Natasya

Natasya
SEASON KEDUA : Ulang Tahun Raka


__ADS_3

Tasya dan Dion tersenyum sumringah sambil terus menatap ke layar monitor di hadapan mereka.


Kedua bayi itu terlihat bergerak dengan sangat aktif.


Mereka berdua sudah ada di poli kandungan dan Elena sedang melakukan pemeriksaan USG pada Tasya.


Sama seperti Dion dan Tasya, Elena juga ikut tersenyum lega karena sejauh ini perkembangan kedua janin Tasya masuk dalam kategori normal dan bagus sekalipun fisik Tasya sedikit mengalami masalah.


"Kamu sudah meminum obatmu?" Tanya Elena pada Tasya.


Tasya segera mengangguk.


"Tekanan darahmu hari ini sudah mendekati normal. Dan kedua janinmu juga tumbuh dengan sangat baik. Semoga akan seterusnya seperti ini sampai bulan depan" ucap Elena penuh harap.


Pemeriksaan USG sudah selesai.


Dion membantu Tasya untuk turun dari atas ranjang lalu membimbing Tasya untuk duduk di kursi yang ada di ruang konsultasi.


"Bagaimana dengan infeksi yang kau bicarakan tempo hari?" Tasya masih terlihat khawatir.


Elena menghela nafas,


"Kita tidak bisa melakukan apapun untuk mengatasi yang itu sebelum kedua bayimu lahir. Obat yang kemarin di berikan oleh dokter Adhi hanya mencegahnya agar tidak semakin meluas." Jelas Elena.


Tasya dan Dion mengangguk,


"Tapi tetap yang utama, kamu tidak boleh melakukan pekerjaan berat apapun alasannya. Kamu harus banyak istirahat dan tidak boleh stress" tambah Elena lagi.


Tasya dan Dion mengangguk bersamaan.


"Aku akan menjaganya semaksimal mungkin" janji Dion pada Elena.


Elena tersenyum hangat,


"Aku percaya itu, Di. Kamu suami yang sabar dan hebat. Tasya sungguh beruntung" Puji Elena yang langsung membuat Dion tersipu malu.


"Oh, ya El. Aku ingin datang ke pesta ulang tahun Raka akhir pekan ini. Apa bisa? Aku janji akan duduk saja sepanjang acarĂ . Tapi aku benar-benar ingin datang dan berada di pesta itu" Pinta Tasya dengan raut memohon.


"Aku rasa dia mulai jenuh di rumah" Dion ikut menimpali.


Elena tertawa kecil,


"Aku tidak bisa memberi izin sekarang. Kita lihat bagaimana kondisimu hari sabtu nanti..."Elena menghela nafas,


"...aku akan mampir hari sabtu nanti untuk memeriksamu. Setelah itu baru kita bisa putuskan apa kamu bisa pergi atau tidak" lanjut Elena lagi.


Tasya mengangguk.


"Baiklah. Aku akan menurut kali ini" jawab Tasya sedikit terkekeh.


Seorang perawat masuk ke dalam ruangan Elena dan memberikan hasil laboratorium Tasya.


Elena membacanya sejenak.


"Masih ada protein di dalam urinmu. Tapi sudah sedikit berkurang di bandingkan beberapa hari yang lalu." Elena mulai menjelaskan.


Tetap jaga pola makanmu seperti kemarin dan istirahat dengan maksimal" pungkas Elena setelah memberikan beberapa pesan untuk Tasya.


"Dan jangan lupa untuk minum obatmu secara rutin" tambah Elena sekali lagi.


"Siap bu dokter" jawab Tasya sambil tertawa.


Elena dan Dion ikut tertawa.


Setelah semuanya beres, Tasya dan Dion segera meninggalkan ruangan Elena tersebut. Senyum bahagia masih tak kepas dari wajah keduanya.


Setidaknya mereka bisa bernafas lega sekarang karena kondisi Tasya yang sudah membaik dan perkembangan kedua bayi mereka yang sesuai harapan.


