
Raka membelokkan mobilnya masuk ke rumah besar milik keluarga Wijaya.
Sudah lima tahun lebih, Raka tidak berkunjung ke rumah besar ini.
Sebenarnya dulu juga Raka jarang berkunjung ke sini, karena Daffa juga enggan tinggal di sini.
Daffa lebih sering tinggal di apartemen pribadinya ketimbang di rumah besar ini.
Setelah Daffa meninggal, kak Diandra sempat menawarkan pada Raka apartemen Daffa yang kosong.
Namun Raka segera menolaknya secara halus.
Cukup sudah Raka menjadi saksi betapa pedihnya kehidupan Daffa sampai pria itu pergi untuk selamanya. Raka tak mau berhubungan dengan segala hal yang mengingatkannya pada Daffa.
Kecuali berkunjung ke makam Daffa tentu saja. Sepekan sekali, Raka selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi makam sahabatnya tersebut.
Raka menghentikan mobilnya di halaman yang luas tersebut.
Setelah menarik nafas panjang Raka segera keluar dari mobilnya dan berjalan ke arah pintu utama.
Tadinya Raka ingin menemui Daffi di kantornya saja. Namun saat Raka pergi ke sana, ternyata Daffi tidak ada. Kata sekretarisnya, Daffi tidak ke kantor hari ini.
Raka memencet bel,
Tak berselang lama, seorang pelayan membukakn pintu dan mempersilahkan Raka untuk masuk ke dalam.
Raka segera menyampaikan tujuannya datang ke rumah ini kepada pelayan tadi yang kemudian di jawab dengan sebuah anggukan.
Pelayan tadi meminta Raka untuk duduk sebelum berlalu masuk ke dalam untuk memanggil sang majikan.
Setelah menunggu beberapa saat, Daffi muncuk dari arah ruang tengah rumah besar tersebut.
"Raka? Angin apa yang membawamu datang ke sini?" Daffi berbasa-basi sambil menyapa Raka.
Raka bangkit dari duduknya demi membalas sapaan dari Daffi.
"Hai, Daff. Sedang sibuk?" Raka ikut berbasa-basi.
Mendadak suasana menjadi canggung.
"Sedikit sibuk. Jadi... ada urusan apa?" Tanya Daffi akhirnya. Sepertinya pria itu enggan berbasa-basi lebih lama lagi.
Raka menarik nafas panjang,
Ia mengambil map dari dalam tas hitam yang tadi ia bawa lalu mengangsurkannya kepada Daffi.
Daffi membaca sekilas isi map tersebut,
"Aku ingin kau berhenti menindas perusahaan kecil itu, Daff" ucap Raka tegas. Terdengar sedikit nada memohon di sana.
Daffi berdecak,
"Memangnya kenapa? Apa ini perusahaan milikmu?" Tanya Daffi ketus.
"Itu milik sahabatku. Sudah cukup kau mengambil satu per satu kantor cabang mereka. Dan sekarang kau ingin menghancurkan juga semuanya, apa kau sudah gila?" Raka tak bisa lagi menahan emosinya.
Namun semua itu seperti tak berpengaruh pada Daffi. Pria itu tetap berekspresi datar.
"Raka, kamu sudah bertahun-tahun terjun di dunia bisnis. Bukankah seharusnya kamu paham kalau ini semua hanya tentang persaingan siapa yang kuat dia menang dan siapa yang lemah siap-siap saja untuk jatuh dan gulung tikar" tukas Daffi dengan nada sombong.
"Tentu saja aku paham. Tapi apa kamu juga harus seserakah itu?" Raka seperti tidak mau kalah.
Daffi berdecak,
"Sejak kapan kau peduli dengan para sahabatmu hingga kau rela mengemis ke sini agar aku melepaskan perusahaan itu?" Tanya Daffi sarkas.
Raka tersenyum simpul,
"Sejak sahabat terbaikku pergi untuk selamanya dan menyerahkan seluruh kebahagiaannya kepada saudaranya yang ambisius dan serakah" jawab Raka ketus dan menusuk.
Daffi langsung kehilangan kata-kata seakan tak mampu lagi untuk menjawab sindiran pedas dari Raka.
