Natasya

Natasya
Kecelakaan


__ADS_3

Flashback,


Sabtu malam.


Vina memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Bayang bayang Bagas yang tertawa bahagia bersama kekasihnya, tak juga hilang dari pikiran Vina.


Hati Vina terasa sakit sekarang.


Vina tak tahu hendak kemana sekarang. Vina ingin melampiaskan seluruh kekesalan dan sakit hatinya.


Hari hampir masuk tengah malam, dan Vina masih berputar putar mengendarai mobilnya.


Hingga akhirnya Vina tiba di salah satu sudut kota yang masih terlihat ramai.


Sebuah gedung dengan lampu berkelap kelip menarik perhatian Vina.


Setelah memarkirkan mobilnya, Vina bergegas masuk ke dalam gedung tersebut.


Hiruk pikuk suara musik menggema ke seluruh ruangan.


Tempat itu adalah sebuah kelab malam.


Tentu saja gadis seusia Vina dilarang masuk ke dalam.


Namun,penampilan Vina malam ini sungguh mengecoh banyak orang. Baju seksi dan dandanan yang lumayan tebal membuat orang mengira Vina adalah seorang wanita dewasa.


Vina langsung duduk dan memesan minuman.


Ia tahu, dirinya tidak bisa minum minuman keras. Namun saat ini, Vina hanya butuh pelampiasan.


Masabodoh kalau nantinya dirinya bakal mabuk berat.


Tiga gelas minuman sudah Vina habiskan.


Matanya mulai berkunang kunang.


"Satu, Bro" sebuah suara yang lembut terdengar dari samping tempat duduk Vina.


Vina menoleh sesaat, ia seperti mengenali cowok tersebut. Tapi entahlah, otaknya kini tak bisa bekerja dengan benar.


"Tumben sendirian. Cewek loe mana?" Seorang bartender menyapa cowok tersebut.


"Haha, lagi jomblo gue. Cariin cewek cantik gih" jawab Cowok tersebut sambil tertawa lepas.


Ia segera meneguk habis minumannya.


Vina masih duduk di sebelah cowok ganteng itu. Kepalanya terasa sungguh berat.


"Tu disebelah loe, ada cewek cantik" ujar bartender itu lagi.


Cowok itupun menoleh,


Ia memperhatikan dengan seksama wajah gadis di sebelahnya.


"Vina?" Ucap cowok itu terkejut.


"Loe siapa? Kok tahu nama gue?" Ucap Vina terbata bata. Sepertinya gadis itu sudah mabuk berat.


"Dia minum berapa gelas bro?" Tanya cowok yang ternyata adalah Denny, teman Dion sekaligus anggota tim basket sekolah.


"Cuma tiga gelas" ucap bartender itu santai.


Denny mendengus.


"Vin, loe sama siapa kesini?" Tanya Denny khawatir.


Yang benar saja, setahu Denny teman Tasya yang satu ini memang terkenal sebagai playgirl. Tapi Denny tak tahu kalau dia mabuk mabukan juga ternyata.


"Hai cowok ganteng, mau jadi pacarku gak?" Ucapan Vina mulai melantur.

__ADS_1


Bergegas Denny memapah Vina keluar dari kelab tersebut.


Denny yang sudah terlanjur meminum alkohol juga, mulai tidak fokus.


Belum lagi pakaian Vina yang sungguh terbuka malam ini membuat pikiran Denny mulai tak karuan.


Ia sudah membawa Vina duduk di dalam mobilnya.


Tapi sekarang Denny bingung, kemana ia akan membawa Vina?


Denny melajukan mobilnya membelah jalanan kota yang sudah mulai lengang.


Vina yang duduk di sampingnya terus saja meracau tak jelas. Gadis itu sepertinya memang sudah mabuk berat.


"Sial, sial sial" Denny membentur benturkan kepalanya ke atas stir mobil.


Mendadak ia merasa menyesal telah membawa Vina ikut bersamanya.


Rok mini yang dikenakan Vina sungguh membuat konsentrasi Denny buyar.


Belum lagi tangan Vina yang terus terusan mencoba untuk merangkulnya, membuat Denny tak dapat lagi berpikir jernih sekarang.


Ia membelokkan mobilnya menuju basement sebuah apartemen mewah.


*****


Vina mengerjapkan matanya, mencoba menyesuaikan dengan cahaya matahari yang masuk melalui sela sela tirai jendela.


Kepala Vina terasa berat, seperti tertimpa batu besar.


Vina memandang langit langit kamar tersebut, berbeda dari yang biasa dia lihat setiap pagi. Membuat Vina sadar, dirinya tidak sedang berada di rumahnya.


Vina merasakan ada sebuah tangan besar yang menindih tubuhnya.


