Natasya

Natasya
Sudah Kenal


__ADS_3

Salsa dan Tasya baru saja tiba di halaman parkir sekolah.


Rupanya Dion sudah lebih dahulu tiba dan sekarang sedang menunggu kedua gadis itu.


"Pagi, Di" Tasya menyapa Dion sambil menyunggingkan sebuah senyuman manis.


"Gimana keadaan kak Ronny, Di?" Tanya Salsa tak sabar.


"Kak Ronny udah sadar semalam. Kondisinya semakin membaik pagi ini" jelas Dion.


Salsa dan Tasya menarik nafas lega.


"Nanti pulang sekolah kita ke rumah sakit ya, Sya" ajak Salsa bersemangat.


Tasya mengangguk mengiyakan ajakan dari sahabatnya tersebut.


"Ayo ke kelas" ajak Dion kemudian. Kedua gadis itupun mengangguk.


Mereka bertiga melangkah masuk ke dalam gedung sekolah, menuju ke kelas masing masing.


*****


Tasya dan Salsa tiba terlebih dahulu di rumah sakit.


Dion masih ada urusan di sekolah, jadi mungkin dia akan menyusul ke rumah sakit.


Kedua gadis itu berjalan menyusuri koridor dengan wajah bersemangat.


Setidaknya hari ini Kak Ronny sudah boleh pulang jadi mereka tak perlu khawatir lagi.


Tasya yang membuka pintu ruangan Ronny, sedikit terkejut saat mendapati ada orang lain di dalam ruangan tersebut.


Samar samar Tasya dan Salsa bisa mendengar obrolan antara Ronny dan orang asing tersebut.


"Saya benar benar minta maaf, pak. Karena tidak bisa mengikuti pertandingan selanjutnya" ucap Ronny tampak menyesal.


"Jangan terlalu di pikirkan. Semua di klub sudah maklum dengan keadaanmu. Lagipula ini kan kecelakaan. Fokus saja pada pemulihanmu" nasehat orang asing tersebut.


Salsa seperti tidak asing dengan suara tersebut. Ia sering mendengarnya.


Ronny segera menyadari kehadiran Salsa dan Tasya di ruangan tersebut. Jadilah Ronny menyapa keduanya.


"Hai, kalian sudah datang" sapa Ronny hangat.


Orang asing yang tadi berbicara pada Ronny menoleh ke arah Salsa dan Tasya.


Sontak Salsa langsung terlonjak kaget...


"Papa? Papa ngapain disini?" Tanya Salsa yang masih terkejut.


"Kamu sendiri ngapain disini?" Bukannya menjawab, Pak Heri malah balik bertanya.

__ADS_1


Salsa jadi salah tingkah.


"Salsa nemenin Tasya jenguk kakaknya" jawab Salsa sekenanya.


Tasya berusaha menahan tawanya. Baru kali ini ia melihat Salsa salah tingkah seperti ini.


"Trus papa ngapain?" Salsa masih saja bertanya pada sang papa. Ia penasaran, bagaimana ceritanya papa Heri bisa kenal sama Ronny.


"Papa jengukin Ronny juga. Dia kan salah satu pemain di klub yang papa manajerin" jelas papa Heri.


Salsa mengangguk tanda paham.


"Kalian sudah saling kenal ya?" Tanya papa Heri lagi.


"Sebenarnya, cowok yang kemarin nyelamatin Salsa ya kak Ronny ini, Pa" ucap Salsa sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Salsa mendadak merasa aneh.


"Oh, ya. Wah kalo bagitu papa harus mengucapkan terima kasih yang sebesar besarnya pada kamu, Ronny. Karena telah menyelamatkan putri saya satu satunya" ucap pak Heri bersemangat.


Ronny tersenyum tersipu.


"Hanya kebetulan saja, pak. Saya juga tidak tahu kalau Salsa ternyata putri bapak" ucap Ronny merendah.


"Jadi nanti kamu sudah bisa pulang ya?"tanya pak Heri lagi.


