
"Aku berencana menjodohkanmu dengan Kiki" ucapan dari Egi pagi ini bagaikan angin segar untuk Raka.
Raka benar-benar ingin bersorak gembira sekarang.
Namun Raka tak ingin terlihat seperti anak kecil di depan Egi. Jadi Raka hanya tersenyum tipis dan berusaha menjaga raut wajahnya di hadapan Egi.
"Apa kau yakin dengan keputusan ini?" Tanya Raka sekali lagi.
Egi mengangguk yakin
"Aku harus pulang sekarang. Pekerjaanku sudah selesai." Ucap Egi sambil merapikan berkas yang ada di atas mejanya.
Kali ini Raka melihat Egi dengan pandangan tak senang.
"Gi, gue belum selesai. Loe mau ninggalin gue?" Ucap Raka dengan nada memelas.
Egi hanya nyengir.
"Gue udah kangen sama istri gue. Gue mau pelukin dia lalu..." Egi mulai lebay sekarang. Raka berdecak kesal.
"Gue nanti ke rumah loe ya. Mau apelin Kiki" suara Raka sepertinya tidak sempat di dengar oleh Egi, karena pria itu sudah buru-buru berlalu dan keluar dari ruangan.
Raka hanya bisa berdecak sedikit kesal.
*****
Raka sudah sampai di depan rumah Egi.
Seperti biasa, pria itu langsung masuk ke dalam rumah Egi. Tentu saja Raka sudah biasa melakukan hal itu, karena rumah Egi adalah rumahnya juga. Itulah yang selalu Egi katakan.
Saat baru akan masuk ke ruang tengah, Raka tak sengaja mendengar perdebatan antara Kiki dan Egi.
"Raka itu playboy...."
"Makanya sampai dia setua itu di belum menikah. Di itu suka gonta-ganti teman kencan..."
Baiklah Raka sudah sering mendengar saat orang lain mengucapkan kata-kata itu kepada dirinya. Tapi saat mendengar kiki yang mengucapkannya kenapa mendadak hatinya terasa sakit?
"Kiki belum mau menikah, kak" ucapan Kiki yang satu ini semakin membuat Raka tertunduk lesu.
Seketika Raka sadar siapa dirinya.
Mungkin memang Raka tidak pantas untuk Kiki.
Keyakinannya selama ini bahwa rasa benci yang dimiliki Kiki kepadanya akan berubah menjadi rasa cinta mendadak menguap entah kemana.
Raka tak jadi melanjutkan langkahnya. Pria itu memilih untuk berbalik dan keluar dari rumah Egi.
Setelah masuk ke dalam mobilnya, Raka bergegas mengemudikan mobilnya meninggalkan rumah Egi. Hatinya terasa sakit sekarang.
Raka tak tahu hendak kemana. Hingga pada akhirnya, mobilnya masuk menuju area pemakaman kota.
Raka sendiri tak tahu kenapa dirinya malah mrnuju ke tempat ini sekarang.
Namun Raka tetap turun dan masuk ke kawasan pemakaman tersebut. Raka berjalan menyusuri jalan setapak kecil yang ada di tengah-tengah pemakaman.
Tujuannya hanya satu kini, makam sahabatnya.
Raka sudah sampai di salah satu makam.
Makam yang terlihat biasa saja, seperti makam lain pada umumnya.
Raka berjongkok di samping makam tersebut, sedikit membersihkan dedaunan kering yang ada di atas gundukan tanah tersebut.
"Hai, Daff. Maaf aku lupa membawakanmu sebuket bunga" Raka mulai berbicara pada gundukan tanah di depannya tersebut.
Tertulis nama Daffa di nisan yang tertanam di atasnya.
"Aku hanya berusaha untuk menuruti kata-katamu saat itu. Aku tak lagi bermain wanita, aku ingin menikah dan hidup bahagia seperti orang lain. Tapi mengapa aku malah mendapat penolakan dari gadis yang aku cintai?" Raka menumpahkan semua keluh kesahnya pada makam Daffa.
