
Dua bulan berlalu sejak kepergian Zhia untuk selamanya.
Tasya baru selesai melakukan olahraga pagi di balkon kamarnya. Wanita itu berdiri sejenak untuk sekedar menghirup udara pagi.
Sudah beberapa hari kota metropolitan ini selalu di guyur hujan deras, dan pagi ini langit terlihat biru dan matahari bersinar hangat. Sepertinya hari ini akan cerah.
Tasya menghirup dalam-dalam udara pagi ini.
Jalan utama yang di depan gedung apartrmen terlihat cukup lengang pagi ini.
Kuda besi yang biasanya selalu berpacu dengan waktu memenuhi setiap inchi jalan ibukota, hari ini hanya satu dua yang melintas.
Mungkin karena ini adalah hari Minggu.
"Ehem" deheman lembut dari Dion yang kini berdiri di belakang Tasya dan sedang melingkarkan lengannya di pinggang istrinya tersebut, membuat Tasya tersentak kaget.
"Sudah selesai yang berolahraga?" Tanya Dion manja sambil menyusupkan dagunya di ceruk leher Tasya.
"Kau sendiri? Sudah selesai yang mandi?" Bukannya menjawab, Tasya malah balik bertanya.
"Sudah, tapi aku tak keberatan kalau kamu mengajakku mandi lagi" jawab dion nakal.
Tasya memutar bola matanya.
"Dasar mesum" ucap Tasya sambil melepaskan dirinya dari cengkeraman Dion dan berlalu masuk ke dalam kamar.
Dion hanya mendengus karen merasa gagal merayu istrinya.
"Bau apa ini Di?" Tanya Tasya tiba-tiba setelah masuk ke dalam kamar.
Dion segera ikut masuk dan mendekat ke arah Tasya, mencoba untuk ikut mencari tahu.
"Bau apa memang?" Tanya Dion bingung. Ia bahkan tak mempncium bau apapun.
Tasya mendekatkan hidungnya ke arah Dion.
"Kau!" Sergah Tasya dengan nada galak.
Dion mengernyit tak mengerti.
"Baumu aneh. Pergilah!" Tasya mengibas-ngibaskan tangannya dan mengusir Dion untuk menjauhinya.
Dion mencoba mencium bau badannya sendiri.
Harum.
"Nat, aku sudah mandi...dan wangi" ujar Dion membela diri.
"Parfummu baunya aneh. Kamu pakai parfum apa sih?" Tasya bersedekap kesal.
"Yang biasa. Yang mana lagi memangnya? Bukannya kamu yang memilihnya dan selalu bilang kalau kamu menyukai baunya?" Dion masih kekeh dan merasa benar.
Tasya mendengus,
"Iya tapi itu baunya aneh, Di. Kamu mandi lagi sana gih!" Ujar Tasya masih dengan nada kesal.
Dion semakin tak mengerti dengan tingkah Tasya yang aneh hari ini.
Tasya berjalan menuju dapur untuk menyiapkan sarapan.
Dion mengekor di belakang Tasya.
"Di, jangan dekat-dekat! Baumu aneh" sekali lagi Tasya protes dan mengusir Dion.
Sontak hal itu langsung membuat Dion berdecak kesal.
Ada apa sebenarnya dengan Tasya hari ini?
"Baiklah, aku akan ganti baju" ujar Dion kesal. Pria itu pun kembali ke kamar untuk mengganti kausnya.
Tasya hanya terkikik melihat Dion yang kesal. Ia pun lanjut membuat sarapan.
Tepat saat Tasya sudah selesai menyajikan sarapan, Dion kembali dari dalam kamar.
Pria itu memilih untuk langsung duduk di kursi yang ada di samping meja makan.
Perutnya benar-benar sudah keroncongan.
Dan saat Dion baru akan menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya, terdengar suara bel pintu depan.
Sepertinya ada tamu.
Dion langsung berdecak kesal.
Yang benar saja.
Siapa orang tak tahu diri yang bertamu sepagi ini?
"Tak apa. Biar aku yang buka" Tasya yang melihat wajah kesal Dion, memilih untuk membuka pintu depan dan membiarkan suaminya yang sudah kelaparan itu melanjutkan sarapannya.
Tasya membuka pintu depan.
Saat tahu siapa yang datang wanita itu memutar bola matanya.
