Natasya

Natasya
Silvi Yang Terabaikan


__ADS_3

"Eh, ingat cowok ganteng yang waktu itu di depan sekolah gak? Yang hitam manis trus bodinya uwow" Silvi memulai obrolan dengan lebay.


Empat sahabat tersebut baru saja tiba di kelas.


Bel tanda masuk belum berbunyi, jadi keempat gadis itu memutuskan untuk mengobrol terlebih dahulu.


"Iya, gue ingat. Kenapa memang? Loe udah berhasil jadiin dia pacar loe" jawab Vina sambil tertawa mengejek.


Sontak hal itu langsung membuat Silvi menjadi manyun.


Berbeda dari Vina dan Silvi, Tasya dan Salsa memilih diam dan menyimak saja obrolan dua sahabatnya tersebut.


"Dia itu pelatih tim basket sekolah ternyata" ujar Silvi dengan ekspresi wajah yang sulit dijelaskan.


"Serius, Sil?" Vina langsung berteriak tak percaya. Mata kedua gadis itu nampak berbinar binar senang.


Berbeda dengan Tasya dan Salsa yang hanya memutar bola mata sekaligus mendengus kesal.


Keduanya sama-sama kesal. Baru kemarin mereka membahas pelatih resek itu, sekarang dua gadis lebay di depan mereka ikut-ikutan membahasnya lagi.


Benar-benar membuat keduanya semakin kesal.


"Iya, serius. Tanya aja sama Julian." ujar Silvi


"Ju, Sini deh!" Silvi memanggil Julian yang sedang asyik mengobrol bersama teman temannya.


Sedikit berdecak kesal, namun Julian tetap menghampiri empat gadis itu.


"Apa?" Jawab Julian sedikit ketus.


"Yaelah, galak amat. Udah ketularan Dion kayaknya" kata Silvi sedikit terkekeh.


Kata kata dari Silvi yang menyinggung soal Dion membuat Tasya menarik nafas panjang. Gadis itu mencoba menahan emosinya.


"Ju, bener tim basket punya pelatih baru ya?" Vina langsung bertanya untuk memastikan kalo pernyataan Silvi barusan memang benar adanya.


"Iya. Memang kenapa?" Jawab Julian santai.


Sudah bisa dia tebak,pasti kedua gadis lebay ini akan menanyakan seberapa ganteng pelatih barunya.


"Ganteng kan ya? Loe ada nomer nya gak? Gue minta dong. Mau pedekate" Silvi langsung to the point.


Pernyataan bertubi-tubi dari Silvi barusan sontak membuat Julian tertawa kencang.

__ADS_1


Cukup lama Julian tertawa. Sepertinya ia sangat puas bisa menertawakan gadis di depannya tersebut.


"Puas loe yang tertawa?" Ucap Silvi kesal setelah tawa Julian reda.


"Halu sih halu Sil, tapi liat sitkon dong. Jangan ngayal tinggi-tinggi. Kepentok hidung pesawat benjol tu jidat" Julian memukul pelan kening Silvi membuat gadis itu semakin mencebik.


Kata-kata dari Julian membuat Vina, Salsa, dan Tasya tertawa.


"Dasar kalian semua jahat" mimik kesal di wajah Silvi berubah menjadi mimik teraniaya yang sungguh lebay dan terkesan di buat-buat.


Bukannya berempati, teman-teman Silvi tertawa makin keras.


Silvi sebenarnya tidak marah. Baginya, bercanda bersama teman-temannya adalah hal yang sangat ia nikmati.


Meskipun kadang dirinya yang menjadi bahan bullyan. Tetap saja, Silvi tak pernah merasa sakit hati.


Bagi Silvi, Vina, Salsa, dan Tasya adalah sahabat sekaligus saudaranya.


Tanpa kehadiran mereka bertiga, hidup Silvi mungkin akan suram. Masa remajanya akan kelam dan jauh dari keceriaan.


