
"Kamu berpacaran dengan Ronny?" Pertanyaan dari sang papa sontak membuat Salsa yang sedang meneguk minumannya menjadi tersedak.
"Ronny siapa, Pa?" Tanya sang mama penasaran.
Keluarga kecil itu tengah makan malam sekarang.
"Ronny, salah satu pemain di klub basket yang papa manajerin" jelas papa singkat.
Mama tampak mengangguk paham.
"Gak ada. Salsa dan kak Ronny cuma temenan kok" Salsa berusaha menyangkal.
Belakangan hubungannya dengan Ronny masuk ke tahap yang sulit dijelaskan.
Disebut teman, tapi perhatian dari Ronny lebih dari seorang teman.
Disebut pacaran, tapi Ronny belum mengungkapkan perasaannya pada Salsa, lagi pula Salsa kan punya prinsip anti pacaran. Tidak mungkin ia melanggar prinsipnya itu.
"Benar hanya teman? Tapi papa lihat kalian dekat belakangan ini" ujar sang papa masih menggoda.
"Apa Ronny itu yang sering nganter kamu pulang itu?" Sang mama ikut menimpali.
Salsa semakin terpojok sekarang. Gadis itu menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang mulai memerah.
"Kami hanya teman. Lagipula Salsa kan masih kuliah. Salsa gak mau mikir pacaran dulu" jawab Salsa diplomatis.
Papa dan mamanya kompak tertawa mendengar jawaban Salsa.
"Wah, padahal papa sudah bersemangat dan akan sangat senang jika kamu benar pacaran sama Ronny." Sang papa masih tak berhenti menggoda.
"Mama dengar juga Ronny pernah menyelamatkan kamu. Apa kamu benar tidak ada perasaan apapun sama Ronny?" Mamanya ikut-ikutan kompak menggoda Salsa.
Salsa mencebik karena merasa kesal.
Gadis itu memilih untuk diam dan melanjutkan melahap makanannya.
Salsa enggan menanggapi godaan dari papa dan mamanya.
*****
"Ada masalah apa? Kenapa mendadak mengajakku bertemu disini?" Salsa bertanya dengan malas pada Ronny yang sudah menunggunya sedari tadi di sebuah kafe.
"Apa kau sedang kesal?" Bukannya menjawab Ronny malah balik bertanya.
Salsa mendengus kesal.
"Apa yang sebenarnya kamu bicarakan dengan papa selama ini? Kenapa papa terus menanyakan tentang hubungan kita?" Ujar Salsa sedikit kesal.
Ronny tertawa kecil sebelum menanggapi pertanyaan dari Salsa barusan.
"Apa hanya sedang berusaha" jawab Ronny masih terkekeh.
"Berusaha apa? Bahkan kita berdua tidak menjalin hubungan apapun saat ini" ucap Salsa dengan nada kesal.
Entah mengapa Salsa menjadi kesal sekarang. Ia hanya berharap Ronny akan memperjelas hubungan rumit ini. Tapi hubungan mereka seperti tidak pernah ada kemajuan.
Salsa merasa Ronny hanya menggantung perasaannya selama ini.
Tunggu, perasaan apa?
Apa Salsa mulai menyimpan perasaan pada Ronny sekarang?
"Apa kamu ingin kita menjalin sebuah hubungan?" Sebuah pertanyaan aneh namun bernada serius dari Ronny membuat Salsa mengernyitkan kedua alisnya.
'Apa kak Ronny sedang menyatakan perasaannya padaku sekarang?' Gumam Salsa bertanya pada dirinya sendiri.
"Tasya pernah mengatakan padaku, jika kamu enggan berpacaran dan ingin langsung menikah saja, jadi kalau kamu sudah siap aku akan langsung melamarmu saja dan kita bisa berpacaran setelah menikah" ucap Ronny secara jelas dan gamblang.
Sontak Salsa langsung melongo mendengar kata-kata dari Ronny barusan.
'Apa kak Ronny sedang melamarku sekarang? Tapi kenapa di tempat seperti ini? Kenapa tidak ada bunga ataupun cincin? Lamaran macam apa ini? Dasar laki-laki tidak peka' Salsa mendengus kesal.
"Kau sedang melamarku sekarang?" Tanya Salsa to the point.
Bukannya menjawab, Ronny malah tergelak.
"Apa kamu menerimanya jika itu benar?" Tanya Ronny di sela-sela tawanya.
Salsa langsung menggeleng cepat.
"Kamu bahkan tidak membawa bunga ataupun cincin sekarang. Kenapa aku harus menerimanya?" Jawab Salsa dengan nada santai.