Setelah mengumpulkan segenap kesadarannya, Vina meraba raba tangan tersebut, demi mencari tahu siapa pemiliknya.


Saat mendapati siapa pemilik tangan besar tersebut, Vina terlonjak kaget.


Vina menjerit tak percaya.


"Astaga, apa yang kulakukan?" Vina mulai merutuki dirinya sendiri.


Vina mencoba mengingat ingat apa yang terjadi semalam.


Namun sia sia, ia hanya ingat dirinya mabuk berat karena minum alkohol yang entah berapa gelas. Dan sekarang dirinya berakhir di tempat asing ini bersama


Denny?


Si cowok playboy di sekolahnya?


"Gak mungkin gak mungkin gak mungkin. Ini cuma mimpi ini cuma mimpi. Bangun Vina ! Ayo bangun" Vina memukul mukul kepalanya sendiri, berharap ini semua hanyalah mimpi.


Denny yang mendengar keributan di samping ranjangnya segera bangun.


"Vin, loe ngapain?" Tanya Denny polos


"Loe yang udah ngapain gue?" Jawab Vina galak.


Denny tersenyum simpul.


"Loe juga ngapain semalam mabuk? Udah mabuk pakai baju gak bener. Untung yang nemuin loe gue. Coba kalo om om tua mau jadi apa loe?" Denny menatap sinis pada Vina.


Seketika gadis itu mencebik. Butir butir air mata mulai jatuh di pipi Vina.


Denny yang tadinya merasa kesal kini berubah menjadi iba.


"Loe kenapa? Bukannya ini hal biasa buat loe?" Tanya Denny serius.


"Gue bukan cewek gampangan kayak yang orang orang bilang di sekolah, Den.


Gue bahkan belum pernah pacaran dan punya cowok sejak masuk SMA" cerita Vina sambil menangis tersedu sedu.

__ADS_1


Seketika Denny merasa terhenyak.


Dirinya memang cowok nakal yang suka berganti ganti teman kencan. Namun kebanyakan yang Denny ajak berkencan adalah cewek cewek yang juga sama seperti dirinya.


Baru kali ini Denny membawa seorang cewek polos seperti Vina.


Denny mengusap kasar wajahnya.


"Vin, gue beneran gak tahu. Gue minta maaf" Denny hendak memeluk Vina demi menenangkan gadis tesebut.


Namun Vina memilih untuk menjauh.


"Gue mau pulang" ucap Vina lirih.


"Gue antar, oke" kata Denny lembut.


Flashback off


******


Vina menatap kosong ke arah pintu masuk kantin.


Sesekali, ia menyesap jus jeruk yang ada di hadapannya.


Vina sudah berusaha untuk melupakan kejadian waktu itu, namun ketakutan ketakutan masih saja menghantui pikirannya.


Hal paling buruk yang Vina takutkan tentu saja, ia takut kalo dirinya akan hamil.


Papinya pasti marah besar.


Vina juga masih ingin sekolah dan kuliah seperti teman temannya yang lain.


"Vin," Salsa menepuk pelan bahu Vina, membuat gadis itu terlonjak kaget.


"Salsa, Tasya?" Ucap Vina merasa terkejut.


"Loe kenapa melamun? Apa ada masalah?" Tanya Tasya serius.


Vina menggeleng.


Suasana sejenak hening.


Tasya dan Salsa duduk di kursi yang masih satu meja dengan Vina.


Dari arah pintu masuk kantin terdengar suara segerombolan anak laki laki.


Suara tertawa yang lumayan keras dari Julian dan Rizky, membuat Tasya paham gerombolan siapa yang datang.


"Hai Tuan putri Tasya," Rizky menyapa Tasya sambil cengengesan. Sontak Dion langsung menjitak sahabatnya tersebut.


"Hai Rizky," Tasya membalas sapaan dari Rizky dengan tersenyum lebar.


Dion menghampiri Tasya,


"Nanti pulang aku anter, oke" ucap Dion sedikit berbisik.


Tasya mengangguk saja.


Dion menyusul teman temannya untuk duduk di meja lain yang tidak jauh dari meja Tasya.


Denny melihat ke arah Vina yang sedari tadi hanya diam. Sesaat pandangan keduanya bertemu. Namun dengan cepat Vina membuang mukanya.


Ia sungguh tidak mau melihat wajah Denny saat ini.


Denny mengernyit bingung.


Ia semakin merasa bersalah pada Vina.


"Den, loe mau duduk gak?" Suara dari Rizky membuyarkan lamunan Denny yang ternyata masih berdiri di dekat meja Tasya sedari tadi.


Bergegas Denny menyusul teman temannya untuk duduk.

__ADS_1


__ADS_2