
Tasya dan Dion sudah sampai di depan sebuah rumah sederhana.
Dion memastikan sekali lagi kalau itu adalah alamat yang ua dan Tasya cari.
Setelah melihat angka di pagar rumah tersebut sama dengan yang tertulis di secarik kertas yang diberikan oleh mama Sarla, Dion bebar-benar yakin kalau itu memang rumah papa Anton.
Dion memarkirkan mobilnya dengan benar sebelum turun.
Dion turun terlebih dahulu.
Tasya masih duduk di tempatnya, menarik nafas panjang dan mencoba untuk mengendalikan emosinya.
Dion membukakan pintu untuk Tasya.
"Ayo, Nat" ajak Dion.
Tasya segera turun dan sedikit merapikan penampilannya.
"Kamu yakin ini rumahnya?" Tasya masih ragu.
Dion melihat sekali lagi ke secarik kertas yang sedari tadi ia pegang.
"Iya, Nat" jawab Dion bersungguh-sungguh.
"Ayo" ajak Dion sekali lagi.
Tasya pun menurut dan melihat ke rumah sederhana itu.
Rumah yang tidak terlalu besar dengan halaman mungil yang tampak rapi.
Dion menggandeng tangan Tasya, lalu keduanya memasuki halaman rumah tersebut.
Terlihat sepi,
Apa memang sang empunya rumah sedang tidak ada?
Tasya dan Dion masih celingukan di halaman rumah yang tanpa pagar tersebut.
Tiba-tiba pintu rumah tersebut di buka dari dalam.
Papa Anton yang keluar sambil membawa secangkir minuman, tampak terkejut saat melihat Tasya dan Dion yang sudah ada di halaman rumahnya.
"Tasya, Dion?" Ucap papa Anton tak percaya
Dion segera menghampiri papa Anton dan mencium punggung tangannya.
"Pagi, Om" sapa Dion.
Tasya ikut mencium punggung tangan papa Anton. Namun gadis itu hanya diam saja dan tak berucap sepatah kata pun.
"Ayo masuk" ucap papa Anton mempersilahkan
Dion dan Tasya mengekori papa Anton masuk ke dalam rumah tersebut.
Tasya mengedarkan pandangan ke ruang tamu yang tidak terlalu luas itu.
Tidak banyak benda disana,
__ADS_1
Hanya ada sofa dan beberapa benda pajangan.
"Bagaimana kabar om Anton?" Dion memulai pembicaraan demi mencairkan suasana yang mendadak terasa tegang.
"Om sehat." Jawab papa Anton sambil tersenyum ramah.
"Apa ini rumah tempat Tasya dilahirkan?" Tanya Tasya tiba-tiba.
Matanya masih menatap ke sekeliling ruangan tersebut.
Papa Anton menggeleng cepat.
"Bukan, Sya. Rumah yang lama sudah papa jual. Rumah ini baru sebulan ini papa beli dan papa tempati" jelas papa Anton panjang lebar.
"Kenapa harus dijual?" Tasya bahkan merasa bingung hendak memanggil pria paruh baya itu dengan sebutan apa?
Dirinya masih belum terbiasa memanggil pria itu dengan sebutan papa.
Papa Anton menggeleng samar,
"Papa tidak bisa lagi tinggal disana, Sya.
Bayangan-bayangan itu terus saja berkelebat di setiap ruangan yang ada dirumah itu" ujar papa Anton lirih.
"Apa anda akan menceritakan semua detail kejadiannya?" Tanya Tasya lagi sambil menatap tajam ke arah papa Anton.
Kini pandangan keduanya bertemu.
Papa Anton kembali teringat mendiang mama Erin.
Kenapa wajah Tasya begitu mirip dengan mendiang sang mama?
"Akan papa,ceritakan semuanya. Kamu berhak untuk mengetahuinya" ujar papa Anton
"Dulu, mama kamu sangat bahagia saat yahu dirinya,tengah mengandung. Ia menjaga dengan baik kandungannya dan selalu melakukan yang terbaik.
Namun..." papa Anton menjeda ceritanya.
Tasya mengernyit bingung.
"Namun apa?" Tanya Tasya tak sabar
"Namun semuanya berubah saat kamu baru saja lahir ke dunia ini. Papa tidak tahu apa penyebabnya, sehingga mama kamu begitu membenci kamu" cerita papa Anton sedih.
