
Sudah sejak satu tahun yang lalu, papa Anton memutuskan untuk hidup bersama dengan mama Sarla.
Sebuah keputusan yang awalnya membuat Tasya sedikit terkejut. Namun saat itu tak ada yang bisa dilakukan Tasya selain memberikan restu kepada papa kandung dan mama angkatnya tersebut.
Mungkin dengan hidup bersama, keduanya tak akan lagi merasa kesepian.
Dan kini, Tasya dan Dion sedang berkunjung ke rumah mama Sarla yang juga merupakan rumah papa Anton.
Pasangan paruh baya tersebut menyambut kedatangan Tasya dan Dion dengan wajah sumringah.
Apalagi setelah tahu kabar mengenai kehamilan Tasya, raut kebahagiaan semakin kentara di wajah keduanya.
"Selamat ya, Sya. Akhirnya semua doa kamu, doa kita semua terjawab" ucap mama Sarla bahagia sambil memeluk Tasya erat.
"Makasih, ma." Ucap Tasya tak kalah bahagia.
Tasya ganti memeluk papa Anton yang juga terlihat bahagia.
Kini impian papa Anton untuk segera menimang cucu akan terwujud sebentar lagi.
Mereka berempat segera masuk ke dalam rumah.
"Kenapa tidak langsung mengabari, Sya. Mama kan bisa datang ke sana merawat kamu" ujar Mama Sarla membuka percakapan.
"Dion sudah merawat tasya dengn baik, Ma" jawab Tasya sambil memandang ke arah Dion yang kini duduk di samping papa Anton.
"Tadinya kami sengaja ingin memberi kejutan untuk semua keluarga di sini" tambah Dion ikut menimpali.
"Bagaimana kondisi papa kamu, Dion?" Gantian papa Anton yang bertanya pada Dion.
"Papa sudah membaik, Pa. Sekarang sudah bisa beraktivitas seperti biasa di rumah" jawab Dion menjelaskan.
"Syukurlah kalau begitu" ujar papa Anton merasa lega.
"Mama dan papa sehat-sehat juga kan?" Tanya Tasya sambil bergantian memandang ke arah mama Sarla dan Papa Anton.
"Iya, Sya. Kami sehat di sini. Kamu tak perlu khawatir" mama Sarla mengusap lembut kepala putrinya tersebut.
"Oh ya, apa kalian juga sudah mendengar tentang info baru mengenai Zhia?" Mama Sarla mengalihkan topik pembicaraan.
"Info apa, Ma?" Tanya Dion sedikit terkejut.
"Salsa dan Ronny tidak menelpon kalian?" Tanya mama Sarla lagi membuat Dion dan Tasya semakin penasaran.
"Memang ada info apa? Orang tua Zhia sudah ketemu?" Tanya Tasya tak sabar
"Belum. Tapi waktu itu Salsa sempat mendengar kabar kalau Zhia sebenarnya adalah korban kecelakaan..." mama Sarla terlihat menghela nafas sebelum melanjutkan kata-katanya.
"Sehari sebelum Zhia ditemukan di depan panti ada dua kecelakan yang terjadi di kota ini. Dan polisi masih belum tahu Zhia adalah keluarga dari oorban kecelakan yang mana. Karena kedua kecelakan itu tidak menyisakan korban selamat satu pun selain Zhia." Lanjut mama Sarla panjang lebar.
"Dan keduanya juga adalah keluarga dari luar kota yang sedang berkunjung ke kota ini. Jadi polisi semakin kesulitan dalam mencari info" tambah papa Anton menyambung cerita mama Sarla.
Dion dan Tasya terdiam sejenak.
Sejak awal bertemu Zhia, gadis kecil itu memang tak mengingat apapaun tentang dirinya sendiri.
Kecuali namanya tentu saja. Itupun hanya nama panggilan. Untuk nama panjangnya, Zhia tak pernah mengingatnya.
Tasya memang menduga kalau Zhia kehilangan ingatannya.
Andai saja waktu itu mereka bisa menemukan keluarga Zhia, mungkin ingatan Zhia bisa kembali.
Namun karena yang hadir di sekitar Zhia adalah orang asing, makanya ingatan Zhia tak pernah kembali hingga gadis kecil itu pergi untuk selamanya.
Mungkin keluarga besarnya menduga Zhia ikut tewas dalam kecelakaan. Karena itu mereka tak mencari gadis itu atau sekedar melapor pada polisi.
Zhia yang malang.
