
"Aku masih tidak mengerti, kenapa Dion bisa mendadak ada di sini?" Salsa masih penasaran.
Kedatangan Dion yang tiba-tiba sungguh menimbulkan suatu tanda tanya besar di benak Salsa.
Salsa dan Ronny baru kembali dari kantin rumah sakit. Mereka berjalan beriringan sambil bercakap-cakap.
Ronny menghela nafas.
"Sebenarnya aku yang memberitahunya," ucap Ronny lirih. Salsa langsung menghentikan langkahnya.
Gadis itu menatap tajam pada Ronny.
"Aku juga tidak tahu kalau akan seperti ini."Ronny mengusap wajahnya dengan kasar.
"Tadi siang saat aku menyuruhmu untuk mengajak Tasya itu sebenarnya adalah ide dari Dion. Dia ingin memberi kejutan pada Tasya. Tapi malah ada insiden tadi. Jadi aku mengirim pesan Dion dan memberitahunya kalau Tasya kecelakaan" cerita Ronny panjang lebar.
Salsa hanya berdecak. Memang bukan sepenuhnya salah Ronny.
Tak ada satupun dari mereka yang tahu kalau Tasya sedang mengandung.
Tasya memang selalu pandai menjaga rahasia
"Apa mereka berdua akan baik baik saja?" Tanya Ronny khawatir.
Salsa hanya mengendikkan bahu.
Ia sendiri juga tidak tahu.
Mereka berdua sudah sampai di depan ruang perawatan Tasya.
Mama Sarla juga baru saja tiba. Setelah bertegur sapa seperlunya, mereka bertiga masuk ke dalam ruangan tersebut.
Rupanya Tasya sudah bangun, dan duduk di atas ranjangnya.
Dion yang juga duduk disamping ranjang Tasya hanya diam.
Keduanya saling diam. Entah apa yang baru saja terjadi di ruangan itu.
"Hai, Sya. Kau sudah bangun?" Salsa mencoba mencairkan ketegangan di antata Tasya dan Dion.
Gadis itu mendekat ke arah ranjang Tasya. Bergegas Dion beranjak berdiri untuk memberikan ruang pada Salsa.
"Kalian darimana?" Tanya Tasya sedikit canggung.
"Kami dari kantin membeli makanan. Kamu sudah makan?" Salsa balik bertanya.
Tasya mengangguk.
"Karena kalian sudah kembali, aku akan pamit pulang dulu. Kondisi Tasya juga sudah membaik" Dion buka suara.
Biasanya Dion akan betah berlama-lama menemani Tasya. Namun kali ini entahlah.
Terlalu banyak keraguan serta rasa kecewa di hati Dion. Jadi Dion benar benar butuh udara segar sekarang.
"Iya, Di. Aku sudah baik baik saja. Istirahatlah di rumah" Tasya yang menjawab pertanyaan Dion, seakan paham kalau Dion tengah memendam sesuatu.
Tasya tahu, pasti Dion merasa,kecewa dan sakit hati.
"Baiklah aku pulang dulu. Bye semua" pamit Dion sambil menyambar jaketnya.
Bergegas lelaki itu keluar dari ruang perawatan Tasya.
Dion benar benar ingin sendiri sekarang.
*****
Dion baru saja tiba di rumahnya.
Bergegas Dion mengambil ponselnya untuk menelpon seseorang,
"Halo, pelatih ini Dion"
...
__ADS_1
"Pelatih aku ingin kembali ikut pelatihan"
...
"Tidak, aku membatalkan cutiku. Besok aku berangkat ke jakarta"
...
"Baiklah. Besok ku telepon lagi"
Dion menutup ponselnya. Ia menarik nafas panjang.
Dion tidak bisa lagi berlama-lama berada di samping Tasya.
Dion meraih kembali koper yang kemarin ia bawa.
Setengah dari isinya rupanya sudah dipindahkan ke dalam lemari oleh sang mama.
Dion kembali mengemasi baju bajunya.
Tadinya ia ingin berlibur di kota ini selama dua pekan.
Dion ingin memperbaiki hubungannya dengan Tasya. Namun kejadian siang ini, sungguh membuat Dion benar-benar terpukul.
Dion akan berusaha melupakannya saat nanti dirinya sudah jauh dari Tasya.
Tok tok tok
Mama Wina mengetuk pintu kamar Dion yang setengah terbuka.
"Dion, bukankah kamu akan berlibur dua pekan disini?" Tanya mama Wina bingung.
Ia tak mengerti kenapa Dion malah memasukkan kembali baju-bajunya ke dalam koper
"Dion akan kembali ke Jakarta besok siang, Ma. Dion akan ikut pelatihan dan tidak jadi mengambil cuti" jelas Dion lesu.
Mama Wina mengernyit bingung.
"Apa ini ada hubungannya dengan Tasya" tanya mama Wina penasaran.
"Dion sedang tidak ingin membahasnya sekarang" ucap Dion lirih.
Mama Wina menghela nafas. Ia tak ingin ikut campur lebih jauh lagi.
"Baiklah, mama akan memberitahu papamu" ucap mama Wina sembari beranjak dan keluar dari kamar Dion.
