
"Vina kemana, Sil?" Tanya Julian pada Silvi. Sudah tiga hari Vina tidak hadir di sekolah.
Silvi mengendikkan bahu
"Gue gak tahu" jawab Silvi acuh. Ia sibuk dengan urusannya beberapa hari belakangan. Bahkan Silvi tak sempat menghubungi Vina meskipun sekedar bertanya kabar.
Entahlah, pikiran Silvi juga sedang kacau.
Tasya dan Salsa yang duduk di bangku di belakang Silvi saling menatap.
Setelah Julian berlalu, Salsa maju kedepan dan duduk di bangku di sebelah Silvi.
"Sil, udah tahu kabar soal Vina belum?" Tanya Salsa sedikit berbisik.
Silvi menatap tajam pada Salsa. Sejak kapan gadis ini berani mengajaknya bicara? Bukankah beberapa bulan belakangan mereka saling mendiamkan?
Tapi Silvi juga penasaran dan ingin tahu kabar soal Vina, jadi Silvi putuskan untuk menanggapi saja pertanyaan dari Salsa.
"Kabar apa? Kalo kalian tahu soal Vina, kenapa tadi gak kalian jawab aja pertanyaan dari Julian?" Jawab Silvi sedikit ketus.
Entahlah, Silvi belum bisa mengontrol nada bicaranya pada Salsa dan Tasya.
"Vina mau merried" ucap Salsa sambil berbisik di telinga Silvi.
"Serius loe?" Silvi yang terkejut dengan pernyataan dari Salsa langsung bangkit dari tempat duduknya dan melotot tajam ke arah Salsa serta Tasya.
Salsa dan Tasya mengangguk berbarengan.
"Serius lah. Ngapain juga kita ngarang hal kayak gitu" jawab Salsa sambil memutar bola matanya.
"Tapi masalahnya apa? Trus mau merried sama siapa?" Tanya Silvi tak sabaran.
"Ish, pelanin suara loe. Gue jelasin semuanya. Dengerin!" ucap Salsa sedikit kesal.
Silvi kembali duduk di bangkunya. Ia menarik nafas panjang dan mulai mengatur emosinya.
"Jadi Vina itu sekarang lagi hamil, jadi dia terpaksa mau dinikahkan sama papinya" jelas Salsa.
Sontak hal itu membuat Silvi kembali terkejut.
"Hamil? Sama siapa?" Tapi kali ini Silvi memilih tidak berteriak. Ia berbicara dengan berbisik meskipun tampak sekali ekspresi keterkejutan di wajahnya.
"Sama Denny. Kami berdua juga kaget pas kemarin tahu" kali ini Tasya yang menjawab.
"Sama playboy itu? Kok bisa sih?" Tanya Silvi semakin terkejut. Berbagai pertanyaan memenuhi kepalanya sekarang.
Tasya mengendikkan bahu.
"Loe bisa tanya langsung ke anaknya. Nanti pulang sekolah rencana kita mau kerumahnya. Loe mau ikut?" Tanya Salsa menawarkan.
Sebenarnya sudah sejak dua hari yang lalu Salsa dan Tasya berencana menemui Vina dan menanyakan kelanjutan hubungannya dengan Denny.
__ADS_1
Namun, mereka berdua masih sibuk mengurus kak Ronny. Dan hari ini semua urusan tentang kak Ronny baru beres.
Makanya mereka berencana mengunjungi Vina hari ini.
Dan tadi pagi, Tasya mendapat kabar dari Dion bahwa Denny dan Vina akan segera menikah.
Terang saja hal itu membuat Tasya dan Salsa semakin penasaran apa yang sebenarnya sudah terjadi dua hari kemarin.
Silvi langsung mengangguk yakin. Ia benar benar akan menginterogasi Vina tentang semua yang telah terjadi. Bisa bisanya dirinya tak tahu tentang kabar sebesar ini.
Ya, meskipun ini sebenarnya juga salahnya. Karena terlalu cuek pada Vina. Masalahnya sendiri juga rumit belakangan ini, jadi wajar bila akhirnya Silvi mengabaikan Vina.
"Jadi, kita tetap teman kan?" Tanya Salsa sedikit memberi kode pada Silvi.
"Emang sejak kapan kita jadi musuh?" Silvi memutar balikkan fakta. Salsa hanya memutar bola matanya.
Selama tiga tahun mengenal Silvi, ia sudah benar benar hafal sifat temannya yang satu ini. Selalu tidak pernah mau disalahkan.
Jadi Salsa memilih untuk mengalah dan memakluminya saja
*****
Tiga sahabat itu sudah sampai di rumah Vina.
Suasana sepi.
Namun seorang pelayan mempersilahkan ketiganya untuk langsung masuk menuju kamar Vina.