"Apa masih ada kemungkinan untuk kita bertemu dengan keluarga Zhia dan menjelaskan apa yang sudah terjadi pada putri kecil mereka?"
Tanya Dion entah pada siapa.
"Papa rasa kemungkinan itu tetap ada tapi mungkin kecil sekali, Di. Zhia pun sudah beristirahat dengan tenang sekarang" papa Anton yang menjawab pertanyaan dari Dion.
"Tidak ada yang tidak mungkin, Di. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Bisa saja suatu hari nanti kita akan bertemu dengan keluarga Zhia dan kita bisa menceritakan kepada mereka betapa kuatnya Zhia melawan sakitnya" pungkas Tasya berusaha berpikir bijak.
Semua yang ada di ruangan itu mengangguk dan setuju dengan kata-kata Tasya barusan.
"Kalian juga hebat. Karena sudah dengan tulus merawat Zhia..." mama Sarla memuji Dion dan Tasya.
"Dan lihatlah sekarang, kalian mendapat kado indah dari Tuhan berkat ketulusan dan kasih sayang kalian pada Zhia" lanjut mama Sarla sambil mengusap perut Tasya.
Ya,
Tak bisa di pungkiri jika kehamilan Tasya yang hadir setelah kepergian Zhia, seperti menjadi tanda bahwa ini adalah anugrah dari Tuhan untuk Dion dan Tasya.
Dan juga mungkin ini adalah cara Tuhan memberikan penawar rasa sedih Tasya dan Dion setelah kepergian Zhia untuk selamanya.
*****
Tengah malam, Tasya terbangun karena merasa haus.
Ia dan Dion masih menginap di rumah orang tua Dion malam ini. Rencananya besok pagi keduanya baru akan kembali ke apartemen.
Tasya mengambil segelas air minum yang ada di nakas di samping tempat tidur, meneguknya dengan perlahan hingga isinya tandas tak tersisa.
Selesai minum, Tasya baru sadar jika Dion tidak ada di sampingnya. Kemana pria itu?
Pandangan Tasya langsung tertuju ke arah kamar mandi yang ada di dalam kamar.
Tapi kosong juga. Dion tidak ada.
Tasya berpikir sejenak sambil melihat ke arah jam yang tergantung di dinding kamar tersebut.
Pukul sebelas malam.
__ADS_1
Tasya menyambar cardigan yang teronggok di sofa kamar dan segera memakainya.
Membuka pintu kamar perlahan, Tasya menyusup keluar dari dalam kamar.
Tasya melihat ke lantai bawah. Sepi dan gelap. Penghuni rumah itu sepertinya sudah tertidur lelap.
Tasya berjalan menuju tangga yang mengarah ke rooftop rumah ini.
Dengan langkah perlahan Tasya menaiki satu per satu anak tangga yang melingkar tersebut.
Benar saja.
Dion sedang duduk termenung menghadap ke arah kota yang sudah sepi.
Beberapa gedung bertingkat yang terlihat juga tampak gelap.
Hanya lampu jalanan yang masih setia menyorotkan cahaya, untuk menerangi satu dua pengguna jalan yang masih berlalu lalang menembus malam sunyi.
Dion terlihat memutar-mutar bola yang ada ditangannya. Sepertinya pria itu sedang memikirkan sesuatu.
Mengendap-endap, Tasya berjalan ke arah Dion.
Pria itu sebenarnya tak menyadari kehadiran Tasya dan masih asyik dengan pikirannya.
Saat sudah berada tepat di belakang Dion, Tasya mengalungkan kedua lengannya ke leher Dion.
Pria itu segera terlonjak kaget dan langsung berdiri dari posisinya semula.
Dion berbalik dan menatap tajam pada Tasya.
Sejak kapan istrinya itu ada di sini?
"Nat, apa yang kamu lakukan di sini?" Dion mengulurkan tangannya dan mengusap wajah Tasya untuk memastikan kalau yang di hadapannya ini benar-benar Tasya dan bukan orang lain apalagi makhluk lain.
"Kau sendiri, apa yang kau lakukan di sini tengah malam begini?" Tasya menahan tangan Dion agar berhenti meraba-raba wajahnya.
Dion langsung meraup Tasya ke dalam pelukannya.
"Aku hanya menikmati pemandangan malam ini. Maaf kalau aku meninggalkanmu sendirian di kamar" ujar Dion dengan nada menyesal.
"Sebenarnya ada masalah apa, Di?" Tanya Tasya dengan nada khawatir.
Sejak berkunjung ke rumah ini, Dion terlihat sering melamun. Seperti ada masalah besar yang disimpan rapat oleh Dion.
