
"Hari ini jadi ke panti, Sya?" Tanya Mama Sarla yang sudah akan berangkat ke kantor.
Tasya yang masih mengenakan baju tidur, duduk dengan malas di kursi meja makan.
Tasya mengambil roti isi selai strawberry yang ada di piring di depannya dan menggigitnya sebelum menjawab pertanyaan dari sang mama.
"Jadi, ma" jawab Tasya di sela-sela ia mengunyah roti isinya.
"Mau pergi sama siapa?" Tanya mama Sarla lagi.
"Sama Dion, Ma" jawab Tasya. Ia sudah selesai memakan roti isinya.
Tasya meneguk segelas air putih.
"Yaudah, hati-hati ya kalian berdua. Mama titip salam buat bu Ranti" mama Sarla mengusap puncak kepala Tasya.
"Mama mau pergi sekarang? Kenapa pagi-pagi sekali?" Tasya protes
"Iya, banyak yang harus mama siapin di kantor. Nanti kamu pulangnya jangan kesorean ya.
Mama mungkin pulang agak malam." Pesan mama Sarla panjang lebar.
Tasya mengangguk.
"Mama juga hati-hati" Tasya mencium punggung tangan mama Sarla
"Mama berangkat, Bye" mama Sarla melambaikan tangan sembari bergegas keluar dari rumah.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara motor mama Sarla yang semakin lama semakin terdengar menjauh hingga akhirnya hilang sama sekali.
Tasya melihat ke arah jam yang tergantung di dinding ruang makan.
Belum ada jam tujuh.
Tasya memutuskan untuk mandi dulu agar badannya lebih segar dan rasa kantuknya hilang.
*****
Dion melihat sekali lagi penampilannya di cermin besar yang ada di kamarnya.
Celana jeans dan kaos putih yang ia kenakan hari ini membuatnya terlihat santai.
Setelah merasa yakin dan siap, Dion beranjak keluar dari kamar dan menuruni anak tangga.
"Di, mau kemana pagi-pagi?" sapa mama Wina yang berpapasan dengan Dion di bawah tangga.
__ADS_1
"Mau pergi" ucap Dion dingin.
"Pergi kemana? Ini kan weekend, apa mau latihan basket lagi?" Tanya mama Wina panjang lebar.
Dion memutar bola mata merasa malas untuk menjawab pertanyaan wanita paruh baya tersebut.
"Dion ada janji sama temen" jawab Dion akhirnya. Mama Wina hanya mengangguk.
"Yaudah hati-hati" mama Wina mengulurkan tangannya bermaksud agar Dion mencium punggung tangannya dan berpamitan dengan benar.
Meskipun sedikit kesal dan malas, namun Dion tetap melakukkannya.
"Dion pergi" ucap Dion sambil berlalu.
Mama Wina hanya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala melihat sikap dingin anak sambungnya tersebut.
Kevin yang sedang berolah raga pagi di halaman, heran melihat Dion yang sudah rapi pagi-pagi begini.
Meskipun penasaran, Kevin enggan bertanya dan membiarkan Dion berlalu begitu saja.
Dion menyalakan mesin motornya dan segera melajukannya keluar melewati gerbang menembus jalanan Sabtu pagi yang masih lengang.
Tujuannya hanya satu kini, rumah Tasya.
Dion melihat jam yang melingkar di tangannya.
"Gue kepagian" gumam Dion pada dirinya sendiri.
Ia menengok sebentar ke rumah tante Desi.
Sama sama sepi. Tante Desi memang sedang ke luar kota. Jadi wajar rumahnya sepi.
Dion memilih untuk langsung masuk ke halaman rumah Tasya.
Karena pintu depan rumah Tasya masih tertutup, Dion memutuskan untuk menunggu Tasya dan duduk di kursi yang ada di teras rumah Tasya.
*****
Tasya sudah siap sekarang. Celana jeans, tshirt dan sebuah cardigan panjang melengkapi penampilan santainya hari ini.
Tak lupa Tasya membawa tas kecil.
Ia memeriksa ponselnya. Tak ada pesan dari Dion.
"Mungkin dia dalam perjalanan. Sebaiknya aku menunggu di depan" gumam Tasya.
__ADS_1
Ia pun memakai sepatu kets dan berjalan menuju pintu keluar.
Tasya yang baru saja akan keluar, terkejut melihat Dion yang sudah duduk santai di teras rumahnya sembari bermain ponsel.
"Di, udah lama?" Tanya Tasya terkejut.
"Lumayan. Gimana? Sudah siap?" Jawab Dion santai.
Tasya mengangguk.
"Ayo langsung berangkat aja. Biar gak kesiangan" ajak Dion sambil melihat arlojinya sekali lagi.
Tasya hanya mengangguk dan berjalan terlebih dahulu menuju ke arah motor Dion.
Dion melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Bermodalkan alamat yang diberikan oleh mama Sarla, dua remaja tersebut menyusuri jalan yang mulai padat oleh orang orang yang sepertinya hendak liburan.
Setelah sempat tersasar beberapa kali, mereka akhirnya sampai di sebuah panti asuhan.
Dion membelokkan motornya ke halaman panti asuhan tersebut. Suasana riuh dari anak-anak yang sedang bermain berlarian langsung terdengar saat Dion dan Tasya baru turun dari motor.
Seketika ingatan Tasya melayang pada kenangan beberapa tahun silam, saat dirinya masih tinggal disini.
Tasya memejamkan matanya untuk mengenang kembali moment-moment tersebut. Sebuah senyuman tersungging di bibir Tasya.
Seorang wanita paruh baya menghampiri Dion dan Tasya.
"Selamat pagi, ada keperluan apa ya?" Tanya wanita paruh baya tersebut.
Tasya membuka matanya dan langsung mengenali wanita tersebut.
"Bu Ranti" Tasya menghambur ke pelukan bu Ranti. Ibu asuh pengurus panti tersebut. Beliau lah yang merawat Tasya sejak bayi.
"Kamu?" Bu Ranti tampaknya masih mencoba mengingat-ingat siapa gadis yang kini di depannya
"Saya Natasya, bu" ucap Tasya.
"Natasya? Astaga, kamu sudah besar nak" Bu Ranti melihat Tasya dari ujung rambut hingga ujung kaki dan memeluknya sekali lagi.
Mata Tasya berkaca-kaca karena senang.
Dion yang menyaksikan pemandangan itu ikut tersenyum bahagia.
"Ayo masuk ke dalam" ajak Bu Ranti. Tasya hanya mengangguk lalu melihat ke arah Dion seakan memberi isyarat agar Dion ikut masuk ke dalam.
Dion pun berjalan mengikuti dua wanita itu.
__ADS_1