
"Vina gak bareng kita lagi, Sil?" Tanya Tasya yang baru masuk ke dalam mobil Silvi.
Ia hanya mendapati Silvi dan Salsa yang duduk di dalam mobil. Tak ada Vina.
"Bareng lakinya lah, Sya. Apa gunanya coba punya suami tajir tapi masih nebeng gue ke sekolah" jawab Silvi sedikit ketus.
Tasya hanya mengendikkan bahu dan selanjutnya memilih untuk diam.
Belakangan ini sikap Silvi memang sedikit ketus dan suka marah marah tak jelas. Tasya sendiri tidak tahu apa sebenarnya yang tengah dihadapi oleh sahabatnya tersebut.
Mobil Silvi sudah berhenti di halaman parkir sekolah.
Terlihat ada Vira yang sepertinya tengah menunggu seseorang.
"Sya, gimana? Kamu bawakan buku aku?" Vira menghampiri Tasya yang baru saja turun dari mobil Silvi.
Tadi saat berangkat pagi pagi, Vira lupa membawa salah satu buku tugasnya. Jadi ia minta Tasya untuk membawakannya.
"Iya, Vir.
Ini" Tasya mengangsurkan sebuah buku pada Vira.
Silvi menggeram kesal menyaksikan pemandangan tersebut.
Salsa nampak biasa saja.
"Makasih ya, Sya. Aku masuk kelas dulu" pamit Vira ssmbil berlalu meninggalkan Tasya dan kedua sahabatnya.
"Sya, loe kok udah akrab gitu sama tu cewek resek. Bukannya dulu loe nangis nangis pas tahu dia anaknya mama Sarla" Silvi berkata dengan nada penuh emosi.
Tasya menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan dari sahabatnya tersebut.
"Aku dan Vira udah lama baikan." Jawab Tasya berusaha santai.
"Mau aja sih berteman sama cewek aneh begitu" gumam Silvi masih kesal.
Tasya menghentikan langkahnya.
Ia menatap tajam pada Silvi.
"Sil, kok elo benci banget sama Vira
Sebenarnya kenapa sih?" Tanya Tasya penasaran.
__ADS_1
"Emang harus ada alasannya ya, gue gak suka aja sama cewek aneh kayak gitu" jawab Silvi sinis.
"Aneh. Aneh bagaimana? Apa soal Vira yang menyukai kak Kevin?" Tanya Tasya to the point.
"Dia itu udah bikin malu kak Kevin, makanya aku benci sama dia" Silvi mulai meninggikan suaranya.
Tasya berdecak.
"Kejadian dua tahun lalu masih aja kamu bawa bawa. Itu kekanak kanakan, Sil. Aku yakin semua siswa di sekolah ini juga pasti sudah melupakannya." Ujar Tasya sedikit kesal.
Silvi sama kesalnya dengan Tasya. Gadis itu mengerucutkan bibirnya pertanda ia sedang marah, karena kalah berdebat dengan Tasya.
Silvi sebenarnya tahu kalau ini memang kekanak kanakan. Tapi ia merasa malu jika tiba tiba harus berteman dengan Vira yang dulu sangat ia benci.
"Udahlah, kalian berdua ini ribut terus kerjaannya. Ayo ke kelas" Salsa yang sedari tadi jengah menyaksikan perdebatan itu akhirnya melerai dengan kesal.
Silvi dan Tasya tak lagi beradu mulut. Keduanya menurut dan mengikuti Salsa masuk ke kelas mereka.
Sampai di kelas,
"Kalian bertiga nyasar dimana sih? Lama amat. Gue udah nungguin dari tadi" Vina yang sudah sampai di kelas duluan mengomel pada ketoga temannya tersebut.
Silvi melempar tasnya ke atas meja dan segera mendaratkan bokongnya ke atas kursi dengan malas.
Tasya dan Salsa juga langsung duduk di bangku mereka masing masing.
Tak ada satupun dari mereka yang berniat untuk menjawab pertanyaan dari Vina.
Hal itu sontak membuat Vina mendengus kesal.
Silvi menumpukan kedua tangannya di atas meja, laku membenamkan wajahnya di sana.
"Sil, loe kenapa sih?" Tanya Vina bingung.
Masih tak ada jawaban.
"Sil..." Vina menggoyang goyangkan badan Silvi.
"Papa sama mama gue mau cerai puas kalian " jawab Silvi dengan galak dan sedikit keras.
Mendengar hal itu, sontak Vina, Salsa, dan Tasya merasa kaget.
"Kok bisa Sil?" Tanya Salsa setengah tak percaya.
__ADS_1
Tiba tiba Silvi menangis sesenggukan,
"Gue gak tahu," jawab Silvi di sela sela tangisannya.
"Sekarang papa dan mama rebutan tentang hak asuh gue. Dan kemungkinan besar gue bakal dibawa sama papa ke luar negeri. Gue sedih, kenapa gak ada satupun orang yang peduli sama perasaan gue" ucap Silvi sambil terisak.
Vina langsung memeluk Silvi demi menenangkan sahabatnya tersebut.
Salsa dan Tasya ikut mendekat dan memeluk Silvi.
"Sil, aku minta maaf kalau tadi aku udah nyakitin perasaan kamu" ucap Tasya merasa bersalah.
Sesaat Tasya ingat perdebatan sengitnya dengan Silvi pagi tadi. Bahkan Tasya sempat berpikir kalo Silvi memang egois dan selalu ingin menang sendiri, tapi rupanya Silvi sedang ada masalah seberat ini. Mungkin krena inilah, Silvi agak ketus belakangan ini.
"Sil, kamu kan bisa cerita ke kita kalo lagi ada masalah. Jangan di pendem sendiri begini" nasehat Salsa.
Silvi masih saja menangis.
"Sil, kita tetep sahabat sampai kapanpun, jadi jangan pernah merasa sendirian lagi" ucap Vina mencoba menenangkan Silvi.
"Tapi bagaimana nanti kalau gue harus ikut papa ke luar negeri. Aku belum siap berpisah sama kalian" Silvi memandang satu per satu wajah sahabatnya.
Meskipun mereka bertiga kadang membuat Silvi jengkel dan emosi, tapi tetap saja mereka sudah seperti saudara untuk Silvi.
Merekalah yang selalu mengisi kekosongan di hati Silvi.
"Kita masih tetap bisa berkomunikasi, Sil. Kita gak akan pernah nglupain kamu" ucap Tasya bijak sambil menepuk lembut punggung Silvi.
Mendadak Tasya ingat tentang dirinya yang sebentar lagi juga akan menjalin hubungan jarak jauh dengan Dion.
"Sya, aku minta maaf tentang sikap resekku belakangan ini. Aku juga minta maaf tentang sikapku yang kekanak kanakan pada Vira. Aku janji akan berubah sedikit demi sedikit dan membuang jauh kebencianku pada Vira" ucap Silvi tulus sambil melihat ke arah Tasya.
Tasya tersenyum bahagia,
"Akan kusampaikan pada Vira.
Dan soal sikapmu belakangan ini, aku tak terlalu memikirkannya. Kau sahabat baikku. Dan seterusnya akan tetap begitu" ucap Tasya tulus. Silvi langsung memeluk Tasya erat.
Vina dan Salsa yang melihat kedua sahabat tersebut ikut tersenyum haru.
"Makasih ya, kalian sudah mau menjadi sahabatku selama ini." Silvi memeluk ketiga sahabatnya.
Kini mereka berempat merasakan suatu ikatan yang kian kuat. Bukan lagi sebagai teman atau sahabat tapi juga sebagai saudara.
__ADS_1