
Tasya sedang tertidur di kamar, saat Dion kembali.
Dion memeriksa suhu badan Tasya sekali lagi untuk memastikan jika istrinya itu benar-benar tidak sedang sakit.
"Huh," Dion menghela nafas setelah tahu bahwa suhu badan Tasya masih normal. Mungkin Tasya hanya kecapekan.
Bergegas Dion keluar dari kamar untuk membongkar belanjaan dan menyiapkan makan siang untuk Tasya.
"Dion, kamu udah pulang?" Tasya keluar dari kamar sambil mengucek matanya, tepat saat Dion selesai memindahkan siomay ke piring.
"Aku baru saja datang. Aku membelikan pesananmu" ujar Dion sambil menyodorkan sepiring siomay pada Tasya.
"Terima kasih, Di" ucap Tasya sambil tersenyum.
"Sama-sama. Kau harus menghabiskannya" Dion mengusap lembut kepala Tasya lalu duduk di samping Tasya dan melihat ke arah istrinya yang makan dengan lahap.
"Kau tidak beli?" Tanya Tasya saat sadar Dion hanya memperhatikannya dan tidak ikut makan.
"Melihatmu makan, aku sudah kenyang" jawab Dion sok romantis.
Sontak Tasya langsung mencibir.
"Gombal" ucap Tasya seraya mengunyah siomay nya yang terakhir.
"Ya, sebenarnya aku sudah makan tadi dua porsi sebelum kau bangun" Dion menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Tasya pun langsung tertawa,
"Sudah aku duga. Dasar tukang makan" Tasya mencubit perut Dion.
"Auuw, sakit Nat!" Protes dion sambil memegang perutnya yang habis di cubit oleh Tasya.
"Halah, lebay. Biasa di court di sodok-sodok sama pemain lain juga biasa aja" Sergah Tasya cepat.
Dion hanya mencebik.
"Kamu gak ada romantis-romantisnya sama aku" keluh Dion masih mencebik.
Tasya benar-benar ingin tertawa geli sekarang melihat ekspresi dari suaminya tersebut.
"Kita bukan anak SMA lagi, Di." ujar Tasya sambil beranjak dari duduknya.
Tasya membawa piring bekas siomay ke wastafel yang ada di dapur dan mencucinya.
"Aku sudah membelikannya, setelah ini bagaimana kalau kita tes" Dion menunjukkan sebuah alat tes kehamilan.
Tasya menghela nafas,
"Tunggu bulan depan saja, Di." tawar Tasya.
"Kenapa harus bulan depan? Ayolah, biar aku yang melakukannya" Dion sedikit memaksa.
Tasya mendengus kesal.
"Baiklah, baik."ucap Tasya kesal.
Tasya pun masuk ke kamar mandi dan sedikit membanting pintu.
Tak berselang lama, Tasya sudah kembali keluar lagi.
"Ada di dalam" tukas Tasya dengan nada kesal.
Dion pun segera masuk ke dalam kamar mandi, dan melakukan tes.
Tadinya Tasya ingin pergi dan mengabaikan saja dengan apa yang di lakukan Dion.
Tapi mendadak jiwa keponya meronta. Tasya sungguh pensaran dengan hasilnya.
Kalau benar dirinya sudah terlambat satu bulan, bukankah seharusnya alat itu menunjukkan dua garis merah?
Akhirnya Tasya mengekori Dion dan ikut masuk ke dalam kamar mandi.
"Gimana?" Tanya Tasya pada Dion yang masih serius melihat hasil tes.
"Kita tunggu sebentar" ucap Dion sambil merangkul Tasya.
Dan kini, alat itu mulai bekerja dan menunjukkan hasilnya...
Satu garis merah sudah terlihat jelas, dan yang satu lagi....
Dion dan Tasya masih menunggu,
Namun sepertinya tak mengubah apapun.
Garis merah itu tetap hanya satu dan tak berubah menjadi dua.
Tasya menghela nafas kecewa. Wanita itu langsung melepaskan rangkulan Dion dan berjalan lesu keluar dari kamar mandi.
"Dasar bodoh!" Tasya merutuki dirinya sendiri.
Seharusnya tadi Tasya tak perlu melihat hasil tes itu.
Harusnya juga Tasya tak perlu menuruti rasa keponya.
"Nat..." Dion setengah berlari menyusul Tasya yang masih tertunduk lesu dan berjalan ke arah kamar.
__ADS_1
"Hey, Nat..." Dion merangkul pundak istrinya tersebut.
"...tak apa, Nat. Kita hanya harus mencobanya lebih keras lagi" lanjut Dion dengan nada sedikit bercanda.
Tasya tak menjawab. Wanita itu hanya tertunduk.
Namun, bahu Tasya yang mulai bergerak naik turun, menandakan kalau Tasya sedang menangis sekarang.
Dion segera mendekap erat istrinya tersebut.
"Maaf," kata itu yang akhirnya keluar dari bibir Tasya.
"Tidak perlu minta maaf, Nat. Ini bukan kesalahan kamu" Dion mengusap lembut pundak Tasya, berusaha untuk menenangkan istrinya tersebut.
