Natasya

Natasya
EXTRA PART: Vina dan Denny (4)


__ADS_3

Setelah melalui perdebatan yang lumayan alot, Vina dan Salsa akhirnya berhasil mengatur waktu pertemuan bersama Tasya dan Silvi.


Kebetulan Silvi sudah menyelesaikan kuliahnya di Paris.


Gadis itu sedang berlibur ke kota ini sekarang.


Dan Tasya...


Kata Salsa Tasya juga sedang pulang ke kota ini.


Vina dan Salsa tiba lebih dulu di resto.


Keduanya memang berangkat bersama tadi.


Vina takkan sampai hati membiarkan sahabatnya yang sedang mengandung itu pergi sendirian.


"Driel mana?" Tanya Salsa setelah keduanya duduk di dalam restorant.


"Sama omanya. Anak itu kan lebih dekat sama omanya ketimbang sama gue" jawab Vina santai.


"Loe pasti galak sama Driel. Makanya tu anak takut sama loe" timpal Salsa cengengesan.


"Ngaco loe. Gue kan ibu yang baik hati dan perhatian" jawab Vina menyombongkan diri.


Salsa hanya mencibir.


"Hai girls!" Silvi yang baru datang langsung menyapa kedua sahabatnya tersebut dengan heboh.


Vina dan Salsa bergantian memeluk Silvi.


"Kemana aja sih loe. Setelah pindah ke Paris gak pernah pulang lagi." Vina memasang mimik sok sedih.


"Kan gue sibuk kuliah." Jawab Silvi membela diri.


"Tasya mana?" Tanya Silvi celingukan.


"Mungkin bentar lagi dia datang" kali ini Salsa yang menjawab.


Ketiga sahabat tersebut lanjut mengobrol.


Banyak hal yang mereka bicarakan.


Sesekali mereka mengenang masa-masa saat duduk di bangku SMA.


"Gue mau merried" Silvi mengacungkan undangan di tangannya.


Tentu saja hal itu membuat Vina dan Salsa penasaran.


"Sama siapa? Sama siapa?" Tanya Vina tak sabaran. Ia berusaha merebut undangan dari tangan Silvi.


"Sama Julian" Tasya yang baru datang langsung menjawab pertanyaan dari Vina.


Silvi langsung mencebik.


"Ya, Sya. Kenapa dikasih tahu" ucap Silvi mencebik.


Tadinya ia sengaja ingin membuat Vina dan Salsa penasaran.


"Serius loe Sil?" Ucap Vina setengah berteriak.


"Biasa aja kali, Vin" tegur Salsa sambil memutar bola matanya.


Vina sudah berhasil merebut undangan dari tangan Silvi.


Silvi masih asyik berbicara dengan Tasya. Entah apa yang keduanya bahas.

__ADS_1


Vina membaca undangan tersebut dengan seksama sebelum akhirnya wanita itu tertawa terbahak-bahak.


Kini Vina bisa membully Silvi habis-habisan karena akhirnya gadis itu akan menikah dengan Julian, lawan debatnya saat SMA dulu.


Tapi mendadak ingatan Vina tertuju pada bisnis yang pernah di bahas oleh Denny dan Julian.


Apa yang "seseorang" yang dimaksud Julian waktu itu adalah Silvi?


"Jadi yang di perjuangin sama Julian selama ini adalah elo?" Ucap Vina sambil tersenyum simpul.


Akhirnya rasa penasarannya selama ini terjawab sudah.


Silvi memasang wajah tak mengerti.


"Gue gak paham" ucap Salsa bingung.


"Julian merintis bisnis dari nol demi membuktikan pada seseorang kalau dia benar-benar punya masadepan" ucap Vina menjelaskan.


"Kok elo bisa tahu semuanya, Vin?" Tanya Silvi masih bingung.


"Ya, karena Julian sering bertemu dengan Denny setahun belakangan. Demi bisnisnya itu" jawab Vina santai.


"Jadi, apa usaha Julian itu juga milik Denny?" Silvi semakin bingung.


"Tidak. Itu murni milik Julian. Denny hanya membantu di awal. Tapi usaha Julian yang sekarang itu benar-benar Julian yang merintis dari awal.


Jadi kamu tenang saja" jawab Vina cepat.


Silvi menghela nafas lega.


"Dia bekerja keras selama setahun ini" timpal Silvi sambil menerawang.


"Aku senang kalian akhirnya bisa menikah, tapi bisakah kamu menceritakan awal mula hubungan kalian? Aku sungguh penasaran" Salsa mencoba mencairkan suasana.


