Natasya

Natasya
SEASON KEDUA: Semua Untuk Zhia


__ADS_3

Hari ini cuaca tidak terlalu bersahabat karena seharian hujan terus saja mengguyur.


Ini adalah bulan kedelapan Zhia tinggal bersama Tasya dan Dion.


Semuanya berjalan dengan baik selama delapan bulan ini.


Zhia masih rutin menjalani pengobatan.


Sejujurnya, kondisi Zhia memang sedikit menurun belakangan ini.


Tasya sedang duduk di sofa bersama Zhia , melihat rintik hujan yang turun lewat jendela besar di ruang tengah.


"Ma, kenapa Papa Dion belum pulang?" Tanya Zhia yang kini sedang menyandarkan kepalanya di pangkuan Tasya.


Hari memang sudah beranjak sore, dan hari ini Dion ada jadwal latihan, jadilah mungkin Dion akan pulang sedikit terlambat.


Sebenarnya, Tasya sudah meminta Dion untuk mundur saja dari dunia basket. Namun sepertiya pria itu masih enggan meninggalkan olahraga tersebut.


Dion memang bukan lagi pemain aktif dan hanya sesekali ikut bertanding, namun tetap saja menurut Tasya waktu Dion masih banyak yang tersita untuk latihan.


Belum lagi Dion yang masih harus mengurus perusahaan pemberian papa Rian. Membuat semakin banyak saja waktu pria itu yang tersita untuk kegiatan di luar rumah.


"Papa pulang terlambat hari ini, sayang. Bagaimana kalau mama saja yang membacakan cerita untuk Zhia malam ini?" Tasya memberikan penawaran pada Zhia.


Biasanya memang Dion yang selalu membacakan cerita pengantar tidur untuk Zhia.


Bisa di bilang, Dion sudah jadi sosok papa yang ideal untuk Zhia.


"Zhia masih ingin menunggu papa pulang, Ma" ucap Zhia lirih.


Gadis kecil itu terlihat menggigil kedinginan.


Buru-buru Tasya meraih selimut yang memang sudah Tasya siapkan untuk Zhia, dan menyelimuti tubuh kecil Zhia yang semakin hari semakin terlihat kurus tersebut.


Belakangan ini, Zhia memang selalu mengeluh dingin. Meskipun AC di apartemen ini selalu Tasya setel pada suhu normal, tetap saja hal itu tak banyak membantu.


Tasya tahu ini memang efek dari kemoterapi yang harus dijalani oleh Zhia.


Ah, andai saja bisa bertukar tempat.


Tasya sungguh tidak keberatan jika harus menanggung sakit yang kini di derita oleh Zhia dan membiarkan gadis kecil itu tetap sehat seperti anak-anak lain.


Tapi takdir...


Selalu takdir...


Kenapa harus Zhia?


"Ma, kenapa mama menangis?" ucap Zhia yang sedari tadi memperhatikan wajah Tasya.


Ya.


Memikirkan tentang kondisi Zhia kadang membuat Tasya berurai air mata tanpa sadar.


Buru-buru Tasya menghapus air mata yang sudah terlanjur jatuh di pipinya, dan memaksa untuk tersenyum pada Zhia.


"Mama gak nangis Zhia. Mata mama hanya kelilipan." Ucap Tasya berbohong.


"Ma, Zhia pengen lihat pertandingan papa Dion" ucap Zhia lirih.


Sejak pertama kali tahu kalo Dion adalah pemain basket, Zhia selalu merengek ingin melihat papanya bermain.


Tasya hanya bisa menuruti dengan mengajak Zhia menonton lewat layar televisi atau layar ponsel.


Terlalu beresiko mengajak Zhia menonton langsung ke court. Fisik Zhia yang ringkih, membuat Tasya harus super menjaga Zhia agar tidak tertular penyakit dari orang di sekitarnya.


Bagi anak-anak biasa mungkin sakit flu atau batuk adalah hal biasa, namun tidak bagi Zhia. Hal itu bisa sangat berbahaya. Dan Tasya maupun Dion tentu sudah paham hal itu.


"Kita akan menontonnya di ponsel mama" Tasya mencari-cari ponselnya yang tadi ia letakkan di atas meja di samping sofa.


"Zhia tidak mau, Ma. Zhia mau ke lapangan, dan melihat papa langsung" rengek Zhia memohon.


"Bukankah Zhia sudah bertemu papa setiap hari?" Tasya mencoba menolak sehalus mungkin.


Zhia tak menjawab, namun bisa Tasya dengar gadis kecil itu muali terisak.