'Astaga, apa orang ini memang kurang kerjaan?' Gumam Tasya dalam hati.
"Selamat pagi, bu dokter Tasya" sapa Vian dengan senyum aneh yang membuat Tasya ingin tertawa geli.
"Pagi, Vian." Jawab Tasya membalas sapaan Vian.
Tasya akhirnya membiarkan pria itu masuk ke dalam.
"Apa aku terlambat untuk sarapan gratis?" Tanya Vian berbasa-basi sambil mengedarkan pandangannya ke apartemen milik sahabatnya tersebut.
Pria itu mengekori Tasya yang kini berjalan menuju dapur.
"Tidak, kau datang tepat waktu. Duduklah!" Ujar Tasya santai.
Davian dengan cepat duduk di samping Dion yang masih khusyuk menikmati sarapannya.
"Dasar tamu tak tahu diri" gumam Dion sedikit keras
Tentu saja Vian mendengarnya. Tapi pria itu berpura-pura tak mendengarnya, dan tetap bersikap santai.
Tasya menyodorkan sepiring nasi goreng ke hadapan Vian. Pria itu langsung tersenyum sumringah.
__ADS_1
"Makasih, Sya" ucap Vian sambil memasang senyuman manis pada Tasya.
Tasya hanya mengangguk, lalu kembali duduk dan melanjutkan sarapannya.
"Apa mess sudah tidak menyiapkan sarapan sekarang?" Tanya Dion pada Vian yang sedang menikmati sarapannya.
Dion sendiri sudah menghabiskan sepiring nasi goreng lezat buatan sang istri.
"Aku hanya bosan dengan menu sarapan di mess. Aku kan juga ingin merasakan masakan istrimu" jawab Vian asal.
Sontak Dion langsung menjitak kepala sahabatnya tersebut, sedangkan Tasya memilih untuk menahan tawanya.
"Makanya, cepatlah menikah!" Sergah Dion cepat.
Vian hanya mengendikkan bahu dan lanjut menyuapkan nasi ke mulutnya.
"Pagi ini ada latihan, jadi aku menjemputmu ke sini" ujar Vian mengalihkan topik pembicaraan.
"Seharusnya kau tak perlu repot-repot. Karena aku berencana bolos latihan pagi ini" jawab Dion dengan nada santai.
"Sudah ku duga" timpal Vian sambil berdecak.
"Ayolah, Vi. Ini hari minggu" Dion mulai protes.
"Lagi pula sebentar lagi kita pensiun. Untuk apa berlatih di hari libur" lanjut Dion lagi.
"apa kau benar-benar serius dengan keputusanmu itu, Di, aku berpikir kemarin kau hanya main-main" Vian masih tak percaya.
"Ya, dia serius" bukannya Dion, tapi malah Tasya yang menjawab pertanyaan dari Vian.
Tasya beranjak dari duduknya dan segera membereskan piring Vian dan Dion.
Wanita itu sepertinya akan pergi saja dari ruangan ini karena dua pria itu mulai membahas soal basket dan Tasya sedang malas mendengarkan.
"Jika hanya main-main aku tak mungkin mengatakannya kepadamu kemarin." Ujar Dion enteng.
"Baiklah, aku menyerah. Aku tidak akan bertanya lagi" ucap Vian pasrah.
Dion hanya tersenyum simpul.
"Kalian berdua akan pergi jalan-jalan hari ini?" Tanya Vian lagi. Sepertinya pria itu hobi sekali mencari tahu kegiatan dari sahabatnya.
"Tidak. Kami akan berolah raga di atas ranjang. Jadi kalau kamu ingin pulang aku sarankan pulanglah secepatnya" jawab Dion dengan nada galak.
Tapi bukannya marah atau tersinggung, Vian justru tertawa terbahak-bahak.
Tasya yang sedang mencuci peralatan di dapur, sampai terbatuk-batuk mendengar jawaban dari Dion barusan.
"Hahaha. Sudahlah jangan mencari alasan. Ayo!" Vian sudah beranjak dari tempat duduknya dan menepuk punggung Dion untuk segera mengajaknya pergi.
"Sya, makasih sarapannya ya" pamit Vian pada Tasya.
"Sama-sama, Vi" balas Tasya sambil tersenyum.
Vian sudah berjalan menuju pintu depan.
