Natasya

Natasya
Masa Lalu


__ADS_3

Flashback 25 tahun silam...


Anton dan Erin adalah pasangan muda yang baru setahun membina rumah tangga.


Semuanya baik baik saja hingga akhirnya Natasya kecil lahir ke dunia.


Namun, tidak seperti ibu muda pada umumnya yang akan bahagia menyambut kelahiran buah hatinya.


Entah apa penyebabnya, Erin yang dulu adalah seorang wanita lemah lembut dan penyayang mendadak berubah menjadi wanita pemarah semenjak kelahiran Natasya.


Erin sering marah-marah sendiri di rumah dan memarahi Natasya yang masih bayi.


Anton tidak paham apa yang sebenarnya sudah terjadi pada istrinya.


Ingin rasanya membawa Erin ke dokter namun ekonomi yang pas-pas an membuat Anton mengurungkan niatnya.


Anton hanya bisa bersabar dan terus bersabar.


Hingga hari terkutuk itu datang.


Anton baru kembali dari membeli makanan, saat ia mendapati Erin yang sedang mengacungkan pisau ke arah bayi Natasya.


Anton berlari untuk menyelamatkan putrinya dari istrinya yang sepertinya sudah gila.


Anton tak tahu kenapa Erin melakukan itu.


Saat hamil, Erin sangat tidak sabar menantikan kelahiran bayinya, namun saat sang bayi sudah lahir ke dunia, kenapa Erin malah ingin membunuhnya?


"Apa yang kamu lakukan?" Teriak Anton pada Erin yang terus berusaha untuk menyakiti bayinya


"Pergi kamu.. pergi. Aku tak ingin melihat bayi itu. Aku akan membunuhnya" Erin terus berteriak seperti orang kesetanan sambil terus mengacungkan pisau ke arah Anton yang kini sedang menggendong Natasya.


Anton berlari ke kamar dan meletakkan Natasya di dalam box bayi dengan tergesa-gesa. Segera Anton keluar lagi dan mengunci kamar tersebut.


Erin masih menacungkan pisau nya.


Ia berlari mengejar Anton dan bayi Natasya, namun Anton segera memegang tangan Erin dan berusaha merebut pisau tersebut.


Terjadi pergelutan sengit di antara pasangan suami istri tetsebut.


Erin yang gelap mata dan Anton yang berusaha merebut pisau itu.


Erin sudah hendak menikam Anton,namun dengan cepat Anton menangkisnya, namun tanpa Anton duga, ternyata pusau itu malah berbalik dan menikam dada Erin.


Wanita yang baru beberapa hari menjadi seorang ibu muda itupun jatuh bersimbah darah.


Pisau itu menancap di dada Erin,


Pisau yang penuh dengan sidik jari Anton.


Langit di luar rumah mereka kini berubah menjadi hitam.

__ADS_1


Hari sudah beranjak malam.


Anton masih mematung di depan tubuh Erin yang kini sudah kaku dan berhenti bernafas.


Tangisan bayi Natasya dari dalam kamar, membuat Anton tersentak.


Bergegas pria itu membuka pintu kamar yang tadi ia kunci, dan menggendong Natasya ke pelukannya.


Bulir airmata jatuh di kedua pipi pria itu.


Istri yang sangat ia cintai tewas di tangannya. Kini bayinya yang baru berusia sepuluh hari harus menjadi anak piatu.


Baru saja Anton keluar dari salam kamar, ia mendengar jeritan dari tetangga disertai dengan suara benda yang pecah.


Tetangganya tersebut shock mendapati tubuh Erin yang kini terbujur kaku dengan pisau menancap di dadanya.


Dan lebih shock lagi saat mendapati Anton dengan baju dan tangan berlumuran darah sedang menggendong bayinya.


Anton ingin menjelaskan semuanya, namun terlambat,


Tetangganya sudah lari sambil berteriak.


Anton yang panik, segera kabur dari rumahnya sendiri membawa bayi Natasya.


Anton berlari dan terus berlari.