Raka sudah berbalik dan hendak pergi, namun baru beberapa langkah pria itu menghentikan langkahnya dan berbalik,
"Kau tahu, Daff. Aku kadang berpikir seharusnya saat itu Daffa tak perlu mendonorkan jantungnya untukmu. Daffa pasti kecewa dengan sifatmu yang sekarang ini" pungkas Raka sebelum akhirnya benar-benar pergi meninggalkan rumah besar itu.
"Aku tidak akan melepaskannnya, Ka! Aku akan menghancurkan perusahaan temanmu itu" suara Daffi menggelegar di seluruh penjuru rumahnya. Sepertinya laki-laki itu sedang marah besar.
Raka tetap melanjutkan langkahnya. Mungkin ia harus mencari cara lain untuk menyelesaikan masalah ini.
Di dalam mobilnya, Raka memijit pelipisnya yang mendadak terasa berdentum-dentum.
Raka sudah berjanji pada Dion untuk membantu menyelesaikan ini semua. Tapi lihatlah sekarang, Raka justru membuat Daffi marah dan mengamuk.
"Astaga... apa yang sudah kulakukan" Raka memukul-mukul kepalanya sendiri.
"Sebaiknya aku bicara pada Egi." Gumam Raka sebelum melajukan mobilnya meninggalkan kediaman keluarga Wijaya.
******
Di kantor milik Egi,
"Apa!" Egi langsung bangkit berdiri dari kursi kebesarannya setelah Raka selesai menceritakan semuanya.
Sementara Raka masih berdiri dengan wajah tertunduk di hadapan Egi, seperti seorang anak yang sedang mendapat murka dari ayahnya.
"Maafkan aku, Gi. Aku hanya tiba-tiba terbawa emosi saat berbicara dengannya" ucap Raka lirih dengan perasaan bersalah membuncah di dadanya.
Entahlah, saat Raka bertemu Daffi pagi ini, semua luapan emosi Raka terasa seperti bom waktu yang akhirnya meledak setelah selama lima tahun Raka menyimpannya rapat.
Raka sudah siap seandainya Egi memarahinya kali ini.
"Seharusnya kau bicara baik-baik kepadanya, Ka" Egi memijit pelipisnya.
__ADS_1
"Iya, aku tahu, ini salahku. Lalu sekarang kita harus bagaimana? Aku takut jika Daffi benar-benar membuktikan ucapannya untuk menghancurkan perusahaan milik keluarga Dion" jawab Raka masih menunduk.
Egi masih tampak berpikir.
"Sebaiknya kita bertemu Dion. Aku punya pemecahan masalah untuk ini semua" ucap Egi akhirnya.
Bolehkah Raka menarik nafas lega sekarang?
Egi menyambar tas hitamnya dan berjalan cepat keluar dari ruangannya.
"Ayo, Raka!" Egi sedikit berteriak karena rekannya itu tidak segera bergegas.
Raka setengah berlari menyusul langkah Egi yang kini sudah sampai di depan lift.
*****
Hari ini adalah hari kedua Tasya praktek sementara di rumah sakit.
Tasya sudah selesai memeriksa pasiennya yang terakhir. Hari ini tidak terlalu banayak pasien anak yang datang.
"Dokter Tasya," seorang perawat masuk ke dalam ruangan Tasya.
"Iya, suster. Apa ada pasien lagi?" Tanya Tasya yang baru saja selesai membereskan peralatannya.
"Ada jadwal kunjungan untuk tiga pasien anak yang sedang di rawat" jelas suster itu.
Tasya melihat ke arloji yang melingkar di tangannya.
"Anda menggantikan dokter yang sebelumnya, dok" jelas perawat itu sekali lagi seperti bisa melihat raut kebingungan di wajah Tasya.
Tasya mengangguk,
"Baiklah, ayo!" Ujar Tasya akhirnya.
Perawat itupun mengantar Tasya menuju ke ruang rawat inap anak.
Di depan lorong, Tasya berpapasan dengan Elena yang juga sudah selesai praktek di poli kandungan.