Silvi adalah anak tunggal dari seorang pengusaha kaya.


Mama dan papanya adalah orang tua yang sibuk dengan berbagai bisnis.


Sejak kecil, barang apapun yang Silvi inginkan pasti akan di belikan oleh orang tuanya.


Tapi tidak halnya dengan kasih sayang


Kasih sayang menjadi hal yang sulit Silvi dapat.


Menurut orang tuanya, selagi mereka memberikan banyak uang pada putri mereka dan membelikan mainan mainan mahal, hal itu sudah lebih dari cukup.


Mereka jarang menyempatkan waktu untuk sekedar membacakan dongeng atau bercerita sesuatu pada Silvi.


Silvi memang hidup bergelimang harta dan tak pernah merasakan hidup susah ataupun kekurangan.


Namun tetap saja, hatinya tak pernah bahagia. Ada rasa sakit dan rasa hampa di relung hatinya yang terdalam.


Kalo saja bisa memilih, Silvi akan lebih memilih dilahirkan di keluarga sederhana namun berlimpah kasih sayang.


Karena sejujurnya, bukan keluarga seperti ini yang Silvi harapkan.


Silvi bersyukur karena dalam hidupnya yang kurang kasih sayang tersebut, Silvi mempunyai tiga sahabat yang selalu menyayanginya dan menerima dirinya apa adanya.

__ADS_1


Silvi dan Vina sudah berteman sejak SMP, rumah keduanya yang masih berada dalam satu kompleks perumahan membuat mereka menjadi teman yang akrab.


Silvi yang doyan makan dan Vina yang doyan dandan, entah bagaimana keduanya bisa menjadi sahabat yang klop dan saling mengerti satu sama lain.


Mungkin karena hobi shopping yang menyatukan mereka dan membuat mereka selalu terlihat kompak.


Saat masuk ke jenjang SMA, saat itulah Silvi dan Vina bertemu dengan Salsa, si gadis galak yang sebenarnya baik hati.


Sekilas Salsa memang terlihat galak, jutek, dan cuek pada sekitarnya namun Salsa adalah gadis yang baik terutama pada sahabatnya.


Salsa selalu bisa diandalkan sebagai tempat curhat atau tempat mereka mencari solusi.


Satu hal yang menonjol dari Salsa adalah, gadis ini pandai menyimpan rahasia dan tidak pernah mengadu domba teman-temannya.


Siapapun yang curhat atau menceritakan rahasia mereka pada Salsa, maka saat itu juga Salsa akan menyimpannya rapat.


Dan Tasya,


Silvi memang baru beberapa bulan mengenal Tasya. Namun rupanya Silvi cepat akrab pada gadis lugu tersebut.


Sifat Tasya yang pendiam dan gak suka hal-hal berlebihan, membuat Silvi menyukainya.


Dan satu hal yang selalu menjadi pelipur lara di hati Silvi adalah kehadiran keluarga om nya.


Papa Rian adalah adik dari papanya Silvi


Dan Silvi sangat dekat dengan keluarga dari papa Rian, terutama mama Wina dan kak Kevin.


Silvi sering berkunjung ke rumah keluarga itu. Tak jarang Silvi juga akan menginap di sana.


Silvi seakan menemukan pengganti kedua orang tuanya saat ia bercengkerama bersama keluarga papa Rian.


Dan kak Kevin, bagi Silvi dia sudah seperti kakak kandungnya.


Silvi dan Kevin adalah saudara yang selalu klop dan saling mendukung.


Belakangan, Kevin mengatakan pada Silvi kalau dia menyukai Tasya.


Dan saat itulah, Silvi mulai gencar buat nyomblangin keduanya.


Silvi akan sangat senang jika Tasya dan Kevin jadian.


Karena itulah, Silvi akan terus mendukung sepupunya tersebut untuk pedekate dan menaklukkan hati Tasya.

__ADS_1


__ADS_2