Natasya

Natasya
Sesak


__ADS_3

Mentari belum muncul sepenuhnya.


Udara dingin masih terasa menusuk tulang.


Namun Tasya memilih mengabaikan rasa dingin itu.


Tasya berjalan menembus kabut tipis yang tidak biasanya muncul saat pagi.


Suasana masih sepi. Hanya ada satu dua kendaraan yang lalu lalang.


Mungkin karena ini hari Minggu. Atau mungkin karena udara yang terlalu dingin membuat sebagian orang memilih untuk meringkuk di dalam selimut yang hangat.


Tasya terus berjalan tak tahu hendak kemana.


Sengaja ia mengenakan celana training dan kaus olahraga agar bisa beralasan pada mama Sarla kalau dirinya ingin berolahraga pagi.


Namun yang sebenarnya terjadi, Tasya ingin sementara waktu pergi dari rumah itu.


Mendadak hatinya terasa sesak menyaksikan kedekatan Mama Sarla dan Rara atau Vira.


Entahlah, Tasya bingung harus memanggil gadis itu Rara atau Vira.


Seharusnya Tasya tak boleh serakah seperti ini, bagaimanapun juga Vira adalah putri kandung mama Sarla. Sedangkan dirinya hanyalah seorang anak pungut.


Namun hati Tasya seperti tak mau menerima. Tasya hanya masih shock menerima kenyataan ini.


Ia sudah terbiasa bersama mama Sarla dan mendapatkan kasih sayang sepenuhnya dari mama Sarla. Sekarang mendadak Tasya harus membaginya.


Andai saja mama Sarla mengatakan sejak awal semua hal tentang Vira, mungkin Tasya akan menyiapkan hati saat hari ini terjadi.


Langkah kakinya membawa Tasya ke taman kota yang kemarin ia singgahi bersama Dion.


Suasana masih sepi. Hanya ada beberapa orang yang berolah raga pagi di taman tersebut.


Sesaat Tasya melihat pemandangan yang membuat hatinya semakin sesak.


Seorang anak perempuan yang tengah bermain sambil bercengkerama bersama papa mamanya.


Tasya bahkan tak pernah merasakan seperti itu saat dirinya kecil.


Tasya tak pernah tahu siapa,kedua orang tuanya.


Dirinya memang hanyalah seorang anak yang dibuang.


Orang tua kandungnya bahkan tak pernah menginginkannya dan langsung meninggalkannya di panti saat dirinya masih bayi.


Tasya menyeka airmata yang sudah jatuh bercucuran di pipinya.

__ADS_1


Tasya memilih untuk duduk kembali di bangku dipinggir danau.


Matanya menatap kosong ke arah danau.


*****


Dion baru saja menyelesaikan olahraga paginya di halaman.


Biasanya dia akan pergi bersama teman temannya ke car free day, namun hari ini Dion merasa malas.


Jadi dia berolahraga sendirian di halaman rumahnya.


Dion berjalan menaiki tangga dengan santai menuju ke kamarnya.


Saat membuka pintu, Dion mendengar ponselnya berbunyi.


"Siapa yang menelpon pagi pagi begini?" Gumam Dion sedikit berdecak.


Saat akan mengangkatnya, telpon sudah mati.


Dion memeriksa riwayat panggilan


"Sepuluh telpon tak terjawab dari Tasya"


Dion mengernyitkan dahi.


Dion mulai khawatir.


Ia pun menekan nomer Tasya dengan tergesa.


"Halo, Nat? Ada apa?" Tanya,Dion khawatir.


"Di, aku ingin bicara. Aku tunggu di tepi danau." Jawab Tasya. Suaranya terdengar lirih dan lesu.


Belum sempat Dion menjawab, Tasya sudah menutup telpon.


Dion semakin khawatir.


Bergegas ia mengambil jaket dan kunci motor untuk segera pergi ke taman kota.


"Dion, mau kemana? Sarapan dulu" mama Wina yang melihat Dion turun dari tangga dengan tergesa-gesa langsung menegurnya


"Nanti saja, Ma. Dion buru buru" ucap Dion sambil berlalu menuju pintu utama.


Dion menyalakan motornya dan segera tancap gas meninggalkan rumah tersebut.


Yang ada di benak Dion sekarang adalah ia harus segera sampai di taman kota dan menemui Tasya.

__ADS_1


Sampai di taman kota,


Dion memarkirkan motornya dengan asal.


Ia setengah berlari menuju ke arah danau.


Suasana sudah sedikit ramai.


Banyak orang yang berolahraga pagi atau sekedar jalan jalan menyegarkan pikiran.


Dion mengedarkan pandangannya ke sekeliling danau.


Di salah satu sudut yang jauh dari keramaian tampak seorang gadis yang duduk diam sambil menundukkan wajahnya.


Gadis itu menutupi kepalanya dengan hoodie jaket yang dia pakai.


Namun Dion mengenalnya,


Itu adalah Tasya.


"Nat, ada apa?" Tanya Dion khawatir. Ia sudah duduk di samping Tasya sekarang.


Tasya tidak menjawab. Ia masih saja menundukkan wajahnya.


"Nat," Dion meraih wajah Tasya dan menangkupkan kedua tangannya di wajah Tasya. Berharap gadis itu mau bicara.


Namun yang Dion lihat sekarang di wajah Tasya, malah membuatnya semakin khawatir.


Wajah Tasya terlihat sembab. Matanya bengkak dan pandangannya kosong. Sepertinya gadis ini habis menangis semalaman dan memikirkan hal yang berat.


Tapi apa yang terjadi?


Bukankah tadi malam saat Dion mengantar Tasya pulang, gadis itu masih terlihat ceria?


Tasya menatap ke arah Dion.


Airmatanya kembali turun tanpa permisi.


Tasya menangis sesenggukan. Dion segera menarik Tasya ke dalam pelukannya dan membiarkan gadis itu menumpahkan semua kesedihannya.


Meskipun banyak pertanyaan di kepalanya, tapi Dion tak mau banyak bertanya sekarang.


Sepertinya Tasya sedang tertekan dan punya beban masalah yang berat.


Dion membiarkan Tasya menangis di pelukannya.


Cukup lama gadis itu menumpahkan segala kesedihannya.

__ADS_1


__ADS_2