"Zhia..." Tasya mengelus kepala Zhia dan sedikit berpikir bagaimana harus membujuk Zhia kali ini.


Mungkin Zhia memang jenuh di rumah.

__ADS_1


Ceklek,


Terdengar pintu apartemen yang di buka dari luar.


Sepertinya Dion sudah pulang.


"Halo Zhia..." Dion yang baru datang langsung menyapa Zhia yang kini masih menangis di pelukan Tasya.


Tentu saja Dion langsung bertanya-tanya.


"Zhia kenapa, Nat?" Tanya Dion seraya duduk di samping Tasya dan ikut mengelus punggung kurus Zhia.


"Papa..."isak Zhia sambik beralih ke pelukan sang papa.


"Zhia kenapa?" Tanya Dion dengan sabar.


"Zhia pengen lihat pertandingan papa. Tapi kata mama gak boleh" cerita Zhia membuat laporan.


Dion menatap tajam ke arah Tasya.


Namun Tasya segera membela diri.


"Dia ingin datang langsung ke court" Tasya balik melotot ke arah Dion dan berucap tanpa suara.


Namun Dion tetap paham apa yang di ucapkan oleh istrinya tersebut.


"Zhia kan bisa menonton lewat televisi atau lewat ponselnya mama Tasya" gantian Dion yang membujuk Zhia.


"Zhia maunya nonton langsung ke lapangan" kali ini ada sedikit nada marah dalam kata-kata Zhia.


Dion menarik nafas panjang.


Menolak permintaan Zhia adalah satu hal yang sangat berat di lakukan oleh Dion.


"Baiklah, Zhia. Mama Tasya akan mengajak Zhia menonton pertandingan papa di court" ucap Dion akhirnya.


"Benar, Pa?" Tanya Zhia dengan nada berbinar. Isak tangis Zhia sudah pergi entah kemana.


Dion mengangguk. Dan gadis kecil itu segera bersorak senang sambil memeluk Dion.


Jangan tanya bagaimana ekspresi Tasya saat ini.


Tasya sudah sangat ingin mengoneli suaminya tersebut dan memberikan ceramah panjangnya.


Bagaiman bisa, Dion dengan sangat enteng menuruti permintaan Zhia yang sangat beresiko ini.


Bagaimana jika Zhia tiba-tiba tertular sakit dari penonton lain?


Bagaimana jika Zhia tiba-tiba drop dan pingsan saat menonton?


Tidakkah Dion memikirkan itu semua.


Namun Tasya tak mau marah-marah di depan Zhia, jadilah Yasya hanya menahan geram di dadanya.


Dion yang menyadari, jika Tasya tengah menatapnya dengan pandangan marah segera menghentikan tawanya dan menatap netra istrinya tersebut. Dan pandangan Dion hanya datar saja seakan tak merasa bersalah sedikitpun.


Namun dengan cepat Tasya membuang pandangannya dari mata Diom. Tasya benar-benar tidak ingin marah meledak sekarang karena masih ada Zhia di sini.


"Zhia bobok ya,"bujuk Dion pada Zhia yang sepertinya sudah terlihat mengantuk.


Gadis kecil itu beberapa kali mengucek kedua matanya.


"Sama papa dan mama" Zhia menatap Dion dan Tasya bergantian.


Tasya sedang menarik nafas panjang berkali-kali dan menahan emosinya pada Dion.


"Baiklah, ayo" Dion menggendong tubuh kecil Zhia dan membawanya masuk ke kamar.


Tasya mengekor dari belakang dan ikut masuk ke dalam kamar.


Di dalam kamar,


Zhia sudah berbaring dan siap untuk tidur.


Seperti biasa, Tasya akan mengusap-usap kepala Zhia hingga gadis kecil itu memejamkan mata, dan Dion akan duduk di samping ranjang Zhia membacakan cerita pengantar tidur untuk Zhia.


Tak butuh waktu lama, dan Zhia sudah rterlelap masuk ke alam mimpi.


Tasya dan Dion bergantian mengecup kening Zhia. Tasya membenarkan selimut yang menutupi Zhia, sebelum mematikan lampu dan keluar dari kamar Zhia.

__ADS_1


Baiklah, Tasya sungguh sudah tidak sabar untuk segera mengomel panjang ke Dion sekarang.


"Apa yang kamu lakukan, Di. Kita tidak bisa membawa Zhia menonton langsung pertandinganmu di court" ucap Tasya penuh emosi.


Mereka berdua memilih untuk berbicara di ruang makan yang cukup jauh dari kamar Zhia.