"Iya, pak" jawab Ronny sambil mengangguk.


"Kak Ronny pulang kemana?" Tanya Tasya khawatir.


"Yakin mau pulang ke apartemenmu?" Pak Heri ikut ikutan khawatir.


Ronny terkekeh.


"Iya, pak. Saya sudah baik baik saja. Hanya perlu istirahat saja untuk mempercepat pemulihan" jelas Ronny.


Tasya menarik nafas lega. Meskipun dalam hati masih ada sedikit kekhawatiran.


"Ya sudah, kalau memang itu keputusan kamu. Bapak pamit sekarang. Masih ada urusan yang lain" pak Heri berpamitan pada Ronny.


"Iya, pak. Terima kasih sudah repot repot jenguk kesini." Jawab Ronny sopan.


Pak Heri menghampiri Salsa,


"Papa pulang duluan. Nanti pulangbya jangan sore sore" pesan pak Heri pada Salsa.


Gadis itu mengangguk.


"Hati hati, Pa" pesan Salsa.


Salsa dan Tasya mencium punggung tangan Pak Heri sebelum pria paruh baya tersebut keluar dari ruangan Ronny.

__ADS_1


Setelah kepergian Pak Heri, Tasya memilih untuk duduk di kursi dekat ranjang Ronny.


"Kak Ronny yakin mau pulang ke apartemen?" Sekali lagi Tasya bertanya.


Ronny langsung mengacak rambut adik angkatnya tersebut sambil terkekeh.


"Udahlah, Sya. Gak usah lebay begitu. Kakak ini kuat gak cengeng kayak kamu" ucap Ronny santai.


Salsa yang mendengar jawaban dari Ronny ikut tertawa kecil.


Ia pun berjalan mendekat ke ranjang Ronny.


"Makasih banyak ya, kak. Udah nyelamatin aku kemarin." Ucap Salsa tulus.


"Makasih juga udah donorin darah kamu buat aku. Aku sungguh terharu" Ronny berkata dengan ekspresi sedikit berlebihan


Sontak hal itu membuat Tasya tertawa geli.


"Ciyee, yang saling balas budi. Kayaknya ada something ni" goda Tasya sambil masih tertawa.


"Apaan sih, Sya" Salsa mencebik tak terima karena diejek oleh Tasya.


Tasya semakin terbahak melihat ekspresi Salsa.


Ronny ikut ikutan tertawa


"Kalo ada something aku juga gak keberatan. Nanti aku tinggal ngelamar kamu aja, Sal" ucap Ronny percaya diri.


"Apaan lamar lamar. Aku kan masih sekolah." Jawab Salsa galak. Ia menatap tajam pada Ronny.


"Aku siap nungguin" ujar Ronny belum menyerah.


Tasya tertawa semakin keras.


Ia sungguh tak tahu kalau kakak angkatnya se bucin ini ternyata.


"Maaf, tapi kakak bukan tipe cowok idaman aku. Jadi buang jauh jauh aja impian buta kak Ronny itu" jawab Salsa kembali ke sikap acuhnya.


Sejenak suasana menjadi hening.


"Apa aku baru saja ditolak?" Tanya Ronny dengan polosnya. Ia melihat ke arah Salsa dan Tasya secara bergantian.


Tasya mengangguk sedikit ragu.


"Baiklah. Aku akan tetap melamarmu."ucap Ronny sambil menatap tajam ke arah Salsa.


Sontak gadis itu langsung balik melotot ke arah Ronny.


Yang benar saja, lelaki yang selama ini selalu membuatnya kesal, terang terangan menyatakan perasaannya,dan kekeh akan melamarnya untuk dijadikan istri.


Salsa bahkan belum berpikir sampai sejauh itu.

__ADS_1


Jadi Salsa memutuskan, bahwa pernyataan Ronny barusan hanyalah omong kosong yang digunakan untuk merayu dirinya.


Salsa benar benar tak ingin memikirkannya.


__ADS_2