zhia dan mengajaknya duduk di deretan kursi courtside yang kosong.
Keduanya duduk di barisan paling depan.
Zhia tampak antusias menyaksikan pertandingan kali ini.
Sesekali Dion akan ke pinggir lapangan dan menyapa ataupun mengajak Zhia tos.
Bisa Tasya lihat ada raut kebahagiaan di wajah Zhia. Tentu saja Tasya ikut senang melihat Zhia se ceria ini.
Selesai pertandinganm Dion langsung menggendong Zhia dan mengajak gadis kecil itu menyapa satu per satu pemain di timnya.
Zhia tampak antusias dan tersenyum sepanjang waktu.
Sebuah momen yang sangat berkesan untuk Zhia.
Mereka bertiga meninggalkan gedung olahraga saat mwtahari sudah tenggelam.
Zhia langsung tertidur selama perjalanan pulang. Senyuman tidak hilang dari bibir gadis kecil itu sepanjang sore.
Kini Dion dan Tasya bisa bernafas lega karena telah mewujudkan satu lagi keinginan Zhia.
Tepat saat mobil Dion memasuki basement gedung apartement, hujan turun dengan sangat deras.
*****
Zhia sudah tidur nyenyak di kamarnya.
Tasya dan Dion masih duduk bersantai di ruang tengah.
"Terima kasih untuk hari ini, Di" ucap Tasya tersenyum tulus pada Dion.
Dion hanya mengangguk.
"Kau capek?" Tanya Tasya sedikit berbasa-basi.
"Sedikit." Jawab Dion sambil menatap pada Tasya.
"Aku akan memijit kakimu" Tasya meraih kaki Dion lalu meletakkan di pangkuannya.
Tasya mulai memijitnya.
"Tidak terasa" protes Dion
Tasya berdecak,
"Ini sudah tenaga penuh, Di" Tasya membela diri.
Dan Dion malah tertawa.
"Baiklah, hentikan!" Dion menurunkan kakinya dengan cepat dari pangkuan Tasya.
Pria itu merapatkan posisi duduknya ke arah Tasya.
"Bagaimana kalau kamu memijit bagian yang lain saja" ucap Dion mulai nakal.
"Apa tanganmu ingin dipijit?" Tanya Tasya polos.
Dan sontak jawaban polos dari Tasya membuat Dion mendengus sedikit kesal.
'Astaga, kenapa istriku jadi sepolos ini?' gumam Dion tak percaya.
"Kemarilah, aku beritahu" Dion memberi kode pada Tasya agar semakin mendekat.
Setelah Tasya menyandarkan kepalanya di dada Dion, barulah Dion membisikkan sesuatu pada Tasya.
Dan...
Tawa Tasya seketika langsung meledak.
Dion pun ikut tertawa.
"Bagaimana?" Tangan Dion mulai bergerilya.
Awalnya Dion hanya membelai wajah Tasya, namun karena Tasya tak memberikan reaksi penolakan, Dion lanjut membuka satu per satu kancing piyama Tasya.
Dion mulai tersenyum aneh saat perlahan piyama Tasya terbuka dan menampilkan pemandangan di dalamnya.
"Ouuh, aku rasa aku akan lembur malam ini" ucap Dion sambil tersenyum sumringah.
__ADS_1
"Baiklah sudah cukup. Aku akan tidur" Tasya segera merapatkan kembali piyamanya dan beranjak berdiri.
Tanpa merasa bersalah, Tasya meninggalkan begitu saja Dion yang kini sedang melongo.
Namun Dion langsung bergerak cepat dan menyusuk langkah Tasya menuju ke kamar.
"Nat!" Ucap Dion geram.
Pria itu sedikit berlari mengejar Tasya hingga akhirnya Dion berhasil menangkap Tasya sebelum wanita itu masuk ke dalam kamar.
Tasya sedikit menjerit,
"Lepaskan, Di" Tasya mencoba berontak meskipun tidak sepenuhnya. Tasya benar-benar hanya ingin mengusili Dion.
"Tidak akan. Kita akan berolahraga malam ini" kini Dion sudah mengangkat tubuh Tasya dan segera membawanya masuk ke kamar.
Dion membaringkan tubuh Tasya yang kini sedikit lebih berisi tersebut ke atas ranjang, lalu menciuminya secara bertubi-tubi.
Hujan yang turun terdengar semakin deras mengguyur bumi.
