
"Sil, kamu kan temen deketnya Tasya, menurut kamu Tasya itu sudah punya cowok belum?" Tanya Kevin pada Silvi yang kini sedang asyik mengotak atik ponselnya.
Keduanya baru pulang dari acara nongkrong di mall sore tadi. Saat Tasya tiba tiba pamit pulang duluan.
Yang lebih membuat Kevin bertanya tanya adalah, Kevin yang tak sengaja melihat Tasya masuk ke sebuah mobil mewah berwarna putih.
Setahu Kevin, Tasya berasal dari keluarga biasa dan setiap bepergian bersama mamanya, Tasya biasanya dibonceng sang mama naik motor.
Lantas kenapa tadi sore Tasya di jemput oleh mobil mewah?
Berbagai pertanyaan berkecamuk di kepala Kevin. Ia sebebarnya tak mau menerka nerka. Namun tetap saja yang ada di kepalanya sekarang adalah prasangka prasangka yang entah benar entah tidak.
"Tasya itu belum punya pacar, kak. Berapa kali Silvi harus kasih tahu" Silvi memutar bola matanya karena jengah.
Kevin seperti tak mempercayai dirinya. Padahal di sekolah, Silvi banyak menghabiskan waktu bersama Tasya. Apalagi saat berangkat dan pulang sekolah, Silvi lah yang mengantar Tasya sampai kerumahnya.
Ya, kecuali saat Tasya pamit pulang di jemput mamanya atau ada keperluan lain, tentu saja saat itu, Silvi tak bersamanya.
Tapi tetap saja, Silvi tak pernah melihat Tasya dekat dengan seorang cowok. Menurut Silvi, Tasya itu gadis polos yang tidak suka tebar pesona ataupun me cari perhatian pada cowok cowok di sekolah. Jadi mustahil kalau Tasya sudah punya pacar tanpa Silvi ketahui.
"Tapi, Sil. Kenapa Tasya seperti selalu menghindar saat aku mencoba mendekatinya. Apa ada yang salah dengan caraku mendekatinya?" Tanya Kevin polos.
Silvi pun tertawa terbahak bahak dengan pertanyaan konyol Kevin.
"Ya, kali aja Tasya emang gak tertarik sama kak Kevin. Atau mungkin kak Kevin memang bukan tipe cowok idaman Tasya" jawab Silvi asal bunyi sambil masih menertawakan sepupunya tersebut.
Mama Wina yang mendengar tawa Silvi menghampiri dua remaja tersebut.
"Bahas apa ini? Kayaknya seru" timpal Mama Wina yang langsung mengambil posisi duduk di samping Silvi.
"Ada yang galau tant, cintanya bertepuk sebelah tangan" jawab Silvi sambil terkekeh.
__ADS_1
Kevin hanya mencebik.
"Wah wah ada yang sudah mulai cinta cintaan nih. Mama jadi penasaran secantik apa sih cewek yang bikin Kevin jadi galau" mama Wina ikut menggoda Kevin.
"Cantik lho, tant. Udah gitu anaknya lugu dan pendiem" jelas Silvi secara lebay.
"Sekelas sama kamu ya, Sil?" Tanya mama Wina.
"Iya, tant. Kapan kapan Silvi ajak main kesini deh. Biar kak Kevin gak galau galau terus" ucap Silvi sambil terkekeh.
Kevin hanya mencibir. Mencoba cuek dan tak menanggapi celotehan dari adik sepupunya tersebut.
Saat mereka sedang asyik membahas soal cewek gebetan Kevin, tiba tiba terdengar langkah kaki yang mendekat ke arah mereka.
Mama Wina menoleh ke arah sumber suara. Rupanya Dion yang baru pulang.
"Dion, baru pulang nak? Duduk sini ngobrol" mama Wina menyapa Dion dengan hangat dan ramah.
Dion menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah mama Wina.
Mama Wina tak memaksa lagi dan hanya mengangguk sambil tersenyum.
Dion melanjutkan langkahnya menuju tangga dan naik menuju ke kamarnya.
"Eh ngomong ngomong pacarnya Dion cantik lho" ucap Mama Wina antusias.
Ia kembali ingat gadis yang bersama Dion beberapa hari yang lalu.
Gadis yang bisa membuat Dion tertawa lepas.
Silvi yang baru menyesap jus jeruknya langsung tersedak mendengar kata kata dari Mama Wina.
__ADS_1
"Dion punya pacar? Serius tant?" Ucap Silvi setengah berteriak.
Ia sungguh tak percaya seorang Dion bisa punya pacar.
Silvi berpikir pastilah pacarnya juga ketus dan dingin kayak Dion.
"Ia. Tante ketemu pas kemarin mampir di rumah tante Desi, tantenya Dion.
Namanya Nat Nat siapa gitu. Tante lupa" mama Wina mencoba mengingat ingat. Namun tetap saja ia tak bisa mengingatnya.
"Silvi penasaran. Kayak apa pacarnya seorang Dion" Silvi terkikik sendiri membayangkan siapa yang menjadi pacar Dion.
"Syukur lah kalau akhirnya dia punya pacar. Mungkin dengan begitu dia gak akan ketus dan dingin lagi" ucap Kevin penuh harap.
Dirinya sejujurnya sudah jengah menghadapi sikap ketus Dion.
*****
Dion merebahkan dirinya di atas tempat tidurnya. Memandang langit langit kamarnya yang berwarna putih.
Pikirannya menerawang, mengingat kembali kata kata tante Desi beberapa saat yang lalu.
Jika memang semua cerita tante Desi adalah kenyataan yang sebenarnya, berarti selama ini Dion sudah benar benar keterlaluan pada mama Wina dan Kevin.
Mungkin Dion akan mulai memperbaiki semuanya sekarang.
Ya, meskipun terlambat, tapi setidaknya Dion sudah berusaha dan mencobanya.
Namun Dion akan terlebih dahulu bertanya pada Papa Rian tentang hal ini.
Dion sungguh ingin tahu semuanya dan mendengar sendiri dari papa Rian kenyataan yang sebenarnya.
__ADS_1
Dion memejamkan matanya, tak butuh waktu lama ia segera terlelap masuk ke alam mimpi.
Hari ini sungguh merupakan hari yang melelahkan baginya.