Tak ada jawaban.
__ADS_1
Hanya ada suara gemerisik dari dedaunan kering yang saling bergesekan tertiup angin.
Sejenak Raka merenung.
Sebelum akhirnya pria itu beranjak dan berdiri. Raka mamandang makam Daffa sekali lagi sebelum akhirnya meninggalkan kompleks pemakaman tersebut.
Matahari sore sudah menampakkan semburat oranye. Langit akan berubah gelap sebentar lagi. Mobil Raka sudah melaju meninggalkan kawasan pemakaman sedari tadi
*****
"Kenapa kamu tidak pernah mengatakan kepadaku kalau hubunganmu dengan Kiki serumit ini?" Egi membuka obrolan dengan Elena yang baru beberapa saat yang lalu sampai di rumah.
Hari sudah beranjak malam.
El menghela nafas,
"Aku sudah berusaha untuk menjadi kakak yang baik untuk Kiki. Aku juga tak mau terlalu membebani pikiranmu" jawab Elena.
Egi berdecak.
"Tapi aku pikir kalian berdua baik-baik saja selama ini. Kalian selalu bicara akrab dan kalian juga dekat" Egi masih merasa tidak percaya.
El menghela nafas sekali lagi,
"Kadang yang terlihat tak sama dengan yang sebenarnya terjadi,Gi" jawab Elena diplomatis.
"Salahku memang menutupi semua hal tentang Kiki yang seharusnya aku bicarakan padamu. Jadilah Kiki selalu memanfaatkan semuanya..." Elena menjeda kata-katanya sekedar untuk menarik nafas.
"...Aku sungguh hanya ingin hubunganku dengan Kiki tetap baik. Aku tak tahu jika pada akhirnya itu semua malah jadi bumerang untuku sendiri" ucap Elena penuh sesal.
Egi segera meraup istrinya tersebut ke dalam pelukannya.
"Berhenti menyalahkan dirimu sendiri, El." Ucap Egi sambil mengecup puncak kepala istrinya tersebut.
"Apa Kiki akan marah padaku setelah ini? " tanya Elena khawatir.
"Jika dia melakukan hal itu, berarti memang dia gadis yang egois. Aku sungguh tak mengerti kenapa Kiki sekarang berubah jadi seperti itu" jawab Egi ikut bertanya-tanya.
"Kamu tahu semuanya?" Egi masih tak mengerti.
Elena menggeleng,
"Tidak juga. Tapi aku pikir dia hanya salah memilih teman saja. Kita masih bisa memperbaiki itu semua, Gi. Kiki hanya butuh perhatian lebih terutama dari kamu" Elena menatap lekat manik mata suaminya tersebut.
Egi mengangguk,
"Kamu benar. Kita akan memperbaiki semuanya" ucap Egi yakin.
*****
Raka menarik nafas panjang sebelum masuk ke dalam pintu yang sudah terbuka itu. Seharian dirinya menunggu Egi di kantor, tapi pria itu tak datang sama sekali.
Raka sebenarnya menghindari untuk datang ke rumah ini setelah ucapan Kiki yang menyakitkan tempo hari.
Namun, hari ini Raka terpaksa melakukannya karena hal yang akan ia sampaikan pada Egi ini sangat penting.
"Raka?" Elena yang hendak keluar sambil menggendong Rhea menyapa Raka yang hanya berdiri mejatung di depan pintu rumahnya sedari tadi.
"Hai, El. Apa Egi ada? Dia tidak ke kantor hari ini" ujar Raka berbasa-basi.
"Ya, Egi kurang enak badan pagi tadi, jadi aku yang menyuruhnya untuk istirahat di rumah" jawab Elena menjelaskan.
"Apa dia sedang istirahat?" tanya Raka khawatir. Raka takut jika ia memaksa bertemu Egi, ia akan mengganggu waktu istirahat Egi.
Elena menggeleng,
"Dia sudah baikan. Dia ada di ruang kerjanya sekarang. Masuklah!" Jawab Elena.
Raka hanya mengangguk dan tak menyahut lagi.