"Sya, sudah mau pulang? Bareng yuk!" Ajak El
"Aku masih harus kunjungan ke pasien rawat inap" jawab Tasya cepat.
"Baiklah, aku akan menunggumu di lobi depan kalau begitu" lanjut Elena.
Tasya mengangguk
"Baiklah. Aku pergi dulu. Sampai jumpa di lobi" Tasya berpamitan dan langsung menyusul langkah perawat yang bersamanya tadi.
Dua pasien anak sudah selesai Tasya periksa, kini pasien ketiga berada di ruang VVIP yang artinya Tasya harus naik lift lagi ke lantai berikutnya.
Sampai di depan ruangan, perawat yang tadi bersama Tasya mengetuk pintu sebelum masuk ke dalam.
Pemandangan pertama yang dilihat Tasya saat pintu terbuka adalah seorang wanita hamil yang sepertinya ibu dari pasien yang di rawat di ruangan ini.
"Selamat pagi, nyonya." Sapa perawat itu pada wanita hamil tadi.
"Selamat pagi, suster" wanita itu membalas sapaan perawat dengan hangat.
"Ini Dokter Tasya yang akan jadi dokter sementara untuk Kenzo mulai hari ini" jelas perawat itu lagi.
Wanita tadi tampak mengangguk mengerti.
Tasya mengulurkan tangannya pada wanita hamil tersebut untuk memperkenalkan diri.
"Saya dokter Tasya" ucap Tasya memperkenalkan diri.
"Saya Nuna, mari ke dalam. Kenzo masih tidur setelah sarapan tadi" wanita yang ternyata bernama Nuna itu berjalan menuju ranjang perawatan yang tertutup oleh tirai.
Tasya dan perawat yang mendampinginya tadi mengikuti langkah Nuna.
Saat tirai disibak, tampaklah seorang anak laki-laki yang berusia sekitar enam tahun yang berbaring memunggungi Tasya.
Nuna membangunkan anak lelakinya tersebut,
"Kenzo, ayo bangun sayang, ada bu Dokter" ucap Nuna lembut.
Anak laki-laki itu segera bangun.
Nuna membantunya untuk duduk di ranjang.
Dan bersamaan dengan itu semua, Tasya kini bisa melihat dengan jelas wajah anak laki-laki tadi.
Yang selanjutnya terjadi, Tasya benar-benar membeku saat melihat wajah anak lelaki tadi.
Wajah itu...
Kenapa bisa begitu mirip?
*****
Egi dan Raka sudah sampai di depan sebuah gedung yang merupakan gedung tempat kantor Dion berada. Tadinya mereka akan ke rumah Dion saja. Namun setelah menelepon, ternyata Dion sedang ke kantor hari ini. Jadilah mereka berdua menyusul ke tempat ini sekarang.
Dion rupanya sudah turun ke lobi untuk menyambut dua tamunya tersebut.
Ketiga pria itu pun segera naik ke lift menuju lantai paling atas dari gedung tersebut.
Di dalam ruangan yang cukup luas itu, Dion, Raka, dan Egi masih saling diam.
Ketiganya duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut.
"Jadi, ada kabar apa?" Dion membuka obrolan dengan sedikit canggung.
"Aku benar-benar minta maaf, Di. Karena sudah mengacaukan semuanya" Raka berucap sembari tertunduk lesu.
__ADS_1
Dion mengernyit tak mengerti.
Kenapa mendadak Raka minta maaf?
Ada apa sebenarnya?
Egi menarik nafas panajang sebelum angkat bicara,
"Raka sudah bertemu dan bicara dengan Daffi Wijaya. Namun..." Egi sedikit merasa ragu untuk melanjutkan kalimatnya. Tapi Egi tetap harus melanjutkannya.
Raka memilih untuk diam dan semakin tenggelam dalam rasa bersalahnya. Dion masih mengernyit bingung.
"...namun Raka terlalu emosi dan menyulut api konflik di antara dirinya dan Daffi. Jadi pada intinya, Raka membuat masalah ini semakin rumit" lanjut Egi berusaha menata kata sebaik mungkin, berharap Dion bisa memahami apa yang sebenarnya terjadi.
