Natasya

Natasya
SEASON KEDUA: Masalah yang Sesungguhnya


__ADS_3

"Tasya harus di rawat, Di" ucapan dari dokter Ina membuat Dion sedikit kaget.


Tasya pingsan di apartemen pagi ini saat Dion baru saja akan berangkat ke kantor.


Wanita itu memang mengeluh pusing sedari tadi malam.


Dion pikir itu hal biasa, karena sejak awal hamil Tasya memang sering pusing.


"Dok, aku baik-baik saja" Tasya bersikeras menolak.


"Hemoglobinmu rendah, Sya. Tidurlah dulu di rumah sakit satu sampai dua hari" ujar Dokter Ina dengan nada memaksa.


"Aku bisa bedrest di rumah, Dok. Dion akan mengawasiku" Tasya masih tak mau kalah.


Terdengar dokter Ina berdecak,


Pasiennya yang satu ini keras kepala sekali.


"Sya, ini demi bayi kamu" dan, Tasya langsung diam tak menjawab lagi.


Dion menggenggam tangan istrinya tersebut,


"Dokter Ina benar, Nat. Kamu harus istirahat dulu di sini" Dion ikut membujuk Tasya.


Tasya diam tak menjawab.


"Kamu bisa langsung pulang jika hemoglobinmu sudah normal" kata dokter Ina lagi.


Tasya menghela nafas, jarum infus sudah terpasang di tangannya sebelah kiri.


"Aku akan menemanimu" ujar Dion berusaha menghibur Tasya.


Tasya hanya mengangguk.


Akhirnya Tasya masuk ke ruang perawatan. Dan Dion terus berada di sisi Tasya.


*****


Menjelang sore,


Tasya baru saja bangun dari tidur lelapnya. Tangan kirinya sedikit terasa nyeri karena jarum infus itu.


Sayup-sayup Tasya bisa mendengar Dion yang sepertinya sedang bicara dengan seseorang di telepon. Pria itu duduk dengan gelisah di sofa yang ada di sudut ruang perawatan.


"Iya, kamu selesaikan saja semuanya seperti yang kulakukan kemarin"


....


"Aku tidak bisa ke kantor istriku sedang di rawat di rumah sakit"


....


"Lakukan saja, mereka akan mengerti. Aku sudah menjelaskan pada semua karyawan minggu kemarin"


.....


"Aku juga tidak mau ini terjadi. Tapi perusahaan kita sudah di ujung tanduk. Keputusan finalnya mungkin lusa, apa Kevin sudah menelponmu dan memberi kabar?"


....


"Baiklah selesaikan saja secepatnya"


Dion mengusap wajahnya dengan kasar berulang-ulang. Sepertinya sedang ada masalah berat yang di hadapi pria itu.


'Perusahaan di ujung tanduk?' Tasya berguman dalam hati.


Apa ini juga yang menyebabkan papa Rian masuk rumah sakit kemarin.


Tapi kenapa Dion sama sekali tidak menceritakan pada Tasya?


Ada apa sebenarnya?


Dion berjalan menuju ke arah ranjang Tasya.


Cepat-cepat Tasya memejamkan mata dan pura-pura tidur.


Tasya tidak mau Dion memergokinya yang sedang menguping pembicaraan Dion di telepon tadi.


Dion duduk di kursi yang ada di samping ranjang perawatan.


Pria itu menarik nafas panjang, sebelum meraih tangan Tasya, menggenggam dan mengecupnya berulang kali.


Tasya sedikit menggeliat sebelum membuka matanya,


"Hai sayang, kamu sudah bangun?" Tanya Dion dengan suara lembut dan senyuman yang menurut Tasya sedikit dipaksakan.


"Apa aku tidur terlalu lama" tanya Tasya berbasa-basi.


Bisa Tasya lihat ada raut kelelahan di wajah Dion seperti ada beban berat yang Dion simpan.


Dion menggeleng,


"Kau memang harus banyak istirahat, agar cepat pulih" ujar Dion lagi.


"Kau ingin makan sesuatu?" Tanya Dion seraya mengelus kepala Tasya.


Kali ini gantian Tasya yang menggeleng.


Dion ganti nengusap perut Tasya dan membaringkan kepalanya di sana.