"Baiklah kalau itu keinginannmu. Aku akan datang malam ini dan langsung menemui kedua orang tuamu untuk melamarmu" Ronny berdiri dan langsung merengkuh kedua bahu Salsa, membuat gadis itu hanya terbengong-bengong tak mengerti.
"Ta...tapi" Salsa akhirnya sadar kalau semua ini terlalu cepat.
__ADS_1
Tapi kata-katanya barusan pada Ronny seperti sebuah kode bahwa Salsa memang ingin segera dilamar oleh Ronny.
'Ah, dasar bodoh' Salsa merutuki dirinya sendiri.
"Aku akan datang besok malam. Tunggu aku, oke!" ucap Ronny sambil tertawa bahagia sebelum akhirnya pria itu meninggalkan Salsa yang masih sibuk dengan pikirannya.
Salsa seperti bangun dari mimpi, kini ia tak tahu harus bagaimana.
Kejutan macam apa ini?
Apa Ronny tadi bersungguh-sungguh?
*****
"Salsa, kenapa belum bersiap-siap?" Sang mama geleng-geleng kepala saat masuk ke kamar Salsa dan melihat gadis itu masih duduk santai di atas tempat tidurnya sambil memainkan ponsel.
"Siap-siap ke mana, Ma? Salsa gak ada acara apa-apa sore ini" Salsa menjawab dengan santai.
"Ronny sebentar lagi akan datang. Cepatlah mandi lalu pakai baju ini rambut kamu itu dirapiin, trus pake make up biar seger" ujar sang mama panjang lebar seraya menyodorkan sebuah dress berwarna peach pada Salsa.
Gadis itu langsung melotot tajam.
"Memang kak Ronny mau ngapain ke sini? Kenapa juga Salsa harus pake baju aneh ini?" Tanya Salsa polos.
Sejak dulu, Salsa paling malas saat harus memakai dress dan bergaya seperti wanita elegan.
Salsa sungguh benci hal itu.
"Ronny mau melamar kamu, Sal" jawab sang mama dengan nada gemas.
Tentu saja mama merasa gemas dengan sikap Salsa yang cenderung cuek dan selalu semaunya sendiri.
Salsa langsung terbengong-bengong mendengar berita dari mamanya tersebut.
Apa ini?
Kemarin Ronny mengatakan pada Salsa jika ia akan datang dan melamar Salsa langsung ke rumah.
Dan kali ini gantian sang mama yang mengatakan hal serupa.
Apakah ini semua benar-benar sebuah kenyataan?
"Salsa, kenapa bengong? Cepat mandi!" Perintah dari sang mama langsung membuyarkan semua lamunan Salsa.
Gadis itupun segera beranjak masuk ke dalam kamar mandi, meskipun berbagai pertanyaan masih berputar-putar di kepalanya.
*****
Ronny yang biasanya berpenampilan santai mengenakan t-shirt dan celana jeans, malam ini tampil gagah mengenakan kemeja.
Salsa bahkan sempat dibuat terpesona dengan penampilan Ronny yang berbeda dari biasanya.
Ronny segera menyampaikan maksud kedatangannya malam ini kepada kedua orang tua Salsa.
"Sebelumnya, saya minta maaf, om, tante. Mungkin ini sedikit terburu-buru. Tapi saya serius dan ingin melamar Salsa putri om dan tante untuk saya jadikan istri saya" ucap Ronny dengan nada penuh keyakinan.
Papa dan mama Salsa kompak tersenyum.
"Kami merasa senang dengan lamaran kamu pada Salsa, Ron. Dan kami merestui hubungan kalian berdua" papa langsung menjawab lamaran dari Ronny untuk Salsa.
Dan sebuah senyuman langsung terkembang di bibir Ronny.
Pria itu tampak sangat bahagia.
"Tapi, Pa. Salsa,kan masih kuliah. Salsa, belum ingin menikah, Pa." Salsa melayangkan protes pada sang papa yang dengan gampangnya menerima lamaran dari Ronny.
Ya, meskipun sebenarnya Salsa juga senang dan bahagia saat tahu ternyata Ronny bersungguh-sungguh dan ingin langsung menjalin sebuah hubungan serius dengan dirinya.
Namun tetap saja, untuk saat ini, Salsa belum siap menikah.
"Kalian bisa menikah setelah kamu lulus kuliah, Sal" jawab sang papa bijak.
Ronny langsung mengangguk membenarkan ucapan dari calon mertuanya tersebut.
Salsa tak bisa protes lagi kali ini.
Gadis itu ganti menatap ke arah Ronny yang masih tersenyum bahagia.
Ronny mengeluarkan sebuah kotak cincin dari sakunya.
"Lihat, aku membawa cincin seperti permintaanmu kemarin" ucap Ronny sambil terkekeh.