"Dion, aku sungguh minta maaf. Aku siap bertanggung jawab jika Daffi benar-benar membuktikan ucapannya kemarin" tukas Raka cepat. Raut bersalah masih belum hilang dari wajahnya.
Baiklah, sekarang Dion paham.
"Tak apa, Ka. Kita akan mencari jalan keluar lain" ujar Dion berusaha berpikir positif dan bersikap bijak.
Dion tidak bisa begitu saja menyalahkan Raka.
Egi dan Raka sudah bermurah hati membantu menyelesaikan masalah Dion. Jika pada akhirnya tetap tidak ada solusi yang bisa di temukan, Dion tidak mau melimpahkan kesalahan begitu saja pada mereka berdua.
Sesungguhnya ini merupakan tanggung jawab Dion. Jadi, Dion lah yang seharusnya mencari solusi dan jalan keluar.
"Di, aku punya satu solusi" tiba-tiba Egi angkat bicara.
Dion dan Raka langsung menatap ke arah bapak satu anak tersebut.
"Biarkan Raka yang mengambil alih kantor cabang ini" ucap Egi kemudian.
"Apa?" Setengah berteriak Raka merasa saran dari Egi kali ini sedikit aneh dan membingungkan.
"Aku tak mengerti" Dion masih berekspresi datar.
"Raka berpengalaman dalam bidang ini. Biarkan dia yang memegang kendali untuk sementara. Jadi saat Daffi berusaha untuk merebut semuanya, Raka bisa melawanya. Aku akan membantu semampu yang aku bisa" jelas Egi panjang lebar.
"Bagaimana dengan pekerjaanku di kantormu?" Raka sedikit protes.
"Kita bisa menunda yang itu. Sekarang yang terpenting kita bantu Dion menyelamatkan perusahaan papanya" Egi menepuk punggung sahabatnya tersebut.
Dion mengangguk tanda mengerti.
"Baiklah aku mengerti. Aku akan secepatnya menghubungi kakakku untuk bersiap menghadapi gempuran ini" ucap Dion optimis.
Dion tak mau menyerah kali ini, Dion tetap akan mempertahankan perusahaan milik papa Rian yang saat ini masih tersisa dan tidak akan menyerahkannya begitu saja pada orang serakah macam Daffi Wijaya itu.
Sesaat suasana hening,
Tidak ada lagi yang berniat untuk mengawali pembicaraa,
Tiga pria itu seperti larut dalam pikiran mereka masing-masing.
Hingga akhirnya dering ponsel milik Dion memecah keheningan di antara mereka bertiga.
Dion sedikit menjauh dari Raka dan Egi, lalu berjalan ke arah jendela ruangan tersebut sebelum akhirnya mengangkat telepon dari nomer tak di kenal tersebut.
"Halo," jawab Dion setelah mengangkat telpon tersebut.
...
"Iya benar saya Dion. Ada masalah apa?" Tanya Dion sekali lagi.
...
"Apa! Tapi mereka baru berangkat kemarin. Bagaimana bisa?" Wajah Dion sudah pucat sekarang. Entah berita apa yang baru saja ia dengar.
Sepertinya bukan berita baik.
...
"Baiklah saya akan secepatnya ke sana dan mengurus semuanya" jawwb Dion lirih.
Dion menutup telpon lagi dengan ekspresi lesu. Tatapannya terlihat kosong.
Kenapa secepat ini?
Kenapa harus sekarang?
Dion terduduk di kursi kerjanya dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Dion tidak tahu harus bagaimana sekarang.
Berita buruk ini benar-benar membuat hati Dion hancur.
Kenapa semua masalah harus datang bertubi-tubi seperti ini?
Egi dan Raka yang melihat wajah pucat Dion saling melempar pandangan tak mengerti.
Siapa tadi yang menelepon?
Dan apa sebenarnya yang sudah terjadi?
*****
Gantung...
Maaf kalo di bab ini sedikit rumit dan mblundet.
Semoga para pembaca bisa paham alurnya dan tidak bingung.
Masih di tunggu sumbangan vote nya ya...
__ADS_1
Terima kasih yang sudah baca, like, komen, dan vote.
Happy reading