"Hai sayang, anak-anaknya papa. Tumbuhlah jadi anak-anak yang kuat dan hebat" bisik Dion penuh harap.


Tasya mengelus rambut suaminya. Ada desakan rasa haru saat mendengar kata-kata dari Dion. Tak terasa butir air mata menetes di kedua pipinya.


Kenapa Dion tak menceritakan tentang masalah yang kini te gah ia hadapi?


Kenapa Dion selalu bersikap seolah-olah tak ada masalah apapun?


"Dion..." panggil Tasya lamat-lamat.

__ADS_1


Dion mendongak dan menatap kepada Tasya. Masih ada sisa air mata di kedua pipi Tasya.


"Kau menangis, Nat?" Tanya Dion khawatir.


Tasya menggeleng cepat,


"Aku menangis karena bahagia, Di" jawab Tasya sambil menyeka air matanya.


Dion menghela nafas lega.


Langit di luar ruang pearwatan mulai berubah gelap. Malam sudah menjelang.


Dion sudah tidur di kursi di samping Tasya sambil menumpukan kepalanya ke atas ranjang perawatan.


Tasya masih belum bisa memejamkan matanya.


Pikirannya menerawang. Sebenarnya masalah macam apa yang sedang di hadapi oleh Dion?


*****


Setelah dua hari menjalani perawatan di rumah sakit, kondisi Tasya akhirnya membaik, dan kini Tasya sudah di perbolehkan untuk pulang.


Namun Tasya tak boleh kelelahan dan masih harus banyak beristirahat agar tidak pingsan lagi.


Di satu sisi, Dion masih belum bisa meninggalkan Tasya sendirian di rumah.


Namun di sisi lain ada masalah di perusahaan yang juga butuh dirinya.


Jam menunjukkan pukul tiga sore.


Tasya belum bangun dari tidur siangnya.


Dion masih berkutat dengan beberapa berkas yang tadi pagi di kirim oleh asistennya.


Bel berbunyi,


Bergegas Dion membuka pintu depan.


"Kevin..." Dion terkejut mendapati Kevin yang sudah berdiri di depan apartemennya.


"Aku tadi ke kantor, dan kata asistenmu sudah tiga hari kamu tidak datang ke kantor" ujar Kevin berbasa-basi.


Dion menghela nafas dan mempersilahkan Kevin untuk masuk ke ruang tamu yang tak terlalu besar tersebut.


Kevin dan Dion duduk berseberangan di sofa yang ada di ruang tamu tersebut.


"Tasya sakit dan harus dirawat dua hari kemarin, jadi aku tidak bisa ke kantor" Dion memulai ceritanya.


Kevin menatap prihatin pada saudaranya tersebut,


"Lalu bagaimana keadaan Tasya sekarang?" Ada nada khawatir dari cara Kevin bertanya.


"Tasya sudah membaik. Dia sedang tidur sekarang" jawab Dion sambil tersenyum tipis.


"Jadi bagaimana?" Tanya Dion selanjutnya. Pria itu sepertinya sudah paham apa yang menjadi tujuan Kevin datang ke sini.


Dengan cepat Dion membuka map tersebut dan membaca isinya,


Kevin menghela nafas panjang sebelum mulai berbicara.


"Aku sungguh minta maaf, Di. Kita tidak bisa menyelamatkannya." Tukas kevin dengan nada lesu.


Dion menutup map yang ada di tangannya dan ikut menghela nafas.


Sudah seperti yang ia duga sebelumnya.


Sesaat suasana terasa tegang.


"Dan apartemen ini..." Kevin merasa ragu untuk melanjutkan kata-katanya.


Dion mendengus,


"Awalnya aku berpikir degan ikut menjaminkan apartemen ini, aku akan mendapat tambahan dana dan bisa menyelamatkan perusahaan kita, nyatanya semuanya sudah berakhir sekarang" ujar dion lirih, namun masih bisa di dengar jelas oleh Kevin.


"Kau dan Tasya bisa pulang, Di. Rumah itu juga rumahmu. Kau jarang pulang sejak lulus SMA dan menjadi pemain basket profesional" kali ini ada nada sedih dalam kata-kata Kevin.


