Natasya

Natasya
Kejutan


__ADS_3

Tasya berjalan sendirian menyusuri deretan gerai yang ada di mall di sudut kota.


Tadinya Tasya berencana mencari hadiah untuk Silvi dan Julian, tapi kini Tasya malah merasa bingung.


Saat sampai di sebuah gerai perhiasan, Tasya melihat sesosok wajah yang tak asing.


Sudah hampir satu bulan Tasya tidak berjumpa dengan pria ini.


"Kak Egi?" Sapaan dari Tasya membuat Egi terlonjak kaget.


"Eh, Tasya" jawab Egi tersenyum senang. Egi segera memeluk Tasya.


"Kakak sendirian? Hayo lagi milih cincin buat siapa?" Tasya yang memergoki Egi sedang memilih-milih cincin mendadak merasa penasaran.


Egi menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Itu..." Egi sedikit ragu untuk mengatakan.


"Pacar baru kak Egi ya?" Tanya Tasya semakin penasaran.


Egi hanya tersenyum,


"Kamu tahu dokter Elena kan?" Tanya Egi akhirnya.


Tasya langsung bersorak,


"Jadi, dokter Elena pacarnya kak Egi ya? Ya ampun... selamat ya kak" ucap Tasya sambil tersenyum senang.


Egi membalas tersenyum dan sedikit salah tingkah.


"Bisa bantu kakak pilihin cincin untuk melamarnya" ucap Egi sedikit berbisik.


Tasya langsung mengangguk sambil tersenyum


Keduanya pun memilih cincin sambil sesekali bersenda gurau.


Dan pemandangan itu pun tak luput dari sepasang netra yang sedari tadi berdiri tak jauh dari toko tersebut.


Pria itu menghela nafas berkali- kali dan mencoba meredam emosi yang kini membuncah di dadanya.


*****


Dion baru saja tiba di bandara.


Siapa sangka, rindu dan cinta bisa membuatnya berbuat konyol seperti ini.


Dion sungguh-sungguh datang demi menjemput Tasya.


Padahal sore ini rencana Tasya sudah akan pulang kembali ke kota mereka, namun menurut Dion menunggu sore terlalu lama. Hadi Dion putuskan untuk datang saja kesini naik penerbangan pagi dan nanti sore kembali lagi betsama Tasya. Atau mungkin besok pagi saja dirinya baru kembali?


Ah, yang penting bagi Dion sekarang adalah bertemu dengan Tasya dan melepaskan kerinduannya selama beberapa bulan ini.


Saat melewati salah satu mall di kota tersebut, Dion ingat untuk membelikan kue kesukaan tante Desi. Jadilah Dion mampir sebentar ke mall tersebut.


Dion berjalan santai menuju ke gerai yang menjual kue kesukaan tante Desi.


Namun, saat melewati salah satu gerai perhiasan, Dion menangkap satu sosok yang tidak asing.


Sosok gadis yang ia rindukan selama beberapa bulan ini.

__ADS_1


Gadis yang membuatnya tak sabar untuk segera berjumpa dan melepas semua kerinduan.


Kini gadis itu sedang tertawa bahagia bersama seorang pria, yang entah siapa. Dion tak mengenal ptia itu.


Namun Tasya dan pria itu tampaknya sangat dekat, karena keduanya mengobrol dengan santai sambil bersenda gurau. Apalagi tawa Tasya yang begitu lepas, membuat Dion mendadak diliputi rasa cemburu.


Hatinya terasa panas, Dion sedang terbakar api cemburu sekarang.


Dion menarik nafas dalam-dalam mencoba mengendalikan emosinya.


Dion tidak mau menarik kesimpulannya sendiri. Dion harus bertanya pada Tasya.


Dion berjalan mendekat ke arah Tasya dan pria asing tersebut.


Semakin dekat, semakin Dion tahu kalau keduanya tengah memilih cincin yang entah untuk siapa.


Mendadak, pikiran Dion langsung melantur kemana-mana.


Apa Tasya akan bertunangan dengan pria asing ini?


Apa Tasya sudah berpindah ke lain hati?


Apa Tasya selama ini selingkuh di belakang Dion?


"Nat," suara Dion tertahan.


Tasya yang tadinya masih tertawa bersama kak Egi segera menoleh ke arah suara yang menyapanya dengan panggilan istimewa itu.


Tasya sungguh terkejut saat mendapati Dion yang entah sejak kapan, berdiri mematung dan menatap tajam ke arah dirinya dan juga kak Egi.


Sesaat suasana berubah hening.


Mana mungkin Dion tiba tiba sudah berada di kota ini dan memergoki dirinya yang sedang cekikikan bersama pria lain di sebuah gerai perhiasan.


"Iya, aku Dion, Nat. Kamu gak salah lihat" ucap Dion datar. Seakan bisa membaca keterkejutan di wajah Tasya.