"Di, gue tunggu di lobi depan" tukas Vian sedikit berteriak, sebelum pria itu keluar dari pintu depan
Masih bisa Dion dengar Vian yang menutup pintu lumayan keras.
"Nat," Dion baru saja akan memeluk istrinya tersebut, namun dengan sigap Tasya segera mengelak.
"Pergilah! Atau temanmu yang kurang kerjaan itu akan kembali lagi ke sini" ujar Tasya mengusir.
Dion mendengus.
"Baiklah. Aku akan segera kembali" Dion mencium singkat bibir Tasya sebelum wanita itu sempat mengelak untuk kedua kalinya.
Tasya sedikit berdecak.
"Sebaiknya begitu, karena aku ingin kamu menemaniku ke swalayan hari ini" ujar Tasya sambil bersedekap.
"Tumben. Biasanya kamu suka pergi sendiri" jawab Dion sambil terkekeh.
"Baiklah, aku akan pergi sendiri, dan nanti malam kau juga bisa tidur di sofa sendiri" balas Tasya sambil memutar bola matanya.
Buru-buru Dion merangkul pundak Tasya untuk merayunya
"Baiklah, baiklah. Aku akan pulang sebelum makan siang" janji Dion sedikit merayu.
Tasya menghela nafas,
"Pergilah!" Usir Tasya kemudian.
"Bye, istriku sayang" ucap Dion sambil berlalu meninggalkan Tasya, tak lama kemudian terdengar suara pintu depan yang tertutup.
Setelah Dion berlalu dan pergi keluar, bergegas Tasya membersihkan meja makan dan sudut rumah lainnya.
Hari ini Tasya merasa kurang enak badan. Mungkin setelah mandi, Tasya akan tidur lagi.
******
Menjelang tengah hari, Dion baru kembali dari latihan di hari libur.
Sungguh kurang kerjaan sekali.
Tasya masih merebahkan dirinya di sofa ruang tengah.
Mendadak Tasya merasa malas untuk beraktivitas.
"Nat, aku pulang" sapa Dion yang baru saja tiba.
Tasya merapatkan selimut yang menutupi tubuhnya, dan enggan membalas sapaan dari Dion.
"Nat, kamu sakit?" Tanya Dion khawatir.
Tentu saja Dion khawatir. Dirinya baru saja tiba dan Tasya sudah berbaring dengab selimut tebal di sofa.
Dion memegang kening Tasya untuk mengecek suhu badan Tasya.
"Aku baik-baik saja, Di. Aku hanya sedang malas saja" jawab Tasya sambil menyingkirkan tangan Dion dari keningnya.
Dion duduk di sofa, dan meletakkan kepala Tasya di pangkuannya.
"Mau makan siang di luar? Kita bisa sekalian jalan-jalan hari ini" tawar Dion sambil membelai lembut kepala istrinya tersebut.
__ADS_1
"Tidak, aku sedang malas." Jawab Tasya dengan nada malas.
Dion menghela nafas.
Sungguh sikap Tasya hari ini sedikit membingungkan. Tadi pagi wanita ini ngomel dan marah-marah karena hal sepele.
Dan sekarang malah rebahan seperti orang sakit.
"Bisakah kau pergi belanja kebutuhan bulanan? Aku benar-benar sedang malas keluar, Di" pinta Tasya sedikit memohon.
Dion tampak berpikir sejenak,
"Hmmmmmm" Dion sepettinya sengaja mengulur waktu.
"Plis" ucap Tasya dengan nada merayu.
Dion hanya mengulum senyum,
"Baiklah, tapi tuliskan dulu daftarnya" Dion mengajukan syarat.
Terakhir saat Dion belanja, pria itu harus menerima omelan dari Tasya karena membeli beberapa barang yang salah.
"Akan kutulis. Kamu mandilah dulu. Baumu sungguh tak sedap" Tasya sudah bangun dan duduk. Wanita itu memencet hidungnya sendiri seakan memberitahu jika Dion benar-benar bau.
Dion hanya terkekeh,
"Bau, tapi kamu suka kan?" Goda Dion sambil mendekat ke arah Tasya.
"Ish, sana! Jangan dekat-dekat." Tasya mendorong tubuh Dion dan segera beranjak berdiri.
Wanita itu berlari menuju ke kamar untuk membuat daftar belanja.
Dion mengekor di belakang Tasya sambil melepas kaus yang ia kenakan.