Kevin benar, Dion sangat jarang pulang sebelum maupun setelah menikah dengan Tasya. Dion dan Tasya seperti membentuk dunia mereka sendiri di kota ini.


Dan sekarang, Dion dan Tasya sudah menjadi pengangguran dan kehilangan tempat tinggal di kota ini.


Mungkin memang sudah saatnya untuk Dion dan Tasya pulang ke rumah, berkumpul kembali dengan keluarga dan juga sahabat mereka.


"Aku hanya tidak tahu bagaimana akan menyampaikan ini semua pada Tasya. Aku merasa bersalah padanya." Ujar Dion lirih, seakan merasa putus asa.


"Jelaskan perlahan, aku yakin Tasya akan mengerti. Tasya wanita yang baik dan tegar" Kevin menepuk punggung Dion sekedar membetikan kekuatan dan dukungan moril.


Tak akan mudah memang. Tapi Kevin sendiri tak bisa banyak membantu. Kantor pusat yang saat ini Kevin pegang juga ikut kena imbas. Sudah hampir separo karyawan yang terpaksa dirumahkan karena masalah ini.


"Kau tahu, aku mendadak ingat ucapanmu saat itu, tentang kantor cabang yang dipegang oleh Om Bimo..." Dion menjeda kalimatnya dan menatap tajam ke arah Kevin.


"Ya aku belum menemukan orang yang pas sampe sekarang..." tiba-tiba Kevin bisa menebak arah dari kata-kata Dion barusan.


"Tunggu apa maksudmu kamu mau ganti mengurus yang itu?" Tanya Kevin sedikit ragu.


Dion mengangkat bahunya,


"Itupun jika kamu ijinkan. Lagipula bukankah aku sekarang seorang pengangguran yang tak punya tempat tinggal?" Ujar Dion seperti memperjelas statusnya.


Kevin terlihat berpikir sejenak,


"Tapi itu artinya kamu dan Tasya harus pindah ke kota itu..." Kevin masih rerlihat ragu.


"Aku kira tak akan menjadi masalah. Aku dan Tasya bisa menumpang sementara di rumah tante Desi atau mengontrak rumah kecil sambil menabung untuk membeli rumah baru." Dion seperti sudah menyusun sebuah rencana matang.


"Aku ada sedikit tabungan, Di. Kau bisa menggunakannya untuk membeli rumah baru" ujar Kevin cepat.


Namun Dion juga langsung menggeleng dengan cepat,


"Tidak, Kev. Aku tidak bisa. Kau akan membutuhkan uang itu untuk masa depan Axel dan Alice" tolak Dion sehalus mungkin.

__ADS_1


"Aku yakin aku akan menemukan jalan keluar. Aku punya banyak teman di sana, Ada tante Desi dan om Bimo juga" ucap Dion dengan nada yakin dan bersungguh-sungguh.


"Baiklah kalau itu yang menjadi keputusanmu. Hubungi aku saat kau sudah siap pindah, aku akan pesankan tiket untukmu" tukas Kevin pada akhirnya.


Kevin tahu kalau dia sendiri tak bisa berbuat banyak untuk saat ini. Perusahaan yang ia pimpin sedang kacau.


Kevin hanya bisa memberikan dukungan pada Dion.


Dan sementara itu di balik partisi yang memisahkan ruang tamu dan ruang tengah, Tasya masih duduk diam di tempatnya.


Namun, air matanya sudah mengalir deras di kedua pipinya sejak tadi.


Ya,


Diam-diam Tasya menguping pembicaraan Kevin dan Dion barusan. Dion ternyata menyembunyikan semuanya dari Tasya selama ini. Dion selalu berkata semuanya baik-baik saja, padahal ada masalah rumit yang sedang di hadapi oleh suaminya tersebut, dan sekarang...


"Aku akan langsung pulang sore ini" Kevin melirik arloji yang melingkar di tangannya.


Dion mengangguk,


"Terima kasih untuk semuanya, Kev. Maaf aku tidak bisa mengantarmu, aku masih harus menjaga Tasya" ujar Dion merasa tak enak.


"Tak apa, aku mengerti. Sampaikan salamku untuk Tasya." Jawab Kevin sambil beranjak berdiri.