"Mama kamu mendadak sering marah-marah terutama saat kamu menangis.
Mama kamu enggan menggendong ataupun menyusui kamu bahkan kadang mama kamu berusaha untuk menyakitimu" lanjut papa Anton.
Kini mata pria paruh baya itu mulai berkaca-kaca.
"Apa papa menyakiti hati mama?" Tanya Tasya menghakimi.
Papa Anton langsung menggeleng cepat.
"Tadinya papa berpikir seperti itu. Namun semua pekerjaan rumah, papa yang mengerjakannya. Bahkan papa yang mengurus semua keperluanmu dan begadang menggendongmu setiap malam."ujar papa Anton membela diri.
Tasya menghela nafas.
__ADS_1
Tasya yakin kalau mama kandungnya pastilah terkena baby blues atau semacam depresi pasca persalinan
"Lalu hari itu tiba. Papa hanya meninggalkanmu bersama dengan mama kami sebentar karena papa harus keluar membeli makanan. Namun saat papa kembali..." sekali lagi papa Anton menjeda ceritanya.
Tasya masih menyimak dengan sabar.
"Saat papa kembali, mama kamu sudah memegang pisau di tangannya. Mama kamu mengacungkan pisau itu ke arahmu. Saat itu pikiran papa sudah benar-benar kacau.
Papa hanya ingin merebut pisau itu dan membuangnya, menjauhkan benda sialan itu dari kamu dan mama kamu, namun... papa tidak tahu kenapa tiba-tiba pisau itu malah menancap tepat di jantung mama kamu" papa Anton menyugar rambutnya dengan kasar, lalu menutupi wajahnya.
Terdengar isak tangis disana.
Papa Anton kembali ingat kejadian itu, kejadian yang benar-benar membuat semuanya hancur berantakan.
Air mata Tasya sudah jatuh bercucuran di kedua pipinya. Tasya,menangis dalam diam mendengar cerita papa Anton barusan.
"Apa mama kandung Tasya bernama Erin?" Pertanyaan lirih dari Tasya sukses membuat papa Anton membeku.
Bagaimana Tasya bisa tahu?
Bahkan papa Anton belum menceritakan ke siapapun nama istrinya termasuk ke Tasya.
Papa Anton mengangguk samar,
"Bagaimana kamu bisa tahu, Nak?" Tanya papa Anton tak percaya.
"Tasya melihat semuanya beberapa hari belakangan ini. Semuanya sama persis dengan yang papa ceritakan. Bahkan suara papa yang memanggil nama mama terdengar dengan sangat jelas dalam mimpi itu" ucap Tasya menjelaskan. Gadis itu masih berlinang air mata.
"Papa minta maaf, Sya. Papa gak pernah bermaksud untuk melakukan itu semua. Papa memang gak pernah pantas untuk jadi papa kandung kamu" kini papa Anton sudah bersimpuh di depan Tasya.
Lelaki paruh baya itu menangis dan tampak sangat menyesal.
Tasya ikut bersimpuh.
"Bangunlah, Pa. Jangan seperti ini" Tasya memaksa papanya untuk bangun.
Dion yang sedari tadi sudah ikut berkaca-kaca mendengar cerita papa Anton, ikut membantu papa Anton untuk berdiri.
"Terima kasih karena sudah berusaha melindungi Tasya. Ini bukan sepenuhnya kesalahan papa" ucap Tasya terbata-bata.
"Tasya,minta maaf atas sikap buruk Tasya kemarin, Pa" lanjut Tasya lagi.
Papa Anton langsung merengkuh tubuh putri kandungnya tersebut ke dalam pelukannya.
Putri kecil yang selalu ia rindukan selama dua puluh lima tahun ini, akhirnya mau menerima kehadirannya kembali.
Dion menyeka butir bening di sudut matanya, sungguh sebuah pemandangan yang mengharukan.
Dion kini ikut bahagia, karena akhirnya, Tasya mau menerima papa Anton sebagai papa kandungnya.
"Tasya ingin mengunjungi makam mama" ujar Tasya di sela tangis bahagianya.
Papa Anton mengangguk dengan cepat.
"Nanti papa akan membawamu kesana" janji papa Anton.
Tasya hanya mengangguk.
__ADS_1
Tasya senang karena kini semuanya sudah jelas,
Tak ada lagi salah paham.