*****


Hari Sabtu...


"Siang, Dion" sapa Elena dengan ramah sesaat setelah Dion membukakan pintu untuknya.


"Siang, El. Ayo masuk" Dion mempersilahkan Elena untuk masuk dan duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut.


Tasya juga sudah duduk dan menunggu Elena sedari tadi.


"Kalian menungguku?" Tanya Elena berbasa-basi.


Bukannya menjawab Dion dan Tasya maah tertawa bersamaan.


"Kau mengemudi sendiri, El?" Tanya Tasya khawatir. Yang Tasya tahu Elena juga sedang mengandung, dan usia kandunganya masih sangat muda.


"Ya, kenapa memang?" Elena malah balik bertanya.


Wanita itu mengeluarkan peralatannya dari dalam tas dokter yang ia bawa.


"Kamu sedang hamil, apa Egi tidak cemas?" Tanya Tasya lagi.


Elena terkekeh,


"Aku baik-baik saja, Sya. Aku tidak mual, tidak muntah, tidak sakit kepala. Lihatlah aku sehat" jawab Elena penuh percaya diri.


"Tapi kenapa Tasya mabuk berat saat awal hamil kemarin?" Kini gantian Dion yang bertanya.


"Bawaan setiap ibu hamil memang berbeda, Di. Saat hamil Rhea aku juga mabuk berat dan tidak bisa beraktivitas" Elena mencoba menjelaskan.


Tasya dan Dion langsung mengangguk paham.


Elena lanjut memeriksa tekanan darah Tasya.


"Masih sering pusing, sakit kepala, atau sakit di leher belakang? atau mungkin kamu mengalami sesak nafas, penglihatan kabur atau sakit di perut kamu?" Elena mencecar Tasya dengan pertanyaan bertubi-tubi.


"Hanya sedikit pusing dan kadang sesak nafas terutama saat malam hari" jawab Tasya.


"Tekanan darahmu belum normal, tapi sudah tidak setinggi kemarin.


Apa kamu benar-benar ingin pergi malam ini?" Tanya Elena sambil menatap serius ke arah Tasya.


"Iya, El. Apa aku bisa pergi?" Terdengar nada memohon dari pertanyaan yang diajukan oleh Tasya.


Elena menghela nafas,

__ADS_1


"Ya. Aku akan mengawasimu malam ini." Jawaban dari Elena sontak langsung membuat Tasya bersorak gembira.


"Lagipula, malam ini adalah malam istimewa bagi Raka. Akan lebih berkesan jika kita semua hadir di sana untuk menyaksikan kebahagiaan Raka" Elena melanjutkan kata-katanya.


Dion terlihat mengernyit bingung.


"Aku tidak mengerti. Bukankah ini hanya pesta ulang tahun biasa?" Ujar Dion penasaran.


Dan Elena menggeleng dengan cepat,


"Sebenarnya malam ini, Raka akan melamar Kiki dan memberi kejutan pada gadis itu" tukas Elena menjelaskan.


Masih lekat di ingatan Elena, binar bahagia dimata Raka saat tahu kalau ternyata Kiki menyimpan perasaan cinta kepadanya.


"Benarkah itu, El? Pantas saja saat itu Raka bertanya kepadaku apa Kiki sedang berpacaran atau tidak. Ternyata benar Raka menaruh hati pada Kiki" ujar Tasya tak kalah bahagia.


"Berarti, kita semua akan datang malam ini dan menyaksikan kebahagaian Raka dan Kiki" Dion ikut menimpali.


Elena mengangguk sambil tersenyum.


"Baiklah, karena semua sudah beres di sini, aku akan pulang sekarang dan bersiap pergi ke pesta Raka malam ini" tukas Elena sedikit terkekeh.


"Terima kasih El, karena sudah menyempatkan diri untuk mampir ke sini" ucap Dion tulus.


Pria itu beranjak berdiri untuk mengantarkan Elena ke teras depan.


