
"Tasya kemana, Vir?" Tanya mama Sarla yang baru samapi dirumah.
Mama Sarla pulang lebih cepat dari perkiraan.
Vira mengendikkan bahu.
Entah mengapa ia merasa sedikit kesal pada Tasya belakangan ini.
Sejak beberapa hari yang lalu kak Kevin datang dan mencari Tasya, membuat Vira semakin kesal saja.
"Tasya belum pulang sejak tiga hari yang lalu, Ma. Mungkin dia menginap di panti.
Dia sering kesana belakangan ini" jawab Vira menerka-nerka.
Mama Sarla mengernyitkan dahi.
Tidak biasanya Tasya tidak pulang lebih dari satu hari.
Lagipula, Tasya juga tidak menelpon ataupun meminta izin pada mama Sarla. Biasanya Tasya akan minta izin.
Ini aneh
Mama Sarla mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi nomer Tasya namun tidak aktif.
Mama Sarla ganti menelpon Bu Ranti, untuk menanyakan apa Tasya ada di panti.
Ternyata Tasya juga tak ada di panti.
Mama Sarla sedikit bingung.
Kemana Tasya?
Akhirnya mama Sarla ingat pada Ronny.
Bergegas ia menelpon Ronny.
"Halo, Ronny." Ucap mama Sarla.
"Iya, tant. Ada apa?" Jawab Ronny di seberang telepon.
"Apa kamu tahu Tasya dimana? Kata Vira, sudah tiga hari Tasya tidak pulang" tanya mama Sarla cemas.
"Tasya sedang dirawat dirumah sakit, tante" jawab Ronny.
"Apa? Sejak kapan?" Tanya mama Sarla terkejut.
"Sudah sekitar tiga hari." Jawab Ronny lagi.
"Baiklah tante kesana sekarang" ucap mama Sarla sebelum menutup teleponnya.
Bergegas mama Sarla keluar dari rumah dan menghidupkan motornya.
"Ma, mama mau kemana?" Tanay Vira bingung.
Mamanya baru saja sampai, dan sekarang sudah mau pergi lagi.
__ADS_1
"Mama harus kerumah sakit. Tasya sedang dirawat di rumah sakit" jawab mama Sarla tergesa.
Segera mama Sarla melajukan motornya ke jalan menuju arah rumah sakit.
Vira hanya berdiri mematung dengan berbagai pertanyaan di kepalanya.
*****
Dion dan Ronny sudah kembali ke rumah sakit.
Dion menggenggam tangan Tasya dan duduk di samping ranjang Tasya.
Dion memandang lekat wajah Tasya yang tertidur lelap.
Berbagai konflik batin mulai berkecamuk di hati Dion.
Tasya yang selalu ia jaga, kenapa harus mengalami hal seperti ini.
Mimpi buruknya beberapa hari yang lalu mendadak melintas di benak Dion.
Waktu kejadiannya sama. Apa memang itu sebuah firasat?
Kenapa Dion tak menyadarinya?
Ronny dan Salsa duduk di sofa disudut ruangan tersebut.
Keduanya hanya saling diam sedari tadi.
Mereka sibuk dengan pikiran masing masing.
Salsa masih diam. Ia tak ingin jauh dari sahabatnya saat ini. Tapi ucapan Ronny ada benarnya.
Sudah tiga hari ini Salsa belum pulang ke rumah. Ia hanya menelpon mama dan papanya untuk meminta izin.
"Aku dan Dion yang akan menjaga Tasya disini sebentar lagi mama Sarla juga akan datang kesini jadi kamu tak perlu khawatir" bujuk Ronny sekali lagi.
Salsa menghela nafas.
"Baiklah. Bisakah kamu mengantarku?" Ucap Salsa akhirnya.
Ia berharap kondisi Tasya akan segera pulih dan membaik.
Ronny mengangguk,
"Sebentar. Aku ingin bicara sesuatu pada Dion" ucap Salsa lagi. Ia menatap Ronny seakan meminta persetujuan.
Ronny mengangguk.
"Aku akan menunggu diluar" ucap Ronny sembari berlalu keluar dari ruangan tersebut.
Setelah Ronny keluar, Salsa mendekat ke arah Dion.
"Dion," teguran dari Salsa membuyarkan lamunan Dion.
Dion menoleh ke arah Salsa.
__ADS_1
"Apa kau akan meninggalkan Tasya setelah ini?" Tanya Salsa menyelidik .
Dion terdiam.
Ia sendiri masih belum tahu kelanjutan hubungannya dengan Tasya setelah ini.
Dion mencintai Tasya, namun kejadian ini adalah sebuah pukulan untuk hubungan mereka.
Mendadak ada sedikit keraguan di hati Dion.
"Tasya takut kamu akan meninggalkannya.
Hati Tasya sedang rapuh, Di. Bisakah kau tetap bertahan dan tidak membuat Tasya semakin hancur?" Ucap Salsa dengan nada memohon. Butir air mata jatuh di pipi Salsa.
"Aku tak akan melakukan hal bodoh itu, Sal. Aku sayang sama Tasya" Dion kembali menatap lekat wajah Tasya.
Salsa sedikit bernafas lega.
"Aku percaya padamu. Aku pulang dulu." Pamit Salsa akhirnya.
Dion hanya mengangguk dan tak menjawab lagi.
Salsa segera keluar dari ruangan tersebut, menyusul Ronny yang sedari tadi sudah menunggunya di luar.
Setelah kepergian Salsa, Dion kembali merenung.
Hatinya terasa bimbang. Di satu sisi ia merasa iba pada Tasya.
Namun disisi lain, Dion juga merasakan suatu perasaan yang tidak bisa dijelaskan.
Mendadak ada keraguan di hati Dion.
Tasya yang sekarang bukanlah Tasya nya yang dulu.
Tasya akan jadi gadis yang berbeda setelah ini.
Apakah Dion akan tetap mempertahankan hubungan ini karena iba?
Dion bahkan tak yakin apakah ia akan bisa tetap mencintai Tasya seperti dulu?
Entahlah, Dion tak mengerti.
Dion mengusap wajahnya berulang kali.
Saat ini pikirannya benar benar sedang kacau.
Sekali lagi, Dion menatap wajah tenang Tasya yang sedang tertidur lelap.
Dion benar benar tidak ingin menyakiti Tasya.
Mungkin dia akan menerima semua kenyataan ini.
Demi kebahagiaan Tasya.
Demi sebuah senyuman di bibir Tasya.
__ADS_1
"Maafkan aku, Nat. Aku akan tetap mencintaimu. Aku tidak akan meninggalkanmu" Dion mengecup tangan Tasya berulang kali.