Selang beberapa saat, pintu dibuka dari dalam. Tampak Vina yang masih mengenakan baju tidur.
'Apa gadis ini baru saja bangun?' Gumam tiga sahabat itu.
Vina yang melihat ketiga sahabatnya langsung berbinar binar dan menghambur ke pelukan mereka.
"Akhirnya kalian datang" ucap Vina girang.
"Loe gak ada kabar ngapain aja sih di rumah?" Omel Salsa.
"Gue punya banyak pertanyaan buat loe" Silvi gak mau kalah. Ia langsung menunjuk ke arah Vina.
"Jadi, apa yang terjadi kemarin lusa?" Tasya ikut ikutan bertanya.
"Papi marah besar. Denny di tampar dua kali sama papi dan dimaki maki" jawab Vina sembari mendaratkan bokongnya dengan santai ke atas sofa yang ada di kamarnya.
Vina memang seorang putri tunggal. Kamarny besar bak kamar seorang tuan putri.
Sang papi sangat memanjakan Vina, mengingat Vina adalah putri satu satunya.
Mami Vina sudah meninggal sejak Vina masih kecil.
"Trus trus?" Salsa merasa penasaran.
__ADS_1
Vina mengendikkan bahu.
"Denny pantang menyerah ternyata. Gue kira dia bakalan kabur dan ninggalin gue setelah di maki maki sama papi. Tapi ternyata enggak. Malahan kemarin dia datang kesini bareng orang tuanya buat ngelamar gue" Cerita Vina panjang lebar.
"Gue bingung, kok elo bisa sama Denny sih? Bukannya selama ini loe tergila gilanya sama Bagas?" Silvi tak dapat lagi memendam rasa penasarannya
"Gak usah bahas Bagas lagi. Gue sakit hati. Gara gara dia juga gue jadi kayak gini" ucap Vina penuh emosi.
"Kok bisa gara gara Bagas? Masalah loe sebenernya bagaimana sih Vin?" Tanya Tasya bingung.
"Lah iya. Gara gara Bagas punya cewek baru, gue kan kesel. Trus gue ke klub, gue minum sampai mabuk. Trus gue ketemu Denny dan jadi nglakuin hal bodoh itu. Sekarang gue hamil dan harus nikah sama seorang playboy." Cerita Vina sedikit kesal.
"Jadi ini semua terjadi gara gara loe patah hati gitu? Konyol banget sih hidup loe, Vin" Salsa menanggapi cerita Vina. Antara prihatin dan sedikit tak mengerti.
Salsa sungguh tak menyangka kalau patah hati benar benar bisa membuat seseorang berbuat hal konyol seperti Vina, yang akhirnya harus menghancurkan masa depannya sendiri.
"Iya, gue tahu gue bodoh. Gak perlu loe perjelas juga, Sal" ucap Vina masih kesal.
Dalam hati Vina sungguh menyesal dengan apa yang telah terjadi pada hidupnya. Namun apa mau dikata, semua,sudah terlanjur.
Nasi sudah menjadi bubur.
"Gak gitu juga, Vin. Kita ikut prihatin sama apa yang menimpa loe saat ini" ucap Salsa bersungguh sungguh.
"Iya, makasih atas perhatian kalian" balas Vina sedikit lirih.
"Trus kelanjutannya gimana?" Tanya Tasya mencoba mencairkan suasana yang mendadak terasa tegang.
"Ya lusa gue bakal nikah sama Denny." Jawab Vina merasa malas.
Entah bagaimana hidupnya nanti kedepannya. Bersuamikan seorang playboy.
Ketakutan ketakutan mendadak memenuhi otak Vina.
"Sekolah loe gimana? Kan bentar lagi kita lulus, Vin" ujar Salsa menyayangkan.
Vina terlihat menarik nafas panjang.
"Gue dan Denny tetep ke sekolah seperti biasa. Pernikahan dirahasiakan. Jadi kalian bertiga jangan ada yang ember" jelas Vina sambil mengancam ketiga temannya tersebut.
"Yang tahu siapa aja selain kita bertiga?" Tanya Silvi penasaran.
"Dion." Jawab Vina singkat.
Vina rasa memang hanya ketiga temannya dan Dion yang tahu semua ini.
Vina berharap semua temannya tersebut bisa menjaga rahasia besar ini. Setidaknya sampai mereka lulus beberapa bulan lagi.
"Ya udah, Vin. Gak usah terlalu loe pikirin juga. Jaga kesehatan yang terpenting" saran Tasya mencoba bijak.
Bagaimanapun semua sudah terjadi. Penyesalan memang selalu datang di akhir.
__ADS_1
Vina, Salsa, dan Silvi mengangguk. Membenarkan kata kata dari Tasya.