"Terima kasih, El" Tasya ikut berterimakasih.


"Kita bertemu di pesta Raka malam ini. Aku pulang dulu. Bye" pamit Elena sambil berjalan keluar dari rumah Tasya.


Dion mengantar Elena sampai ke teras.


Setelah mobil Elena tak terlihat lagi, bergegas Dion masuk kembali ke dalam rumah.


*****


Tok tok tok


Suara ketukan di pintu kamarnya, membuat Kiki yang sedang melamun terlonjak kaget.


Bergegas Kiki menghapus airmata yang jatuh di kedua pipinya dengan kasar dan segera membuka pintu kamarnya.


Rupanya sang kakak ipar yang mengetuk pintu.


"Kak El, ada apa?" Tanya Kiki lirih. Tampak sekali wajah lesu Kiki yang sepertinya sedang banyak pikiran.


Apa Kiki masih berpikir kalau Raka bertunangan hari ini dan gadis ini sedang mengalami patah hati jangka panjang?


"Kamu belum siap-siap, Ki?" Tanya Elena sambil masuk ke dalam kamar Kiki.


Kiki membiarkan saja kakak iparnya tersebut.


Kiki sendiri ikut masuk ke dalam dan duduk di sofa yang ada di sudut kamarnya sambil memeluk bantal sofa. Gadis itu duduk meringkuk dan meletakkan wajahnya di atas kedua lututnya.


Semangat hidupnya sudah menguap entah kemana.


"Memangnya mau kemana?" Tanya Kiki pura-pura lupa.


Sesaat bayang-bayang Raka berkekebat di benak Kiki. Namun dengan cepat Kiki mengenyahkannya.


Kiki mungkin hanya akan menjadi penonton yang menyaksikan kebahagiaan Raka sambil meratapi hatinya yang patah berkeping-keping karena kesalahannya di masa lalu.


Bodoh!


Sejenak Elena memandang wajah sang adik ipar yang masih duduk meringkuk di atas sofa,


"Bukankah kamu sudah janji pada Raka untuk datang ke pestanya hari ini?" Elena seolah mengingatkan.


Kiki mengendikkan bahu,


"Aku sedang tidak enak badan, Kak. Jadi aku titip salam saja untuk Raka dan permintaan maaf karena tidak bisa datang" Kiki mulai merangkai alasan.


Elena segera mendekat ke arah Kiki dan menyentuh kening gadis itu. "Tidak demam, kau sakit apa memang?" Tanya Elena penasaran.


'Hatiku yang sakit, kak. Sakit sekali. Bahkan mungkin sudah sekarat sekarang' jerit Kiki dalam hati.


Namun sekali lagi Kiki tak mampu mengucapkan jeritan hatinya tersebut.


Kiki menghela nafas,


"Biar Kiki di rumah saja menjaga Rhea, kak." Kiki kembali mencari alasan.


"Kau harus datang, Ki. Atau Raka akan kecewa" Elena masih tak menyerah.


Kiki mendengus,


Kenapa kakak iparnya ini seperti memaksa sekali.


"Kau sudah membaca undangan yanng di berikan Raka kemarin?" Tanya Elena lagi.


'Hah undangan? Kiki bahkan tidak ingat kemana ia melempar undangan mewah itu kemarin. Kiki benar-benar tidak mau tahu siapa yang menjadi tunangan dari Raka. Hatinya terlanjur sakit'


"Undangannya hilang, kak" jawab Kiki sedikit nyengir.


"Hilang? Kau yakin tidak memasukkannya ke tempat sampah?" Elena seperti menyindir saja.


"Lagipula Kiki juga tidak akan datang. Kenapa harus menyimpan undangan itu?" Sekali lagi Kiki mencoba mencari pembenaran.


Elena membuka lemari besar milik Kiki dan melihat satu persatu gaun pesta Kiki yang ada di lemari tersebut.


Elena mengambil salah satu gaun yang berwarna biru lembut dengan potongan garis leher model sabrina dan bagian bawah gaun yang mengembang.