Dion tak menyahut lagi. Pikirannya sedang kalut sekarang.
"Hai, jagoan" papa Rian sudah datang dan menyapa Dion.
Namun tidak ada jawaban dari anak lelakinya tersebut.
"Kau sudah ingin pergi lagi?" Tanya papa Rian sambil duduk di samping Dion.
Dion masih tak menyahut. Ia masih sibuk mengemas pakaiannya.
"Papa tahu ini bukanlah hal yang mudah untukmu." Seakan bisa membaca pikiran Dion, papa Rian menarik kesimpulannya sendiri.
"Dion hanya bingung, pa. Di satu sisi Dion ingin kembali dan tetap menerima Tasya apa adanya. Namun terkadang hati kecil Dion memberontak" ucap Dion sedih.
Ia masih tak mengerti bagaimana sebenarnya perasaanya terhadap Tasya sekarang.
"Kau tidak perlu memaksakannya jika memang hatimu tidak sanggup. Jangan menyiksa batinmu sendiri" nasehat papa Rian sembari menepuk punggung Dion.
Dion menghela nafas,
"Mungkin Dion hanya butuh waktu untuk memikirkannya" putus Dion akhirnya.
"Tapi sebaiknya kamu perjelas hubunganmu dengan Tasya. Papa tidak ingin kamu menyakiti hati gadis itu" ujar papa Rian memberikan nasehat.
Dion hanya terdiam.
Bahkan Tasya lah yang terlebih dahulu menyakiti hatinya.
__ADS_1
Dion sudah mencoba untuk bertahan sejauh ini.
Namun, Tasya seperti tak mempercayainya lagi.
Tasya memilih menyimpan rapat rahasia besar itu dari Dion.
Apa Tasya pikir hal itu tidak membuat hati Dion sakit dan terluka?
"Papa yakin kau sudah dewasa dan akan mengambil keputusan yang terbaik. Papa percaya padamu" papa Rian memeluk anak lelakinya tersebut.
Dion sudah mengambil keputusan. Menjaga jarak dengan Tasya mungkin adalah hal terbaik yang bisa Dion lakukan saat ini. Dion benar-benar butuh waktu untuk berpikir jernih.
*****
Dion menarik nafas panjang sebelum membuka pintu di hadapannya.
Sebuah tas besar ia bawa di tangan kanannya.
Dion membuka pintu dengan perlahan. Bisa ia dengar suara Tasya yang sepertinya sedang mengobrol dengan mama Sarla.
"Siang, tante" sapa Dion berusaha ramah.
Mama Sarla dan Tasya menoleh bersamaan ke arah Dion.
Pandangan mama Sarla langsung tertuju pada tas besar di tangan Dion.
"Dion, apa kau sudah akan kembali lagi?" Tanya mama Sarla.
Dion mengangguk samar.
"Pesawat Dion berangkat dua jam lagi, tan" jawab Dion.
Ia meletakkan tas yang ia bawa tadi, dan berjalan ke arah ranjang Tasya.
"Kau sudah baikan?" Dion mengusap lembut puncak kepala Tasya.
Gadis itu mengangguk,
"Iya, Di. Aku sudah membaik. Mungkin besok aku sudah boleh pulang." Jawab Tasya dengan nada datar.
"Maaf, aku tidak bisa berlama lama disini. Aku sudah harus kembali" ucap Dion.
"Aku mengerti. Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk menemaniku di sini" jawab Tasya cepat. Ia menatap tajam pada kedua netra milik Dion.
Pandangan mereka berdua bertemu. Sesaat Tasya bisa melihat sebuah kekecewaan besar di mata Dion.
Namun dengan cepat, Dion memalingkan wajahnya. Ia tak mau berlama lama menatap Tasya.
"Aku akan menelponmu nanti" ucap Dion lagi.
Ia ingin mengakhiri ini, namun entah mengapa hatinya masih terasa berat untuk melepaskan Tasya. Dion tidak mengerti.
Apa rasa cintanya pada Tasya terlalu besar, hingga Dion tak sanggup untuk mengakhiri ini semua?
Namun hatinya juga kecewa dan terluka sekarang. Tetap bertahan bersama Tasya sepertinya adalah keputusan yang sulit baginya.
Tasya mengangguk. Hatinya terasa sesak. Namun Tasya juga tidak bisa menyalahkan Dion.
Tasya sudah menyangka ini pasti akan terjadi. Tasya tak mau memaksa Dion ataupun menjadi bebannya lagi.
"Aku pergi sekarang" pamit Dion lagi. Ia mengecup kening Tasya lalu memeluk erat gadis tersebut.
Tasya berusaha untuk tegar. Namun air matanya tetap saja jatuh.
"Hati-hati disana. Jaga kesehatan." Pesan Tasya sambil menyeka airmatanya.
Dion mengangguk.
Dion berpamitan juga pada mama Sarla dan segera keluar dari ruangan tersebut, membawa semua kekecewaan dan luka di hatinya.
Entah kapan Dion akan kembali menemui Tasya.
Dion hanya ingin sendiri sekarang
__ADS_1