Petir menyambar bersahutan menimbulkan suara yang mungkin membuat takut.
Dion dan Tasya sudah selesai engan olahraga malam mereka, bahkan kini Dion sudah tertidur lelap sambil merangkul tubuh polos sang istri.
Perlahan, Tasya melepaskan tangan Dion yang sedari tadi melingkar di atas perutnya. Tasya terjaga karena mendengar suara petir yang tiba-tiba menyambar dengan kencang.
Tasya memungut baju tidurnya yang tadi dilempa oleh Dion dan segera memakainya. Ia harus memeriksa Zhia.
Tasya membuka pintu kamar Zhia perlahan, dan menyalakan lampu.
Gadis kecil itu masih terlelap. Namun bisa Tasya lihat, Zhia sedikit menggigil meskipun sudah memakai selimut tebal.
Buru-buru Tasya memeriksa suhu badan Zhia.
Tidak demam.
Tasya mengambilkan selimut lagi untuk Zhia dan menyeoimuti tubuh Zhia.
Tasya ikut berbaring di samping Zhia dan memeluk gadis kecil itu.
"Mama," suara parau Zhia nyaris tak terdengar.
"Zhia butuh sesuatu?" Tanya Tasya sembari mengusap lembut wajah Zhia.
"Minum, Ma" jawab Zhia lirih.
Buru-buru Tasya mengambilkan gelas berisi air minum yang ada di nakas di samping ranjang Zhia.
Tasya membantu Zhia untuk bangun dan minum.
"Ma... jangan pergi" pinta Zhia memohon.
Zhia mengangguk.
"Mama akan di sini nemenin Zhia. Ayo bobok lagi" Tasya meeengkuh tubuh mungil itu dan memeluknya agar kembali tidur.
Suara petir masih bersahut-sahutan di luar sana. Sesekali Zhia tersentak kaget karenasuara petir yang begitu keras.
Tasya terjaga semalaman untuk menenangkan Zhia yang sepertinya benar-benar ketakutan.
Zhia dan Tasya baru terlelap saat hari sudah beranjak pagi.
******
Dion meraba-raba tempat tidur di sebelahnya untuk mencari keberadaan Tasya.
Kosong.
Dion melihat jam yang ada di nakas di samping tempat tidur.
Masih jam enam pagi.
Dion segera bangun dan duduk sebentar di ranjang sekedar untuk mengumpulkan kesadarannya.
Sinar matahari pagi sudah masuk melalui sela-sela tirai yang menutupi jendela besar di kamar tersebut.
Dion segera beranjak dan masuk ke dalam kamar mandi.
Tak butuh waktu lama untuk pria itu menyelesaikan ritual mandinya.
Saat baru keluar dari kamar mandi, Dion melihat Tasya yang baru saja masuk ke dalam kamar, masih mengenakan baju tidurnya semalam.
"Kau dari mana?" Tanya Dion masih mengeringkan rambutnya yang basah.
"Zhia ketakutan semalam. Jadi aku menemaninya" Tasya menjawab sambil menguap lebar.
Wanita itu tentu saja masih mengantuk. Ia baru dua jam memejamkan mata.
"Aku akan memasak sarapan, mandilah dulu" ujar Dion seraya mengangsurkan handuk yang tadi ia pakai pada Tasya sebelum pergi keluar dari kamar.
Tasya belum sempat menjawab, namun Dion sudah menghilang dengan cepat ke arah dapur.
Tasya melempar handuk itu ke keranjang baju kotor dan segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
******
__ADS_1
"Uhuuk...uhuuk...uhukk"
Dion dan Tasya baru saja menyelesaikan sarapan saat terdengar suara batuk berkali-kali dari kamar Zhia.
Cepat-cepat Tasya berlari ke arah kamar Zhia.
Gadis itu sudah bangun dari tidurnya dan kini sedang duduk di tepi ranjang.
Zhia terus saja batuk tanpa jeda.
Tasya mendekati Zhia dan memberikannya minum air putih. Namun itu tak membantu.
Zhia bahkan terlihat kepayahsn saat mengambil nafas.
Tasya membuka dengan kasar laci nakas yang ada di samping ranjang Zhia.
Tasya mengambil alat bantu nafas untuk Zhia dan segera memasangkannya dengan perlahan.