Gaun yang panjangnya hanya selutut itu akan sangat pas di pakai oleh Kiki dan akan langsung menampilkan kaki jenjang milik gadis itu.


"Ini pas untuk kamu kenakan malam ini. Sesuai juga dengan dresscode malam ini. Biru" jelas Elena bersemangat.


'Hah, dresscode? Warna biru? Bukankah itu adalah warna kesukaan Kiki? Apa Raka benar-benar sedang mengejeknya kali ini?' Kiki bergumam dalam hati.


Mendadak hatinya merasa sebal.


"Kiki tidak akan datang, kak. Simpan lagi gaun itu!" Kiki masih berusaha untuk menolak.


"Kak Egi akan marah jika kamu tidak datang, Ki" bujuk Elena sekali lagi.

__ADS_1


Kiki berdecak. Sekuat apapun Kiki menolak, sepertinya akan sia-sia saja.


"Pakai gaun ini dan bersiaplah. Kita berangkat satu jam lagi" Elena meletakkan gaun biru tadi di atas ranjang, sebelum akhirnya kakak ipar Kiki tersebut keluar dari kamar Kiki.


Kiki membuang nafas berulang kali, demi meluapkan rasa kesal sekaligus rasa sakit di hatinya.


"Huh Raka akan bertunangan dengan gadis lain, apa pentingnya aku dandan cantik malam ini? Seperti kurang kerjaan saja" gerutu Kiki sebelum gadis itu masuk ke kamar mandi untuk mandi dan bersiap.


Baiklah, Kiki akan pergi malam ini dan membuktikan pada semua orang bahwa ia gadis yang kuat.


Sekalipun hatinya hancur berkeping-keping, namun Kiki akan datang dan menyaksikan dengan hati tegar pesta pertunangan bodoh itu.


*****


Mobil Egi sudah masuk ke area parkir sebuah restoran mewah.


Pesta ulang tahun Raka kali ini di gelar di sebuah resto mewah di pusat kota.


Apa pria itu tidak punya rumah?


Entahlah hanya Raka yang tahu tentu saja.


Kiki mengekor di belakang Egi dan Elena yang berjalan bergandengan.


Resto mewah tersebut kini di sulap jadi penuh dengan dekorasi bunga berwarna putih dan biru.


Kiki sungguh terpana dan sedikit tersindir tentu saja.


Orang yang dia cintai akan bertunangan dengan gadis lain dengan dekorasi penuh nuansa biru, warna kesukaan Kiki.


Seperti sebuah lelucon saja.


Raka menyambut semua tamu yang hadir dengan senyuman hangat, dan saat melihat Kiki yang datang mengenakan gaun biru lembut yang anggun dan pas di tubuh Kiki yang semampai, Raka benar-benar terperangah.


Cukup lama pria itu memandangi Kiki yang tampil benar-benar anggun malam ini.


"Woy, jangan melamun, Ka!" Dion yang juga baru saja datang bersama Tasya menepuk bahu sahabatnya tersebut, membuat Raka tersadar dari lamunannya.


"Hey, kalian datang? Bagaimana kondisimu, Sya?" Raka balas menyapa pasangan suami istri tersebut dan sedikit bertanya mengenai kondisi Tasya.


"Kau lihat! Aku sudah sehat" jawab Tasya dengan senyum sumringah. Gaun biru selutut dengan potongan lebar di bagian perut yang di kenakan Tasya malam ini, membuat wanita hamil itu terlihat segar.


Raka mengangguk dan ikut tersenyum senang.


"Selamat ulang tahun, Ka. Semoga lamaranmu di terima malam ini" ucap Tasya lagi membuat Raka tersipu malu.


"Aku minta doa dan dukungannya" balas Raka sekenanya.


Tasya dan Dion terkekeh bersama.


"Baiklah aku harus mengajak Tasya duduk sekarang. Dia tidak boleh berdiri terlalu lama" tukas Dion pada akhirnya.