Pria itu bergegas masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ruang kerja Egi.
__ADS_1
Raka mengetuk pintu sekedarnya dan langsung masuk begitu saja, meskipun Egi belum mempersilakan.
"Hai, Raka. Mau menjengukku?" Tanya Egi berbasa-basi. Egi sedikit terkejut dengan kedatangan Raka.
Raka menggeleng, pria itu menyodorkan sebuah amplop putih pada Egi.
"Apa ini?" Tanya Egi bingung.
"Surat pengunduran diri" jawab Raka dengan nada datar.
Sontak Egi langsung menatap tak percaya pada Raka.
Ada apa ini.
"Aku sudah mengajukan diri untuk mengurus cabang perusahaan yang ada di luar negeri. Jadi aku resign..." Raka terlihat menarik nafas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya.
"Dan soal perjodohan konyol itu, aku ingin kamu membatalkannya saja. Aku pikir, aku belum siap untuk menikah" lanjut Raka berbohong. Ada sakit di sudut hatinya saat mengingat lagi kata-kata Kiki kemarin.
Egi semakin bingung,
"Ini terlalu mendadak, Ra" Egi bahkan belum bisa menerima semua ini.
Raka hanya mengendikkan bahu.
"Ini hanya soal perasaan, Gi. Aku tak mau menyakiti hati siapapun" ucap Raka diplomatis.
"Kapan kamu akan berangkat?" Tanya Egi akhirnya. Meskipun ini terasa berat, namun Egi tetap harus menghormati keputusan Raka.
"Besok" jawab Raka singkat
"Secepat itu, Ra?" Egi benar-benar terkejut.
"Karena itulah, aku kesini. Sekalian aku ingin berpamitan." Ujar Raka memaksa tersenyum.
Egi langsung memeluk sahabatnya tersebut.
"Baiklah kalo memang ini keputusanmu, aku tak bisa mencegah apapun" ujar Egi sammbil menepuk punggung Raka. Tiga tahun menjadi rekan kerja sekaligus sahabat, tentu membuat Egi merasa kehilangan.
*****
Setelah berpamitan pada Egi, Raka keluar dari ruang kerja Egi dan ingin segera pulang.
Namun tanpa Raka duga, di ruang tengah Raka melihat Kiki yang sedang duduk bersantai di sofa.
Gadis itu segera saja memasang muka sinis saat tahu ada Raka di dekatnya.
Raka berhenti sebentar tepat di samping Kiki, membuat Kiki memutar bola matanya dengan kesal.
"Kau tahu, setiap orang bisa berubah. Dulu aku memang bukan pria baik. Aku playboy dan suka bermain wanita. Lalu suatu hari sahabatku menyuruhku untuk berhenti. Jadi aku berhenti. Aku tidak pernah lagi mempermainkan wanita sejak empat tahun terakhir. Bahkan aku tak lagi mengencani para wanita..." Raka menjeda kata-katanya sekedar untuk menarik nafas.
"...aku minta maaf, karena sudah mengganggu hidupmu. Aku tak akan melakukannya lagi, Kiki. Aku akan pergi jauh setelah ini. Selamat tinggal" lanjut Raka sebelum akhirnya pergi meninggalkan Kiki yang masih mematung dan berusaha mencerna kata-kata Raka barusan.
Sesaat setelah kepergian Raka, ada rasa bersalah di dalam hati Kiki yang entah darimana datangnya.
Masih bisa Kiki dengar, suara Raka yang kini sedang berpamitan pada Elena dan Rhea di teras depan.
Namun tak berselang lama, suara itu tak lagi terdengar. Berganti dengan suara deru mobil yang semakin lama semakin terdengar menjauh.
Raka benar-benar sudah pergi.
Raka akan kemana?
Kenapa mengucapkan selamat tinggal?
Mendadak perasaan bersalah kembali membuncah di hati Kiki.
Mungkinkah?
*****
Maaf yang ini gantung dulu.
__ADS_1
Next kita fokus ke Dion sama Tasya