Silvi menarik nafas panjang sebelum akhirnya menceritakan semuanya secara mendetail.


*****


"Apa tidak sebaiknya kalian berdua segera menambah momongan?" Kata-kata dari mama mertuanya membuat Vina sedikit terhenyak.


Bahkan Vina belum berpikir sampai kesana.


"Apa itu tidak terlalu cepat, Ma" Vina mencoba mencari alasan.


"Tentu saja tidak. Mama senang jika kalian memiliki banyak anak. Setidaknya rumah besar ini tidak akan terasa sepi." Jawab mama dengan nada santai.


Vina hanya bisa menghela nafas panjang.


Yang benar saja, punya banyak anak sama sekali tidak ada di daftar hidup seorang Vina.


Vina ingin jadi orang tua ideal dengan dua anak sesuai program pemerintah.


Meskipun ada banyak pelayan dan pengasuh di rumah itu, tetap saja mempunyai anak itu sedikit merepotkan.


"Akan kami pikirkan, Ma" ucap Vina akhirnya. Ia tak mau membuat mama mertuanya tersebut kecewa.


"Tidak perlu berpikir lagi. Mama sudah memesankan tiket liburan untuk kalian berdua. Kalian akan berbulan madu lagi dan Driel akan tetap disini bersama mama.


Mama mau saat kalian pulang, kalian sudah membawa kabar baik" ucap mama tegas.


Sontak Vina langsung terkejut tak percaya.


Permintaan macam apa ini?


"Tapi Vina harus menghadiri pesta pernikahan sahabat Vina minggu depan, Ma" Vina masih mencari celah untuk menghindar.

__ADS_1


"Kalian bisa pergi setelah acara temanmu itu. Dan sementara menunggu, kalian bisa berbulan madu di rumah.


Mama akan membawa Driel ke luar kota besok" ucap mama dengan nada santai.


Wanita paruh baya itupun beranjak berdiri dan memanggil seorang pelayan untuk menyiapkan keperluan Driel.


"Tapi, Ma.. " Vina masih ingin menyangkal.


Namun Vina rasa semuanya akan sia-sia.


Mama sudah pergi dari ruangan itu menuju kamar Driel.


Kini Vina hanya bisa mengusap wajahnya berulang kali.


Vina yakin, Denny pasti akan bersemangat saat tahu tentang permintaan dari mamanya ini.


Pria itu memang selalu saja mesum


*****


"Serius?" Vina melemparkan remot tivi ke sembarang arah.


Wanita itu tampaknya sedang emosi setelah melihat acara berita di tivi.


"Kenapa sih, Vin?" Tanya Denny bingung.


Pria itu menguap lebar.


Denny baru saja terbangun dari tidur lelapnya.


"Liatin tu temen kamu. Bisa-bisanya menjalin hubungan dengan gadis seperti Laura. Gitu amat sih seleranya Dion" ucap Vina geram sambil menunjuk ke layar televisi yang ada di kamar tersebut.


"Masa sih?" Ucap Denny tak percaya. Ia ikut menyimak berita di tivi yang membahas tentang hubungan Dion dan Laura.


"Palingan cuma gosip Vin. Dion gak mungkin berpacaran sama gadis kayak Laura" ucap Denny lagi.


"Semoga saja begitu. **** banget si Dion kalo nglepasin Tasya cuma demi dapat gadis macam Laura.


Tasya seribu kali lebih baik dari Laura" jawab Vina berapi-api.


"Ya, ya, ya. Terserah kau saja. Apa sekarang kau bisa berhenti marah-marah?" Ucap Denny sambil merangkul mesra istrinya tersebut.


"Denny, ini sudah siang. Aku harus mandi sekarang. Bukankah kamu juga harus ke kantor?" Vina mencoba menghindar.


"Aku libur hari ini. Apa kita bisa mandi bersama?" Denny masih berusaha merayu.


"Tidak" jawab Vina sambil berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Denny yang entah mengapa terasa semakin kuat.


"Ayolah Vin. Kita masih punya peer dari mama. Kita harus segera menyelesaikannya" Denny tak menyerah.


"Astaga! Dasar mesum" Vina menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Tak ada lagi alasan untuk menolak sekarang.


*****


***Sekali-kali author boleh nanya ya ...


Habis ini mau di lanjut ceritanya Natasya dan Dion apa mau Extra part nya Silvi dan Julian dulu?


Silahkan yang mau jawab,


Jangan lupa like dan vote, ya


Terima kasih yang sudah mampir 😊***

__ADS_1


__ADS_2