"Tidak ada apa-apa" Dion melepaskan pelukannya pada Tasya dan ganti mengusap pipi istrinya tersebut.
"Jangan berbohong, Di. Kita sudah sama-sama janji untuk tidak menyembunyikan apapun" Tasya menatap tajam ke arah netra sang suami.
Dion tampak menghela nafas,
"Hanya masalah kecil di perusahaan. Aku dan Kevin akan segera menyelesaikannya" ujar Dion akhirnya. Ia sungguh tak mau membuat Tasya memikirkan hal yang tidak perlu.
Tasya tidak boleh banyak pikiran.
"Kau yakin?" Tasya masih ragu.
Dion mengangguk.
"Iya. Sudahlah jangan terlalu memikirkannya" Dion merapatkan cardigan yang dipakai Tasya. Udara malam ini terasa dingin.
"Ayo masuk, udara malam tidak baik untuk ibu hamil" ujar Dion lagi sambil merangkul Tasya dan membimbingnya untuk kembali ke kamar mereka.
Tasya menurut saja. Meskipun jujur dalam hatinya masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang entah akan Tasya tanyakan pada siapa.
*****
Tasya dan Dion baru saja keluar dari ruangan direktur utama rumah sakit tempat Tasya bekerja.
Ya,
Akhirnya setelah berdebat kecil dengan Dion, hari ini Tasya memutuskan untuk resign dan berhenti praktek di rumah sakit ini.
Mungkin memang ini yang terbaik untuk Tasya dan kedua janinnya. Tasya akan fokus saja pada kehamilannya.
Beberapa dokter dan perawat yang sudah menjadi teman baik Tasya selama bekerja di rumah sakit ini, bergantian memeluk Tasya sebagai tanda perpisahan.
Mendadak suasana haru menguar di lorong tersebut.
Beberapa dari mereka mungkin akan rindu dengan kehadiran Tasya di rumah sakit ini.
Tapi ini memang sudah menjadi keputusan Tasya.
Toh nanti sesekali Tasya juga masih akan datang ke tempat ini untuk memeriksakan kehamilannya.
Jadi Tasya rasa, ikatan persahabatan dan kekeluargaan ini tidak akan menghilang begitu saja.
Mereka akan terap menjadi teman serta keluarga bagi Tasya.
Setelah perpisahan singkat yang mengharukan itu berakhir, Tasya dan Dion bergegas meninggalkan rumah sakit yang selama lima tahun terakhir ini sudah menjadi tempat Tasya mengabdi.
Tasya menyeka butir bening yang menggenang di sudut matanya.
"Kau masih bisa berkunjung ke sini dan bertemu teman-temanmu" ujar Dion sambil menggenggam tangan Tasya.
Tasya mengangguk,
Mungkin hal inilah yang kemarin juga di rasakan Dion saat pria itu memutuskan untuk berhenti menjadi pemain basket profesional.
Dion segera melajukan mobilnya untuk kembali pulang menuju ke apartemen.
Di depan lobi apartemen,
"Aku harus segera ke kantor. Apa tidak masalah jika kamu ke ats sendiri?" Tanya Dion sedikit khawatir.
"Aku tidak apa-apa, Di." Jawab Tasya seraya mengangguk.
__ADS_1
"Aku akan pulang saat makan siang. Mau kubelikan sesuatu?" Tanya Dion menawarkan.
Tasya menggeleng,
"Aku akan masak untuk makan siang hari ini" jawab Tasya bersungguh-sungguh.
"Kau yakin?" Dion terlihat ragu dan khawatir.
"Iya, aku yakin. Pergilah!" usir Tasya pada suaminya. Tasya mengecup pipi Dion dan segera turun dari dalam mobil.
Dion menurunkan kaca mobil.
"Telpon aku jika kau berubah pikiran oke" pesan Dion sebelum pergi.
Tasya hanya mengangguk mengerti.
Setelah Tasya melambaikan tangan, segera Dion memacu mobilnya kembali ke jalanan ibukota menuju ke arah kantornya.
Tasya segera masuk ke gedung apartemen itu, dan naik lift menuju ke unit apartemen miliknya.
*****
Aroma sedap masakan menguar tepat saat dion membuka pintu dan masuk ke dalam apartemennya.
Jam makan siang masih sekitar tiga puluh menit lagi, dan Dion sudah tiba di rumah.
Sepertinya Tasya masih asyik di dapur mengolah beberapa bahan.