Salsa hanya tertunduk dan tersipu malu, mengingat kata-katanya kemarin pada Ronny.
Ronny segera melingkarkan cincin tersebut ke jari manis Salsa.
__ADS_1
Meskipun sedikit kaget, namun Salsa merasakan sebuah kebahagiaan yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.
Mungkin Salsa sudah jatuh cinta pada Ronny.
*****
Seperti yang sudah di rencanakan, Salsa dan Ronny akhirnya menikah setelah Salsa menyelesaikan kuliahnya.
Beberapa bulan setelah keduanya menikah, Ronny dan Salsa memutuskan untuk pindah ke panti asuhan.
Mereka menggantikan peran bu Ranti merawat anak-anak di panti.
Kedua orang tua Salsa juga sering berkunjung ke panti tersebut, bahkan papanya Salsa membiayai renovasi panti agar lebih nyaman dan ramah anak-anak.
Setahun berlalu, kini Salsa sedang mengandung anak pertamanya.
*****
Ronny sedang berolahraga sore sembari berlatih di court basket mini yang ada di halaman panti asuhan.
Salsa tiba-tiba saja sudah menghampiri Ronny, bersedekap, dan menatap tajam ke arah suaminya tersebut.
"Ada apa, sayang?" Tanya Ronny dengan nada santai.
"Apa kau bisa berhenti memainkan benda bulat itu?" Jawab Salsa dengan nada galak.
Ronny mengernyit bingung.
"Bola ini maksudmu?" Tanya Ronny bingung.
"Ya." Jawab Salsa masih melotot tajam.
"Aku tidak mengerti, aku selalu berlatih setiap sore dan kau tidak mempermasalahkannya kemarin-kemarin" Ronny mencoba membela diru.
Salsa mendengus kesal.
"Apa kau sedang mengejekku dengan bola itu. Kau lihat ini. Bentuknya sama dengan bola bulatmu itu. Lalu kau mendrible bolamu kesana-kesini, melemparnya ke keranjang itu. Kamu sedang mengejekku?" Salsa menunjukkan perutnya yang kini sudah membulat sempurna karena usia kandungannya yang sudah menginjak delapan bulan.
Ronny menggaruk kepalanya yang tak gatal, merasa aneh sekaligus geli dengan sikap Salsa kali ini.
Sejak hamil, Salsa memang berubah sedikit aneh.
Kadang satu hal kecil bisa tiba-tiba menjadi masalah besar hanya karena Salsa tidak menyukainya.
"Baiklah, sayang. Aku minta maaf. Aku akan segera membuang bola jelek ini" Ronny akhirnya memilih untuk mengalah.
Tapi tentu saja Ronny tidak akan benar-benar membuang bola kesayangannya itu. Mungkin ia akan menyembunyikannya di dalam gudang.
"Aku ingin kamu membuang juga bola-bolamu yang lain. Aku benar-benar tidak suka dengan benda itu" sekali lagi Salsa mendengus kesal.
Ronny hanya melongo.
"Salsa, bagaimana aku akan berlatih kalau semua bola aku buang" Ronny sedikit protes kali ini.
"Kau bisa memakai bola yang bentuknya tidak bulat" jawab Salsa santai.
Ronny kembali menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Semua bola bentuknya bulat, Sal." Protes Ronny sekali lagi.
Ronny tidak habis pikir, kenapa istrinya ini bisa aneh begini.
Apa ini yang dinamakan bawaan hamil.
Tapi Ronny tak menyangka jika akan separah ini. Bahkan masalah bola saja harus dibesar-besarkan.
"Kalau begitu, berhentilah bermain bola basket dirumah" ucap Salsa sambil melotot tajam ke arah Ronny, sebelum akhirnya wanita hamil itu masuk ke dalam panti. Meninggalkan Ronny yang kini berdiri mematung.
Kini hanya tinggal Ronny yang berdiri bingung di tempatnya tadi.
Berulang kali Ronny mengusap wajahnya dengan kasar dan menarik nafas dalam-dalam, berharap bisa lebih bersabar lagi menghadapi sikap Salsa yang semakin hari semakin aneh saja.
******
Dan, setelah selama sembilan bulan Ronny bersabar dengan sikap Salsa yang menurutnya jadi aneh, kini Ronny akhirnya bisa bernafas lega.
Salsa sudah melahirkan seorang bayi perempuan yang cantik.
Wajah bayi itu begitu mirip dengan Ronny.
Flo,
Begitulah Ronny dan Salsa memanggil bayi cantik mereka.
******
__ADS_1
Ronny, Salsa, dan Flo akan muncul lagi di season kedua.
Jadi cukup segini saja extra part seputar mereka.