Dion ikut berdiri dan mengantar Kevin hingga pintu depan.


Setelah Kevin masuk ke dalam lift, segera Dion menutup kembali pintu apartemennya.


Dion hendak menuju kamar untuk memeriksa Tasya, namun saat melewati ruang tengah, Dion kaget karen Tasya yang kini sedang duduk bersimpuh di lantai dan...


Bersimbah airmata.


"Nat, apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya Dion dengn nada panik.


Tasya hanya diam tak menjawab.


Dion membantu Tasya untuk berdiri dan membimbingnya agar duduk di sofa ruang tengah.


Dion ke dapur sejenak, mengambilkan segelas air putih untuk istrinya tersebut.


Namun, saat Dion menyodorkannya pada Tasya, wanita itu hanya diam dan tidak mau menerimanya


Dion menghela nafas,


Mungkinkah Tasya mendengar pembicaraannya dengan Kevin barusan?


"Kenapa kamu menyembunyikan semuanya dariku, Di?" Tanya Tasya lirih nyaris tanpa suara.


Dugaan Dion benar, Tasya sudah mendengar semuanya.


Dion meraih tangan istrinya tersebut dan menggenggamnya erat.


Perasaan bersalah membuncah di hatinya.


"Maafkan aku, Nat. Aku hanya tidak mau membebani pikiranmu" jawab Dion merasa bersalah.


"Tapi, bukankah kita sudah sama-sama berjanji untuk membagi semua masalah berdua?" Tasya menatap tajam ke arah netra milik Dion.


"Iya, kamu benar. Seharusnya aku menceritakan semuanya kepadamu sedari awal" jawab Dion penuh sesal. Pria itu kembali menarik nafas panjang.


"Apa apartemen ini bukan lagi milik kita sekarang?" Tanya Tasya dengan nada sedih.


Dion menggeleng,


"Maafkan aku, Nat" jawab Dion lirih. Rasa bersalah benar-benar sudah memenuhi dadanya sekarang.


Terlalu banyak kenangan Dion dan Tasya di apartemen ini. Dan kini mereka harus rela meninggalkannya.


Tasya menghambur ke pelukan Dion.


Tasya tidak mau menyalahkan Dion atas semua yang terjadi.


Ini semua bukanlah salah Dion. Mungkin ini hanyalah satu bagian dari ujian dalam rumah tangga Tasya dan Dion.


"Aku masih ada sedikit tabungan, mungkin kita bisa menggunakannya untuk membeli sebuah rumah kecil untuk anak-anak kita, Di" ucap Tasya masih di dalam pelukan sang suami.


"Tapi, Nat. Tabunganmu itu..." Dion belum menyelesaikan kalimatnya dan Tasya sudah memotong dengan cepat.


"Di, tolong turuti permintaan aku yang satu ini. Toh ini juga untuk anak-anak kita kelak" Tasya sudah mendongak dan menatap tajam ke arah Dion.


Dion menghela nafas,


Mungkin untuk yang satu ini sebaiknya Dion mendengarkan kata-kata Tasya.


Toh ini semua demi kenyamanan Tasya dan anak-anaknya kelak.


"Baiklah kalau begitu. Aku akan bicara pada Vian. Aku rasa dia bisa membantu mencarikan kita rumah di sana." Dion akhirnya mengalah.


Tasya mengangguk dan langsung memeluk Dion kembali.


"Kita akan mulai berkemas besok." Ucap Dion lagi.


Malam menjelang.


Sorot lampu jalan mulai menyelinap masuk melalui jendela besar di sisi ruang tengah tersebut.


Suasana 0yang mungkin akan Tasya rindukan suatu hari nanti.


Terlalu banyak kenangannya bersama Dion di rumah ini.


Dan jangan lupakan tentang tawa Zhia yang pernah menghiasi rumah ini selama beberapa bulan kemarin.


Huh,


Terkadang kita harus melepaskan suatu hal dan mengikhlaskannya, meskipun itu adalah hal yang sangat berharga.


Tasya dan Dion akan memulai lagi lembar kehidupan di tempat yang baru, di kota yang baru.


Mungkin ini memang sudah saatnya bagi mereka berdua untuk meninggalkan kota metropolitan ini.

__ADS_1


__ADS_2