Tentu saja Tasya tak mau jika Zhia mendengar keributan ini.


"Tenanglah, dulu Nat. Aku hanya tak mau melihat Zhia sedih" Dion mencari alasan.


"Lalu dengan gampangnya kamu mengiyakan permintaan Zhia?" Tasya masih tak percaya dengan sikap Dion yang seperti ini.


"Kita tidak bisa membohongi Zhia Di. Sekali kita mengatakan iya, itu artinya kita harus benar-benar mengajak Zhia ke court" Tasya tak bisa lagi menahan emosinya untuk tidak meledak.


"Aku akan mencari cara" jawab Dion cepat.


"Cara? Cara apa?" Tasya tak sabaran dan masih terlihat emosi.


"Akan aku pikirkan nanti." Jawab Dion enteng.


"Di, kita tidak bisa membawa Zhia ke court. Terlalu beresiko. Apalagi kondisi Zhia belakangan ini juga menurun" Tasya menjelaskan sekali lagi.


"Iya aku tahu, Nat. Karena itu biarkan aku berpikir sebentar" Dion sedikit emosi karena istrinya ini terus saja bawel dan menceramahi dirinya.


Bahkan Dion belum sempat makan sejak pulang tadi. Apa Tasya memang sengaja tak mau memberikan Dion makan dan membuatnya kelaparan.


Tasya mendengus kesal.


Wanita itu beranjak dari duduknya dan masuk ke dapur untuk menghangatkan makanan untuk Dion.


Tak berselang lama Tasya sudah kembali membawa nampan yang penuh dengan makanan untuk Dion.


"Maafkan aku" ucap Tasya lirih sambil menyajikan makanan yang di nampan ke hadapan Dion, lalu menuangkan segelas air minum untuk Dion.


"Tidak, seharusnya aku yang minta maaf." Jawab Dion sebelum menyendok nasi di piringnya dan menyuapkannya ke dalam mulutnya.


"Kamu sudah makan?" Dion bahkan lupa bertanya pada Tasya dan langsung makan begitu saja.


Tasya mengangguk,


"Ya. Aku sudah makan bersama Zhia tadi" jawab Tasya seraya kembali duduk di kursi makan yang ada di depan Dion.


Dion lanjut memakan makanan yang ada di piringnya dalam diam.


Tasya juga diam dan hanya memperhatikan suaminya tersebut.


"Aku akan bicara pada pelatih dan teman-teman tim nanti, mungkin mereka punya ide" ucap Dion akhirnya. Pria itu sudah menghabiskan makanan yang ada di piringnya.


Dion meneguk air putih di gelas yang ada di hadapannya. Perutnya sudah kenyang sekarang.


"Kondisi Zhia semakin menurun saja belakangan ini" cerita Tasya sedih.


Dion meraih tangan Tasya dan menggenggamnya,


"Zhia akan sembuh, Nat" ucap Dion berusaha optimis, meskipun Dion sendiri tahu kalau kemungkinan itu sangatlah kecil bahkan nyaris tidak ada.


Tapi apa salahnya berharap?


Tasya hanya mengangguk samar.


Tak banyak yang bisa Tasya lakukan sekarang selain membuat Zhia bahagia.


Semua upaya sudah Tasya lakukan semaksimal mungkin. Namun tubuh Zhia lebih banyak menolak dan bereaksi negatif terhadap semua pengobatan yang dilakukan.


Satu-satunya jalan yang mungkin bisa dilakukan hanyalah transpaltasi tulang sumsum, namun sampai sekarang belum ada donor yang pas untuk Zhia.


"Aku takut, Di" ujar Tasya lirih. Air mata sudah jatuh di kedua pipinya.


Dion beranjak dan pindah duduk di kursi yang ada di samping Tasya.


"Semuanya akan baik-baik saja, Nat. Kita akan mendapatkan donor untuk Zhia dan Zhia akan sembuh" Dion merangkul Tasya dan berusaha menenangkan istrinya tersebut.


Malam semakin larut. Hingar-bingar kendaraan yang melintas di jalanan depan gedung apartemen tak lagi sepadat saat sore hari.


Dion sudah terlelap sejak tadi.


Namun Tasya masih terjaga dan tidak bisa memejamkan matanya. Pikirannya tak bisa tenang belakangan ini. Mimpi buruk tentang Zhia selalu saja mampir di mimpinya belakangan ini.


Sejak awal membawa Zhia pulang, seharusnya Tasya sudah memikirkan kemungkinan buruk ini. Namun Tasya hanya merasa belum siap jika harus kehilangan Zhia.

__ADS_1


__ADS_2