"Kamu, kapan datang kesini?" Tasya tampak salah tingkah.


"Baru saja. Kamu sendiri ngapain disini? Aku pikir kamu sedang kuliah" Dion bertanya dengan nada sedatar mungkin.


Dion mencoba meredam emosi di dalam dadanya.


"Aku... aku sedang..." Tasya tak jadi melanjutkan kata-katanya karena buru-buru dipotong oleh Egi.


"Sebenarnya tadi Tasya sedang membantuku memilih cincin untuk calon tunanganku" Egi yang melihat Tasya gugup dan salah tingkah segera menjelaskan kronologi sebenarnya pada Dion.


"Kenalkan, namaku Egi" Egi mengulurkan tangannya pada Dion dan memberi kode untuk saling berkenalan.


"Aku Dion" Dion membalas uluran tangan dari Egi dan mencoba tersenyum meskipun terlihat kaku.


"Tolong jangan salah paham, Dion. Kami sungguh tak ada hubungan apa-apa. Kami hanya sebatas sahabat. Lagipula aku juga sudah punya pacar" Sekali lagi Egi menjelaskan. Ia benar-benar tidak mau menjadi perusak hubungan sepasang kekasih ini.


"Santai saja. Aku tadi hanya bertanya" balas Dion sambil tersenyum ramah.


"Baiklah kalau begitu. Aku duluan ya, Sya. Makasih udah membantuku hari ini" Egi menunjukkan sebuah bungkusan kecil berisi cincin yang ada di tangannya.


Tasya tersenyum,


"Sama-sama, Kak. Semoga sukses acara lamarannya" jawab Tasya masih tersenyum.

__ADS_1


Egi sudah akan pergi, namun kemudian ia berbalik lagi.


"Oh, ya. Jadi ini si pria baik itu?" Egi menunjuk ke arah Dion.


Tasya hanya mengangguk sambil tersenyum.


Dion mengernyit tak mengerti.


"Aku ikut senang akhirnya kalian bisa bersama lagi. Aku tunggu undangan pernikahannya." Kata Egi sambil terkekeh dan berlalu meninggalkan Dion dan Tasya.


Dion semakin bingung.


Ia sungguh tak mengerti maksud dari kata-kata Egi barusan.


"Kenapa tiba-tiba datang kesini?" Tasya menggamit tangan Dion dan mencoba mencairkan suasana.


"Tadinya aku ingin memberimu kejutan, tapi malah kamu yang mengejutkanku" jawab Dion sedikit berdecak.


Dua sejoli itupun masuk ke dalam lift.


"Jadi, sedekat apa kamu dengan kak Egi tadi?" Tanya Dion sedikit tegas.


"Hanya sahabat biasa. Seperti halnya aku dan kak Ronny. Apa kamu cemburu?" Tasya balik bertanya sambil cengengesan.


Dion menarik nafas panjang.


Rasa cemburunya sudah sampai diubun- ubun. Kalau saja ia tak ingat tentang hubungannya dengan Tasya yang baru saja membaik, mungkin Dion sudah meledak-ledak sedari tadi.


Tapi sekali lagi, Dion mencoba untuk bersikap dewasa. Mungkin dirinya memang bucin, tapi Dion tidak mau terlalu lebay seperti anak SMA yang sedang kasmaran.


"Tentu saja aku cemburu, tapi kamu lihat. Aku sekarang sudah bisa mengendalikan emosiku" Dion menepuk dadanya dan merasa bangga dengan dirinya sendiri.


Tawa Tasya langsung meledak.


"Baiklah, baiklah tuan tukang cemburu yang sekarang sudah dewasa" ucap Tasya meledek.


Sontak Dion langsung mencebik dan merasa tak terima.


"Apa barusan kamu bilang?" Dion menatap tajam pada Tasya.


"Tuan tukang cemburu" jawab Tasya polos. Sontak tatapan Dion semakin tajam.


Tasya sudah menghentikan tawanya. Kini ia merasa sedikit mengkerut melihat tatapan tajam Dion.


"Apa sekarang kamu takut nona cengeng?" Tawa Dion seketika meledak melihat wajah ketakutan Tasya.


Tasya yang merasa sudah di usili oleh Dion langsung mencubit lengan pria itu.


"Aku bukan nona cengeng" Tasya mencebik tak terima. Tangannya bersedekap menandakan kalau dirinya sedang marah.


Dion langsung merangkul Tasya demi meredakan kemarahan gadis tersebut.


"Baiklah, aku hanya bercanda. Jangan ngambek begitu, oke" bujuk Dion selembut mungkin.


Tasya masih mencebik.


"Ayo kita beli eskrim" Dion merangkul Tasya dan mengajaknya ke gerai eskrim yang ada di dekat mereka.


Meskipun masih merasa kesal, namun Tasya menurut saja saat Dion mengajaknya membeli es krim favoritnya tersebut.

__ADS_1


__ADS_2