"Ajak Tasya duduk di meja paling depan. Kalian tamu istimewaku malam ini" ujar Raka sambil menunjuk ke arah meja bulat dengan enam kursi yang mengelilinginya yang berada tepat di depan panggung acara.


Dion hanya mengangguk dan segera membimbing Tasya untuk menuju ke arah meja tersebut.


Raka lanjut menyambut tamu lain yang juga mulai berdatangan.


Tamu Raka malam ini cukup banyak. Ada teman, saudara, dan beberapa rekan bisnis Raka.


Egi, Elena, dan Kiki duduk di satu meja bersama Tasya dan Dion.


"Jika Kiki menolak lamaran Raka malam ini, pria itu akan menanggung malu seumur hidup. Lihat saja tamu yang hadir!" Elena berbisik di telinga Egi membuat pria itu terkekeh.


Kiki hanya mengernyit saat melihat kakanya itu tertawa, entah apa yang lucu.


"Aku belum melihat calon tunangan Raka sejak tadi, apa memang sengaja di sembunyikan?" Tanya Kiki pada Tasya yang duduk di sebelahnya.


Sontak Tasya langsung tertawa kecil mendengar pertanyaan dari Kiki.


Ingin rasanya Tasya berteriak pada Kiki kalau calon tunangan Raka itu ya kamu, Kiki.


Namun sekuat tenaga Tasya menahan dirinya untuk tidak membuka kejutan ini.


Tasya akan membiarkan Kiki penasaran dan menangis bahagia saat nanti mendapat kejutan dari Raka.


Ah, mendadak Tasya jadi ingat dirinya yang dulu juga menangis bahagia saat Dion memberinya kejutan dan tiba-tiba melamarnya di tengah court basket.


Sejenak Tasya memandang ke arah Dion yang sepertinya sedang berbibcang dengan Egi. Entah apa yang mereka bahas.


"Kok tertawa sih, Sya. Memang apa yang lucu?" Tanya Kiki bingung.


Sontak semua lamunan Tasya juga ikut buyar saat mendengar pertanyaan dari Kiki barusan.


"Kamu. Memang kamu tidak membaca undangan pesta hari ini?" Tasya balik bertanya.


Tunggu, apa maksud Tasya?


Sekarang Kiki benar-benar bingung.


Tasya menyodorkan undangan mengkilap yang ia bawa kepada Kiki.


"Ini pesta ulang tahun, Ki. Bukan pesta pertunangan" Tasya masih tertawa kecil.


Kiki dengan cepat menyambar undangan tadi dari tangan Tasya dan membukanya dengan sedikit kasar.


Kiki membaca dengan seksama undangan tersebut, dan...


Wajah Kiki berubah merah padam.


Astaga!


'Kenapa aku tidak membacanya sejak kemarin? Ini hanya pesta ulang tahun dan aku sungguh mengira ini pesta pertunangan Raka dengan gadis lain. Aku bahkan menangis berhari-hari hanya karena undangan bodoh ini?' Kiki hanya bergumam dalam hati.


Namun Kiki merasa sungguh malu mengetahui kenyataan ini.


"Aku pikir kamu sudah membacanya, Ki. Apa kamu langsung membuang undangan itu?" Elena mulai menggoda adik iparnya tersebut. Membuat Kiki semakin menunduk demi menyembunyikan wajahnya yang sudah semerah tomat sekarang.


"Undangannya hilang dan Kiki belum sempat membacanya, Kak" Kiki mencoba membela diri.


"Baiklah, baiklah kakak percaya. Angkat kepalamu! Ada Raka itu di panggung mau tiup lilin" ujar Elena lagi sambil terkekeh.


Semua yang ada di meja itu ikut terkekeh kecuali Kiki tentu saja.

__ADS_1


Entahlah, Kiki masih merasa malu untuk mengangkat kepalanya, dan melihat ke arah Raka.


Mungkin Kiki akan membenamkan wajahnya saja ke atas meja sampai acara ini berakhir.


__ADS_2