Ia tak tahu kenapa ia malah lari dari semuanya.


Hingga ia tiba di depan sebuah rumah berhalaman luas.


Ada plakat yang menyebutkan bahwa rumah sederhana tersebut adalah sebuah panti asuhan.


Anton ingin mengetuk pintu dan menitipkan Natasya secara baik-baik. Namun melihat penampilannya sekarang, rasanya semua itu tak mungkin.


Anton menciumi putrinya dengan airmata berlinang. Inilah saatnya dia harus berpisah dengan sang putri.


Anton hanya tak mau Natasya dirawat ileh orang yang salah. Biarlah anaknya berada di panti ini. Kelak Anton akan menemukannya disini.


Anton meletakkan Natasya dengan hati-hati di teras panti asuhan tersebut.


Bayi itu masih tidur terlelap.


Hanya ada selimut tipis yang tadi sempat ia bawa. Ia menyelimuti Natasya dan berharap pemilik panti tersebut segera keluar sehingga bayinya tidak perlu kedinginan terlalu lama.


Anton memandang sekali lagi ke arah bayi Natasya yang kini mulai menggeliat.


"Maafkan papa, Nak" hanya itu yang bisa Anton katakan sekarang.


Ia berjalan keluar dari halaman panti.


Bersembunyi di bawah pohon dan di kegelapan malam di seberang panti tersebut.

__ADS_1


Tak berselang lama, terdengar jerit tangis dari bayinya.


Anton hanya bisa menahan pilu, ia masih menunggu, hingga akhirnya pintu utama dari panti tersebut dibuka dari dalam.


Seorang wanita yang seusia dengan dirinya keluar dari dalam panti dan segera menggendong bayi Natasya.


Wanita itu tampak kebingungan dan melihat ke sekeliling panti, seperti sedang mencari seseorang.


Setelah memastikan tak ada siapapun, wanita itupun segera membawa bayi Natasya masuk ke dalam panti.


Kini Anton hanya bisa menangis terisak.


Istrinya sudah pergi untuk selamanya, dan putrinya terpaksa ia titipkan di panti ini.


Anton berjalan dengan lesu kini.


Tujuannya hanya satu, kantor polisi.


Anton tak mau menjadi seorang buronan. Ia akan menyerahkan diri dan menceritakan semuanya, meskipun ia tak yakin polisi akan percaya dengan semua ceritanya.


Tidak ada seorangpun saksi yang melihat kejadian sebenarnya, dan sudah bisa dipastikan, pisau itu pasti sudah penuh dengan sidik jarinya karena memang Anton memegang pisau itu sebelum menancap di dada sang istri.


Flashback off


Anton menatap kosong ke arah jendela di rumahnya.


Selama dua puluh lima tahun ia habiskan waktunya di dalam sel tahanan yang dingin.


Bayang-bayang Erin terus saja menghantui pikirannya.


Putri kecil yang ia tinggalkan di depan panti, kini sudah tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik.


Kemarin, saat pertama kali dirinya bertatap muka dengan Natasya, Anton langsung bisa melihat wajah Erin disana.


Natasya sangat mirip dengan mendiang mamanya.


Namun sekali lagi Anton harus menelan kekecewaan karena Natasya menolak untuk mengakui dirinya sebagai papa kandungnya.


Anton tahu, Natasya pasti merasa sakit hati karena dirinya sudah menjadi papa yang kejam.


Seorang papa yang membiarkan seorang bayi berusia sepuluh hari terbaring kedinginan di depan sebuah panti asuhan.


Sekali lagi, Anton hanya bisa meratapi kesendiriannya kini.


Keluarga kecil yang ia bina sepenuh hati sudah hancur berantakan.


Anton kehilangan istrinya untuk selamanya, dan kini putri kandungnya juga sangat membencinya.


Anton menatap gelapnya langit malam.


Tiada bintang, tiada sinar rembulan. Hanya gelap dan sepi yang menjadi teman Anton malam ini.

__ADS_1


__ADS_2