
Tasya sudah duduk dengan tenang di salah satu meja yang ada di kantin.
Bel tanda istirahat baru saja berbunyi
Salsa, Vina, dan Silvi terlihat memasuki kantin. Mereka langsung duduk bersama Tasya.
"Hai, sudah baikan?" Sapa Salsa yang kini duduk di sebelah Tasya.
Tasya mengangguk sambil tersenyum
"Jadi, ada masalah apa sebenarnya?" Tanya Vina to the point.
Sontak Silvi langsung menyenggol lengan sahabatnya tersebut
"Apa? Aku kan cuma bertanya dan gak memaksa Tasya untuk menjawabnya" Vina mencoba membela diri.
Silvi hanya memutar bola matanya.
"Maaf ya, soal tadi pagi" ujar Tasya seraya menarik nafas dalam dalam. Suara dan mimik wajahnya sudah lebih tenang sekarang.
Salsa, Silvi, dan Vina masih menyimak dan menunggu cerita dari Tasya.
"Jadi yang kalian lihat tadi pagi itu memang benar. Rara atau kata mama Sarla namanya Vira. Dia sekarang tinggal di rumah mama Sarla. Vira adalah anak kandung mama Sarla" cerita Tasya panjang lebar.
Vina yang baru menyesap es teh langsung tersedak karena kaget.
"Serius, Sya?" Ujar Vina seraya menggebrak meja. Sontak tingkah laku lebay Vina tersebut segera menarik perhatian para pengunjung kantin.
Silvi dengan cepat menarik Vina agar kembali duduk sambil matanya mendelik ke arah Vina.
Ia juga sama kagetnya, tapi gak perlu juga bertingkah lebay seperti Vina.
"Sya, loe gak bercanda kan? Jangan jangan dia nipu mama loe" Silvi merasa tidak percaya.
Tasya menggeleng.
__ADS_1
"Itu semua bener, Sil. Awalnya aku juga gak percaya. Tapi memang kenyataannya begitu" Tasya mengendikkan bahu.
Tidak mudah memang baginya menerima kenyataan bahwa tiba tiba mama Sarla mempunyai seorang putri kandung.
Selama hampir sepuluh tahun Tasya tinggal bersama mama Sarla, baru kemarin Tasya tahu semuanya.
"Trus gimana dengan sikap Rara atau Vira itu pas dirumah. Apa dia baik sama kamu?" Tanya Salsa penasaran.
Tasya menarik nafas panjang,
"Ya begitulah, kalo di depan mama Sarla dia manis. Kalo pas gak ada mama biasanya dia nyindir nyindir aku" jelas Tasya. Kali ini raut wajahnya terlihat tegar.
Salsa menepuk punggung Tasya,
"Gak usah diambil pusing, Sya. Belajar jadi cuek aja" nasehat Salsa.
Tasya mengangguk.
"Dan kalo ada apa apa baiknya loe cerita sama kita jangan dipendem aja" tambah Silvi.
"Makasih ya, kalian udah jadi sahabat yang baik buat aku" ucap Tasya tulus.
Keempat sahabat itupun melanjutkan makan siang dengan saling berbagi tawa dan bersenda gurau.
Dari kejauhan Dion melihat Tasya yang sudah kembali ceria bercengkerama bersama sahabatnya. Hatinya merasa lega.
******
"Kerja part time? Apa uang jajan dari mama buat kamu masih kurang?" Mama Sarla sedikit emosi saat Tasya menyampaikan keinginannya untuk bekerja paruh waktu.
Tasya tahu ini akan terjadi, jadi Tasya menarik nafas dan mencoba tetap tenang. Tasya tidak boleh ikut ikutan emosi.
"Tasya cuma pengen nabung, Ma. Tasya gak mau ngrepotin mama terus terusan." Ujar Tasya lirih.
"Ngrepotin bagaimana? Kamu putri mama. Sudah menjadi kewajiban mama untuk membiayai sekolah dan semua kebutuhan kamu" ujar Mama Sarla sambil memegang kedua bahu Tasya.
__ADS_1
"Tapi kan, sekarang udah ada Vira. Mama juga,harus biayain sekolahnya Vira." Ucap Tasya takut takut.
Mama Sarla menarik nafas panjang. Ucapan Tasya memang ada benarnya. Kedua putrinya,sebentar lagi akan masuk kuliah. Tentu saja itu akan butuh biaya yang lebih besar lagi.
"Mama akan bekerja lebih keras lagi" ucap mama Sarla sambil menatap tajam pada Tasya.
"Ma..." Tasya menghentikan kalimatnya, membuat mama Sarla mengernyitkan dahi.
"Ma, mama sudah bekerja keras selama ini. Ijinkan Tasya bekerja agar Tasya bisa menabung untuk kuliah Tasya nanti, Ma" ucap Tasya bersungguh sungguh.
"Tapi, Sya. Bentar lagi kamu kelas duabelas. Mama takut belajar kamu jadi terganggu" mama Sarla masih kekeh menolak.
"Tasya janji ini gak akan mengganggu sekolah Tasya, ma" ucap Tasya sekali lagi dengan bersungguh sungguh.
Mama Sarla menarik nafas panjang.
"Baiklah, tapi nanti kalau nilai rapor kamu menurun kamu harus berhenti oke?" Ucap mama Sarla akhirnya.
Sebuah senyuman langsung tersungging di bibir Tasya. Ia segera menghambur ke pelukan mama Sarla
"Makasih, Ma."ucap Tasya bahagia.
"Udah malam, kamu tidur gih" ucap mama Sarla selanjutnya.
Tasya mengangguk dan bergegas berjalan menuju kamarnya.
Di depan kamar, Tasya tak sengaja berpapasan dengan Vira yang tersenyum mengejek ke arahnya.
"Baguslah kalo kamu sadar. Lebih bagus lagi kalau kamu tak lagi ngrepotin mama, karena selama ini kamu sudah mengambil semua yang seharusnya menjadi milikku" ucap Vira sambil menatap tajam pada Tasya.
Tasya terdiam. Ia menarik nafas panjang dan mencoba mengabaikan kata kata dari gadis di depannya tersebut.
"Selamat malam Vira" ucap Tasya sambil tersenyum dan segera menutup pintu kamarnya.
Vira hanya bisa menggeram kesal.
__ADS_1