"Tarik nafas perlahan, Sayang" instruksi dari Tasya sepertinya tidak banyak membantu.
Zhia masih saja terbatuk-batuk dan kini wajahnya sudah pucat karena gadis itu tidak bisa bernafas dengan benar.
"Nat, Zhia kenapa?" Dion yang baru saja muncul di ambang pintu kamar terlihat khawatir.
"Kita harus membawa Zhia ke rumah sakit, Di" sergah Tasya sambil membawa Zhia ke dalam gendongannya.
Dion berjalan cepat keluar untuk menyiapkan mobil.
Jarak apartemen dan rumah sakit memang tidak terlalu jauh, tapi tidak mungkin juga Tasya membawa Zhia dengan berlari.
Tasya sudah turun dan sampai di lobi gedung apartemen tersebut dengan Zhia dalam gendongannya.
Mobil Dion sudah menunggu mereka berdua, setekah Tasya dan Zhua masuk ke dalam , Dion segera tancap gas menuju ke arah rumah sakit.
Tasya langsung membawa Zhia ke ruang UGD.
Kondisi ruang UGD yang sepi di hari Minggu pagi, langsung berubah riuh setelah kedatangan Zhia dan Tasya.
Tasya dan beberapa perawat sibuk memberikan pertolongan pertama pada Zhia yang mendadak langsung drop.
Gadis kecil itu bahkan sudah tak sadarkan diri sekarang.
Wajahnya pucat, tubuhnya terlihat lemah. Jarum infus sudah di tusukkan ke tangan kurus Zhia. Alat-alat medis lain segera disambungkan ke tubuh kecil itu.
Tasya tak mengerti apa yang sudah terjadi pada Zhia.
Tadi malam gadis kecil itu masih baik-baik saja.
Dokter spesialis yang menangani Zhia masih dalam perjalanan, setelah Tasya menelponnya tadi dan memberitahukan kondisi Zhia yang mendadak drop.
Layar monitor yang tersambung ke tubuh Zhia menunjukkan sinyal yang kurang bagus. Gadis itu tidak sedang baik-baik saja.
Dion menunggu dengnan gusar di ruang tunggu.
Tasya belum juga keluar dari ruang UGD dan belum ada kabar apapun.
Dokter yang menangani Zhia kini sudah tiba di ruangan tersebut.
Dokter tersebut segera memeriksa kondisi Zhia dan berbicara sebentar dengan Tasya menanyakan apa saja yang sudah terjadi pada gadis kecil itu.
Melihat kondisi Zhia yang semakin menurun, akhirnya para perawat segera mendorong ranjang Zhia menuju ruang ICU sesuai peribtah dari dokter tersebut.
Dion yang melihat ranjang Zhia di dorong keluar dari ruang UGD segera mengikuti dari belakang.
Tasya terlihat panik di samping Zhia.
Ada apa ini?
*****
Dion masih mondar-mandir di depan ruang ICU. Tadi Tasya juga ikut masuk ke dalam bersama Zhia dan belum keluar sampai sekarang.
Hal ini tentu saja membuat Dion semakin khawatir dan bertanya-tanya.
Pintu terbuka, Tasya tampak keluar dengan wajah tertunduk lesu.
Buru-buru Dion menghampiri istrinya tersebut,
"Nat..." Dion belum menyelesaikan kalimatnya saat Tasya menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan Dion dan langsung menangis.
"Zhia kritis, Di" ucap Tasya di sela-sela tangisannya.
Dion tak jadi bertanya.
Pria itu mengelus lembut punggung Tasya, lalu mengajaknya duduk di deretan kursi tunggu tak jauh dari situ.
"Zhia akan baik-baik saja, Nat. Zhia kan bisa melewati ini semua. Dia gadis yang kuat" ucap Dion berusaha optimis.
Apa salahnya berpikir positif dalam keadaan seperti ini?
Meskipun harapan itu nyaris tidak ada, namun Dion masih berharap Zhia akan kembali bangun dan lari memeluknya.
Bergelayut manja di lehernya sambil merengek minta di bacakan buku cerita.
Sesaat, mata Dion terasa panas mengenang semua hal tentang Zhia. Dion sudah menganggap Zhia sebagai putrinya.
__ADS_1
Dion mendongakkan wajahnya demi menahan agar air mata yang kini menggenang di sudut matanya tidak jatuh.
Dion masih belum siap kehilangan Zhia.