"Tapi aku udah ngecewain kamu lagi, Di" cicit Tasya di sela-sela isak tangisnya.
Dion mengernyit tak mengerti.
"Jangan kamu pikir aku gak tahu. Selama ini, kamu sering menangis saat malam di kamar Zhia. Lalu kamu juga menyimpan foto dan video bayi-bayi itu dan menontonnya diam-diam saat aku tidur..." Tasya masih sesenggukan.
"...selama ini kamu selalu diam, kamu selalu mengatakan kepadaku kalo kamu baik-baik saja dengan keadaan ini. Tapi kamu menyembunyikan semuanya. Kamu menyembunyikan semua perasaanmu kalau sebenarnya kamu merindukan dan sangat menantikan kehadiran mereka..." Tasya mulai meluapkan emosinya.
Dion terdiam,
Dalam hati ia mengakui jika semua perkataan Tasya benar adanya. Dion memang merindukan kehadiran seorang anak.
"Aku memang seorang istri yang tak berguna" lanjut Tasya masih menangis sesenggukan.
"Nat, jangan bicara seperti itu" Dion segera meraup Tasya ke dalam pelukannya.
"Kamu istriku yang terbaik, Nat." Ucap Dion sekali lagi.
Namun Tasya menggeleng,
"Aku tidak pernah sebaik yang kamu katakan, Di. Kamu selalu melakukan semua hal untuk membuatku bahagia, namun aku tak pernah bisa membuatmu bahagia. Bahkan aku belum bisa memberikanmu seorang anak selama lima tahun ini" ujar Tasya dengan air mata bercucuran.
"Nat..." bahkan kini Dion sudah kehilangan kata-kata untuk meredakan emosi sang istri.
"Kamu tak perlu lagi menyembunyikan semua itu demi menjaga peraaanku, Di. Aku memang bukan istri yang sempurna" tukas Tasya lirih.
Tasya melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar.
"Nat..." Dion memegang bahu Tasya, berharap ada kata yang bisa ia ucapkan untuk sekedar menghibur Tasya.
Namun Tasya menolak, dengan cepat wanita itu melepaskan pegangan tangan Dion di bahunya.
"Aku sedang ingin sendiri, Di. Maaf" ucap Tasya akhirnya.
Wanita itu langsung masuk ke kamar, menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Tasya menangis sambil bersandar di pintu kamarnya.
Nat, buka pintunya" pinta Dion dengan nada memohon.
Dion sungguh tak mengerti kenapa Tasya mendadak jadi seperti ini.
Namun Tasya masih tak bergeming. Wanita itu menangis sesenggukan di balik pintu kamar.
Pun Dion tak beranjak dari tempatnya.
Dion masih menunggu Tasya di depan pintu kamar, masih berharap istrinya itu akan membuka pintu agar Dion bisa masuk ke dalam lalu merengkuhnya ke dalam pelukan dan meredakan semua tangis serta kesedihan Tasya
Sesaat Dion merasa menyesal karena telah membuat istrinya tersebut kembali bersedih.
Andai saja Dion tak memaksa Tasya melakukan tes kehamilan bodoh itu, mungkin kini dirinya dan Tasya masih bersenda gurau di sofa ruang tengah.
"Ah, dasar bodoh" Dion mengusap wajahnya dengan kasar. Sekali lagi Dion merutuki dirinya sendiri.
*****
Langit di luar gedung apartemen sudah berubah gelap.
Hari sudah beranjak malam.
Cahaya dari lampu jalan dan gedung-gedung tinggi di kiri kanan gedung apartemen itu berpendar menembus je dela di sisi kamar Tasya yang belum tertutup tirai.
Tasya baru saja membuka matanya yang terasa tak nyaman.
Wanita itu duduk di pinggir ranjang dan sedikit mengusap matanya yang kini terasa bengkak.
Ya, Tasya terlalu banyak menangis siang tadi.
Perutnya juga terasa keroncongan sekarang.
Tasya masuk ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Tasya tak tahu apa yang sedang di lakukan Dion di luar sana sekarang. Tasya mengunci pintu kamar sedari siang.
Tasya menatap bayangan wajahnya yang sembab di cermin yang ada di kamar mandi.
Apa dirinya bersikap berlebihan siang tadi?
Dion pasti khawatir.
Sebaiknya Tasya segera keluar dan minta maaf pada Dion.
Setelah mengeringkan wajahnya, Tasya bergegas membuka pintu kamar.
Sedikit Terlonjak kaget, saat Tasya mendapati Dion yang masih duduk bersandar di depan pintu kamar dan... tertidur.
__ADS_1
Ya, Dion tertidur dan bersandar di depan pintu kamar.
Pria itu terlihat kaget juga dan langsung terjatuh saat Tasya membuka pintu kamar.
"Astaga, Dion. Apa yang kamu lakukan disini?" Tasya segera membantu Dion untuk bangun. Pria itu masih terlihat sempoyongan dan belum sadar sepenuhnya.