Dion langsung menuju ke arah dapur.
Benar saja, Tasya yang memakai dress rumahan dan rambut yang di cepol sembarangan sedang asyik berkutat di depan kompor.
Beberapa masakan sudah siap saji dan tertata apik di atas meja. Aroma masakan yang harum sungguh menggugah selera. Perut Dion yang sudah lapar, semakin terasa keroncongan saja.
Dan Tasya sepertinya belum menyadari kehadiran Dion yang sedari tadi terus memperhatikannya.
Tasya masih saja asyik dengan aktivitasnya.
Sejujurnya, Dion merasa gemas dengan penampilan Tasya yang sekarang.
Segala beban di pikirannya seakan menghilang setiap Dion memandang ke arah istrinya tersebut. Apalagi saat Tasya menampilkan senyuman hangatnya...
Rasanya Dion seperti kembali menjadi seorang anak remaja yang sedang kasmaran.
Tasya sudah selesai menggoreng tempe. Setelah mematikan kompor, bergegas wanita itu menyusun tempe gorengnya dengan rapi di atas piring. Tasya berbalik dan akan meletakkannya di atas meja makan.
'Mungkin Dion akan pulang sebentar lagi,' gumam Tasya dalam hati.
Namun saat berbalik, Tasya langsung terlonjak kaget karena Dion sudah duduk bertopang dagu sambil memandangi dirinya.
"Dion, kapan datang?" Tanya Tasya tak sabar. Jantungnya hampir copot karena Dion yang tiba-tiba sudah ada di dalam rumah tanpa Tasya tahu.
Dion melihat arlojinya,
"Sekitar lima belas menit yang lalu, saat istriku sedang sibuk di depan kompor" jawab Dion sambil beranjak berdiri.
Dion mengitari meja makan dan mendekat ke arah Tasya yang sudah selesai menyusun menu makan siang di atas meja makan.
"Kau terlihat cantik saat memasak seperti tadi" Dion melingkarkan lengannya di pinggang Tasya dan menyusupkan wajahnya di ceruk leher sang istri.
"Apa kau sedang merayuku agar aku mau memasak setiap hari?" Tanya Tasya berprasangka buruk.
Dion sedikit terkekeh,
"Kalau iya, apa rayuanku berhasil?" Dion balik bertanya. Pria itu mulai menciumi leher Tasya sehingga membuat Tasya merasa kegelian.
"Tidak. Kau tetap harus memasak untukku malam ini" jawab Tasya sambil tertawa kecil.
Dion tak menjawab, namun tangannya sibuk mengusap perut Tasya yang kini sedikit membuncit.
"Aku sudah lapar, Di. Apa kita bisa makan sekarang?" Sergah Tasya mulai geram. Dion terus saja menciuminya sedari tadi, menbuat Tasya merasa geli.
Tawa Dion meledak,
"Baiklah istriku sayang, aku juga sudah lapar" ujar Dion sambil melepaskan Tasya dari pelukannya.
Dion segera duduk di kursi dan mulai mengambil nasi.
Tasya ikut duduk di kursi yang ada di samping Dion.
Sudah dua hari ini mual yang biasa dirasakan Tasya jarang datang. Dan Tasya akhirnya bisa makan dengan nyaman.
Keduanya kini melanjutkan makan siang dengan sedikit bersenda-gurau.
Beberapa kali Dion memuji masakan Tasya yang memang selalu terasa lezat.
"Kau akan kembali ke kantor lagi?" Tanya Tasya setelah menghabiskan nasi di piringnya.
"Ya, masih ada beberapa pekerjaan dan urusan" jawab Dion sambil mengendikkan bahu.
Memikirkan masalah perusahaan selalu sukses membuat hati dan pikiran Dion menjadi kacau belakangan ini.
Dion meraih gelas berisi air putih di hadapannya dan segera menghabiskan isinya dalam sekali teguk.
"Apa ada masalah di kantor?" Tanya Tasya yang kini sudah berdiri di hadapan Dion.
Tasya bisa menangkap raut kecemasan di wajah Dion.
Namun dengan cepat Dion mengubah raut wajahnya dan tersenyum pada Tasya.
"Semuanya baik-baik saja, Nat." Ujar Dion setenang mungkin. Dan sekali lagi Dion terpaksa berbohong pada sang istri.
Dion tak mau membebani pikiran Tasya. Biarlah dirinya dan Kevin yang menyelesaikan ini semua.
Dion akan membiarkan Tasya selalu bahagia dan menikmati kehamilannya.
__ADS_1