Tasya benar. Sebaiknya Dion mandi atau istrinya itu akan kembali mengomelinya.
*****
Tasya sudah selesai berkeliling apartemennya untuk memeriksa barang apa saja yang habis dan yang perlu dibeli oleh Dion.
Terakhir Tasya membuka lemari tempat keperluan pribadinya, untuk memeriksa apa saja yang sudah habis. Tasya sedikit tercenung saat mendapati bungkusan persegi itu masih utuh dan tersimpan rapi di lemari.
"Ada apa, Nat?" Dion yang baru selesai mandi bertanya pada Tasya yang sedang duduk termenung melihat isi lemari.
"Kapan terakhir aku membeli benda ini?" Tanya Tasya pada Dion sambil menunjukkan sekotak pembalut yang masih utuh. Sepertinya benda itu memang belum pernah dipakai.
Dion mengendikkan bahu.
"Kapan kau terakhir menstruasi?" Dion malah balik bertanya.
Pria itu melempar handuk yang bekas ia pakai ke keranjang baju kotor.
"Entahlah aku lupa" jawab Tasya lirih.
"Tapi bulan kemarin sepertinya kau juga tidak memakai benda itu" Dion sedikit mengingat-ingat.
"Ya, aku stress belakangan ini jadi jadwal menstruasi ku memang tidak teratur" timpal Tasya.
Sejak merawat Zhia, Tasya bahkan lupa mencatat siklus dan jadwal menstruasinya.
Dan sejak Zhia berpulang, sepertinya Tasya belum mendapatkan tamu bulanan itu lagi.
Entahlah, Tasya juga tak ingat.
"Hei, kamu masih punya benda putih panjang itu? Apa namanya?" Dion terlihat mengingat-ingat sesuatu.
"Tespek" jawab Tasya singkat.
Dasar pria. Menyebut tespek saja tidak ingat.
"Iya itu. Ayo kita periksa!" Ucap Dion bersemangat.
"Aku sudah tidak menyimpannya. Aku membuang semuanya" jawab Tasya sambil mendaratkan bokongnya di pinggir ranjang tempat tidur.
"Kenapa kamu buang?"Yanya Dion tak terima.
"Karena benda itu selalu saja rusak jika aku yang memakainya" jawab Tasya kesal.
Tentu saja Tasya kesal. Dirinya sudah sering telat menstruasi. Namun saat Tasya melakukan tes, selalu saja hasilnya hanya satu garis merah.
Dion ikut duduk di pinggir ranjang di sebelah Tasya.
"Tak apa. Aku akan membelikannya lagi nanti" ujar Dion sambil mengusap kepala Tasya.
"Tidak perlu, Di. Aku tidak mau kecewa untuk kesekian kalinya. Aku hanya stress. Mungkin besok aku akan mendapatkan menstruasi." Jawab Tasya sambil mengibaskan tangannya.
"Tapi kita tidak akan tahu kalau tidak mencobanya. Aku tetap akan membelinya" ucap dion kekeh sambil beranjak dan berjalan menuju ke arah lemari untuk mengambil baju.
Tasya hanya menghela nafas.
"Dan jangan lupa membeli parfum baru. Jangan memakai yang itu lagi, atau aku tidak mau lagi tidur denganmu malam ini" ujar Tasya sambil menunjuk ke arah botol parfum milik Dion yang ada di atas meja rias.
"Siap bidadariku" jawab Dion dengan nada menggoda.
Dion lanjut menyisir rambutnya dan merapikan penampilannya sekali lagi.
"Kau yakin tidak mau ikut?" Tanya Dion sekali lagi.
Tasya menggeleng,
"Tidak, aku di rumah saja" jawab Tasya singkat.
"Mau kubelikan sesuatu untuk makan siang?" Tanya Dion lagi.
Tasya tampak berpikir sebentar.
"Ya, aku ingin makan siomay" jawab Tasya akhirnya.
"Baiklah, akan ku belikan. Aku pergi dulu" Dion mengecup kening Tasya sebelum berpamitan.
"Hati-hati, Di" pesan Tasya yang sepertinya tak di dengar oleh Dion karena pria itu sudah berlalu dan keluar dari pintu depan.
Tasya memilih untuk merebahkan tubuhnya lagi ke atas ranjang.
Badannya benar-benar terasa aneh hari ini.
__ADS_1