"Aku menunggumu membuka pintu, Nat. Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Dion khawatir.
Tasya mengangguk.
"Nat, aku sungguh minta maaf atas..." Dion belum menyelesaikan kalimatnya saat Tasya tiba-tiba saja sudah menghambur ke pelukannya.
"Aku yang seharusnya minta maaf, Di. Sikapku terlalu berlebihan siang tadi." Ucap Tasya memotong kalimat Dion.
Dion tersenyum.
"Apa kamu sudah baik-baik saja sekarang?" Tanya Dion seraya menangkup wajah Tasya, tatapan mata keduanya saling bertemu.
Tasya mengangguk,
"Ya," jawab Tasya lirih.
"Jangan pernah berkata seperti tadi, Nat. Kamu istriku, dan aku mencintaimu" ucap Dion bersungguh-sungguh sambil menatap ke dalam netra milik Tasya.
"Maaf, Di" sekali lagi Tasya merasa bersalah.
"Sudahlah kita lupakan saja semuanya" tukas Dion sebelum merengkuh kembali Tasya ke dalam pelukannya.
"Kau lapar?" Tanya Dion lagi.
Tasya mengangguk.
"Baiklah, ayo mandi dan kita makan di luar" lanjut Dion bersemangat.
Tasya hanya tertawa kecil seraya mengangguk, mengiyakan ajakan dari suaminya tersebut.
*****
Tasya dan Dion sedang menikmati makan malam di bagian outdoor sebuah resto tak jauh dari apartemen mereka.
Bahkan tadi keduanya memutuskan untuk berjalan kaki ke tempat ini, agar bisa sekalian menikmati suasana malam di kota metropolitan ini.
"Lihat, wajahmu jadi sembab karena menangis" Dion mengusap lembut pipi Tasya, pria itu juga sedikit merapikan beberapa anak rambut Tasya yang jatuh ke wajah istrinya tersebut.
Tasya tersenyum sedikit tersipu,
"Hentikan, Di! Kita sedang di luar" sergah Tasya merasa tidak nyaman dengan sikap Dion yang menurutnya berlebihan tersebut.
"Apa masalahnya? Kamu istriku. Lagi pula aku kan tidak sedang berbuat mesum" jawab Dion membela diri.
Jawaban dari Dion tadi sontak langsung membuat Tasya memutar bola matanya.
'Ya...ya...ya...
Terserah kau saja' gumam Tasya dalam hati. Ia benar-benar malas ribut dengan Dion sekarang, mengingat mereka berdua yang baru saja berbaikan tadi.
"Ingat tidak, dulu saat masih SMA kita sering diem-dieman hanya karena masalah kecil." Dion kembali mengenang saat ia dan Tasya masih duduk di bangku SMA dan baru beberapa bukan menjlain hubungan.
"Kamu aja yang hobi ngambek dan cemburuan. Aku kan gak pernah ngambek" cibir Tasya seraya membela diri.
Dion tertawa kecil,
Kalau di pikir-pikir dulu dirinya memang sering meributkan hal-hal kecil yang sebenarnya sangat tidak perlu.
"Aku hanya belum bisa mengendalikan emosiku saat itu, Nat" Dion mencari pembelaan.
"Tapi ngomong-ngomong, aku juga jadi ingat. Kita pernah jadian kah saat SMA dulu? Seingatku kamu gak pernah gitu nembak aku" Tasya mencoba mengingat-ingat kembali.
"Emang gak pernah" sergah Dion cepat.
"Kan ceritanya kita temenan aja waktu itu" lanjut Dion lagi.
"Teman rasa pacar, ya. Hahaha" Tasya ikut-ikutan menimpali.
"Tapi lumayanlah, jadi dapat tumpangan gratis tiap hari ke sekolah" lanjut Tasya lagi sambil terkekeh.
"Hmmmm, jadi ceritanya waktu itu aku cuma jadi kang ojek kamu gitu?" Dion pura-pura tak terima.
Tasya semakin terkekeh,
"Kan kamu juga tidak keberatan, lagian sekarang kan udah dapat bonusnya" Tasya masih terkekeh.
"Bonus apaan? Nanti malam ada bonus lagi gak?" Dion sedikit berbisik di telinga Tasya.
"Mulai deh.. ngomongin apa... pikirannya kemana" Tasya sedikit menaikkan nada bicaranya. Sepertinya wanita itu mulai kesal.
Namun bukannya takut atau merasa bersalah, Dion malah tertawa renyah.
"Kalau dekat kamu bawaannya pengen mesum terus" sekali lagi Dion berbisik di telinga Tasya yang sontak membuat wanita itu langsung mencubit lengan Dion.
"Auuuw" Dion mengaduh keakitan.
Lelaki itu baru saja akan protes, namun kedatangan pelayan yang membawakan pesanan makanan mereka berdua segera membuat Dion mengurungkan niatnya.
Setelah pelayan itu selesai mengantarkan makanan, Tasya dan Dion segera menikmati makanan sambil sesekali bersenda gurau.
__ADS_1